Tuntunan Tuhan yang menjadi tema di tahun 2026 ini adalah Menyelesaikan Amanat Agung. Di tengah keadaan dunia yang marak dengan bencana alam, perang, dan berbagai krisis (krisis moral, sosial, iklim, ekonomi, kepemimpinan, dlsb), namun justru di situ kasih dan kuasa Allah semakin jelas dinyatakan kepada dunia.
Percaya atau tidak, sering kali pertobatan terjadi di tengah krisis, masalah/guncangan. Semua itu membawa manusia kepada sebuah refleksi hati mendalam – menyadari bahwa betapapun hebat, kaya, pintar, ternyata manusia adalah makhluk yang sangat lemah, terbatas dan tidak berdaya di hadapan Tuhan. Pemahaman ini menimbulkan rasa takut akan Allah dan mendorong manusia untuk merendahkan hati, bertobat, serta mencari Tuhan. Di momen inilah orang percaya harus bangkit menjadi GARAM dan TERANG, siap menuai jiwa-jiwa dan menjadikan mereka murid Kristus. Guncangan global merupakan kesempatan emas bagi Gereja untuk secara unity dan terpadu menyelesaikan Amanat Agung.
Amanat Agung bukanlah suatu pilihan untuk dipertimbangkan, diperdebatkan, atau sekedar menjadi wacana, tapi merupakan perintah dari Tuhan Yesus yang harus ditaati oleh Gereja/setiap orang percaya. Amanat Agung bukan pula sekedar program kerja atau hanya menjadi tanggung jawab gereja tertentu serta para misionaris saja. Sesungguhnya gereja tanpa pemuridan adalah gereja tanpa Kristus.
Yesus mendekati mereka dan berkata: “Kepada-Ku telah diberikan segala kuasa di sorga dan di bumi. Karena itu pergilah, jadikanlah semua bangsa muridKu dan baptislah mereka dalam nama Bapa dan Anak dan Roh Kudus, dan ajarlah mereka melakukan segala sesuatu yang telah Kuperintahkan kepadamu. Dan ketahuilah, Aku menyertai kamu senantiasa sampai kepada akhir zaman.” (Matius 28:18-20).
Tuhan Yesus tidak pernah memanggil kita untuk menjadi orang percaya yang egois/tidak peduli sesama. Kita diselamatkan bukan untuk hidup bagi diri sendiri dan melakukan agenda pribadi, tapi untuk melakukan kehendak Allah di zaman ini. Bukan Tuhan yang kita tuntut harus memenuhi keinginan kita, tapi kita yang harus menaati perintah-Nya sebagai bentuk penyembahan dan pengabdian kita.
Melakukan kehendak Tuhan adalah kerinduan utama orang yang mengasihi Tuhan. Mencari Tuhan bukan sekedar untuk memenuhi kebutuhan hidup. Kita harus rela mengijinkan Roh Kudus merombak hidup kita supaya menghasilkan karakter murid Kristus yang siap melakukan Amanat Agung. Hanya mereka yang mau dimuridkan (diproses) yang bisa memuridkan orang lain. Murid Kristus bukan berarti sudah sempurna, tetapi yang mau hidup dalam pertobatan (tidak hidup dalam dosa), hidup dalam kekudusan, mau menaati perintah Tuhan serta mau menerima tanggung jawab/melakukan bagiannya.
Sifat seorang murid Kristus yang siap serta dapat dipercaya dan cakap mengajar orang lain:
1. Seperti seorang anak kecil (Matius 18:3-4); merendahkan diri, punya iman murni, sangat bergantung dan percaya penuh kepada Allah. Kerendahan hati di hadapan Tuhan dan manusia memudahkan kita melakukan Amanat Agung dengan sesama tubuh Kristus.
2. Memiliki sifat prajurit yang tidak memusingkan dirinya dengan soal-soal penghidupannya supaya berkenan kepada komandannya (2 Timotius 2:4). Masalah sehari-hari dan perkara-perkara duniawi tidak mengaburkan fokus seorang prajurit untuk melakukan Amanat Agung.
3. Memiliki sifat seperti olahragawan yang bertanding menurut peraturan-peraturan olahraga (2 Timotius 2:5). Tiap-tiap orang yang turut mengambil bagian dalam pertandingan, menguasai dirinya dalam segala hal. Mereka berbuat demikian untuk memperoleh suatu mahkota yang fana, tetapi kita untuk memperoleh suatu mahkota yang abadi. Sebab itu aku tidak berlari tanpa tujuan dan aku bukan petinju yang sembarangan saja memukul. Tetapi aku melatih tubuhku dan menguasainya seluruhnya, supaya sesudah memberitakan Injil kepada orang lain, jangan aku sendiri ditolak (1 Korintus 9:25-27).
