Senin. MERDEKA DARI KETERIKATAN MASA LALU (2)
Baca: Ibrani 12:1-7
“…marilah kita menanggalkan semua beban dan dosa yang begitu merintangi kita, dan berlomba dengan tekun dalam perlombaan yang diwajibkan bagi kita.” Ibrani 12:1
Kunci menang terhadap masa lalu adalah mengarahkan pandangan ke depan, “…dengan mata yang tertuju kepada Yesus, yang memimpin kita dalam iman, dan yang membawa iman kita itu kepada kesempurnaan,” (Ibrani 12:2a). Hanya Dia yang sanggup menyucikan dosa-dosa kita dan takkan pernah mengingat-ingat masa lalu kita, sekelam apa pun. “Siapakah Allah seperti Engkau yang mengampuni dosa, dan yang memaafkan pelanggaran dari sisa-sisa milik-Nya sendiri; yang tidak bertahan dalam murka-Nya untuk seterusnya, melainkan berkenan kepada kasih setia? Biarlah Ia kembali menyayangi kita, menghapuskan kesalahan-kesalahan kita dan melemparkan segala dosa kita ke dalam tubir-tubir laut.” (Mikha 7:18-19). Melalui pengorbanan-Nya di kayu salib Kristus telah mengampuni dosa kita dan mengha-puskan semua kesalahan kita, tapi mengapa kita tidak mau lepas dari belenggu masa lalu? Jangan biarkan Iblis menyeret kita kembali ke lembah kelam masa lalu.
Ketika Sodom dan Gomorah akan dibinasakan Tuhan karena dosa-dosa penduduknya yang memuncak, Tuhan teringat akan Abrahm sehingga Ia mengutus dua malaikat-Nya untuk menyelamatkan Lot dan keluarganya. Pesan malaikat, “Larilah, selamatkanlah nyawamu; janganlah me-noleh ke belakang, dan janganlah berhenti di manapun juga di Lembah Yordan, larilah ke pegunungan, supaya engkau jangan mati lenyap.” (Kejadian 19:17).
Jangan menengok masa lalu, berlarilah dengan pandangan lurus ke depan dengan mata terarah kepada Tuhan, karena masa depan penuh harapan Tuhan sediakan. “Sebab Aku ini mengetahui rancangan-rancangan apa yang ada pada-Ku mengenai kamu, demikianlah firman TUHAN, yaitu rancangan damai sejahtera dan bukan rancangan kecelakaan, untuk memberikan kepadamu hari depan yang penuh harapan.” (Yeremia 29:11). Isteri Lot “…menoleh ke belakang, lalu menjadi tiang garam.” (Kejadian 19:26), bukti tidak mau taat dan enggan meninggalkan masa lalu; baginya tidak ada pertolongan!
Jangan membiarkan diri dibelenggu masa lalu karena itu hanya akan menghalangi kita untuk menikmati berkat yang Tuhan sediakan!
Selasa. KESUDAHAN ZAMAN SUDAH DEKAT
Baca: Lukas 21:7-19
“Kalau kamu tetap bertahan, kamu akan memperoleh hidupmu.” Luks 21:19
Kita sering mendengar berbagai ramalan atau prediksi yang mengatakan bahwa keadaan dunia dari tahun ke tahun tidak akan bertambah baik, akan ada banyak peristiwa yang mengejutkan: bencana demi bencana, goncangan, pertikaian, bahkan perang. Mengenai hal itu kita tidak perlu terkejut sebab Alkitab sudah menyatakan: “Kamu akan mendengar deru perang atau kabar-kabar tentang perang. Namun berawas-awaslah jangan kamu gelisah; sebab semuanya itu harus terjadi, tetapi itu belum kesudahannya. Sebab bangsa akan bangkit melawan bangsa, dan kerajaan melawan kerajaan. Akan ada ke-laparan dan gempa bumi di berbagai tempat.” (Matius 24:6-7).
