Sebab banyak yang dipanggil, tetapi sedikit yang dipilih (Matius 22:14)
PENDAHULUAN
Banyak yang dipanggil, tetapi sedikit yang dipilih. Undangan ini bukan bicara tentang Allah pilih kasih atau membatasi keselamatan hanya untuk orang/golongan/bangsa tertentu saja. Panggilan keselamatan ditujukan kepada semua orang tanpa terkecuali, namun hanya sedikit yang meresponi panggilan tersebut dengan sungguh-sungguh. Banyak yang dipanggil, tapi yang dipilih hanyalah mereka yang sungguh-sungguh. Panggilan bersifat umum, namun pemilihan didasarkan pada hidup dalam pertobatan, ketaatan dan kesetiaan.
ISI
Sebagai orang-orang yang dipilih, kita diperintahkan untuk hidup berpadanan dengan panggilan keselamatan tersebut, artinya kita harus mengerjakan keselamatan itu (Filipi 2:12-13) melalui pemuridan. Melalui proses pemuridan, hidup kita akan ditransformasi/diperbarui dalam seluruh area.
Cara pandang kita diubah sesuai dengan perspektif Allah; nilai/prinsip, sikap dan perilaku disesuaikan dengan nilai-nilai kebenaran; hati dan jiwa dipulihkan, dan hidup kita diarahkan kepada tujuan yang benar yaitu berporos pada kehendak Allah. Pemuridan menjadikan kita dewasa dalam iman dan karakter; tajam dalam skill/kecakapan untuk melakukan tugas pelayanan sesuai karunia masing-masing; dewasa dalam pemikiran, menghadapi masalah dan mengambil keputusan; dalam mengelola berkat/finansial; dalam hubungan dengan orang lain, menyikapi perbedaan, gesekan serta menghadapi orang-orang yang sulit, dlsb.
Proses transformasi yang bersifat holistik (menyeluruh) ini terjadi melalui hal-hal berikut:
1. Pembacaan dan perenungan firman.
Janganlah kamu menjadi serupa dengan dunia ini, tetapi berubahlah oleh pembaharuan budimu, sehingga kamu dapat membedakan manakah kehendak Allah: apa yang baik, yang berkenan kepada Allah dan yang sempurna. (Roma 12:2).
Akal budi adalah hal pertama yang harus mengalami pembaruan. Dalam membaca dan merenungkan firman, minta Roh Kudus menerangi hati dan jiwa kita agar mengerti kebenaran firman dan mengerti kehendak Allah secara khusus bagi kita. Dengan perenungan, firman Tuhan bukan hanya jadi pengetahuan, tapi menjadi pewahyuan/rhema yang memperbarui akal budi kita.
Pikiran/pemahaman/ cara pandang yang keliru diluruskan, perasaan/emosi negatif disingkapkan, motivasi hati yang salah dikoreksi, hati yang keras dilembutkan, kesombongan diruntuhkan. Kita jadi mengenal cara kerja Allah dan kehendak-Nya, apa yang Dia suka dan tidak, dlsb. Firman Tuhan menjadi pelita yang menerangi kegelapan dalam hati dan jiwa, menjadi cermin rohani yang menyatakan dosa/kesalahan, menyingkapkan kelemahan/kekurangan diri yang tidak kita sadari, mengoreksi hati, dengan demikian kita diajar dan dididik dalam kebenaran (2 Timotius 3:16).
2. Belajar melakukan firman, bukan cuma mendengar dan memiliki pengetahuan firman.
Kita tidak mampu mengerti firman dan melakukannya jika tidak ditolong oleh Roh Kudus. Meski sudah memiliki banyak pengetahuan firman, tapi kita belum tentu mampu melakukan firman menurut kehendak Allah. Pengetahuan firman tanpa hikmat pewahyuan membuat kita tidak mengerti dan tidak bisa menjadi pelaku firman; pengertian tanpa ketaatan pun sia-sia.
Permulaan hikmat ialah perolehlah hikmat, dan dengan segala yang kau peroleh, perolehlah pengertian (Amsal 4:7).
Dari segala pengetahuan firman yang kita peroleh, perolehlah hikmat/pengertian/pewahyuan/rhema. Pengetahuan firman adalah apa yang kita dapat dari sharing bahan Cool, mendengarkan khotbah di ibadah raya, dari membaca renungan,dan kelas-kelas pengajaran; hikmat adalah penerapan dari pengetahuan firman dengan tepat, benar dan bijak. Pengetahuan (knowledge) menjelaskan ‘what’, pengertian (understanding) menjelaskan ‘how’, hikmat (wisdom) menjelaskan ‘why’.
Pengetahuan membuat kita mengerti bahwa hari ini akan hujan, hikmat membuat kita menyediakan payung. Pengetahuan membuat kita memahami bahwa lampu hijau telah berubah menjadi merah, hikmat membuat kita menginjak rem. Pengetahuan menghapal ayat-ayat firman, pengertian menolong kita mengerti makna firman, hikmat membuat kita menghidupi/melakukan firman tersebut.
Hanya Roh Kudus yang mampu menerangi hati dan jiwa kita untuk mengerti kehendak Allah melalui firman tersebut. Hanya Roh Kudus yang bisa memberi hikmat, pewahyuan dan rhema firman serta mendorong kita untuk melakukan firman.
Bersambung minggu depan …