SEBERAT APA PUN, JANGAN PERNAH KECEWA

Home / Devotional Blog / SEBERAT APA PUN, JANGAN PERNAH KECEWA
SEBERAT APA PUN, JANGAN PERNAH KECEWA

Senin. SEBERAT APA PUN, JANGAN PERNAH KECEWA
Baca: Yohanes 16:1-4a

“Semuanya ini Kukatakan kepadamu, supaya kamu jangan kecewa dan menolak Aku.” Yohanes 16:1

Kecewa terhadap sesama manusia adalah hal yang biasa terjadi karena manusia mudah sekali berubah. Ketika kenyataan tidak sesuai harapan, kita kecewa; ketika orang lain ingkar janji, kita kecewa. Banyak hal seringkali membuat kita kecewa. Itulah manusia, mudah sekali kecewa dan mengecewakan! Yang tidak sepatutnya adalah kecewa kepada Tuhan! Namun kecewa kepada Tuhan seringkali dilakukan oleh banyak orang percaya.

Pernahkah Tuhan mengecewakan kita? Tak sekalipun Tuhan mengecewakan kita: kasih-Nya, kuasa-Nya, cinta-Nya dan perkataan-Nya tak pernah berubah. Sebaliknya, coba hitung berapa kali kita mengecewakan Tuhan? Sungguh, tiada terhitung banyaknya kita mengecewakan Tuhan. Ketika doa-doa kita belum dijawab, ketika dihadapkan pada masalah atau situasi yang berat kita pun langsung kecewa kepada Tuhan. Ketika diperintahkan Tuhan Yesus untuk menjual seluruh hartanya dan membagi-bagikannya kepada orang miskin, seorang muda yang kaya “…menjadi kecewa, lalu pergi dengan sedih, sebab banyak hartanya.” (Markus 10:22). Begitu pula ketika Tuhan Yesus pulang ke kampung halaman-Nya di Nazaret bukannya disambut dengan antusias, tetapi “…mereka kecewa dan menolak Dia.” (Markus 6:3).

Ketika berada di penjara dan dalam tekanan berat rasa kecewa sempat timbul dalam hati Yohanes Pembaptis. Apa sebabnya? Mungkin karena Tuhan Yesus tidak secara terus terang menyatakan diri bahwa Ia adalah Mesias yang sedang dinanti-nantikan oleh umat, sehingga Yohanes pun menyuruh murid-muridnya untuk bertanya langsung: “Engkaukah yang akan datang itu atau haruskah kami menantikan orang lain?” (Matius 11:3). Kata kecewa dalam bahasa Yunani skandalisthe (bentuk pasif dari skandalizo) yang artinya tersinggung, terlukai perasaannya, tersandung oleh seseorang atau sesuatu. Namun dalam perkembangannya Yohanes Pembaptis menyadari dan memahami siapa sesungguhnya Tuhan Yesus.

Dalam keadaan apa pun jangan pernah kecewa kepada Tuhan Yesus, “Yesus Kristus tetap sama, baik kemarin maupun hari ini dan sampai selama-lamanya.” Ibrani 13:8


Selasa: TAHU PERBUATAN BAIK, TAPI TAK MELAKUKAN

Baca: Matius 23:1-36

“Sebab itu turutilah dan lakukanlah segala sesuatu yang mereka ajarkan kepadamu, tetapi janganlah kamu turuti perbuatan-perbuatan mereka, karena mereka mengajarkannya tetapi tidak melakukannya.”  Matius 23:3

Ahli-ahli Taurat dan orang-orang Farisi adalah contoh orang yang tahu banyak tentang firman Tuhan, bahkan bisa dibilang sangat expert dalam hal Taurat Musa.  Bahkan mereka juga mengajarkan apa yang diketahuinya kepada orang-orang Yahudi.  Hebat?  Ya, di hadapan manusia mungkin tampak hebat, tapi sesungguhnya mereka tidak melakukan apa yang dipelajari dan ajarkan.  Itulah sebabnya Tuhan Yesus mengecam keras orang-orang yang demikian dan menyebut mereka sebagai orang-orang munafik.

Menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia  (KBBI), kata munafik memiliki arti:  berpura-pura percaya atau setia dan sebagainya kepada agama dan sebagainya, tetapi sebenarnya dalam hatinya tidak;  suka  (selalu)  mengatakan sesuatu yang tidak sesuai dengan perbuatannya;  atau bermuka dua.  Mereka mengenal kebenaran dengan baik tapi mereka sendiri tidak hidup dalam kebenaran.  Berkenaan dalam hal ini yakobus menulis:  “Jadi jika seorang tahu bagaimana ia harus berbuat baik, tetapi ia tidak melakukannya, ia berdosa.”  (Yakobus 4:17).  Yang dimaksud tahu di sini  (Yunani:  eidon)  adalah melihat, merasa, mengunjungi.  Ini berkaitan dengan apa yang bisa ditangkap oleh pancaindera;  artinya orang telah melihat dan tahu bagaimana cara untuk berbuat baik  (melakukan kebenaran).  Jadi ia seharusnya dapat melakukan hal itu dengan mudah, namun dengan sengaja tidak mau melakukannya.  Jangan pernah membanggakan diri karena kita tahu banyak tentang Alkitab atau menjadi aktivis gereja jika hal itu hanya sekedar tahu secara teori atau mungkin sangat ahli, tetapi tidak melakukan firman Tuhan.

Alkitab menyatakan:  “Sebab dari buahnya pohon itu dikenal.”  (Matius 12:33b).  Contoh sederhana melakukan perbuatan baik:  mengunjungi janda-janda dan yatim piatu dalam kesusahan mereka atau menolong orang yang lemah;  tapi yang dilakukan oleh ahli Taurat dan Farisi:  “…kamu menelan rumah janda-janda sedang kamu mengelabui mata orang dengan doa yang panjang-panjang.”  (Matius 23:14).

Jika kita tahu bahwa hal itu adalah kehendak Tuhan, tapi kita tidak mau melakukannya, betapa berdosanya kita.


Rabu: JANGAN BERLAKU SEPERTI ORANG BEBAL

Baca: Mazmur 53:1-7

“Orang bebal berkata dalam hatinya: ‘Tidak ada Allah!’ Busuk dan jijik kecurangan mereka, tidak ada yang berbuat baik.”  Mazmur 53:2

Semua orang pasti akan merasa tersinggung dan marah besar jika mereka dikata-katai oleh orang lain dengan sebutan orang bodoh, apalagi disebut orang bebal.  Dalam teks aslinya kata bebal diartikan sebagai orang yang bodoh, jahat dan tidak menghormati Tuhan.  Orang bebal dapat diartikan pula orang yang sukar sekali untuk mengerti, tidak cepat tanggap, tidak mau berubah, karena ia menolak pengertian dan pengajaran.

Kita secara terang-terangan tidak mau disebut bebal, namun dalam praktik kehidupan sehari-hari, sadar atau tidak, kita seringkali berlaku seperti orang yang bebal.  Penulis Amsal secara gamblang menggambarkan keberadaan orang bebal sebagai orang yang emosinya sangat labil, emosinya tak bisa dikendalikan sehingga amarahnya mudah sekali meledak-ledak;  orang yang hanya ingin didengar oleh orang lain karena merasa diri paling benar;  orang yang suka sekali mencela, menghina, menghakimi, mencemooh orang lain;  orang yang selalu berbantah-bantahan, artinya suka sekali mencari keributan hanya karena ingin menunjukkan kehebatan atau kemampuannya;  orang yang suka sekali memfitnah atau mencari-cari kesalahan orang lain  (baca  Amsal 18:1-8).