Keadaan semakin diperparah dengan perilaku manusia yang kian menyimpang dari kebenaran firman Tuhan. “Manusia akan mencintai dirinya sendiri dan menjadi hamba uang. Mereka akan membual dan menyombongkan diri, mereka akan menjadi pem-fitnah, mereka akan berontak terhadap orang tua dan tidak tahu berterima kasih, tidak mempedulikan agama, tidak tahu menga-sihi, tidak mau berdamai, suka menjelekkan orang, tidak dapat mengekang diri, garang, tidak suka yang baik, suka mengkhianat, tidak berpikir panjang, berlagak tahu, lebih menuruti hawa nafsu dari pada menuruti Allah.” (2 Timotius 3:2-4).
Kita juga sudah mendengar kabar tentang kode 666 (antikris) di dalam microchip dengan nama mondex yang sudah mulai dipakai di beberapa negara. Mondex adalah singkatan Monetary and Dexter. Money: segala sesuatu yang berhub-ungan dengan uang, sedangkan dexter menunjukkan lokasi yang ada di tangan kanan manusia. Ini pun sudah ditulis dalam Injil: “Dan ia menyebabkan, sehingga kepada semua orang, kecil atau besar, kaya atau miskin, merdeka atau hamba, diberi tanda pada tangan kanannya atau pada dahinya, dan tidak seorangpun yang dapat membeli atau menjual selain dari pada mereka yang memakai tanda itu, yaitu nama binatang itu atau bilangan namanya. dan tidak seorangpun yang dapat membeli atau menjual selain dari pada mereka yang memakai tanda itu, yaitu nama binatang itu atau bilangan namanya. Yang penting di sini ialah hikmat: barangsiapa yang bijaksana, baiklah ia menghi-tung bilangan binatang itu, karena bilangan itu adalah bilangan seorang manusia, dan bilangannya ialah enam ratus enam puluh enam.” (Wahyu 13:16-18). Ini menunjukkan bahwa semua yang tertulis di dalam Injil tidak pernah bohong.
Berjaga-jagalah dan berdoalah supaya kita mampu bertahan menghadapinya!
Rabu. TIDAK PERLU TAKUT HADAPI ESOK
Baca: Mazmur 125:1-5
“Orang-orang yang percaya kepada TUHAN adalah seperti gunung Sion yang tidak goyang, yang tetap untuk selama-lamanya.” Mazmur 125:1
Berita-berita yang mengerikan hampir setiap hari kita dengar, tak bisa disalahkan jika semua orang merasa takut dan kuatir menghadapi hari esok. Sebagai anak-anak Tuhan kita tidak perlu bersikap sama seperti mereka, “Karena masa depan sungguh ada, dan harapanmu tidak akan hilang.” (Amsal 23:18). Hari esok memiliki kesusahannya sendiri (baca Ma-tius 6:34), karena itu kita tidak perlu disibukkan memikirkan keadaan esok dengan dihantui oleh berbagai hal yang mem-buat takut dan kuatir, apalagi rasa takut dan kuatir itu sam-pai-sampai melampaui iman kita kepada Tuhan Yesus.
Sekalipun dunia dipenuhi dengan goncangan-goncangan di segala bidang kehidupan, tetapi “…kita menerima kerajaan yang tidak tergoncangkan, marilah kita mengucap syukur dan beribadah kepada Allah menurut cara yang berkenan kepada-Nya, dengan hormat dan takut.” (Ibrani 12:28), karena penyertaan Tuhan atas kita sampai kepada kesudahan zaman (baca Matius 28:20b). Marilah kita menjalani hidup ini dengan sikap yang optimis: “…hidup kami ini adalah hidup karena percaya, bukan karena melihat…” (2 Korintus 5:7). Hidup karena percaya berarti melangkah dengan iman karena kita bukan lagi mengandalkan kekuatan sendiri, melainkan mengandalkan Tuhan dan berserah kepada pimpinan-Nya. Jangan pernah melewatkan hari tanpa melibatkan Tuhan dan meminta penyertaan-Nya dalam segala hal. Mungkin hari-hari yang kita lalui seperti berada di lembah bayang-bayang maut. Kita tidak perlu takut karena Tuhan beserta kita. “Sekalipun aku berjalan dalam lembah kekelaman, aku tidak takut bahaya, sebab Engkau besertaku; gada-Mu dan tongkat-Mu, itulah yang menghibur aku.” (Mazmur 23:4).
