TUHAN ADALAH SUMBER KESELAMATAN KITA

Home / Devotional Blog / TUHAN ADALAH SUMBER KESELAMATAN KITA
TUHAN ADALAH SUMBER KESELAMATAN KITA

PERTOLONGAN TERHADAP LAWAN
Baca: Mazmur 108:1-14

“Berikanlah kepada kami pertolongan terhadap lawan, sebab sia-sia penyelamatan dari manusia.”  Mazmur 108:13

Perjalanan hidup yang kita tempuh selama hidup di dunia ini tidaklah selalu berupa jalan yang mulus, ada kalanya kita menghadapi ujian dan rintangan.  Terkadang langkah kaki kita tersandung dan terkadang pula ada jegalan-jegalan dari lawan yang berusaha untuk menjatuhkan.  Kita tidak perlu terkejut akan hal ini, karena hampir semua orang pasti pernah mengalaminya.

Yang disebut lawan di dalam Alkitab ada dua macam, satu pihak adalah Iblis yang merupakan lawan utama, sedangkan yang lain adalah manusia, yang memusuhi dan berusaha untuk menjatuhkan serta menghancurkan.  Mereka memposisikan sebagai oposisi dan berusaha untuk merintangi lingkup gerak kita.  Tak terkecuali raja Daud yang juga harus menghadapi lawan-lawan di sepanjang hidupnya.  Manusia-manusia yang menjadi lawan Daud adalah manusia-manusia yang hatinya dipengaruhi oleh Iblis.  Bagaimana sikap orang percaya ketika berada di situasi sulit seperti ini?  Kita tak perlu panik dan berusaha menyingkirkan lawan dengan kekuatan sendiri.  Serahkanlah semua itu kepada Tuhan melalui doa, karena Dia adalah Hakim yang adil.  Kita dapat berdoa memohon kemenangan dan pembelaan dari Tuhan seperti Daud berdoa  (ayat nas).

Jangan sekali-kali kita menaruh harap atau mencari pertolongan kepada manusia!  “Celakalah orang-orang yang pergi ke Mesir minta pertolongan, yang mengandalkan kuda-kuda, yang percaya kepada keretanya yang begitu banyak, dan kepada pasukan berkuda yang begitu besar jumlahnya, tetapi tidak memandang kepada Yang Mahakudus, Allah Israel, dan tidak mencari TUHAN.”  (Yesaya 31:1).  Selama kita masih mencari pertolongan kepada manusia kita meremehkan kuasa Tuhan dan menempatkan Dia hanya sebagai alternatif.  Berbeda dengan Daud yang dengan sepenuh hati bersandar dan berharap hanya kepada Tuhan.  “Dengan Allah akan kita lakukan perbuatan-perbuatan gagah perkasa, sebab Ia sendiri akan menginjak-injak para lawan kita.”  (Mazmur 108:14).

Saat takut, percayalah hanya kepada Tuhan, karena pada saat yang tepat Tuhan pasti akan menegakkan keadilannya di bumi!


Selasa. TUHAN ADALAH SUMBER KESELAMATAN KITA
Baca: Mazmur 62:1-13

“Hanya Dialah gunung batuku dan keselamatanku, kota bentengku, aku tidak akan goyah.”  Mazmur 62:7

Sebagai manusia kita tak terlepas dari peristiwa-peristiwa yang terkadang membuat hati letih lesu.  Dan apabila tak terkendalikan, perasaan itu akan berubah menjadi suatu tekanan yang menghimpit dan mengakibatkan orang menjadi depresi.  Depresi adalah suasana hati yang buruk dan berlangsung selama kurun waktu tertentu.  Hal itu bisa mengakibatkan seseorang merasa sedih berkepanjangan, putus harapan, tidak punya motivasi untuk melakukan sesuatu dan cenderung menyalahkan diri sendiri.