Jelas sekali menunjukkan bahwa orang bebal adalah orang yang tidak takut akan Tuhan, tak menganggap Tuhan itu ada.  Beruntungkah orang yang berlaku demikian?  Firman Tuhan memastikan bahwa hidup mereka tak luput dari hukuman dan yang lebih mengerikan lagi adalah mereka mengalami penolakan dari Tuhan.  “Orang bebal dibinasakan oleh mulutnya, bibirnya adalah jerat bagi nyawanya.”  (Amsal 18:7).  Menjalani hidup di masa seperti ini tidaklah mudah, karena itu rasul Paulus menasihati:  “…perhatikanlah dengan saksama, bagaimana kamu hidup, janganlah seperti orang bebal, tetapi seperti orang arif, dan pergunakanlah waktu yang ada, karena hari-hari ini adalah jahat.”  (Efesus 5:15-16).  Mungkin kita sedang mengalami pergumulan hidup yang berat karena perlakuan yang tidak adil atau kejahatan yang diperbuat orang-orang di sekitar yang tidak mengenal Tuhan.  Jangan takut dan putus asa, karena ada waktunya di mana Tuhan akan menegakkan keadilan-Nya!

Jangan sekali-kali berlaku bebal, karena orang bebal tidak luput dari hukuman!


Kamis, PERBUATAN BAIK SEBAGAI BUAH KESELAMATAN

Baca: Titus 3:1-14

“…Dia telah menyelamatkan kita, bukan karena perbuatan baik yang telah kita lakukan, tetapi karena rahmat-Nya oleh permandian kelahiran kembali dan oleh pembaharuan yang dikerjakan oleh Roh Kudus,”  Titus 3:5

Dunia mengajarkan sebuah prinsip bahwa kunci untuk mendapatkan keselamatan kekal adalah banyak melakukan amal kebaikan.  Karena itu kita harus sering-sering menolong orang lain, memberi sedekah kepada fakir miskin dan sebagainya, di mana semua itu adalah investasi yang sifatnya kekal.  Namun Alkitab menyatakan bahwa kebajikan atau perbuatan baik yang dilakukan oleh orang berdosa adalah seperti kain kotor.  “Demikianlah kami sekalian seperti seorang najis dan segala kesalehan kami seperti kain kotor; kami sekalian menjadi layu seperti daun dan kami lenyap oleh kejahatan kami seperti daun dilenyapkan oleh angin.”  (Yesaya 64:6).

Sebanyak apa pun amal dan kebaikan yang dilakukan takkan pernah mengubah status berdosa di pemandangan Allah, kecuali jika orang berdosa mau datang kepada Kristus, mengakui segala dosa-dosanya,  “Jika kita mengaku dosa kita, maka Ia adalah setia dan adil, sehingga Ia akan mengampuni segala dosa kita dan menyucikan kita dari segala kejahatan.”  (1 Yohanes 1:9), menerima Kristus sebagai Tuhan dan Juruselamat, serta percaya bahwa kematian Kristus di kayu salib adalah untuk menebus dosa-dosanya, sehingga ia memiliki status baru yaitu bukan lagi sebagai seteru Allah, melainkan diangkat sebagai anak-anak Allah.  Inilah yang menjadi titik tolak seseorang untuk menerima keselamatan, sebab  “…siapa yang ada di dalam Kristus, ia adalah ciptaan baru: yang lama sudah berlalu, sesungguhnya yang baru sudah datang.”  (2 Korintus 5:17).  Setelah diselamatkan dan hidup sebagai manusia baru, arah dan tujuan hidup manusia pun menjadi baru yaitu tertuju kepada Kristus dan tidak lagi berpusat pada diri sendiri.  “Barangsiapa mengatakan, bahwa ia ada di dalam Dia, ia wajib hidup sama seperti Kristus telah hidup.”  (1 Yohanes 2:6).

Bagaimana Kristus hidup?  Kehidupan Kristus senantiasa berlimpah dengan kasih dan kebajikan.  Orang yang telah diselamatkan wajib untuk berbuat baik.

Perbuatan baik bukanlah sarana utama untuk mendapatkan keselamatan kekal, tapi merupakan buah dari keselamatan.


Jumat, MENGIKUT TUHAN JANGAN SAMPAI KENDUR

Baca: Ibrani 10:19-39

“Janganlah kita menjauhkan diri dari pertemuan-pertemuan ibadah kita, seperti dibiasakan oleh beberapa orang, tetapi marilah kita saling menasihati, dan semakin giat melakukannya menjelang hari Tuhan yang mendekat.”  Ibrani 10:25

Hidup orang percaya adalah hidup yang berbahagia, karena melalui iman percaya kepada Kristus kita beroleh kepastian keselamatan;  dan karena telah beroleh anugerah keselamatan secara cuma-cuma karena penebusan dalam Kristus Yesus, banyak dari kita yang akhirnya menganggap remeh keselamatan yang telah kita terima.  Kita bersikap pasif, tidak berbuat sesuatu apa pun untuk meningkatkan kualitas hidup rohani kita.

