Baca: Amsal 12:1-28
“Isteri yang cakap adalah mahkota suaminya, tetapi yang membuat malu adalah seperti penyakit yang membusukkan tulang suaminya.” Amsal 12:4
Tak bisa dipungkiri hal pertama yang membuat pria menaruh hati atau tertarik kepada wanita adalah apa yang terlihat secara kasat mata. Ketika memilih wanita untuk menjadi kekasih atau pasangan seringkali yang diperhatikan pria adalah fisik atau kecantikan luarnya. Namun karena hanya terpaku dan memperhatikan penampilan fisik semata banyak pria terkecoh dan salah memilih pasangan, sehingga akhirnya mereka pun harus membayar harga seumur hidupnya, sebab ternyata kecantikan fisik tidak bisa menjamin langgengnya hubungan; ternyata memperbaiki karakter (inner beauty) dalam diri wanita itu jauh lebih sulit dari pada memoles kecantikan secara fisik. Bagi wanita memiliki kecantikan fisik saja seharusnya tidaklah cukup, karena hal terpenting yang mesti ada dalam diri wanita adalah kualitas hidup yang sesuai dengan kebenaran firman Tuhan
Arti kata cakap secara umum adalah sanggup melakukan sesuatu; mempunyai kemampuan dan kepandaian mengerjakan sesuatu; tangkas; cekatan (tidak lamban). Kecakapan seseorang akan terlihat dari perilaku hidup sehari-hari kita, termasuk dalam hal membangun hubungan dengan orang lain. Apalah artinya punya kecantikan setinggi langit jika ia tidak cakap dalam segala hal. Wanita yang cakap pasti akan tercermin dari attitudenya! Ini berbicara tentang karakter atau moral yang baik, seperti yang dimiliki Rut, yang sekalipun berasal dari bangsa Moab (kafir) namun memiliki kualitas hidup yang mampu menjadi kesaksian bagi orang lain, sehingga masyarakat Betlehem pun mengakui dan mengenal Rut sebagai wanita yang baik. “…sebab setiap orang dalam kota kami tahu, bahwa engkau seorang perempuan baik-baik.” (Rut 3:11).
Wanita cakap adalah wanita yang baik. Artinya ia bisa menjadi kesaksian yang baik bagi orang lain dalam perkataan dan perbuatan. Yang menjadi ukuran adalah dari apa kata orang kebanyakan, bukan dari apa menurut diri sendiri. Wanita cakap adalah wanita yang bukan sekedar bisa berdandan, bukan pemalas, tapi seorang yang rajin dan mampu menjalankan perannya dengan baik.
“Isteri yang cakap siapakah akan mendapatkannya? Ia lebih berharga dari pada permata.” Amsal 31:10
Selasa. OBAJA: Takut Kepada Tuhan Daripada Manusia
Baca: 1 Raja-Raja 18:1-15
“Sebab itu Ahab telah memanggil Obaja yang menjadi kepala istana. Obaja itu seorang yang sungguh-sungguh takut akan TUHAN.” 1 Raja-Raja 18:3
Ada banyak tokoh yang bernama Obaja di Alkitab. Pada kesempatan ini kita akan membahas salah satunya yaitu Obaja yang bekerja sebagai hamba raja Ahab. Nama Obaja dalam bahasa Ibrani berarti abdi Tuhan atau penyembah Tuhan. Sesuai dengan namanya Obaja yang kita bahas adalah orang yang takut akan Tuhan.
Bukanlah perkara mudah bagi Obaja untuk bekerja di lingkungan kerajaan yang dipimpin oleh raja Ahab karena Ahab adalah seorang raja yang terkenal lalim dan berlaku jahat di mata Tuhan, bahkan “Ahab bin Omri melakukan apa yang jahat di mata TUHAN lebih dari pada semua orang yang mendahuluinya.” (1 Raja-Raja 16:30), apalagi ia juga mengambil Izebel sebagai isteri, padahal Izebel adalah penyembah Baal. Meski berada di lingkungan orang-orang yang menyembah berhala iman Obaja tak tergoyahkan, ia tetap berlaku benar di hadapan Tuhan dan tidak terbawa arus. Dikisahkan Obaja berani menyembunyikan seratus nabi Tuhan ke dalam gua dan mengurus makan minum mereka (1 Raja-Raja 18:4), karena pada waktu itu banyak nabi dibunuh atas perintah Izebel. Ini menunjukkan bahwa Obaja lebih takut kepada Tu-han daripada kepada manusia. Ketika dihadapkan pada pilihan: taat kepada Tuhan atau kepada manusia, ia memilih taat kepada Tuhan. “Dan janganlah kamu takut kepada mereka yang dapat membunuh tubuh, tetapi yang tidak berkuasa membunuh jiwa; takutlah terutama kepada Dia yang berkuasa membinasakan baik jiwa maupun tubuh di dalam neraka.” (Matius 10:28).
