BEKERJA DARI SUDUT PANDANG TUHAN (bagian 2)

Home / Weekly Message / BEKERJA DARI SUDUT PANDANG TUHAN (bagian 2)
BEKERJA DARI SUDUT PANDANG TUHAN (bagian 2)

Apapun juga yang kamu perbuat, perbuatlah dengan segenap hatimu seperti untuk Tuhan dan bukan untuk manusia.  Kamu tahu, bahwa dari Tuhanlah kamu akan menerima bagian yang ditentukan bagimu sebagai upah.  Kristus adalah tuan dan kamu hamba-Nya.  (Kolose 3:23–24)

PENDAHULUAN

Orang yang memahami bekerja dari sudut pandang Tuhan akan memiliki etos kerja yang berbeda dengan mereka yang bekerja hanya sekedar untuk memenuhi kebutuhan hidup, membangun karier, sekedar menyalurkan hobi, mengumpulkan kekayaan, ataupun alasan lainnya.  Pandangan yang keliru dalam memaknai arti bekerja akan berpengaruh kepada produktivitas seseorang. Pada bahan kali ini, kita mau melakukan kehendak Tuhan melalui pekerjaan/produktivitas sesuai dengan kebenaran firman Tuhan.

PERMASALAHAN

Tuhan menghendaki perspektif kita tentang bekerja tidak sama dengan dunia. Ia mau supaya dunia bisa melihat kasih dan kebaikan-Nya melalui aktivitas dan pekerjaan yang kita lakukan. Kita dipanggil sebagai utusan Kristus yang menerapkan prinsip-prinsip Kerajaan Allah di dunia. Jika kita  tidak melakukannya, maka dunia tidak bisa melihat Kristus melalui kita. Hal-hal yang membuat kita jadi batu sandungan bagi dunia misalnya: kualitas kerja yang buruk, tidak produktif, sering telat/bolos,  malas, tidak disiplin, tidak bertanggung jawab, menghalalkan segala cara untuk mencapai keinginan pribadi, serakah, suka berbantah dengan boss dan rekan sekerja, tidak jujur, perkataan dolak-dalik, suka menunda pekerjaan, dlsb.

SOLUSI

  • Bekerja/memberikan pelayanan tidak hanya dilakukan dalam gereja lokal/komunitas orang percaya, tetapi di manapun kita berada: di rumah/keluarga, tempat kerja, keluarga besar, lingkungan pertemanan, sekolah, dan masyarakat. Anggaplah tempat-tempat itu sebagai ‘ladang’ untuk kita menerapkan prinsip Kerajaan Allah, dan kesempatan untuk menabur benih kasih Tuhan serta nilai-nilai kebenaran.
  • Untuk mencapai tujuan tersebut, ada beberapa sikap/perilaku dalam bekerja yang wajib kita bangun:

a. Memiliki Integritas.

Entah sebagai karyawan ataupun atasan, belajarlah untuk memiliki integritas walau tidak ada yang mengawasi, melihat atau memberi pujian. Sikap yang berintegritas yaitu berkomitmen dan konsisten untuk menjaga nilai, prinsip serta tindakan profesional. Jujur, bertanggung jawab, menjaga etika, disiplin, tidak menjalankan agenda pribadi, tidak menyalahgunakan jabatan/posisi/kekuasaan, serta menghormati/menghargai orang lain. Ingatlah, baik hamba maupun tuan, kedua-duanya adalah hamba Kristus.

b. Dapat dipercaya.

Menjadi orang yang dapat diandalkan untuk melakukan tugas/tanggung jawab secara profesional, dapat menjaga informasi penting/bersifat rahasia, tepat waktu, menepati janji, dsb.

c. Bekerja keras.

Memiliki semangat dan kemauan tinggi untuk mencapai target, tekun, tidak mudah putus asa/menyerah saat menghadapi masalah, terus menggali potensinya, memperbesar kapasitas dengan menambah pengetahuan/wawasan, meningkatkan ketrampilan, bersedia mengambil risiko, memiliki inisiatif/proaktif, melakukan tugas/pekerjaan dengan excellent, do extra mile, dan terus berusaha untuk memberi yang terbaik dari kemampuan yang dimilikinya.

  • Menemukan panggilan hidup melalui pekerjaan dan aktivitas yang kita lakukan. Salah satu tujuan kita diselamatkan adalah untuk melakukan panggilan Tuhan (Efesus 2:10). Menemukan panggilan bukanlah suatu yang instan, melainkan proses yang dirintis oleh Tuhan sejak kita lahir (sekalipun saat itu kita belum mengalami kelahiran baru), dan terus berkembang seiring dengan proses pertumbuhan iman dan pengalaman kita bersama Tuhan.
  • Dalam mengenali panggilan kita, ada 3 hal yang perlu diperhatikan:
    1. Hati yang terbeban, yaitu dorongan yang kuat terhadap suatu hal atau bidang, di mana Tuhan menaruh kerinduan/visi-Nya yang menggerakkan kita untuk melakukan sesuatu.
    2. Kemampuan, mencakup: karunia rohani, karunia natural/bakat alami, pengalaman dan ketrampilan yang diperoleh melalui proses pembelajaran.
    3. Kepribadian, menolong kita untuk mengembangkan diri, meningkatkan kinerja dan membangun hubungan interpersonal serta kolaborasi dengan tim/rekan sekerja.

REFLEKSI

  • Apakah pekerjaan kita mencerminkan penyembahan kepada Tuhan?
  • Apa kegiatan/aktivitas pribadi kita suatu produktivitas yang memuliakan Allah?

PENUTUP

Jadikan Tuhan Yesus menjadi pusat dari seluruh aspek kehidupan kita, maka semua buah pekerjaan dan aktivitas yang kita lakukan pasti memancarkan pikiran dan isi hati Allah. Selama pelayanan di muka bumi, Yesus  memberikan teladan bagi kita untuk memberi yang terbaik, melakukan segala sesuatu dengan segenap hati dan ketulusan semata-mata karena kasih. Tidak mengejar reputasi, mencari keuntungan/kepentingan sendiri, ketenaran, atau puji-pujian yang sia-sia. Belajarlah untuk mencari perkenanan Allah dan bukan manusia, maka kita akan rela melakukan segala sesuatu seperti untuk Tuhan, dan bukan untuk manusia.