KETAATAN ADALAH HARGA MUTLAK (1)

Home / Devotional Blog / KETAATAN ADALAH HARGA MUTLAK (1)
KETAATAN ADALAH HARGA MUTLAK (1)

Senin. KETAATAN ADALAH HARGA MUTLAK (1)

Baca: Mazmur 89:21-38

“jika ketetapan-Ku mereka langgar dan tidak berpegang pada perintah-perintah-Ku, maka Aku akan membalas pelanggaran mereka dengan gada, dan kesalahan mereka dengan pukulan-pukulan.” Mazmur 89:32-33

Jujur diakui bahwa banyak orang Kristen yang tidak suka dan ‘merasa alergi’ jika mendengar khotbah tentang ketaatan, karena yang ada di pikiran adalah ketaatan selalu identik dengan larangan-larangan: tidak boleh ini tidak boleh itu, sesuatu yang tidak boleh dilanggar, yang jika dilanggar ada sanksi atau konsekuensinya seperti tertulis: “…setiap pelanggaran dan ketidaktaatan mendapat balasan yang setimpal,” (Ibrani 2:2). Karena itu tidaklah mengherankan jika orang lebih suka mendengar khotbah tentang berkat, keberhasilan, kemenangan, pemulihan, kesembuhan, mujizat dan sebagainya. Yang harus disadari adalah bahwa berkat, keberhasilan, kemenangan, pemulihan, kesembuhan, mujizat adalah dampak atau upah dari ketaatan seseorang dalam melakukan firman Tuhan.

Ketaatan adalah harga yang mutlak jika seseorang ingin mengalami penggenapan janji Tuhan! Ketaatan bukanlah sebatas larangan untuk melakukan sesuatu atau keharusan melakukan sesuatu, tetapi merupakan keseluruhan gaya hidup yang harus dimiliki setiap orang percaya. Ketika ketaatan sudah menjadi gaya hidup dalam diri seseorang, maka melakukan firman Tuhan bukan lagi menjadi suatu beban atau hal yang memberatkan, melainkan menjadi sebuah kesukaan. Tuhan Yesus telah mendemonstrasikan ketaatan-Nya kepada Bapa sebagai gaya hidup di sepanjang hidup-Nya. Hal itu tersirat dari pernyataan-Nya, “Makanan-Ku ialah melakukan kehendak Dia yang mengutus Aku dan menyelesaikan pekerjaan-Nya.” (Yohanes 4:34).

Tuhan memberikan perintah bukan bertujuan untuk membebani, namun sesungguhnya demi kebaikan kita sendiri, karena Ia hendak menuntun ke jalan yang benar supaya rencana-Nya tergenapi yaitu kehidupan yang berlimpahan dan masa depan yang penuh harapan. Yang disesalkan, orang memilih tidak mau taat mengikuti jalan Tuhan, padahal “Segala jalan TUHAN adalah kasih setia dan kebenaran bagi orang yang berpegang pada perjanjian-Nya dan peringatan-peringatan-Nya.” (Mazmur 25:10).

Akibat dari ketidaktaatan: kita gagal menikmati berkat-berkat yang sesungguhnya telah Tuhan sediakan!


Selasa. KETAATAN ADALAH HARGA MUTLAK (2)

Baca: 1 Samuel 15:1-35

“Karena engkau telah menolak firman TUHAN, maka Ia telah menolak engkau sebagai raja.” 1 Samuel 15:23b

Percaya dan taat adalah dua hal yang tak dapat dipisahkan dalam kehidupan kekristenan. Artinya ketika kita percaya kepada Tuhan Yesus kita juga harus taat kepada perintah-Nya, karena tanpa ketaatan tak seorang pun dapat menyenangkan hati Tuhan.