Ketika menghadapi situasi-situasi sulit, saat itulah kematangan iman orang percaya dapat diukur dan dinilai kadarnya.  Jadi yang menjadi ukuran bukan seberapa tinggi tingkat pendidikan atau harta kekayaan yang dimiliki.  Orang yang karib dengan Tuhan pasti tidak akan gelisah dan takkan goyah imannya, sebab ia tahu persis bahwa Tuhan adalah gunung batu, keselamatan dan kota benteng hidupnya.  Daud pun pernah mengalami hal yang sama, namun ia terus menguatkan diri:  “Mengapa engkau tertekan, hai jiwaku, dan gelisah di dalam diriku? Berharaplah kepada Allah!”  (Mazmur 42:6).  Dalam keletihan batinnya ia segera mendekat kepada Tuhan dan berseru kepada-Nya, sebab  “Hanya dekat Allah saja aku tenang, dari pada-Nyalah keselamatanku.”  (Mazmur 62:2).  Tepatlah bila Daud segera mengambil langkah mencari Tuhan, sebab ketika dalam tekanan berat acapkali manusia kehilangan akal sehatnya.

Bukankah saat-saat ini goncangan terjadi di mana-mana dan sangat meresahkan hati?  Banyak dijumpai orang-orang Kristen mengalami degradasi iman sehingga mereka pun tidak segan-segan melepaskan kepercayaannya kepada Kristus demi mendapatkan jaminan keamanan dari manusia.  Mereka lebih rela menempuh jalan yang berlawanan dengan kehendak Tuhan daripada harus menderita atau kehilangan kesempatan untuk meraih kedudukan dalam dunia ini.  Hal itu seharusnya tidak boleh terjadi!  Karena bagi orang percaya telah tersedia tempat pengungsian yang aman, yaitu di bawah naungan sayap-Nya di mana kita pasti terjaga aman!

Tuhan itu bagi kita tempat perlindungan dan kekuatan, dan sebagai penolong dalam kesesakan, sungguh benar-benar terbukti!  (baca  Mazmur 46:2)


Rabu. IMAN PERCAYA: Kunci Kesembuhan Ilahi
Baca: Mazmur 103:1-22

“Dia yang mengampuni segala kesalahanmu, yang menyembuhkan segala penyakitmu,”  Mazmur 103:3

Tujuan dokter atau tabib memberikan obat kepada pasiennya adalah supaya si pasien mengalami kesembuhan dari sakit-penyakit yang dideritanya, karena  “Bukan orang sehat yang memerlukan tabib, tetapi orang sakit.”  (Matius 9:12).  Untuk membeli obat diperlukan uang atau biaya, namun untuk mendapatkan kesembuhan ilahi  (mujizat)  dari Tuhan kita tidak perlu mengeluarkan uang dari dompet, tidak diperlukan uang satu sen pun, yang diperlukan adalah iman atau percaya.

Tuhan sama sekali tidak membutuhkan uang kita karena Dia adalah si empunya segala-galanya.  Yang Ia cari dalam diri kita adalah iman kita.  “Akan tetapi, jika Anak Manusia itu datang, adakah Ia mendapati iman di bumi?”  (Lukas 18:8).  Jadi syarat mendasar untuk menerima kesembuhan Ilahi adalah beriman 100% kepada Tuhan Yesus, sebagaimana yang Ia katakan,  “Jadilah kepadamu menurut imanmu.”  (Matius 9:29).  Sakit-penyakit apa pun tidak menjadi persoalan bagi Tuhan karena Dia adalah Dokter di atas segala dokter, Tabib yang ajaib.  Tuhan bukan saja mampu menyembuhkan segala jenis penyakit yang diderita oleh manusia, bahkan orang yang sudah mati sekali pun sanggup dibangkitkan-Nya.  Contoh adalah ketika Tuhan Yesus membangkitkan Lazarus, orang yang sudah empat hari mati  (baca  Yohanes 11:43-44).  Kita harus percaya bahwa kuasa Tuhan Yesus tidak pernah berubah,  “…tetap sama, baik kemarin maupun hari ini dan sampai selama-lamanya.”  (Ibrani 13:8).  Mujizat Tuhan pasti dinyatakan asal kita percaya dengan tidak bimbang,  “…sebab orang yang bimbang sama dengan gelombang laut, yang diombang-ambingkan kian ke mari oleh angin. Orang yang demikian janganlah mengira, bahwa ia akan menerima sesuatu dari Tuhan.”  (Yakobus 1:6-7).