Memiliki sifat seperti petani: pekerja keras, sabar, tekun, setia menabur, menanam, menyiram, memelihara. Menabur kasih, kebenaran, tenaga untuk menolong orang lain, doa, dana, waktu, talenta, dlsb.
Tuhan Yesus sendiri memberi contoh nyata, bahwa Ia datang ke dunia mengosongkan diri-Nya dan mengambil rupa seorang hamba untuk melayani, bukan untuk dilayani. Sebelum memberikan Amanat Agung, Tuhan Yesus memberikan Perintah Agung dalam Matius 22: 37-39 ..
“Kasihilah Tuhan, Allahmu, dengan segenap hatimu dan dengan segenap jiwamu dan dengan segenap akal budimu. Itulah hukum yang terutama dan yang pertama. Dan hukum yang kedua, yang sama dengan itu, ialah: Kasihilah sesamamu manusia seperti dirimu sendiri..”
Melaksanakan Amanat Agung merupakan pewujudan dari Perintah Agung; di mana kasih adalah motivasi dan tujuan dari semua pekerjaan misi. Kasih di sini bukanlah kasih yang dangkal hanya di level perasaan, tapi kasih di level roh/iman – kasih yang berdasarkan kebenaran firman.
Kasih sejati ini memampukan kita berkorban agar orang lain menerima keselamatan, menjadi murid Kristus dan warga Kerajaan Allah.
Dalam praktiknya, sering terjadi salah kaprah dengan menganggap bahwa Amanat Agung hanya sebatas pemberitaan Injil Kristus/Injil Keselamatan saja; padahal Tuhan Yesus juga memerintahkan kita untuk membaptis orang yang percaya kepada-Nya dan memuridkan mereka; memberitakan Injil Kerajaan Allah kepada semua makhluk.
“Pergilah ke seluruh dunia, beritakanlah Injil kepada segala makhluk” (Markus 16:15).
Dan Injil Kerajaan ini akan diberitakan di seluruh dunia menjadi kesaksian bagi semua bangsa, sesudah itu barulah tiba kesudahannya (Matius 24:14).
Injil Kristus adalah kabar baik keselamatan melalui iman kepada Tuhan Yesus; Injil Kerajaan Allah adalah kabar baik tentang pemerintahan Allah yang hadir di bumi meliputi hukum, tatanan, keadilan, pemulihan, dan kehidupan yang sesuai kehendak-Nya. Aplikasi Amanat Agung harusnya bukan cuma menyentuh aspek rohani saja, tapi juga jasmani (Misi yang Holistik). Misi yang holistik adalah misi yang dilaksanakan oleh para rasul dan selanjutnya oleh Gereja sebagai amanat dari Tuhan Yesus: misi yang menerapkan nilai/prinsip kebenaran dan membangun Kerajaan Allah di tengah masyarakat dunia.
Tuhan Yesus memberi teladan dalam memberitakan kabar baik dan membawa perubahan yang signifikan di seluruh aspek kehidupan komunitas/masyarakat yang dilayani-Nya.
“Roh Tuhan ada pada-Ku, oleh sebab Ia telah mengurapi Aku, untuk menyampaikan kabar baik kepada orang-orang miskin; dan Ia telah mengutus Aku untuk memberitakan pembebasan kepada orang-orang tawanan, dan penglihatan bagi orang-orang buta, untuk membebaskan orang-orang yang tertindas, untuk memberitakan tahun rahmat Tuhan telah datang” (Lukas 4:18-19).
Seperti Tuhan Yesus melakukan misi-Nya dengan kuasa Roh Kudus, demikian pula halnya dengan Gereja. Kita tidak akan mampu melakukan Amanat Agung jika tidak terhubung dengan sumber kuasa, yaitu Roh Kudus. Tetapi kamu akan menerima kuasa, kalau Roh Kudus turun ke atas kamu, dan kamu akan menjadi saksi-Ku di Yerusalem dan di seluruh Yudea dan Samaria dan sampai ke ujung bumi (KPR 1:8).
Jangan bergerak mendahului Roh Kudus, melainkan belajar menantikan tuntunan dan strategi-Nya untuk dapat melakukan Amanat Agung dengan efektif. Gereja yang berdoa dan mencari kehendak Allah akan mengalami penyertaan Tuhan yang ajaib di tengah tantangan berat dalam melakukan Amanat Agung. .…. Dan ketahuilah, Aku menyertai kamu senantiasa sampai kepada akhir zaman.” Kita diberikan keberanian, kekuatan, hikmat, strategi, jalan keluar, karunia rohani, kesempatan, mukjizat, terobosan, hati yang unity, dlsb. Sekali lagi, Amanat Agung adalah perintah Tuhan yang harus ditaati. Akhir zaman bukanlah waktu untuk menjadi orang Kristen yang hidup dalam zona nyaman, tapi persiapkan diri untuk dengan unity menyelesaikan Amanat Agung.
Selamat Tahun Baru 2026!