Rasul Paulus menasihati,  “…tetaplah kerjakan keselamatanmu dengan takut dan gentar, bukan saja seperti waktu aku masih hadir, tetapi terlebih pula sekarang waktu aku tidak hadir, karena Allahlah yang mengerjakan di dalam kamu baik kemauan maupun pekerjaan menurut kerelaan-Nya. Lakukanlah segala sesuatu dengan tidak bersungut-sungut dan berbantah-bantahan,”  (Filipi 2:12-14).  Melalui darah Kristus orang percaya beroleh keberanian untuk masuk ke tempat kudus, bertemu dengan Bapa di sorga.  Hal itu bisa terjadi karena Kristus selaku Imam Besar telah membukakan jalan bagi kita.  Namun akhir-akhir ini ada orang-orang Kristen yang justru ketekunan dan kesetiaannya dalam mengikut Tuhan menjadi kendur tatkala dihadapan pada masalah, tekanan atau penderitaan.  Tapi jangan sampai hanya karena masalah atau kesesakan kita menjauhkan diri dari pertemuan-pertemuan ibadah, apalagi sampai mundur dari iman.  “Sebab itu janganlah kamu melepaskan kepercayaanmu, karena besar upah yang menantinya.”  (Ibrani 10:35).  Seorang yang setia mengikuti Tuhan pasti akan ditandai dengan kesetiaannya dalam beribadah dan giat melayani pekerjaan Tuhan, apa pun kondisinya.

Nasihat rasul Paulus kepada Timotius:  “Latihlah dirimu beribadah. Latihan badani terbatas gunanya, tetapi ibadah itu berguna dalam segala hal, karena mengandung janji, baik untuk hidup ini maupun untuk hidup yang akan datang. Jangan lalai dalam mempergunakan karunia yang ada padamu,”  (1 Timotius 4:7b, 8, 14).  Kita harus ingat bahwa  “…penderitaan zaman sekarang ini tidak dapat dibandingkan dengan kemuliaan yang akan dinyatakan kepada kita.”  (Roma 8:18).

Jangan sampai kita melepaskan iman, karena upah besar telah menanti!

Sabtu. JANGAN BANYAK BICARA: Banyaklah Mendengar
Baca: Mazmur 34:12-15

“Jagalah lidahmu terhadap yang jahat dan bibirmu terhadap ucapan-ucapan yang menipu;”  Mazmur 34:14

Salah satu permasalahan yang sedang terjadi di dunia akhir-akhir ini adalah banyak orang cenderung lebih suka berbicara daripada mendengar:  sedikit-sedikit melakukan protes, sedikit-sedikit berkomentar, sedikit-sedikit berdebat, sedikit-sedikit mengkritik, sedikit-sedikit mencela, memaki atau berkata kasar tanpa memperdulikan perasaan orang lain.  Intinya, orang lebih senang berbicara tanpa mau belajar untuk mendengar orang lain.  Ada tertulis:  “Hidup dan mati dikuasai lidah, siapa suka menggemakannya, akan memakan buahnya.”  (Amsal 18:21).  Berhati-hatilah!  Lidah menentukan banyak dalam hidup manusia, dan sebagian besar persoalan dalam kehidupan rumah tangga/keluarga, masyarakat, gereja dan bahkan suatu bangsa seringkali dimulai dari lidah.

Dari awal Tuhan menciptakan manusia dengan satu mulut dan dua telinga dengan tujuan supaya manusia lebih banyak mendengar dari pada berbicara, bukan sebaliknya.  Maka penting sekali menjaga lidah atau perkataan kita.  Orang yang takut akan Tuhan bukan hanya akan mampu menjaga hati dan pikiran, tetapi juga lidahnya.  Kalau berbicara, perkataannya pasti mendatangkan berkat, damai sejahtera, menguatkan, memberi semangat dan memberkati orang yang mendengarnya.  Sebaliknya orang yang tidak bisa menjaga lidahnya dan suka menggemakannya, di mana pun pasti tidak disukai orang dan memiliki banyak musuh, karena lidahnya  “…seperti pisau cukur yang diasah,”  (Mazmur 52:4), sehingga banyak orang terluka karenanya, bahkan bisa menjadi senjata makan tuan.