Saul adalah salah satu contoh tokoh di Alkitab yang harus menuai akibat dari ketidaktaatannya melakukan perintah Tuhan. Kita tahu bahwa Saul bukanlah sembarang orang, melainkan seorang raja atas Israel, namun pada akhirnya ia mengalami penolakan dari Tuhan, bahkan Tuhan merasa menyesal telah memilihnya sebagai raja karena ia telah menyepelekan perintah. Melalui nabi Samuel Tuhan berfirman, “…pergilah sekarang, kalahkanlah orang Amalek, tumpaslah segala yang ada padanya, dan janganlah ada belas kasihan kepadanya. Bunuhlah semuanya, laki-laki maupun perempuan, kanak-kanak maupun anak-anak yang menyusu, lembu maupun domba, unta maupun keledai.” (ayat 3). Saul diperintahkan untuk menumpas semua orang Amalek tanpa terkecuali, termasuk hewan ternaknya, namun yang dilakukan: “…Saul dan rakyat itu menyelamatkan Agag dan kambing domba dan lembu-lembu yang terbaik dan tambun, pula anak domba dan segala yang berharga: tidak mau mereka menumpas semuanya itu.” (ayat 9a). Itu artinya Saul tidak taat sepenuhnya kepada Tuhan, karena menyelamatkan raja Amalek dan membawa ternak-ternak mereka yang tambun, dan segala yang berharga, namun di hadapan Samuel ia berkata, “…aku telah melaksanakan firman TUHAN.” (ayat 13).

Saul berpikir ternak-ternak tambun tersebut hendak ia persembahkan kepada Tuhan sebagai korban syukur (karena sudah menjadi tradisi bagi bangsa Israel, setiap kali menang dalam peperangan melawan musuh, mereka mempersembahkan korban syukur kepada Tuhan). Mempersembahkan korban kepada Tuhan memang baik, tetapi jika itu merupakan upaya untuk menutupi dosa atau pelanggaran, maka akan merupakan kejijikan bagi Tuhan karena Tuhan tidak bisa disuap atau disogok! “Sesungguhnya, mendengarkan lebih baik dari pada korban sembelihan, memperhatikan lebih baik dari pada lemak domba-domba jantan.” (ayat 22a).

Apa pun alasannya, setiap ketidaktaatan terhadap firman Tuhan itu fatal akibatnya!


Rabu. KETAATAN ADALAH HARGA MUTLAK (3)

Baca: Yosua 7:1-26

“Tetapi orang Israel berubah setia dengan mengambil barang-barang yang dikhususkan itu, karena Akhan bin Karmi bin Zabdi bin Zerah, dari suku Yehuda, mengambil sesuatu dari barang-barang yang dikhususkan itu.” Yosua 7:1

Di bawah kepemimpinan Yosua bangsa Israel berhasil menaklukkan kota Yerikho yang sangat kuat karena mereka taat melakukan apa yang diperintahkan oleh Tuhan. Namun saat melawan kota Ai yang jumlah penduduknya lebih sedikit (pasal 7) bukan kemenangan yang diraih, sebaliknya orang Israel malah menjadi pecundang. “…mereka melarikan diri di depan orang-orang Ai. Sebab orang-orang Ai menewaskan kira-kira tiga puluh enam orang dari mereka; orang-orang Israel itu dikejar dari depan pintu gerbang kota itu sampai ke Syebarim dan dipukul kalah di lereng.” (ayat 4-5).

Apa yang sebenarnya terjadi? Kekalahan yang sangat memalukan ini terjadi sebagai akibat dari ketidaktaatan orang-orang Israel terhadap perintah Tuhan. Jadi mereka kalah bukan karena tidak lihai dalam mengatur strategi perang, atau jumlah pasukan musuh yang lebih besar. Ketidaktaatanlah yang membuat Tuhan tidak lagi berpihak kepada mereka. Pelanggaran besar apa yang telah diperbuat orang-orang Israel? Ketika mereka menyerang Yerikho, seluruh kota dan isinya harus dikhususkan bagi Tuhan. “…jagalah dirimu terhadap barang-barang yang dikhususkan untuk dimusnahkan, supaya jangan kamu mengambil sesuatu dari barang-barang yang dikhususkan itu setelah mengkhususkannya dan dengan demikian membawa kemusnahan atas perkemahan orang Israel dan mencelakakannya. Segala emas dan perak serta barang-barang tembaga dan besi adalah kudus bagi TUHAN; semuanya itu akan dimasukkan ke dalam perbendaharaan TUHAN.” (Yosua 6:18-19). Namun Akhan telah melanggarnya yaitu mengambil barang-barang berharga yang telah dikhususkan bagi Tuhan.

