MENYELESAIKAN AMANAT AGUNG (bagian 1)

Home / Weekly Message / MENYELESAIKAN AMANAT AGUNG (bagian 1)
MENYELESAIKAN AMANAT AGUNG (bagian 1)

PENDAHULUAN

Tuntunan Tuhan yang menjadi tema di tahun 2026 ini adalah Menyelesaikan Amanat Agung. Ini bukanlah sesuatu yang mudah serta dapat dicapai dalam waktu yang singkat. Diperlukan ketetapan hati, ketekunan, unity, ketaatan serta kebergantungan penuh kepada kuasa Roh Kudus untuk dapat mengemban dan menyelesaikan Amanat Agung. Di tengah keadaan dunia yang marak dengan bencana alam, perang, dan berbagai krisis (krisis moral,  sosial,  iklim, ekonomi, kepemimpinan, dlsb), namun justru di situ kuasa kasih dan kemuliaan Allah semakin jelas dinyatakan kepada dunia.

ISI

Percaya atau tidak, sering kali pertobatan terjadi di tengah krisis, masalah dan guncangan. Semua itu membawa manusia kepada sebuah refleksi hati mendalam – menyadari bahwa kehebatan, harta kekayaan, kekuasaan, dan kepintaran tidak dapat menyelamatkan manusia dari kebinasaan. Ternyata  manusia adalah mahluk yang sangat lemah, terbatas dan tidak berdaya di hadapan Tuhan. Pemahaman ini menimbulkan rasa takut akan Allah dan mendorong manusia untuk  merendahkan diri, bertobat, serta mencari Tuhan. Di momen inilah orang percaya harus bangkit menjadi garam dan terang, siap  menuai jiwa-jiwa dan menjadikan mereka murid Kristus.  Guncangan global merupakan kesempatan emas bagi Gereja untuk menyelesaikan Amanat Agung.

Amanat Agung bukanlah suatu pilihan untuk dipertimbangkan, diperdebatkan, atau sekedar menjadi wacana, tapi merupakan perintah dari Tuhan Yesus yang harus ditaati oleh Gereja/setiap orang percaya. Amanat Agung bukan pula sekedar program kerja atau hanya menjadi tanggung jawab gereja tertentu serta para missionaris saja. Sesungguhnya gereja tanpa pemuridan adalah gereja tanpa Kristus.

Yesus mendekati mereka dan berkata: “Kepada-Ku telah diberikan segala kuasa di sorga dan di bumi.  Karena itu pergilah, jadikanlah semua bangsa murid-Ku dan baptislah mereka dalam nama Bapa dan Anak dan Roh Kudus,  dan ajarlah mereka melakukan segala sesuatu yang telah Kuperintahkan kepadamu. Dan ketahuilah, Aku menyertai kamu senantiasa sampai kepada akhir zaman.” (Matius 28:18-20).

Tuhan Yesus tidak pernah memanggil kita untuk menjadi orang percaya yang self-centered, hidup dalam zona nyaman serta tidak peduli sesama. Kita diselamatkan bukan untuk hidup bagi diri sendiri dan melakukan agenda pribadi, tapi untuk melakukan kehendak Allah di jaman ini. Kekristenan bukan soal Tuhan yang kita ‘manfaatkan’ untuk memenuhi permintaan kita, tapi kita yang harus menaati perintah-Nya sebagai bentuk penyembahan dan pengabdian kita.

Mencari Tuhan bukan sekedar untuk memenuhi kebutuhan hidup. Jika kita menjadikan Yesus sebagai Tuhan, artinya Ia menjadi ‘tuan’ dan pusat seluruh aspek hidup kita. Tanda bahwa seseorang benar-benar mengasihi Tuhan adalah punya kerinduan untuk melakukan kehendak-Nya. “Jikalau kamu mengasihi Aku, kamu akan menuruti segala perintah-Ku (Yohanes 14:15).