Tanpa terasa kita sudah melewati hari-hari berat di sepanjang tahun 2016. Tanpa penyertaan Tuhan kita tidak akan pernah sampai di hari ini. Karena itu tetaplah men-gucap syukur di segala keadaan! Mari kita songsong per-gantian tahun ini dengan memiliki tekad untuk hidup benar, dan jangan lagi bermain-main dengan dosa, sebab Tuhan pasti akan membuat ‘pembedaan’ antara orang benar dan orang fasik.
“Diberkatilah orang yang mengandalkan TUHAN, yang menar-uh harapannya pada TUHAN!” Yeremia 17:7
Kamis. TUHAN ADA DI SETIAP MUSIM
Baca: Pengkhotbah 3:1-15
“Aku tahu bahwa segala sesuatu yang dilakukan Allah akan tetap ada untuk selamanya; itu tak dapat ditambah dan tak dapat dikurangi; Allah berbuat demikian, supaya manusia takut akan Dia.” Pengkhotbah 3:14
Hari ini kita berada di awal tahun, artinya ‘musim’ kehidupan yang baru sedang dan akan kita jalani. Musim tahun 2016 telah kita lewati dengan aneka nuansa: keberhasilan, kegagalan, sukacita, dukacita, tawa dan tangis. Tanpa penyertaan Tuhan kita takkan mampu melewati hari-hari sepanjang tahun 2016. Karena itu bersyukurlah kepada Tu-han, karena Dialah kita dapat menanggung segala perkara.
Siapakah kita menghadapi ‘musim’ tahun 2017? Di segala musim kehidupan Tuhan tidak pernah berubah, Dia selalu ada untuk kita. Ingatlah selalu bahwa ada hukum yang berlaku di bawah kolong langit yaitu hukum tabur-tuai. Ada musim untuk menabur dan ada musim untuk menuai. “Sebab barangsiapa menabur dalam dagingnya, ia akan menuai ke-binasaan dari dagingnya, tetapi barangsiapa menabur dalam Roh, ia akan menuai hidup yang kekal dari Roh itu.” (Galatia 6:8). Sebelum menanam benih petani harus terlebih dahulu mencangkul tanahnya, mengairi, dan juga menyingkirkan segala sesuatu yang dapat menghambat benih itu bertum-buh, seperti batu-batu atau gulma, barulah ia menabur benih. Saat menabur benih petani harus kehilangan sesuatu karena harus merelakan benih itu ditanam; jika benih tetap berada di tangan dan tidak ditabur, benih itu akan tetap sama jumlahnya. “Sesungguhnya jikalau biji gandum tidak jatuh ke dalam tanah dan mati, ia tetap satu biji saja; tetapi jika ia mati, ia akan menghasilkan banyak buah.” (Yohanes 12:24).
Untuk menuai petani harus menunggu dalam waktu yang tidak singkat: butuh kesabaran, kesetiaan dan ketekunan. Ada tertulis: “Siapa yang mau mencintai hidup dan mau melihat hari-hari baik, ia harus menjaga lidahnya terhadap yang jahat dan bibirnya terhadap ucapan-ucapan yang meni-pu. Ia harus menjauhi yang jahat dan melakukan yang baik,” (1 Petrus 3:10-11). Kalau kita mampu melewati pros-es ini kita pasti akan menuai, sebab “Ia membuat segala sesuatu indah pada waktunya,” (Pengkhotbah 3:11).
“Orang-orang yang menabur dengan mencucurkan air mata, akan menuai dengan bersorak-sorai.” Mazmur 126:5
Jumat. MASA DEPAN BAGI ORANG PERCAYA
Baca: Amsal 23:1-35
“Karena masa depan sungguh ada, dan harapanmu tidak akan hilang.” Amsal 23:18
Melihat keadaan dunia saat ini yang unpredictable sangatlah wajar bila banyak orang mengalami ketakutan dan kekuatiran tentang hidup mereka di masa depan. Dengan nada pesimis mereka berkata, “Tidak ada masa depan, masa depan se-makin suram!”