Ketidaktaatan Akhan ini bukan hanya datangkan kekalahan Israel, tapi juga murka Tuhan atas dirinya dan keluarganya. “‘Seperti engkau mencelakakan kami, maka TUHAN pun mencelakakan engkau pada hari ini.’ Lalu seluruh Israel melontari dia dengan batu, semuanya itu dibakar dengan api dan dilempari dengan batu.” (Yosua 7:25).

“Siapa meremehkan firman, ia akan menanggung akibatnya, tetapi siapa taat kepada perintah, akan menerima balasan.” Amsal 13:13


Kamis. PERCAYA DAN PENGAKUAN: Berjalan Beriringan

Baca: Roma 10:8-15

“Sebab jika kamu mengaku dengan mulutmu, bahwa Yesus adalah Tuhan, dan percaya dalam hatimu, bahwa Allah telah membangkitkan Dia dari antara orang mati, maka kamu akan diselamatkan.” Roma 10:9

Tidak banyak orang Kristen mengetahui rahasia bahwa percaya dan pengakuan adalah dua hal yang tak terpisahkan dan berperan penting dalam kehidupan kekristenan. Ketika kita percaya kepada Yesus sebagai Tuhan dan Juruselamat, percaya kepada firman-Nya, maka dibutuhkan pula sebuah pengakuan yang benar melalui mulut kita. Pengakuan yang benar itulah buah dari iman yang hidup. Hal itu menunjukkan bahwa hati dan mulut memiliki fungsi masing-masing dalam keselamatan kita. Dengan hati kita percaya, tetapi dengan mulut kita pun harus mengaku, dan keduanya harus berjalan secara beriringan, sebab percaya dalam hati saja tidaklah cukup, harus dibuktikan dengan pengakuan melalui mulut kita. Jadi, apa yang kita percayai harus sejalan dengan yang kita akui dengan mulut kita. Percaya kita dan pengakuan kita, itulah yang akan memerintah hidup kita dan menuntun kita kepada keselamatan, kesembuhan, kelepasan dan segala berkat Tuhan kepada kita.

Ketika kita berkata bahwa kita sedang kuatir, maka pada saat kita berkata demikian, seketika itu timbul kekuatiran di dalam hati kita. Ketika kita berkata bahwa kita takut terhadap suatu hal, maka pada saat kita mengatakan itu, kekuatiran sedang merayap di dalam hati kita. “…engkau terjerat dalam perkataan mulutmu, tertangkap dalam perkataan mulutmu,” (Amsal 6:2). Ayub berkata, “Karena yang kutakutkan, itulah yang menimpa aku, dan yang kucemaskan, itulah yang mendatangi aku. Aku tidak mendapat ketenangan dan ketenteraman; aku tidak mendapat istirahat, tetapi kegelisahanlah yang timbul.” (Ayub 3:25-26). Penting sekali untuk menetapkan: apa yang kita percaya dan apa yang kita katakan. “‘Firman itu dekat kepadamu, yakni di dalam mulutmu dan di dalam hatimu.’ Itulah firman iman, yang kami beritakan.” (Roma 10:8).

Karena itu percayalah kepada Tuhan Yesus yang telah menyampaikan janji firman-Nya dan senantiasalah memperkatakan firman Tuhan sebagai wujud pengakuan kita, supaya kuasa firman-Nya bekerja dan berlaku dalam hidup kita!

“‘Aku percaya, sebab itu aku berkata-kata’, maka kami juga percaya dan sebab itu kami juga berkata-kata.” 2 Korintus 4:13


Jumat. FIRMAN TUHAN: Perkataan Tuhan Berkuasa

Baca: Yesaya 45:20-25

“Demi Aku sendiri Aku telah bersumpah, dari mulut-Ku telah keluar kebenaran, suatu firman yang tidak dapat ditarik kembali:” Yesaya 45:23

Alkitab bukanlah buku biasa yang bisa disamakan dengan buku-buku ilmu pengetahuan karya ahli-ahli ternama di dunia, atau sekedar buku bacaan rohani yang bisa dibaca sewaktu-waktu kala seseorang sedang suntuk dan butuh hiburan. Alkitab adalah sabda atau firman Tuhan yang hidup dan berkuasa, Tuhan sendiri yang berfirman kepada manusia. Bahkan alam semesta dan seluruh isinya ini sudah diciptakan oleh firman Tuhan (baca Kejadian 1:1-15). Jadi, “…alam semesta telah dijadikan oleh firman Allah, sehingga apa yang kita lihat telah terjadi dari apa yang tidak dapat kita lihat.” (Ibrani 11:3).

