(Subtema: Saat transformasi menjadi gaya hidup)
Sekilas review:
Murid Kristus punya gaya hidup yang taat kepada perintah Gurunya. Ketaatan bukan hanya bicara tentang tidak melakukan/menjauhi apa yang Tuhan larang, tetapi juga melakukan apa yang Ia perintahkan. Ada harga yang harus dibayar untuk sebuah ketaatan. Ada penyangkalan diri yang membuat ‘daging’ kita tidak nyaman, ingin memberontak, dan mencari alasan untuk membenarkan diri. Tanpa ketaatan, ibadah hanya menjadi kekristenan yang emosional dan dangkal/tidak berakar.
Sambungan minggu ini:
KASIH MERUPAKAN DASAR KETAATAN
“Jikalau kamu mengasihi Aku, kamu akan menuruti segala perintah-Ku.” (Yohanes 14:15).
- Kasih di sini bukanlah kasih yang dangkal hanya di level perasaan, tidak berbuat apa-apa dan tanpa arah, melainkan kasih di level roh/iman – kasih yang berdasarkan kebenaran firman dan didemonstrasikan dengan ketaatan kepada perintah Tuhan.
- Ketaatan merupakan ekspresi kasih kita kepada Tuhan. Kita taat bukan karena ketakutan, paksaan, sekadar menjalankan kewajiban, atau karena motivasi lain, misalnya taat hanya untuk mendapatkan mukjizat/jawaban doa.
- Banyak orang berkata: “Saya mengasihi Tuhan…” Tetapi Surga bertanya: mana buktinya? Banyak orang Kristen hanya ‘sayang’ kepada Tuhan Yesus, tapi belum sampai level mengasihi Dia. Menyanyi saat worship itu mudah, tapi penyembahan yang menuntut penyerahan diri bukanlah hal yang gampang. Penyembahan sejati yang berkenan kepada Tuhan adalah ketaatan kita kepada perintah-Nya.
- Kita tidak bisa memisahkan kasih dari penyerahan diri, sebab demikianlah teladan Tuhan Yesus yang telah mendemonstrasikan kasih-Nya kepada kita. Ia telah menyerahkan nyawa-Nya untuk menjadi tebusan bagi banyak orang. Kasih yang sejati menuntut penyerahan diri secara total, di mana kita melepaskan ego dan keinginan pribadi untuk tunduk kepada kehendak Tuhan.
Kasihilah Tuhan, Allahmu, dengan segenap hatimu dan dengan segenap jiwamu dan dengan segenap akal budimu.
- Kasih menggerakkan kita untuk menyangkal diri/pikul salib, rela berkorban, meninggalkan kenyamanan, serta tetap setia dan taat sekalipun dalam situasi sulit. Kasih yang sejati tetap percaya meskipun menderita karena kebenaran. Kasih yang sejati tetap percaya meski belum melihat jawaban doa. Kalau kekristenan kita tidak pernah menuntut apa-apa, mungkin itu hanya kenyamanan, bukan pemuridan.
- Ketaatan tanpa kasih sama sekali tidak berguna (1 Korintus 13: 1-3). Ketaatan tanpa kasih menjadi legalisme yang kering. Perintah-perintah Allah akan menjadi sederet peraturan yang kaku dan terasa memberatkan. Ketaatan tanpa kasih tidak dapat bertahan lama.
Sementara, kasih tanpa ketaatan dapat kehilangan arah dan melenceng dari tujuan sejatinya. Kasih tanpa ketaatan berarti hanya di level perasaan, bukan iman. Tanpa iman, tidak mungkin orang berkenan kepada Allah.
- Bagaimana cara supaya kita mampu menaati Allah?
Jawabannya: kita harus dipenuhi oleh kasih-Nya.
Bagaimana cara supaya dipenuhi oleh kasih Allah?
Dengan menjaga persekutuan yang konsisten dengan Roh Kudus melalui doa, pujian, dan penyembahan. Keintiman dengan Roh Kudus membuat hati kita semakin berakar dan berdasar dalam kasih Allah.
- Karena kasih Allah telah dicurahkan di dalam hati kita oleh Roh Kudus yang telah dikaruniakan kepada kita (Roma 5:5b). Kuasa kasih-Nya yang bekerja dengan kuat dalam kita dapat melakukan jauh lebih banyak dari yang kita doakan/pikirkan, sehingga kita mampu hidup oleh iman dan ketaatan kepada Allah. Barangsiapa menuruti firman-Nya, di dalam orang itu sungguh sudah sempurna kasih Allah (1 Yohanes 2:5).
Aku berdoa supaya Ia, menurut kekayaan kemuliaan-Nya, menguatkan dan meneguhkan kamu oleh Roh-Nya di dalam batinmu, sehingga oleh imanmu Kristus diam di dalam hatimu dan kamu berakar serta berdasar di dalam kasih.
Aku berdoa, supaya kamu bersama-sama dengan segala orang kudus dapat memahami, betapa lebarnya dan panjangnya dan tingginya dan dalamnya kasih Kristus, dan dapat mengenal kasih itu, sekalipun ia melampaui segala pengetahuan.
Aku berdoa, supaya kamu dipenuhi di dalam seluruh kepenuhan Allah. Bagi Dialah, yang dapat melakukan jauh lebih banyak dari pada yang kita doakan atau pikirkan, seperti yang ternyata dari kuasa yang bekerja di dalam kita (Efesus 3:16-20).
PENUTUP
Kasih adalah dasar ketaatan sejati, artinya ketaatan merupakan demonstrasi kasih kepada Allah. Hati yang tidak berakar dalam kasih membuat ketaatan menjadi sesuatu yang membatasi, memberatkan dan menakutkan. Ketaatan adalah respons kita atas kasih Kristus yang telah mengorbankan diri-Nya bagi kita. Jaga api mezbah pribadi kita untuk selalu menyala, jangan biarkan jadi redup bahkan padam. Api yang terus menyala memampukan kita untuk hidup dalam ketaatan, Amen.