Seburuk apa pun situasi yang sedang terjadi kita harus tetap optimis, sebab masa depan itu sungguh ada dan hara-pan itu tidak akan hilang (ayat nas). Janji firman Tuhan adalah jaminan kita. “Sebab Aku ini mengetahui rancangan-rancangan apa yang ada pada-Ku mengenai kamu, demikian-lah firman TUHAN, yaitu rancangan damai sejahtera dan bukan rancangan kecelakaan, untuk memberikan kepadamu hari depan yang penuh harapan.” (Yeremia 29:11). Kita percaya bahwa “…tidak ada rencana-Mu yang gagal.” (Ayub 42:2). Ketika umat Israel merasa tidak yakin akan masa de-pannya, merasa mustahil dapat menyeberangi sungai Yordan, Yosua menguatkan mereka bahwa Tuhan pasti melakukan perbuatan ajaib asal mereka mau menguduskan diri. “Kuduskanlah dirimu, sebab besok TUHAN akan melakukan perbuatan yang ajaib di antara kamu.” (Yosua 3:5).
Mungkin kita mengalami jalan buntu, tapi percayalah tidak ada yang mustahil bagi Tuhan. “Bukankah Engkau yang mengeringkan laut, air samudera raya yang hebat? yang membuat laut yang dalam menjadi jalan, supaya orang-orang yang diselamatkan dapat menyeberang?” (Yesaya 51:10). Masa depan yang penuh harapan akan menjadi bagian kita asal kita mau men-guduskan diri, tidak menjamah apa yang najis.
Menguduskan diri bukan berarti harus mencapai tingkatan rohani tertentu atau mencapai kesempurnaan, namun yang teru-tama sekali kita harus punya rasa haus dan lapar akan perkara-perkara rohani, mengingini Tuhan lebih dari apa pun. “Siapa gerangan ada padaku di sorga selain Engkau? Selain Engkau tidak ada yang kuingini di bumi.” (Mazmur 73:25). Masa depan yang penuh harapan bukan sekedar ilusi atau angan-angan bagi orang-orang yang senantiasa merindukan Pribadi-Nya, yang mau membayar harga dengan menanggalkan semua beban dosa dan melepaskan ikatan persahabatan dengan dunia ini!
Hidup dalam kekudusan (kesucian) adalah langkah menuju ke-hidupan yang berkemenangan dan bermasa depan cerah!
Sabtu. JANJI PEMULIHAN DARI TUHAN
Baca: Yesaya 54:1-17
“Lapangkanlah tempat kemahmu, dan bentangkanlah tenda tem-pat kediamanmu, janganlah menghematnya; panjangkanlah tali-tali kemahmu dan pancangkanlah kokoh-kokoh patok-patokmu!” (Yesaya 54:2)
Di setiap memasuki awal tahun yang baru semua orang pasti memiliki rencana, harapan dan juga impian yang baru pula. Be-sar harapan bahwa kegagalan-kegagalan yang menimpa di ta-hun sebelumnya tidak akan terulang kembali. Kita rindu hari-hari yang kita jalani nanti dipenuhi oleh keberhasilan atau kesuksesan di segala bidang. Namun perlu disadari bahwa prin-sip keberhasilan atau kesuksesan bagi orang percaya itu tidak dapat dilepaskan dari campur tangan Tuhan, karena itu andal-kan Tuhan dalam segala hal.
Yesaya pasal 54 ini merupakan suatu pembaharuan perjan-jian (recovenant) antara Tuhan dengan umat pilihan-Nya (bangsa Israel) pasca kepulangan mereka dari pembuangan di Babel selama 70 tahun. Waktu itu mereka menghadapi pergu-mulan yang berat: berkurangnya keturunan sebagai ahli waris di negeri perjanjian (ayat 1) dan mengenai pembagian atau tata letak tanah warisan yang menjadi hak mereka (ayat 3). Dalam pembaharuan perjanjian ini Tuhan memberi semangat kepada orang-orang buangan itu dengan menjanjikan pemuli-han, yaitu keadaan baru yang mendatangkan berkat dan sukacita. Tuhan berjanji akan memulihkan keadaan mereka yaitu keturunan yang berjumlah lebih banyak daripada sebelum pem-buangan, dan juga perluasan wilayah. “…engkau akan mengem-bang ke kanan dan ke kiri, keturunanmu akan memperoleh tem-pat bangsa-bangsa, dan akan mendiami kota-kota yang sunyi.” (ayat 3).
