DIBERI KUASA UNTUK MENJADI ANAK-ANAK ALLAH

Home / Weekly Message / DIBERI KUASA UNTUK MENJADI ANAK-ANAK ALLAH
DIBERI KUASA UNTUK MENJADI ANAK-ANAK ALLAH

PENDAHULUAN

Kita yang percaya kepada Kristus tidak lagi hidup dalam perbudakan yang menghasilkan ketakutan. Kita adalah ciptaan baru—dipulihkan, diangkat, dan diberi kuasa oleh Roh Kudus untuk hidup sebagai anak-anak Allah. Karya salib Kristus memulihkan hubungan manusia dengan Allah yang terputus akibat dosa—mengubah posisi manusia dari yang tadinya musuh, kemudian diadopsi menjadi anak-anak Allah. Hubungan kita dengan Allah adalah layaknya anak dan bapak, yang didasari oleh kasih, keintiman, rasa hormat, hati nurani yang murni dan iman yang tulus.

Sebab kamu tidak menerima roh perbudakan yang membuat kamu menjadi takut lagi, tetapi kamu telah menerima Roh yang menjadikan kamu anak-anak Allah. Oleh Roh itu kita berseru: “ya Abba, ya Bapa!” Roh itu bersaksi bersama-sama dengan roh kita, bahwa kita adalah anak-anak Allah. (Roma 8:15-16).

ISI

Masalah

Pada kenyataannya, banyak kita yang masih terbelenggu oleh roh perbudakan. Kita perlu belajar mengenali ciri roh perbudakan agar timbul self-awareness, hidup dalam pertobatan, dipulihkan oleh kuasa Roh Kudus dan menjadi anak-anak Allah yang merdeka.

1.  Orphan spirit (roh Yatim Piatu) -> Suatu pola pikir atau mental yang berakar pada ketakutan, penolakan, dan mengandalkan diri sendiri.

Ciri-cirinya:

  • Menjalani hidup layaknya anak yatim, sukar menerima kasih Bapa ataupun merasa aman sebagai bagian dari keluarga Allah (gereja lokal/Cool), sehingga ia merasa harus berjuang dengan cara/kekuatan sendiri.
  • Sukar membangun hubungan dan rasa percaya (trust) kepada Tuhan/orang lain, yang berujung pada perasaan ditinggalkan, ditolak, tidak berharga, dan ketidakpercayaan (mistrust).
  • Memandang teguran/koreksi sebagai penolakan/hukuman.
  • Berorientasi pada performa/kinerja: berusaha keras mendapatkan penerimaan/pengakuan melalui kegiatan pelayanan atau jasa yang sudah dilakukan. Apa yang dilakukan lahir dari rasa takut, rasa tidak aman, dan kebutuhan untuk mendapatkan kasih Allah melalui perbuatan.
  • Perfeksionis: lebih mengejar kesempurnaan daripada mengandalkan kasih karunia Allah.
  • Lebih mengejar karunia, nubuatan, panggilan, atau pelayanan yang dikenal orang daripada keintiman dengan Tuhan.
  • Berusaha menjadi pelaku firman atau melayani menurut pikiran dan cara sendiri, tanpa mengandalkan kuasa Roh Kudus.
  • Mementingkan perkenanan manusia daripada perkenanan Tuhan.

Pola pikir orang yang dibelenggu roh yatim piatu harus dipulihkan dengan pemahaman yang benar akan identitasnya sebagai ciptaan baru dalam Kristus: yang lama sudah berlalu, yang baru sudah datang (2 Kor. 5:17). Perlu pembaruan akal budi dengan Firman Tuhan yang adalah kebenaran. Jika akal budi telah mengalami pembaruan, Roh Kudus secara aktif berkarya memulihkan hati/jiwa serta membawanya hidup dalam kemerdekaan sebagai anak-anak Allah. Aku tidak akan meninggalkan kamu sebagai yatim piatu. Aku datang kembali kepadamu (Yohanes 14:18).

2. Legalistic spirit (law-based living) -> Sikap kepatuhan yang kaku dan berlebihan terhadap aturan/peraturan/hukum/tradisi.

Ciri-cirinya:

  • Kesombongan: perasaan superioritas spiritual terhadap mereka yang tidak mengikuti aturan-aturan ketat yang sama.
  • Berorientasi pada perbuatan: keyakinan bahwa penerimaan oleh Tuhan diperoleh melalui ritual agamawi, atau perilaku moral yang Semakin ketat peraturan yang dibuat, merasa semakin saleh lebih dari yang lain.
  • Suka mencari pembenaran diri, gengsi untuk mengakui kelemahan/kesalahannya di depan orang lain, berlaku munafik.
  • Tidak hidup dalam kasih karunia Allah; hanya berfokus pada penampilan religius, bukannya integritas hati dan transformasi batin.
  • Pengetahuan firman ditafsirkan menurut pengertian sendiri untuk menuding/menghakimi orang lain yang tidak hidup menurut standarnya. Pengetahuan firman tanpa kasih = kesombongan; pengetahuan firman disertai kasih = membangun manusia roh.
  • Menggantikan sukacita akan kasih karunia dengan tekanan ketakutan, perasaan tidak layak (never good enough mentality), atau ketaatan yang obsesif terhadap aturan.

Solusi

  • Di dalam Kristus, hubungan kita dengan Bapa adalah seperti hubungan anak dan bapa yang berlandaskan kasih, keintiman, rasa hormat, hati nurani yang murni dan iman yang tulus.
  • Kunci untuk bebas dari roh perbudakan:
  • Tinggal dalam kasih Kristus (Yohanes 15:9). Di dalam kasih tidak ada ketakutan: kasih yang sempurna melenyapkan ketakutan. Ketakutan mengandung hukuman, dan jika kita takut, kita tidak sempurna di dalam kasih.
  • Tinggal dalam kasih Kristus artinya melakukan perintah-Nya (Yoh. 15:10). Untuk mampu melakukan perintah-Nya: hiduplah dipimpin Roh Kudus. Semua orang yang dipimpin Roh Allah, adalah anak Allah (Roma 8:14).
  • Orang yang hidup dipimpin Roh Kudus akan terus membarui akal budi dengan firman, melakukan pemberesan hati, hidup dalam pertobatan, dan berjalan dalam kasih karunia (bergantung penuh pada Roh Kudus).

PENUTUP

Roh Kudus diberikan supaya kita menjadi anak-anak Allah yang hidup dalam kemerdekaan. Roh perbudakan mendatangkan rasa takut, Roh Kudus memberikan kekuatan, kasih, dan ketertiban (2 Timotius 1:7). Dengan empowerment dari Roh Kudus, kita bisa melaksanakan Amanat Agung: membawa orang-orang kepada Kristus serta memuridkan, supaya nantinya mereka juga bisa memuridkan orang lain, demikian seterusnya.