Sekilas review minggu lalu:
Tuhan adalah SUMBER segala sesuatu yang memberi kekuatan, hikmat, kekuasaan, dan kekayaan. Kekayaan memang bisa membuat hidup jadi lebih mudah, tetapi jika tidak waspada, kekayaan bisa membutakan mata rohani kita sehingga melupakan Tuhan. Berkat bukanlah tujuan mengikut Tuhan, tetapi perjanjian. Tuhan memberi kemampuan kepada kita untuk memperoleh kekayaan supaya Ia meneguhkan perjanjian-Nya.
Sambungan minggu ini:
Tuhan bukan hanya memberi berkat, tapi juga penguji hati/karakter. Ia menghendaki kita menjadi hamba yang setia/dapat dipercaya untuk mengelola berkat dalam takut akan DIA.
“Barangsiapa setia dalam perkara-perkara kecil, ia setia juga dalam perkara-perkara besar. Dan barangsiapa tidak benar dalam perkara-perkara kecil, ia tidak benar juga dalam perkara-perkara besar. Jadi, jikalau kamu tidak setia dalam hal Mamon yang tidak jujur, siapakah yang akan mempercayakan kepadamu harta yang sesungguhnya? Dan jikalau kamu tidak setia dalam harta orang lain, siapakah yang akan menyerahkan hartamu sendiri kepadamu? Seorang hamba tidak dapat mengabdi kepada dua tuan. Karena jika demikian ia akan membenci yang seorang dan mengasihi yang lain, atau ia akan setia kepada yang seorang dan tidak mengindahkan yang lain. Kamu tidak dapat mengabdi kepada Allah dan kepada Mamon” (Lukas 16:10-13).
Ayat ini berbicara tentang ujian kesetiaan dalam perkara kecil. “Barangsiapa setia dalam perkara-perkara kecil, ia setia juga dalam perkara-perkara besar…” (Lukas 16:10).
- Tuhan melihat yang kecil, manusia melihat yang besar.
Manusia memiliki kecenderungan melihat hal yang kecil itu tidak penting; sementara bagi Tuhan, hal yang kecil dalam pandangan manusia merupakan cerminan hati. Oleh sebab itu, jangan pernah remehkan perkara-perkara kecil sebab sesungguhnya itu merupakan ujian dari Tuhan. Contoh: cara kita memperlakukan uang receh, cara kita mengelola waktu, cara kita menggunakan toilet umum, cara kita mengembalikan trolly belanja pada tempatnya, cara kita menjaga amanat yang sederhana, cara kita memperlakukan tugas pelayanan yang tidak terlihat, cara kita menepati janji/komitmen kecil, dlsb. Ternyata apa yang kita anggap sepele, bisa menjadi ujian besar dari Tuhan yang akan menentukan arah hidup kita.
- Uang adalah latihan rohani, bukan sekadar alat ekonomi.
Yesus dengan sangat tegas mengatakan: “Jika kamu tidak setia dalam hal Mamon yang tidak jujur, siapa akan mempercayakan kepadamu harta yang sesungguhnya?” Jika kita tidak bisa setia mengelola harta duniawi untuk mendatangkan kebaikan bagi diri sendiri, orang lain serta untuk kepentingan Kerajaan Allah, maka Tuhan tidak akan menitipkan harta rohani, hikmat, kapasitas pelayanan, atau memberikan pengaruh yang besar – yang jauh lebih berharga dari harta dunia. Sikap hati terhadap harta materi mencerminkan kesetiaan kita kepada Tuhan, menunjukkan apakah kita dapat dipercaya untuk hal yang lebih besar atau tidak. Demikian pula cara kita mengelola harta orang lain mencerminkan kualitas moral karakter kita.
- Dua Tuan: Tuhan atau Mamon.
“Kamu tidak dapat mengabdi kepada Allah dan kepada Mamon.” (Lukas 16:13c).
Masalahnya bukan pada uang yang kita miliki, tetapi pada siapa yang memegang hati kita.
Beberapa pertanyaan yang dapat mendeteksi siapa sebenarnya yang memegang hati kita, dan siapa ‘tuan’ di hidup kita:
Apakah uang mengendalikan perilaku dan keputusan kita? Apakah kita mengukur harga diri/status sosial dari materi? Apakah kita mengorbankan integritas demi keuntungan? Apakah kita lebih takut kehilangan uang daripada kehilangan hadirat Tuhan? Apakah uang yang menjadi sumber kebahagiaan dan rasa aman kita?
Kita hanya bisa punya satu ‘tuan’. Entah Tuhan yang menguasai dompet kita,
atau Mamon yang menguasai hati kita. Kita harus bisa membedakan: Tuhan adalah SUMBER bahan mentah, tanah yang harus kita olah, pengetahuan yang harus kita gali, dan hubungan yang harus kita pelihara. Uang adalah alat (tools) untuk membantu kita mengolah bahan mentah tersebut dan menjalankan rencana Tuhan.
“…Ikatlah persahabatan dengan mempergunakan Mamon yang tidak jujur, supaya jika Mamon itu tidak dapat menolong lagi, kamu diterima di dalam kemah abagi.” (Lukas 16:9). Jadikan Mamon/harta duniawi sebagai ‘hamba’ yang dipakai untuk menolong orang lain dan membangun Kerajaan Allah, bukan sebagai ‘tuan’ yang mengendalikan hidup kita.
PENUTUP
Allah adalah Sang Pemberi/Sumber berkat, sekaligus penguji hati dan karakter. Kita perlu sering mengingatkan diri sendiri bahwa kita hanyalah pengelola, bukan pemilik. Belajarlah menjadi hamba yang baik dan setia, yang menjalankan talenta tuan-nya, yaitu Tuhan sendiri – SUMBER/PEMILIK segala sesuatu.
Ya TUHAN, punya-Mulah kebesaran dan kejayaan, kehormatan, kemasyhuran dan keagungan, ya, segala-galanya yang ada di langit dan di bumi! Ya TUHAN, punya-Mulah kerajaan dan Engkau yang tertinggi itu melebihi segala-galanya sebagai kepala. Sebab kekayaan dan kemuliaan berasal dari pada-Mu dan Engkaulah yang berkuasa atas segala-galanya; dalam tangan-Mulah kekuatan dan kejayaan; dalam tangan-Mulah kuasa membesarkan dan mengokohkan segala-galanya. (1 Tawarikh 29:11-12).