Apa yang mustahil bagi manusia tidak mustahil bagi Tuhan!  Tanpa iman percaya kesembuhan Ilahi tidak akan pernah kita alami.  Kesembuhan Ilahi itulah yang disebut mujizat!  Alkitab menyatakan,  “Dialah yang memikul kelemahan kita dan menanggung penyakit kita.”  (Matius 8:17).  Jangan pernah berhenti percaya dan tetap nanti-nantikan Tuhan sampai Ia bekerja di dalam kita!

“Oleh bilur-bilur-Nya kamu telah sembuh.”  1 Petrus 2:24b


Kamis. JANGAN MALU BELAJAR KEPADA SEMUT (1)

Baca: Amsal 30:24-28

“semut, bangsa yang tidak kuat, tetapi yang menyediakan makanannya di musim panas,”  Amsal 30:25

Dalam amsalnya Agur bin Yake menasihati kita agar mau belajar dari kehidupan empat binatang yang paling kecil dan lemah di bumi yaitu semut, kancil, belalang dan cicak.  Umumnya orang akan diminta belajar atau menimba ilmu dari mereka-mereka yang besar, lebih hebat dan berpengalaman lebih, tetapi firman Tuhan hari ini justru mengajak kita untuk belajar bukan dari mereka yang tampak hebat dan besar, melainkan dari empat binatang yang paling kecil;  dan kita tak perlu merasa malu!

Mengapa kita juga harus belajar dari hal-hal yang kecil?  Sebab manusia seringkali hanya memikirkan perkara-perkara yang besar dan heboh, tetapi mereka melewatkan dan mengabaikan hal-hal kecil.  Padahal semua perkara besar selalu berawal atau dimulai dari perkara-perkara kecil terlebih dahulu.  Begitu pula untuk dapat dipercaya mengerjakan perkara-perkara besar kita harus terlebih dahulu menunjukkan kesetiaan dalam mengerjakan perkara kecil.  “Barangsiapa setia dalam perkara-perkara kecil, ia setia juga dalam perkara-perkara besar. Dan barangsiapa tidak benar dalam perkara-perkara kecil, ia tidak benar juga dalam perkara-perkara besar.”  (Lukas 16:10).  Pada kesempatan ini kita akan belajar dari semut, binatang kecil yang mempunyai sifat rajin.  Untuk mencari makan saja mereka harus menempuh perjalanan yang cukup jauh.  Ketika telah menemukan makanan ia tidak bersikap serakah, melainkan melapor kepada teman-temannya dan mengajak mereka untuk beramai-ramai mengangkat makanan itu.  Inilah sifat-sifat semut yang patut kita teladani.  Semut dikenal sebagai binatang yang rajin bekerja alias tidak malas!  Mereka keluar mencari makanan pada waktu musim panas, sehingga pada waktu musim hujan tiba mereka sudah mempunyai persediaan makanan.

Banyak orang memiliki keinginan yang tinggi tapi malas untuk bekerja dan berusaha!  Tak salah jika keinginan itu akhirnya hanya sekedar angan-angan.  Mereka gagal bukan karena tidak mampu, melainkan karena mereka tidak mau berusaha alias malas!  Sedikit saja menemui kesulitan dan tantangan, pemalas pasti akan berhenti berusaha dan menyerah.  Padahal setiap kali kesulitan atau tantangan datang Tuhan selalu memberikan jalan keluar bagi kita  (baca  1 Korintus 10:13b).


