Sekilas review:
Sebagai orang-orang yang dipilih, kita diperintahkan untuk hidup berpadanan dengan panggilan tersebut, artinya kita harus mengerjakan keselamatan itu (Filipi 2:12-13) melalui pemuridan. Melalui proses pemuridan, hidup kita akan ditransformasi/diperbarui dalam seluruh area.
Proses transformasi yang bersifat holistik (menyeluruh) ini terjadi melalui:
a. Pembacaan dan perenungan firman.
b. Belajar melakukan firman, bukan cuma mendengar dan memiliki pengetahuan firman.
Sambungan minggu ini:
c. Belajar dari pengalaman, dan dari kesalahan diri sendiri maupun orang lain.
Awal dari transformasi rohani adalah kesadaran diri (self-awareness). Self-awareness memungkinkan individu memahami watak, mengenali pikiran dan perasaan sendiri, kecenderungan sikap/perilaku yang bisa membuat kita jatuh, kelemahan/kekurangan, kelebihan, kesalahan/dosa, kondisi/motivasi hati serta kebutuhan akan perubahan. Tanpa kesadaran diri, seseorang tidak akan menyadari kalau dirinya perlu berubah, bertobat, mencari Tuhan, menerima pemulihan dan mengalami transformasi. Self-awarness memerlukan kejujuran, kerendahan hati, pengetahuan akan firman kebenaran serta kebergantungan kepada kuasa Roh Kudus.
Penting untuk diperhatikan bahwa self-awareness yang benar harus berpusat pada Kristus dan kasih karunia Allah. Memahami identitas kita dalam DIA yang telah mengasihi kita (yaitu sebagai ciptaan baru, bangsa pilihan, imamat yang Rajani, bangsa yang kudus, umat kepunyaan Allah sendiri, sebagai anak-anak Allah yang telah diberi kuasa), dan apa tujuan Allah memanggil kita keluar dari kegelapan (yaitu untuk hidup dalam kebenaran dan kekudusan, berbuah dan menjadi saksi Kristus di dunia).
Hal ini penting supaya tidak terjebak dalam gambar diri yang keliru (yang menimbulkan perasaan tidak aman/feeling insecure), mengasihani diri sendiri (self-pity); atau sebaliknya menjadi sombong rohani karena memiliki kelebihan, karunia, menerima mukjizat, mengalami kemenangan atau berhasil dalam pelayanan.
Mengetahui bahwa Roh Kudus berdiam di hati kita adalah satu hal, akan tetapi menyadari kehadiran-Nya setiap saat dalam seluruh hidup kita adalah hal lain yang harus dilatih. Bahwa Roh Kudus mengerti isi pikiran, perasaan, serta mengetahui kedalaman/rahasia hati kita. Kesadaran ini mendorong kita untuk menghormati Kristus dalam hati dan jiwa (pikiran, perasaan, tindakan yang berupa perkataan dan keputusan). Tetapi kuduskanlah Kristus di dalam hatimu sebagai Tuhan (1 Petrus 3:15a). Kesadaran akan kehadiran Roh Kudus membawa kita senantiasa hidup dalam pertobatan, rindu untuk hidup dalam kebenaran/kekudusan dan berkenan di hadapan Tuhan.
Satu-satunya yang layak menjadi teladan bagi kita hanyalah Tuhan Yesus, sebab hanya Dia yang sempurna dan tidak pernah berbuat dosa. Namun sebagai anggota tubuh Kristus yang saling mengasihi, kita bisa menjadi contoh bagi sesama anggota Cool dalam arti membagikan sesuatu yang bisa dipelajari: baik dari kesalahan, kejatuhan, kebodohan, kesombongan, kelemahan/kekurangan, kelebihan; dan bagaimana kasih karunia Allah menolong, memerdekakan, memulihkan dan membawa kita kepada kemenangan. Hal-hal apa yang harus ditanggalkan, dihindari, dilakukan, ditingkatkan, dlsb. Buah kehidupan kita bisa menjadi ‘benih’ dan berkat bagi orang lain; menolong mereka untuk bertumbuh dalam iman, kasih, ketaatan dan karakter.
d. Ujian iman: masalah, tantangan, penderitaan, krisis, gesekan, sakit-penyakit, dlsb.
Masalah, kesesakan/penderitaan menyadarkan kita akan keterbatasan dan kelemahan diri. Saat mengandalkan diri sendiri atau orang lain, kita malah jauh dari berkat dan solusi. Masalah dan penderitaan mengajarkan kita hanya Tuhan satu-satunya yang bisa diandalkan sebab Dialah sumber segala sesuatu.
Allah dapat memakai masalah dan penderitaan untuk mengubah cara pandang; memurnikan, mendewasakan, dan mengokohkan iman; serta membentuk karakter kita. Kita jadi semakin bergantung kepada Roh Kudus. IA menolong kita untuk bisa meresponi masalah/penderitaan dengan benar, belajar rendah hati, belajar mengasihi dan mengampuni orang lain, bertekun dalam iman, menantikan pertolongan-Nya, serta bertindak dengan kuasa-Nya. Allah turut bekerja dalam segala sesuatu untuk mendatangkan kebaikan (dalam hal ini transformasi), bagi kita yang mengasihi Dia dan terpanggil sesuai dengan rencana-Nya (Roma 8:28).
e. Melalui pelayanan.
Pelayanan (dalam atau luar gereja) menolong kita untuk:
- bertumbuh dalam mengasihi Tuhan dan sesama (saling merendahkan hati, saling melayani), belajar menundukkan diri,
- melayani dengan motivasi hati yang benar, kudus dan tulus,
- mempertahankan kedisiplinan rohani (membaca firman secara teratur, mezbah pribadi/ pujian penyembahan, bersyafaat untuk orang lain, menjaga kekudusan),
- mengembangkan karunia dan talenta, melatih kepekaan rohani (melayani dalam pimpinan Roh Kudus),
- meningkatkan skill/ketrampilan, baik dalam hal teknis maupun interpersonal (komunikasi, kerja sama/unity dalam tim, manajemen waktu, adaptasi, mengatasi masalah, dsb).
PENUTUP
Sebab banyak yang dipanggil, tetapi sedikit yang dipilih ..Jangan berpuas diri hanya sebagai orang Kristen yang ‘dipanggil’ (sekedar pengunjung atau anggota jemaat), tetapi jadilah orang yang ‘dipilih’. Responi panggilan Tuhan dengan cara bertekun dalam proses pemuridan agar kita sampai kepada tujuan pemanggilan itu sendiri, yaitu hidup dalam kebenaran & kekudusan, berbuah dan menjadi saksi Kristus di dunia.