Kalau kita membaca Alkitab artinya kita sedang mendengarkan Tuhan berbicara kepada kita. Perkataan Tuhan itu mempunyai kuasa untuk mencipta, melepaskan, menyembuhkan, menghiburkan dan menyelamatkan. Firman itu adalah Tuhan Yesus sendiri, Dialah yang telah menciptakan langit dan bumi dan segala isinya seperti tertulis: “Pada mulanya adalah Firman; Firman itu bersama-sama dengan Allah dan Firman itu adalah Allah. Ia pada mulanya bersama-sama dengan Allah. Segala sesuatu dijadikan oleh Dia dan tanpa Dia tidak ada suatupun yang telah jadi dari segala yang telah dijadikan. Firman itu telah menjadi manusia, dan diam di antara kita, dan kita telah melihat kemuliaan-Nya, yaitu kemuliaan yang diberikan kepada-Nya sebagai Anak Tunggal Bapa, penuh kasih karunia dan kebenaran.” (Yohanes 1:1-3, 14).

Banyak orang Kristen mengakui kebenaran Alkitab sebagai firman Tuhan yang hidup dan berkuasa, tetapi mereka seringkali memperlakukan Alkitab secara tidak wajar: membuka dan membaca Alkitab jika sedang luang saja, atau memperlakukan Alkitab secara istimewa hanya saat beribadah di gereja saja. Ketika sedang dihadapkan pada masalah atau kesulitan hidup mereka merasa sangsi terhadap kuasa firman Tuhan, dan lebih mempercayai omongan orang atau pendapat manusia, lebih menuruti nasihat orang fasik daripada mengikuti petunjuk firman Tuhan. “Langit dan bumi akan berlalu, tetapi perkataan-Ku tidak akan berlalu.” (Matius 24:35).

Milikilah komitmen seperti pemazmur: “Bagianku ialah TUHAN, aku telah berjanji untuk berpegang pada firman-firman-Mu.” Mazmur 119:57


Sabtu. PEMIMPIN BERHATI GEMBALA

Baca: 1 Petrus 5:1-11

“Janganlah kamu berbuat seolah-olah kamu mau memerintah atas mereka yang dipercayakan kepadamu, tetapi hendaklah kamu menjadi teladan bagi kawanan domba itu.” 1 Petrus 5:3

Jika mendengar kata pemimpin yang acapkali muncul di bayangan adalah orang yang punya kuasa untuk mengatur, memerintah dan memegang kendali. Karena punya otoritas atau kuasa, seorang pemimpin seringkali bertindak semena-mena, mau menang sendiri, tidak mau disalahkan, tidak mau menerima kritikan, apa yang diperintahkan harus dituruti seperti tertulis: “Kamu tahu, bahwa pemerintah-pemerintah bangsa-bangsa memerintah rakyatnya dengan tangan besi dan pembesar-pembesar menjalankan kuasanya dengan keras atas mereka.” (Matius 20:25).