Jumat. JANGAN MALU BELAJAR KEPADA SEMUT (2)
Baca: Amsal 6:6-11

“Hai pemalas, pergilah kepada semut, perhatikanlah lakunya dan jadilah bijak:”  Amsal 6:6

Serangga sekecil semut yang lemah itu ternyata memiliki keuletan dan kemampuan untuk bertahan hidup.  Bangsa semut layak untuk dijadikan panutan, karena mereka secara naluriah bertindak mengabdi untuk kepentingan koloninya.  Seekor semut rela melepaskan hak pribadinya, dan seluruh karya hidupnya didedikasikan untuk kepentingan koloninya, sehingga di mana pun kita akan menyaksikan iring-iringan semut bekerja keras nyaris sepanjang waktu, siang hingga malam tanpa mengenal lelah.  Mereka tidak pernah menabur benih, namun lumbung-lumbung mereka senantiasa penuh makanan.  Dengan bekerja sama mereka memastikan cadangan makanan telah tersedia pada musim paceklik.

Semut tidak pernah terlihat bermalas-malasan atau tidak melakukan apa pun, kecuali jika ia benar-benar sakit, cedera berat atau sudah sekarat, sehingga di mana pun berada sering terlihat kawanan kecil itu begitu sibuk mencari makanan.  Yang lebih mengagumkan lagi, seekor semut mampu mengangkut beban yang berukuran hingga 10X berat tubuhnya sendiri.  Mereka akti hilir mudik, bergerak ke sana ke mari, fokus, perhatian utamanya adalah bekerja dan bekerja.  Mereka bekerja dengan sangat mementingkan prinsip bertolong-tolongan.  Solidaritas dan kerjasama tim adalah paket kunci keberhasilan hidup semut.  Selagi ada kesempatan mereka terus bekerja mengumpulkan makanan, sebab jika musim hujan tiba aktivitas dan ruang gerak mereka menjadi terbatas, tapi mereka tak perlu kuatir, sebab ada stok makanan.

Jika dalam prinsip kerja semut tidak ada istilah malas, bekerja ala kadarnya dan mementingkan diri sendiri, coba bandingkan dengan kehidupan manusia…  Gaya hidup bermalas-malasan, bekerja dengan kualitas rendah, hidup berpusat pada diri sendiri justru sudah membudaya di mana-mana.  Sebagai orang percaya tidak selayaknya kita berlaku demikian!  Rasul Paulus menasihati,  “Apapun juga yang kamu perbuat, perbuatlah dengan segenap hatimu seperti untuk Tuhan dan bukan untuk manusia.”  (Kolose 3:23), dan  “Bertolong-tolonganlah menanggung bebanmu!”  (Galatia 6:2a).

Masakan kita tidak malu kepada semut yang mampu berlaku bijak dan memiliki etos kerja yang luar biasa!


Sabtu. MANUSIA DICIPTA BUKAN UNTUK BERMALASAN!

Baca: Pengkhotbah 10:1-20

“Oleh karena kemalasan runtuhlah atap, dan oleh karena kelambanan tangan bocorlah rumah.”  Pengkhotbah 10:18

Ada banyak ayat di Alkitab yang menggambarkan tentang perilaku dan karakteristik pemalas, di antaranya:  “Hati si pemalas penuh keinginan, tetapi sia-sia,”  (Amsal 13:4),  “Seperti pintu berputar pada engselnya, demikianlah si pemalas di tempat tidurnya.”  (Amsal 26:14).  Karena mereka tidak melakukan apa pun maka hasilnya pun menjadi nihil atau nol.  Inilah suatu kehidupan yang tanpa produktivitas.  Sangat menyedihkan!

Tuhan menentang segala bentuk kemalasan, sebab Ia menciptakan manusia secara khusus dengan membekali kecerdasan, talenta dan pelbagai kemampuan yang melebihi ciptaan-Nya yang lain, dengan tujuan supaya manusia dapat mengembangkan kehidupannya secara optimal untuk kemuliaan nama-Nya.  Manusia dapat memuliakan nama Tuhan hanya jika mereka mau bertekun, setia dan bekerja keras.  Oleh karena itu  “Segala sesuatu yang dijumpai tanganmu untuk dikerjakan, kerjakanlah itu sekuat tenaga, karena tak ada pekerjaan, pertimbangan, pengetahuan dan hikmat dalam dunia orang mati, ke mana engkau akan pergi.”  (Pengkhotbah 9:10).  Jadi tidak ada alasan untuk kita bermalas-malasan!  Kemalasan harus dilawan dan diperangi, sebab ada tertulis:  “Orang yang bermalas-malas dalam pekerjaannya sudah menjadi saudara dari si perusak.”  (Amsal 18:9), perusak rencana Tuhan dan perusak masa depannya sendiri!  Masa depan suatu bangsa dipertaruhkan dan terancam akan hancur jika masyarakatnya malas.  Intinya, tidak ada sisi positif sedikit pun dari kemalasan, selalu mendatangkan kerugian dan bencana, serta  “…mengakibatkan kerja paksa.”  (Amsal 12:24).