Berhadapan dengan himpitan atau tekanan, banyak orang memilih mencari ‘aman’ dan melakukan kompromi karena takut kehilangan posisi atau jabatan, fasilitas atau popularitas. Apalagi jika nyawa yang menjadi taruhannya, umumnya orang lebih takut kepada manusia daripada kepada Tuhan. Karena imannya Tuhan memakai Obaja sebagai perantara pertemuan antara Elia dan raja Ahab, di mana akhirnya terjadi kesepakatan untuk mengumpulkan seluruh umat Israel dan 450 orang nabi Baal di gunung Karmel. Di sanalah Tuhan mendemonstrasikan kuasa-Nya melalui Elia: 450 orang nabi Baal dibasmi habis. Melalui peristiwa ini umat Israel pun kembali bertobat!
“Kita harus lebih taat kepada Allah dari pada kepada manusia.” Kisah 5:29
Rabu. MENGHADAPI JALAN BUNTU
Baca: Mazmur 77:1-21
“Melalui laut jalan-Mu dan lorong-Mu melalui muka air yang luas, tetapi jejak-Mu tidak kelihatan.” Mazmur 77:20
Dalam kehidupan ini seringkali kita menghadapi masalah-masalah yang sepertinya tidak ada jalan keluarnya, alias jalan buntu. Karena tidak segera mendapatkan jalan atau jawaban untuk permasalahan yang sedang digumulkan, tidak sedikit dari kita yang bersikap apatis, masa bodoh, menerima nasib atau menyerah kalah karena sudah tidak tahu harus berbuat apa dan kemana harus mencari pertolongan. Mereka pun menjadi frustasi, putus asa, gelap pikiran, nekat melakukan tindakan yang menyimpang dari kebenaran, bahkan ada yang memilih jalan pintas untuk mengakhiri hidupnya alias bunuh diri.
Bagi orang percaya yang memiliki kehidupan doa selalu ada harapan. “Dan pengharapan tidak mengecewakan, karena kasih Allah telah dicurahkan di dalam hati kita oleh Roh Kudus yang telah dikaruniakan kepada kita.” (Roma 5:5). Perhatikan ayat ini! “Tidakkah Allah akan membenarkan orang-orang pilihan-Nya yang siang malam berseru kepada-Nya? Dan adakah Ia mengulur-ulur waktu sebelum menolong mereka?” (Lukas 18:7). Selalu ada pertolongan dan jalan keluar untuk setiap permasalahan yang kita hadapi, asal kita mau bersungguh-sungguh dalam berdoa. Bersungguh-sungguh berarti giat, tekun, setia dan sabar menanti-nantikan waktu Tuhan. Tuhan Yesus adalah jaminan hidup orang percaya, karena Dia berkata, “Akulah jalan dan kebenaran dan hidup.” (Yohanes 14:6a). Kalau dosa terbesar manusia, yaitu dosa, telah diselesaikan-Nya di atas Golgota, apalagi masalah-masalah kecil dalam kehidupan kita sehari-hari seperti sakit-penyakit, krisis ekonomi, masalah rumah tangga dan sebagainya.
Ketika dikejar-kejar oleh Firaun dan pasukan berkudanya bangsa Israel menghadapi jalan buntu, karena di depan terbentang laut Teberau yang mustahil untuk diseberangi. Pada saat yang tepat Tuhan menyatakan mujizat-Nya: laut Teberau terbelah: “Demikianlah orang Israel berjalan dari tengah-tengah laut di tempat kering; sedang di kiri dan di kanan mereka air itu sebagai tembok bagi mereka.” (Keluaran 14:22).
Bagi Tuhan tidak ada yang mustahil! “Ya, Aku hendak membuat jalan di padang gurun dan sungai-sungai di padang belantara.” Yesaya 43:19
Kamis. BUKTI NYATA KASIH BAPA
Baca: 1 Yohanes 5:6-12
“Dan inilah kesaksian itu: Allah telah mengaruniakan hidup yang kekal kepada kita dan hidup itu ada di dalam Anak-Nya.” 1 Yohanes 5:11
Banyak orang Kristen memaknai natal dari sudut pandang yang berbeda-beda. Ada yang menganggap bahwa natal itu tak lebih dari sekedar momen untuk berkumpul dengan keluarga, kerabat atau teman; juga suatu momen di mana tiap-tiap gereja menggelar pesta sambil menghias diri dengan berbagai ornamen: pohon natal, lilin dan hiasan lampu. Sebatas itukah pengertian kita memaknai natal? Inti natal bukan pada meriahnya pesta atau perayaan… inti natal yang sejati adalah Bapa telah memberikan anugerah-Nya bagi kita: “Sebab seorang anak telah lahir untuk kita, seorang putera telah diberikan untuk kita; lambang pemerintahan ada di atas bahunya, dan namanya disebut-kan orang: Penasihat Ajaib, Allah yang Perkasa, Bapa yang Kekal, Raja Damai.” (Yesaya 9:5).
