KEDAULATAN TUHAN vs KEHENDAK BEBAS MANUSIA

Home / Weekly Message / KEDAULATAN TUHAN vs KEHENDAK BEBAS MANUSIA
KEDAULATAN TUHAN vs KEHENDAK BEBAS MANUSIA

Monthly Theme: Menyelesaikan Amanat Agung Diperlengkapi Kuasa Roh Kudus

PENDAHULUAN

Allah memberikan kehendak bebas ketika menciptakan manusia. Bukti bahwa manusia diciptakan “segambar” dan “serupa” dengan Allah adalah manusia diberi akal budi untuk berpikir dan menimbang-nimbang keputusan. Manusia tidak diciptakan bagai sebuah robot/mesin yang hanya beroperasi sesuai dengan tombol perintah dari “sang operator”. Waktu menghadapi banyak pilihan, sebagai makhluk berakal budi, manusia dilatih untuk dapat menimbang-nimbang segala pilihan-pilihan itu, inilah yang disebut dengan kehendak bebas.

ISI

Di Taman Eden, pohon pengetahuan yang baik dan jahat tidak dilenyapkan oleh Tuhan sebagai bukti bahwa Ia menghargai kehendak bebas manusia. Manusia diajar untuk bertanggung jawab dengan pilihan yang dibuatnya, karena ada konsekuensi dari setiap pilihan yang diambil.
Tuhan memberikan kehendak bebas (kemerdekaan) dalam memilih sebagai cerminan pemberian kedaulatan Tuhan bagi manusia dalam porsi yang terbatas. Kehendak bebas manusia sama sekali tidak dapat melunturkan Kemahakuasaan dan Kedaulatan Tuhan.

Mengenai kemerdekaan/kebebasan manusia, ada peringatan keras dalam Galatia 5:13. Walaupun manusia dipanggil untuk hidup dalam kemerdekaan, jangan sampai kehendak bebas itu digunakan untuk hidup dalam dosa yang dapat merusak kehidupan manusia itu sendiri. Sebaliknya, kemerdekaan itu hendaknya dipakai untuk dapat melayani/membangun satu dengan lainnya atas dasar kasih sesuai dengan kehendak Tuhan.

Barry Schwartz, lewat Paradox of Choice menyatakan bahwa ada dua jenis kebebasan atau kemerdekaan:
• Kebebasan Negatif (Negative Freedom): adalah bebas dari perintah dan aturan. Dengan bebas dari perintah dan aturan, manusia menjadi makhluk liar.
• Kebebasan Positif (Positive Freedom): adalah suatu keadaan dimana dengan kebebasan yang dimiliki, manusia memilih untuk melakukan isi perintah dan aturan yang dapat memaksimalkan potensinya.

Bila kebebasannya digunakan secara negatif, manusia menjadi bebas sebebas bebasnya, tanpa aturan, tanpa hukum, tanpa etika, tanpa moral, tanpa mempertimbangkan hak dan kewajiban sesamanya; dan manusia akan menjadi makhluk yang liar. Tapi bila kebebasannya digunakan untuk memilih yang baik dan benar, maka lewat pilihannya itu, ia dapat memaksimalkan potensi dirinya sendiri dan juga potensi orang lain, sehingga apa yang sudah dirancangkan oleh Allah Sang Pencipta dapat dicapai secara penuh.

Tuhan menghendaki manusia menggunakan kehendak bebasnya untuk menaati kehendak-Nya. Allah ingin manusia mengikuti kehendak-Nya bukan karena terpaksa, melainkan dengan sadar memilih untuk taat akan perintah Tuhan. Inilah tujuan Tuhan memberikan kehendak bebas kepada manusia; di tengah-tengah segala pilihan yang ada, manusia tetap dapat menaati kehendak Tuhan. Sayangnya manusia gagal, keliru menggunakan kehendak bebasnya, sehingga jatuh ke dalam dosa. Padahal, jika manusia memilih untuk taat kepada Tuhan, rencana Tuhan akan digenapi dengan sempurna (Kejadian 1:28).

Tuhan tetap bekerja diatas kehendak bebas manusia. Roma 8:28 mengatakan bahwa Allah turut bekerja dalam “segala sesuatu”, termasuk di dalamnya adalah kehendak bebas manusia. Allah dapat menunjukkan kedaulatan-Nya dalam kehendak bebas manusia.  Ketika saudara-saudara Yusuf merancangkan yang jahat kepadanya, Tuhan tidak melakukan intervensi atas tindakan jahat mereka tapi Allah menggunakan perbuatan-perbuatan jahat saudara-saudara Yusuf tersebut untuk menjadi jalan bagaimana Allah memelihara sebuah bangsa yang besar. Ia dipakai Tuhan untuk menyelamatkan keluarganya dari bencana kelaparan (Kejadian 50:20).

Bagaimana cara menggunakan kehendak bebas dengan benar? Dalam Yohanes 15:7 Tuhan mengatakan “Jikalau kamu tinggal di dalam Aku dan firman-Ku tinggal di dalam kamu, mintalah apa saja yang kamu kehendaki, dan kamu akan menerimanya.”
“Mintalah apa saja yang kamu kehendaki, dan kamu akan menerimanya”, terlihat betapa Tuhan juga tetap menghargai kehendak bebas manusia. Bagaimana supaya kehendak bebas manusia tidak dipakai sembarangan sehingga jatuh dalam dosa? Jawabannya adalah, “Jikalau kamu tinggal di dalam Aku dan firman-Ku tinggal di dalam kamu”. Supaya tidak salah dalam menggunakan kehendak bebasnya, manusia harus betul-betul hidup melekat dengan Tuhan dan selaras dengan Firman Tuhan.

Tuhan mengajarkan manusia untuk memiliki pengetahuan (cognitive) yang benar tentang Tuhan dan memiliki pengalaman hidup (affective) bersama dengan Tuhan sehingga manusia dapat menggunakan kehendak bebas yang sesuai dengan kehendak Tuhan. Cognitive adalah aktivitas mental/proses berpikir yang melibatkan kemampuan otak dalam menerima, memproses, menyimpan, dan menggunakan informasi. Ini mencakup fungsi seperti belajar, mengingat, memecahkan masalah, penalaran, perhatian, dan pengambilan keputusan. Affective adalah kata sifat yang berkaitan dengan emosi, perasaan, suasana hati (mood), dan sikap seseorang. Istilah ini digunakan untuk menggambarkan bagaimana perasaan memengaruhi perilaku, pemikiran, atau reaksi seseorang terhadap stimulus.

Filipi 2:5 “Hendaklah kamu dalam hidupmu bersama, menaruh pikiran (cognitive) dan perasaan (affective) yang terdapat juga dalam Kristus Yesus”. Untuk menjadi seperti Yesus, seorang pribadi yang kuat membutuhkan keseimbangan antara cognitive (pikiran) dan affective (perasaan) seperti Filipi 2:5 dan Galatia 5. Supaya manusia tidak tersesat dalam kehendak bebasnya, ia harus hidup sesuai dengan pimpinan Roh Kudus, “Maksudku ialah: hiduplah oleh Roh, maka kamu tidak akan menuruti keinginan daging.” (Galatia 5:16).

PENUTUP

Diskusi:
Mengasihi Tuhan bukan sekedar perasaan sayang/kasih, tetapi harus didemonstrasikan dengan ketaatan (Yohanes 14:15). Jika kita mengasihi Tuhan, kita akan memakai kemerdekaan/kehendak bebas kita untuk taat melakukan perintah Tuhan; hidup di pimpin Roh Kudus dan Firman Tuhan. Baca Galatia 5:13.