Tuhan menghendaki kita untuk banyak mendengar!  “Hai anakku, perhatikanlah hikmatku, arahkanlah telingamu kepada kepandaian yang kuajarkan, supaya engkau berpegang pada kebijaksanaan dan bibirmu memelihara pengetahuan.”  (Amsal 5:1-2).  Dengan mengarahkan telinga kepada nasihat, ajaran, saran atau hal-hal positif dan terutama sekali mendengar firman Tuhan, maka bukan hanya pengetahuan, kebijaksanaan dan kepandaian yang semakin ditambahkan, tapi juga berkat-berkat Tuhan semakin dinyatakan dalam hidup kita.

Mencintai hidup dan mau melihat hari-hari baik?  Jagalah lidahmu!  (baca  1 Petrus 3:10-11).


Minggu. MENGASIHI, MELAYANI DAN MENOPANG
Baca: Markus 2:1-12

“ada orang-orang datang membawa kepada-Nya seorang lumpuh, digotong oleh empat orang.”  Markus 2:3

Saling mengasihi, saling melayani, saling menopang adalah sikap yang diperlukan untuk memperkuat sebuah komunitas, persekutuan, pelayanan atau gereja.  Sebuah komunitas, persekutuan, pelayanan dan bahkan gereja, sekalipun memiliki program kerja yang bagus, tapi jika para anggotanya tidak punya kesatuan hati, tidak hidup rukun, berjalan sendiri-sendiri, tidak ada kerjasama, bersikap egois, tidak punya kepedulian satu sama lain, niscaya  goal-nya tidak akan pernah tercapai, sebab ada tertulis:  “Setiap kerajaan yang terpecah-pecah pasti binasa dan setiap kota atau rumah tangga yang terpecah-pecah tidak dapat bertahan.”  (Matius 12:25).

Ketika mendengar Tuhan Yesus datang ke Kapernaum banyak orang berdatangan ingin bertemu Dia dengan berbagai tujuan:  ingin mendengarkan ajaran-Nya, ingin melihat dan mengalami mujizat dan sebagainya.  Tak terkecuali empat orang yang menggotong orang yang menderita lumpuh.  Karena tempat itu penuh sesak,  “…sehingga tidak ada lagi tempat, bahkan di muka pintupun tidak.”  (Markus 2:2), mereka tidak bisa membawa si lumpuh itu secara langsung kepada Tuhan Yesus.  Namun mereka tidak kehilangan akal dan tidak menyerah begitu saja,  “…mereka membuka atap yang di atas-Nya; sesudah terbuka mereka menurunkan tilam, tempat orang lumpuh itu terbaring.”  (Markus 2:4).  Tuhan Yesus melihat kegigihan dan iman mereka, itulah yang menggerakkan hati-Nya untuk bertindak.  Dan akhirnya mujizat dinyatakan!  Orang lumpuh itu pun berjalanlah!

Dari kisah ini kita bisa belajar tentang apa arti sebuah pelayanan yang sesungguhnya.  Yang mendasari keempat orang rela melakukan sesuatu yang baik bagi si lumpuh adalah kasih.  Sesungguhnya tidaklah terlalu sulit bagi mereka untuk menggotong, namun dibutuhkan kerjasama dan kekompakkan untuk menurunkan si lumpuh dari atap ke ruangan di mana Tuhan Yesus berada.  Jika tidak kompak dan berhati-hati, resikonya sangatlah besar!  Lebih penting lagi mereka melakukannya dengan ikhlas, tanpa tendensi apa-apa, terlihat di sepanjang kisah ini nama keempat orang itu tidak sekali pun disebutkan.

“Bertolong-tolonganlah menanggung bebanmu! Demikianlah kamu memenuhi hukum Kristus.”  Galatia 6:2