Perihal janji pemulihan Tuhan ini bukan hanya berlaku bagi bangsa Israel yang hidup di zaman itu, tapi juga berlaku bagi semua orang percaya yang adalah ‘Israel-Israel’ rohani. Bukankah setiap kita memiliki keinginan untuk mengalami kema-juan di segala segi kehidupan ini? Jika ingin mengalami pemuli-han, usaha makin luas, dan pelayanan kian bertumbuh serta berdampak, maka hal utama yang harus kita lakukan adalah fokus kepada Pribadi Tuhan, bukan pada berkat atau perluasan itu, sehingga akan semakin mendorong kita untuk lebih men-dekat kepada Tuhan.
“Teguhkanlah pada hamba-Mu ini janji-Mu, yang berlaku bagi orang yang takut kepada-Mu.” Mazmur 119:38
Minggu. BERANILAH BERMIMPI BESAR
Baca: Yesaya 54:1-17
“Sebab biarpun gunung-gunung beranjak dan bukit-bukit bergoyang, tetapi kasih setia-Ku tidak akan beranjak dari padamu dan perjanjian damai-Ku tidak akan bergoyang, firman TUHAN, yang mengasihani engkau.” Yesaya 54:10
Ada kalimat bijak mengatakan, “Seorang pemenang adalah pemimpi yang tak pernah menyerah.” Artinya jika ingin berhasil kita harus memiliki impian yaitu gambaran dari keberhasilan yang ingin diraih di masa depan. Impian akan mendorong orang untuk berusaha dan berjuang, sampai impian menjadi sebuah kenyataan, sebab impian tidak akan terwujud melalui magic, tapi perlu usaha yang keras dan determinasi.
Ada banyak orang berpikiran bahwa bermimpi besar adalah suatu kesombongan. Tidak! Justru Tuhan akan melakukan perkara-perkara besar bagi mereka yang memiliki impian besar, contohnya adalah Yusuf. Keberhasilan Yusuf menjadi penguasa di Mesir berasal dari sebuah impian meski ia harus melewati proses yang panjang. Tuhan Yesus berkata, “…sesungguhnya jika kamu percaya dan tidak bimbang, kamu bukan saja akan dapat berbuat apa yang Kuperbuat dengan pohon ara itu, tetapi juga jikalau kamu berkata kepada gunung ini: Beranjaklah dan tercampaklah ke dalam laut! hal itu akan terjadi.” (Matius 21:21). Impian yang besar akan memperbesar iman kita pula sehingga kita akan menerima hasil sebesar iman tersebut. Perhatian! Pohon akan tumbuh sesuai dengan ukuran tempatnya: jika pohon ditanam ditempat yang besar pohon itu akan
bertumbuh besar, sebaliknya jika pohon itu hanya ditanam di pot yang kecil, pertumbuhannya pun akan terbatas. Ingin usaha atau pelayanan kita makin diperluas, mau tidak mau, kapasitas diri kita pun harus diperbesar! Jadi, beranilah untuk membayar harga: berkorban waktu, tenaga, dan pikiran yang lebih besar lagi.
Dunia ini terus berubah dari waktu ke waktu, maka kita pun dituntut untuk mengikuti perubahan itu dengan terus meng-upgrade diri… jika tidak, kita akan semakin jauh tertinggal. Karena itu “…panjangkanlah tali-tali kemahmu dan pancangkanlah kokoh-kokoh patok-patokmu!” (Yesaya 54:2): tali tanggung jawab, tali kejujuran, tali ketekunan, tali kesetiaan, tali kerja keras, harus makin diperpanjang, serta diikatkan pada patok yang kuat. Patok itu adalah Tuhan, Gunung Batu yang teguh.
Berani bermimpi berarti kita juga harus berani untuk membayar harga!