Kelahiran Kristus merupakan bukti nyata kasih Bapa yang tidak menginginkan manusia mengalami kebinasaan kekal, karena itu Ia memberikan putera-Nya untuk menjadi Juruselamat bagi dunia dan membebaskan manusia dari hukuman dosa. Yang menjadi dasar Bapa memberikan Putera-Nya, Yesus Kristus, adalah kasih agape. Ekspresi kasih agape adalah berkorban. “Karena begitu besar kasih Allah akan dunia ini, sehingga Ia telah mengaruniakan Anak-Nya yang tunggal, supaya setiap orang yang percaya kepada-Nya tidak binasa, melainkan beroleh hidup yang kekal.” (Yohanes 3:16). Kasih akan kehilangan makna esensialnya bila tidak disertai dengan pengorbanan.
Demikianlah kasih haruslah menjadi cara hidup kita anak-anak Tuhan. “…jadilah penurut-penurut Allah, seperti anak-anak yang kekasih dan hiduplah di dalam kasih, sebagaimana Kristus Yesus juga telah mengasihi kamu dan telah menyerahkan diri-Nya untuk kita sebagai persembahan dan korban yang harum bagi Allah.” (Efesus 5:1-2). Kasih adalah karakter yang bernilai mutlak: kasih kepada Tuhan dan kepada sesama manusia. Kasih kepada Tuhan diwujudkan dengan cara kita menuruti firman-Nya (baca Yohanes 14:21) dan mengasihi sesama (baca Yohanes 15:9-17). Mengasihi sesama dapat dilakukan dengan cara melakukan yang baik kepada orang sekitar kita, termasuk kepada musuh sekalipun, sebagaimana kita inginkan orang lain perbuat kepada kita (baca Matius 7:12).
Natal mengingatkan kita betapa besar kasih dan anugerah Bapa bagi kita!
Jumat. HIDUP DALAM KASIH KARUNIA TUHAN
Baca: Keluaran 33:1-23
“Aku akan memberi kasih karunia kepada siapa yang Kuberi kasih karunia dan mengasihani siapa yang Kukasihani.” Keluaran 33:19
Kasih karunia atau anugerah berasal dari bahasa asli khen (Ibrani) atau kharis (Yunani). Dalam Perjanjian Lama Tuhan menunjukkan kasih karunia-Nya kepada bapa-bapa leluhur dan bangsa Israel. Sedangkan dalam Perjanjian Baru kasih karunia Tuhan ditunjukkan-Nya dengan menyelamatkan manusia dari dosa dan hukuman kekal melalui pengorbanan Kristus di Kalvari.
Pemberian kasih karunia ini semata-mata ada di bawah otoritas Tuhan sendiri (ayat nas), di mana manusia tidak mempunyai andil apa pun di dalamnya; semuanya dari, oleh dan untuk Tuhan sendiri. Dengan kata lain kasih karunia itu mutlak hak prerogatif Tuhan. Prinsip kasih karunia itu datang dari atas, dari Tuhan, kepada manusia, padahal sesungguhnya manusia tidak memiliki kelayakan untuk menerimanya. “Jadi hal itu tidak tergantung pada kehendak orang atau usaha orang, tetapi kepada kemurahan hati Allah.” (Roma 9:16). Jelas sekali bahwa keselamatan adalah kasih karunia dari Tuhan yang hanya dapat diterima oleh respons manusia melalui iman kepada Kristus, dan “…siapa yang ada di dalam Kristus, ia adalah ciptaan baru: yang lama sudah berlalu, sesungguhnya yang baru sudah datang.” (2 Korintus 5:17)
Sebagai ‘manusia baru’ kita hidup di dalam kasih karunia, artinya hidup di dalam perlakuan istimewa dari Tuhan dan hidup di dalam janji Tuhan. Meski kita hidup di dalam hukum kasih karunia Tuhan bukan berarti kita bisa hidup sekehendak hati atau sebebas-bebasnya tanpa ada pagar pembatas. Di dalam kasih karunia Tuhan memberikan rambu-rambu-Nya yaitu melalui firman-Nya, yang bila dilanggar kita pun dapat kehilangan kasih karunia Tuhan itu. Karena itu “…jangan membuat menjadi sia-sia kasih karunia Allah, yang telah kamu terima.” (2 Korintus 6:1), apalagi sampai menyalahgunakannya (baca Yudas 1:4). Menyalahgunakan kasih karunia berarti dengan sengaja melakukan pelanggaran dalam kesadaran dan pengetahuan akan kebenaran
“Oleh Dia kita juga beroleh jalan masuk oleh iman kepada kasih karunia ini. Di dalam kasih karunia ini kita berdiri dan kita bermegah dalam pengharapan akan menerima kemuliaan Allah.” Roma 5:2