Sekali lagi, marilah kita belajar dan mengambil sisi positif dari kehidupan semut yang memiliki mobilitas dan produktivitas tinggi sehingga kelangsungan hidup koloninya menjadi sangat terjamin.  Dengan memperhatikan kebiasaan hidup semut ini seharusnya kita semakin dirangsang untuk membuang rasa malas, mau bekerja dengan keras, bertanggung jawab dan memelihara integritas hidup kita.


Minggu. DUNIA: Bukanlah Tempat Berlindung’

Baca: Mazmur 16:1-11

“Jagalah aku, ya Allah, sebab pada-Mu aku berlindung.”  Mazmur 16:1

Adakah tempat yang paling aman di dunia ini sehingga kita dapat berlindung dari segala bahaya?  Di belahan bumi mana pun tak ada tempat yang benar-benar aman, di mana-mana selalu ada bahaya yang mengincar.  Karena dunia ini bukanlah tempat yang aman, maka semua orang memerlukan perlindungan atau penjagaan selama 24 jam penuh.  Para pemimpin negara, raja-raja, selebritis terkenal atau para jutawan, di mana pun berada dan ke mana pun pergi selalu ditemani oleh pengawal atau bodyguard yang bertugas untuk menjaga dan melindungi, meski penjagaan dan perlindungan mereka sangat terbatas.

Sebagai raja atas Israel tentunya Daud memiliki banyak pengawal yang berjaga-jaga, namun ia tak menggantungkan keselamatan jiwanya pada penjagaan manusia.  Daud hanya ingin dijaga oleh Tuhan dan berlindung kepada-Nya, sebab kekayaan, pangkat atau kekuasaan, kehebatan dan kegagahan manusia tak dapat menyelamatkannya.  Daud berkata,  “Orang ini memegahkan kereta dan orang itu memegahkan kuda, tetapi kita bermegah dalam nama TUHAN, Allah kita. Mereka rebah dan jatuh, tetapi kita bangun berdiri dan tetap tegak.”  (Mazmur 20:8-9).  Tuhan adalah satu-satunya tempat perlindungan yang aman,  “Sesungguhnya tidak terlelap dan tidak tertidur Penjaga Israel.”  (Mazmur 121:4).  Daud sangat percaya bahwa tak sedetik pun Tuhan lengah menjaga dirinya, bahkan Tuhan menjaga dia bagaikan biji mata-Nya sendiri.  Inilah doa Daud,  “Tunjukkanlah kasih setia-Mu yang ajaib, ya Engkau, yang menyelamatkan orang-orang yang berlindung pada tangan kanan-Mu terhadap pemberontak. Peliharalah aku seperti biji mata, sembunyikanlah aku dalam naungan sayap-Mu”  (Mazmur 17:7-8).

Melihat dan mendengar berita-berita yang mengejutkan setiap hari sangatlah wajar jika semua orang menjadi was-was dan takut!  Tapi sebagai orang percaya kita tak perlu gentar, sebab kita berada dalam perlindungan yang aman di dalam Tuhan Yesus.  Oleh sebab itu jangan ragu-ragu untuk menyerahkan seluruh keberadaan hidup kita kepada-Nya.  Jangan sekali-kali berharap kepada siapa pun dan kepada apa pun, karena hanya Tuhanlah tempat perlindungan yang aman dan terbaik, dan itu sudah cukup bagi kita.  “Engkaulah Tuhanku, tidak ada yang baik bagiku selain Engkau!”  (ayat 2).

Tuhan Yesus adalah perlindungan bagi orang percaya, tidak ada yang lain!