Tuhan Yesus memerintahkan Amanat Agung kepada para murid (Matius 28:16), bukan kepada mereka yang sekedar jadi jemaat atau pengunjung gereja. Dengan kata lain, setiap jemaat yang tertanam di BIC harus mengalami transformasi oleh kuasa firman dan Roh Kudus supaya menjadi murid Kristus yang siap melakukan Amanat Agung. Kita harus rela mengijinkan Roh Kudus merombak hidup kita supaya menghasilkan karakter murid Kristus. Hanya mereka yang mau dimuridkan (diproses) yang bisa memuridkan orang lain. Menjadi murid Kristus tidak hanya berhenti di Cool dan kelas-kelas pengajaran, tapi bagimana menghidupi firman Tuhan dalam kehidupan sehari-hari dan berjalan dipimpin oleh Roh Kudus.

Ada perbedaan yang mencolok antara rumah yang dibangun di atas batu dengan rumah yang dibangun di atas pasir. Rumah yang dibangun di atas batu adalah orang yang membangun hidupnya atas dasar ketaatan akan firman Tuhan (mendengar perintah Tuhan dan melakukannya, Matius 7:24). Rumah yang dibangun di atas pasir adalah orang yang membangun hidupnya atas dasar pengetahuan firman saja (mendengar perintah Tuhan dan tidak melakukannya, Matius 7:26). Berdasarkan ayat ini kita bisa menarik kesimpulan bahwa ternyata orang yang memiliki pengetahuan firman (diajarkan melalui Ibadah Raya, Cool dan kelas pengajaran) BELUM TENTU menjadi pelaku firman. Bukan berarti kita tidak perlu belajar firman, tapi itu belum cukup. Jangan jadikan firman hanya sebatas informasi rohani, tapi ijinkan firman Tuhan mengubah seluruh hidup kita dari dalam keluar sesuai Alkitab.

Murid Kristus bukan berarti orang yang sudah sempurna, tetapi yang hidup tidak seperti dunia melainkan hidup dalam kekudusan, mau belajar menaati perintah Tuhan serta mau menerima tanggung jawab untuk mengemban Amanat Agung.

Apa yang telah engkau dengar dari padaku di depan banyak saksi, percayakanlah itu kepada orang-orang yang dapat dipercayai, yang juga cakap mengajar orang lain (2 Timotius 2:2).

Sifat seorang murid Kristus yang dapat dipercaya dan cakap mengajar orang lain:

  1. Seperti seorang anak kecil (Matius 18:3-4); merendahkan diri, punya iman murni, sangat bergantung dan percaya penuh kepada Allah. Kerendahan hati di hadapan Tuhan dan manusia memudahkan kita melakukan Amanat Agung dengan sesama tubuh Kristus.
  2. Memiliki sifat prajurit yang tidak memusingkan dirinya dengan soal-soal penghidupannya supaya berkenan kepada komandannya (2 Timotius 2:4). Masalah sehari-hari dan perkara-perkara duniawi tidak mengaburkan fokus seorang prajurit untuk melakukan Amanat Agung.
  3. Memiliki sifat seperti olahragawan yang bertanding menurut peraturan-peraturan olah raga  (2 Timotius 2:5). Tiap-tiap orang yang turut mengambil bagian dalam pertandingan, menguasai dirinya dalam segala hal. Mereka berbuat demikian untuk memperoleh suatu mahkota yang fana, tetapi kita untuk memperoleh suatu mahkota yang abadi.  Sebab itu aku tidak berlari tanpa tujuan  dan aku bukan petinju yang sembarangan saja memukul.  Tetapi aku melatih tubuhku dan menguasainya seluruhnya, supaya sesudah memberitakan Injil kepada orang lain, jangan aku sendiri ditolak  (1 Korintus 9:25-27).
  4. Memiliki sifat seperti petani: pekerja keras, sabar, tekun, setia menabur, menanam, menyiram, memelihara. Menabur kasih, kebenaran, tenaga untuk menolong orang lain, doa, dana, waktu, talenta, dlsb.

Bersambung minggu depan..