PENDAHULUAN
Injil bukan sekadar kabar baik yang menyelamatkan, tetapi kuasa Allah yang hidup dan aktif, yang terus bekerja mentransformasi setiap orang yang percaya (Roma 1:16). Yesus tidak hanya memanggil kita untuk menerima keselamatan, tetapi untuk mengalami perubahan hidup yang nyata melalui hubungan yang taat kepada-Nya. Karena itu, Amanat Agung bukan hanya perintah untuk memberitakan Injil, melainkan panggilan untuk memuridkan —membawa orang kepada Kristus dan menuntun mereka hidup dalam ketaatan penuh kepada semua yang Dia ajarkan (Mat. 28:18–20). Melalui proses pemuridan, Injil membebaskan kita dari dosa dan ikatan, memperbarui seluruh aspek kehidupan, dan membentuk kita menjadi murid-murid Kristus yang hidup sebagai terang Allah di tengah dunia yang gelap.
ISI
Tanpa pemuridan, hidup orang percaya akan menyerupai dunia. Tanpa pemuridan, tidak ada transformasi sejati—dan kehilangan fungsi sebagai garam dan terang, serta gagal menjalankan panggilan untuk menjadikan orang lain murid Kristus. Pemuridan adalah proses di mana Injil bekerja membentuk hidup kita: mengubah cara pandang, menata ulang nilai, sikap, dan perilaku, memulihkan hati dan jiwa, serta mengarahkan hidup kita kembali pada tujuan yang benar—hidup Tanpa pemuridan, hidup orang percaya akan semakin serupa dengan dunia. Tanpa pemuridan, tidak ada transformasi sejati—kita kehilangan fungsi sebagai garam dan terang, serta gagal menjalankan panggilan untuk menjadikan orang lain murid Kristus. Pemuridan adalah proses di mana Injil bekerja membentuk hidup kita: mengubah cara pandang, menata ulang nilai, sikap, dan perilaku, memulihkan hati dan jiwa, serta mengarahkan hidup kita kembali pada tujuan yang benar—hidup berporos pada kehendak Allah.
Untuk mengalami transformasi melalui pemuridan bukanlah perkara mudah, instan dan dangkal, namun mungkin untuk dilakukan dengan pertolongan Roh Kudus. Diperlukan keteguhan hati untuk mengikuti proses pemuridan yang berlangsung seumur hidup. Kata-Nya kepada mereka semua: “Setiap orang yang mau mengikut Aku, ia harus menyangkal dirinya, memikul salibnya setiap hari dan mengikut Aku.” (Lukas 9:23). Menyangkal diri artinya menundukkan keinginan sendiri kepada kehendak Kristus.
Pelaksanaan Amanat Agung merupakan pewujudan dari Perintah Agung. Perintah Agung (Great Commandment, Matius 22:37-40) berfokus pada kualitas hubungan dengan Allah dan sesama, sementara Amanat Agung (Great Commission, Matius 28:19-20) adalah perintah untuk memuridkan, membaptis, dan mengajar semua bangsa. Kasih (Perintah Agung) adalah motivasi, sementara misi (Amanat Agung) adalah demonstrasi kasih untuk membawa orang lain menjadi murid Kristus. Keduanya tidak terpisahkan dalam kehidupan Kristen.
Tanda bahwa seseorang adalah murid Kristus:
1. Tetap di dalam firman-Nya (baca Yohanes 8:31-32).
Kata ‘tetap’ (abide/stay) berarti memegang teguh, mendalami, menaati/menghidupi firman Tuhan dalam kehidupan sehari-hari. Roh Kudus akan menerangi hati dan jiwa sehingga akal budi kita diperbarui oleh terang firman Tuhan. Selanjutnya Roh Kudus mendorong dan melatih kita untuk menjadi pelaku firman sekalipun menghadapi tantangan/aniaya, sampai jiwa kita dimerdekakan dari hal-hal yang menghalangi untuk taat kepada Kristus. Firman Tuhan bukan lagi dipandang sebagai aturan/hukum yang membatasi kebebasan, tapi sebagai terang hidup yang menuntun kita di jalan keselamatan (Mazmur 119:105).
2. Berbuah banyak (baca Yohanes 15:8).
Tuhan Yesus adalah Pokok Anggur yang benar dan Bapa adalah Pengusahanya. Jika kita tinggal dalam Pokok Anggur, maka kita akan menghasilkan banyak buah dengan kualitas yang baik. Kehidupan yang berbuah menandakan bahwa kita adalah murid Kristus.
3. Saling mengasihi (baca Yohanes 13:35; 1 Yohanes 3:14-16).
Saling mengasihi di sini bukanlah himbauan, tapi suatu perintah yang harus ditaati seorang murid Kristus. Kasih yang dimaksud bukanlah perasaan tapi tindakan sesuai dengan kebenaran: rela berkorban, mendahulukan kepentingan orang lain, mengampuni, murah hati, melayani tanpa bersungut-sungut, memahami dan menerima kelemahan orang lain, mengasihi orang-orang yang ‘sulit’, dsb.
4. Mengasihi Tuhan lebih dari orang tua, pasangan, anak, saudara, bahkan nyawanya sendiri (Baca Lukas 14:26).
Tuhan Yesus tidak mengajar kita untuk ‘membenci’ orang lain, melainkan mengasihi sesama seperti mengasihi diri kita sendiri. Akan tetapi Tuhan menghendaki kita untuk mengasihi DIA lebih dari siapapun, bahkan diri kita sendiri. Jika dihadapkan kepada dua pilihan: melakukan kehendak Tuhan atau orang tua/pasangan/anak/kerabat/orang lain, maka kita mau belajar memilih melakukan kehendak Tuhan, walau itu bertentangan dengan keinginan orang-orang tersebut.
5. Melepaskan diri dari segala miliknya (baca Lukas 14:33).
Untuk menjadi murid Yesus dibutuhkan suatu sikap penyerahan diri (ketaatan) yang total. Belajar melepaskan diri dari segala miliknya: ego, pikiran yang mengikat, kenyamanan, harta benda, kebiasaan/kepentingan/keinginan diri sendiri, persahabatan dengan dunia, dsb – dan menempatkan Dia sebagai yang utama. Kasih karunia Allah memampukan kita untuk melepaskan diri dari hal-hal tersebut.
KESIMPULAN
Orang yang menjadi pelaku firman bisa mengajar orang lain melakukan firman Tuhan. Pemuridan yang paling efektif adalah jika orang lain bisa melihat Pribadi Kristus dan firman-Nya mewarnai hidup kita. Dengan begitu, Tuhan turut bekerja dalam segala yang kita perbuat; Ia meneguhkan firman serta kesaksian kita dengan tanda-tanda dan mujizat dan oleh berbagai-bagai penyataan kekuasaan yang dikerjakan oleh Roh Kudus.
Andaikata seluruh anggota Cool dan tubuh Kristus di seluruh dunia benar-benar mengalami transformasi melalui proses pemuridan, maka Amanat Agung bukan lagi dipandang sebagai beban yang berat dan mustahil dicapai, tapi sebagai buah kehidupan yang benar-benar mendampaki dunia. Di tengah krisis dan guncangan, terang kita semakin menyala dan menuntun banyak orang datang kepada Kristus.