PERCAYA KEPADA TUHAN DENGAN SEGENAP HATI

Home / Weekly Message / PERCAYA KEPADA TUHAN DENGAN SEGENAP HATI
PERCAYA KEPADA TUHAN DENGAN SEGENAP HATI

Percayalah kepada TUHAN dengan segenap hatimu, dan janganlah bersandar kepada pengertianmu sendiri. Akuilah Dia dalam segala lakumu, maka Ia akan meluruskan jalanmu. (Amsal 3:5)

PENDAHULUAN

Manusia cenderung lebih percaya kepada pengetahuan, yaitu sesuatu yang dapat dilihat dengan mata fisik, memiliki bukti, serta dapat dipahami melalui nalar dan logika, daripada percaya kepada Tuhan yang tidak kelihatan dan tidak dapat dipahami sepenuhnya secara rasional. percaya kepada Tuhan bukan berarti menutup mata terhadap kenyataan. Percaya berarti memilih Tuhan sebagai dasar utama dalam mengambil keputusan sekalipun kita belum melihat dan memahami seluruh rencana-Nya.

Sebaliknya, orang beriman tidak bergantung atau menaruh kepercayaannya pada apa yang terlihat, melainkan kepada Allah, yang menopang segala sesuatu—baik yang terlihat maupun yang tidak terlihat—dengan firman-Nya yang penuh kuasa (Ibrani 1:3). Manusia hidup bukan dari roti saja, melainkan dari setiap firman yang keluar dari mulut Allah (Matius 4:4).

ISI

1. PERCAYA DENGAN SEGENAP HATI

  • Percaya dengan segenap hati berarti menyerahkan kendali hidup, menaruh harapan, dan mengandalkan Tuhan sepenuhnya. Iman sejati tidak bergantung pada pikiran, logika, asumsi, perasaan, situasi, ataupun kondisi kita. Iman sejati bukanlah kepercayaan semu atau ilusi yang tidak berdasar, melainkan kepercayaan yang dibangun di atas pengenalan akan karakter Allah: siapa Allah bagi kita dan siapa kita di dalam Dia.
  • Bahwa Tuhan:
    • Baik dan setia, tidak membiarkan kita dicobai melampaui kekuatan kita.
    • Tidak pernah berdusta,
    • Tidak pernah terlambat,
    • Sanggup melakukan segala perkara,
    • Bekerja untuk mendatangkan kebaikan bagi anak-anak-Nya,
    • Rancangan-Nya bagi kita adalah rancangan damai sejahtera dan hari depan yang penuh harapan
  • Bahwa kita:
    • Adalah anak-anak Allah dan ciptaan baru dalam Kristus,
    • Adalah ahli waris—yaitu orang-orang yang berhak menerima janji-janji Allah dan menerimanya bersama-sama dengan Kristus,
    • Menerima hidup yang berkelimpahan melalui karya keselamatan Kristus,
    • Menerima kuasa dan otoritas melalui kehadiran Roh Kudus untuk hidup dalam kebenaran dan kekudusan, melakukan kehendak Allah, dan berkemenangan,
  • Ketika kita mengenal karakter Allah, kita akan belajar memercayai firman,
    janji, dan rancangan-Nya, sekalipun kita belum memahami atau melihat semuanya digenapi. Iman yang sejati selalu menghasilkan ketaatan. Seseorang tidak dapat berkata bahwa ia percaya kepada Tuhan apabila ia terus-menerus menolak melakukan firman-Nya. Kepercayaan kepada Tuhan terlihat melalui keputusan dan tindakan yang selaras dengan kehendak-Nya.6)

2. ALLAH BEKERJA MELAMPAUI PENGETAHUAN DAN LOGIKA MANUSIA

Pikiran, logika, nalar, dan pengetahuan manusia sangat terbatas. Semuanya hanya mampu memahami perkara-perkara yang terlihat atau berada dalam dimensi fisik. Sementara itu, Allah bekerja melampaui semua itu. Cara, waktu, dan rencana-Nya tidak dapat diukur ataupun diselami sepenuhnya oleh kapasitas akal budi manusia. Rencana Tuhan bagi kita bukan hanya menyangkut kehidupan kita saat ini, melainkan juga mencakup berbagai aspek dan pertimbangan yang berdampak pada generasi-generasi sesudah kita.

  • Yesaya 55:8-9 menjelaskan mengapa kita tidak mampu menyelami pekerjaan Tuhan: “Sebab rancangan-Ku bukanlah rancanganmu, dan jalanmu bukanlah jalan-Ku, demikianlah firman TUHAN. Seperti tingginya langit dari bumi, demikianlah tingginya jalan-Ku dari jalanmu dan rancangan-Ku dari rancanganmu.”