Berbicara tentang kepemimpinan, entah itu kepemimpinan suatu bangsa, sebuah perusahaan atau instansi, gereja, sekolah dan juga keluarga, kita berbicara tentang sebuah keteladanan hidup. “Pemimpin itu memimpin dengan contoh, bukan dengan paksaan.” (Sun Tzu). Bagaimana kita bisa menjadi teladan bagi banyak orang, atau menjadi panutan dalam hal melakukan kehendak Tuhan, itulah inti sebuah kepemimpinan. Rasul Petrus memperingatkan bahwa seorang pemimpin sejati haruslah memiliki hati gembala seperti yang Tuhan Yesus teladankan. Ketika memimpin umat, Tuhan Yesus memposisikan diri-Nya bukan seperti orang yang memerintah atau memimpin dengan tangan besi, melainkan sebagai Gembala yang sedang menggembalakan kawanan domba-Nya. “Akulah gembala yang baik dan Aku mengenal domba-domba-Ku dan domba-domba-Ku mengenal Aku” (Yohanes 10:14). Seorang pemimpin sejati mengenal kawanan dombanya dengan baik, alias memiliki kepekaan. “Telinga seorang pemimpin harus peka dengan suara orang lain.” (Woodrow Wilson).

Seorang pemimpin harus menyadari bahwa orang-orang yang dipimpinnya itu bukanlah orang yang bisa diperlakukan seenaknya, melainkan kawanan domba yang dipercayakan Tuhan untuk dibimbing, dituntun dan diarahkan ke jalan yang benar. Karena itu kita harus mampu menjadi teladan atau berkat bagi yang dipimpinnya, bukan hanya sekedar memerintah. Inilah yang akan menimbulkan respek dari pengikutnya!

Jadilah pemimpin yang mampu memberikan teladan hidup bagi orang lain!


Minggu. ADA BERKAT DI BALIK UCAPAN SYUKUR

Baca: Mazmur 111:1-10

“Aku mau bersyukur kepada TUHAN dengan segenap hati, dalam lingkungan orang-orang benar dan dalam jemaah.” Mazmur 111:1

Jika kita merenungkan kebenaran firman Tuhan dan semua yang Tuhan telah kerjakan dalam hidup ini seharusnya bibir kita takkan pernah berhenti berkata: “Sebab TUHAN itu baik, kasih setia-Nya untuk selama-lamanya, dan kesetiaan-Nya tetap turun-temurun.” (Mazmur 100:5), dan “Bagaimana akan kubalas kepada TUHAN segala kebajikan-Nya kepadaku?” (Mazmur 116:12). Tiada kata selain bibir yang senantiasa memuliakan nama Tuhan (ucapan syukur). Tapi banyak orang Kristen yang lupa mengucap syukur, kecuali dalam keadaan baik (terberkati); padahal di balik ucapan syukur terkandung berkat yang luar biasa pula.

Tuhan Yesus memberi makan 5000 orang laki-laki, tidak termasuk wanita dan anak-anaknya, hanya dengan 5 ketul roti dan 2 ikan, semuanya kenyang, dan bahkan masih tersisa 12 bakul. Berawal dari ucapan syukur, mujizat pun terjadi! “Lalu Yesus mengambil roti itu, mengucap syukur dan membagi-bagikannya kepada mereka yang duduk di situ, demikian juga dibuat-Nya dengan ikan-ikan itu, sebanyak yang mereka kehendaki.” (Yohanes 6:11). Secara naluriah kita terdorong untuk mengucap syukur bila memiliki sesuatu yang berlebih, menerima dalam jumlah besar atau sedang surplus. Ditinjau dari sudut mana pun 5 roti dan 2 ikan tidak akan pernah cukup untuk memberi makan 5000 orang! Sangat tidak masuk akal! Kita pasti akan berkata seperti Filipus, “Roti seharga dua ratus dinar tidak akan cukup untuk mereka ini, sekalipun masing-masing mendapat sepotong kecil saja.” (Yohanes 6:7). Bukankah kita cenderung merasa kuatir, lalu bersungut-sungut, mengomel ketika memiliki atau menerima sedikit?

Dari sepuluh orang yang menderita kusta hanya satu orang Samaria saja yang tidak lupa mengucap syukur kepada Tuhan atas kesembuhan yang dialaminya, sedangkan sembilan orang lainnya pergi begitu saja setelah sembuh. Karena ucapan syukur inilah ia tidak saja disembuhkan dari penyakitnya, tetapi juga beroleh berkat rohani yaitu anugerah keselamatan oleh karena imannya (baca Lukas 17:19).

Di segala keadaan jangan pernah lupa mengucap syukur kepada Tuhan, karena ucapan syukur adalah pintu gerbang menuju berkat!