Apa yang terlihat baik menurut kita belum tentu yang terbaik menurut pandangan Allah. Amsal 16:25 mengatakan, “Ada jalan yang disangka lurus, tetapi ujungnya menuju maut.”

  • Saat kita hanya mengandalkan pengertian sendiri tanpa mencari kehendak Tuhan, keputusan yang kita ambil dapat menjadi keliru, tidak menyelesaikan masalah, bahkan menimbulkan persoalan baru dan membahayakan. “Terkutuklah orang yang mengandalkan manusia, yang mengandalkan kekuatannya sendiri..” (Yeremia 17:5-6).

3. AKUILAH TUHAN DALAM SEGALA LAKUMU

Akuilah Dia dalam segala lakumu, maka Ia akan meluruskan jalanmu.

  • Mengakui Tuhan berarti melibatkan-Nya, menyerahkan setiap keputusan kepada-Nya, serta memohon tuntunan Roh Kudus dalam setiap aspek kehidupan, bukan hanya dalam perkara-perkara rohani. Ketika kita menawan segala pikiran dan menaklukannya kepada Kristus, maka Roh Kudus akan meluruskan jalan kita.
  • Tuhan meluruskan jalan bukan berarti menghilangkan semua kesulitan dan rintangan, melainkan mengarahkan langkah kita agar tetap berada dalam kehendak-Nya dan mencapai tujuan Ilahi. Jadi hidup orang yang beriman bukan berarti jalan hidup menjadi mulus dan lancar tanpa rintangan. Sebaliknya, iman percaya akan kehadiran Tuhan yang setia menyertai dan memampukan kita melewati kesukaran, persoalan, dan penderitaan dengan kesabaran, ketekunan, serta kemenangan. Orang percaya memahami bahwa setiap kesulitan diizinkan Tuhan untuk memurnikan iman dan membentuk karakter Kristus di dalam dirinya.
  • Jalan yang diluruskan juga berarti pikiran, motivasi hati, keinginan, dan tindakan kita diselaraskan dengan kehendak-Nya. Segala sesuatu yang tidak kudus, tidak benar, tidak menghasilkan buah, dan menghambat pertumbuhan iman akan dipotong oleh Tuhan (Yohanes 15:2).

 

4. CIRI ORANG YANG PERCAYA KEPADA TUHAN DENGAN SEGENAP HATI

  • Ada ketenangan batin, damai sejahtera, sukacita, dan pengharapan yang timbul dari pewahyuan akan firman Tuhan.
  • Menolak bersandar pada pengertian sendiri dan overthinking(kecenderungan berpikir secara berlebihan, terutama dengan membayangkan kemungkinan-kemungkinan buruk atau memprediksi hal-hal negatif di masa depan), serta tidak mengizinkan perasaan/emosi negatif memimpin hidupnya.
  • Menjaga pikiran, hati, dan perkataan dengan firman Tuhan, serta mengenakan perisai iman agar dapat memadamkan semua panah api si jahat.
  • Berserah sepenuhnya kepada kedaulatan Tuhan dan mempercayai cara serta waktu-Nya.
  • Membuktikan iman melalui langkah-langkah ketaatan.
  • Mengucap syukur dalam segala hal.
  • Tidak jemu-jemu berdoa.

PENUTUP

Hikmat dunia mengajarkan manusia untuk mengandalkan diri sendiri dan apa yang terlihat oleh mata. Sebaliknya, hikmat Allah mengajarkan kita untuk percaya kepada Tuhan dengan segenap hati dan tidak bersandar pada pengertian sendiri. Percaya kepada Tuhan bukan hanya ketika doa segera dijawab, tetapi juga ketika Tuhan berkata, “Tunggu.” Penundaan bukanlah penolakan. Dalam masa penantian, Tuhan sedang membentuk karakter, memperdalam iman, dan mempersiapkan kita untuk menerima berkat-Nya pada waktu yang tepat.

Oleh sebab itu, bangunlah iman di atas pengenalan akan karakter Allah serta pemahaman tentang siapa Allah bagi kita dan siapa kita di dalam Kristus. Percaya kepada Tuhan dengan segenap hati adalah keputusan yang harus diperbarui setiap hari. Walaupun kita tidak mengetahui seluruh perjalanan di depan, kita mengenal Pribadi yang memimpin perjalanan itu. Karena itu, akuilah Dia dalam segala lakumu, hiduplah dalam ketaatan kepada firman-Nya, dan tetaplah berharap kepada-Nya. Tuhan tidak pernah gagal menepati janji-Nya; Ia akan menuntun kita kepada kehendak-Nya yang sempurna dan memampukan kita melewati setiap persoalan dengan kemenangan.