Janganlah kamu mengumpulkan harta di bumi; di bumi ngengat dan karat merusakkannya dan pencuri membongkar serta mencurinya. Tetapi kumpulkanlah bagimu harta di sorga; di sorga ngengat dan karat tidak merusakkannya dan pencuri tidak membongkar serta mencurinya. (Matius 6:19-20)
Dunia ini memaknai harta kekayaan, pencapaian, kekuasaan dan kesuksesan sebagai sebuah identitas. Pandangan yang keliru ini memicu manusia untuk berlomba mengejar harta duniawi serta kesuksesan, lalu mengesampingkan Tuhan, nilai-nilai kebenaran dan perkara-perkara kekal. Mereka menyimpang dari iman dan jatuh ke dalam jerat hawa nafsu ketamakan yang mencelakakan serta membinasakan. Oleh sebab itu Tuhan Yesus mengingatkan kita agar jangan hidup seperti dunia yang berfokus mengumpulkan harta di bumi, melainkan kumpulkanlah harta di surga, yang nilainya jauh lebih mulia dan kekal.
Banyak orang berpandangan bahwa uang/kekayaan akan menjamin kebahagiaan, kemudahan, kepuasan, rasa aman dan harapan bagi masa depan. Kadang tanpa sadar orang bisa menjadikan Mamon sebagai ‘allah’. Contoh: jika kehilangan barang/uang lalu menjadi depresi; menjual kebenaran demi mendapatkan kekayaan; perasaan baru bisa happy jika melihat saldo rekeningnya berjumlah banyak, sebaliknya menjadi kuatir jika tidak memiliki uang yang berlebih; timbul iri hati dan merasa tidak puas jika melihat pendapatan/kekayaan orang lain lebih dari dirinya; menganggap bahwa uang bisa menyelesaikan segalanya; kekayaan dapat meningkatkan status sosial, dlsb.
Sikap hati yang tidak benar terhadap uang bisa membuat kita menjadi hamba uang. Tanpa disadari kita sedang memupuk cinta akan uang dan terjerat dengan berbagai hawa nafsu. Keinginan untuk menjadi kaya dan cinta akan uang merupakan hal yang harus kita tanggalkan dalam mengikut Tuhan. Siapa mencintai uang tidak akan puas dengan uang, dan siapa mencintai kekayaan tidak akan puas dengan penghasilannya (Pengkhotbah 5:9a). Alkitab menyebut keserakahan sebagai dosa yang sama dengan penyembahan berhala (Kolose 3:5). Keinginan mata, keinginan daging dan keangkuhan hidup bukanlah berasal dari Bapa, melainkan dari dunia (1 Yohanes 2:16).
Memang Tuhan Yesus datang untuk memberi kita hidup, dan mempunyainya dalam segala kelimpahan (Yohanes 10:10). Namun firman ini tidak boleh ditafsirkan menurut keinginan daging kita. Tujuan Tuhan memberikan kelimpahan adalah supaya kita menjadi orang-orang yang memberi dampak bagi orang lain. Kalau dunia menggolongkan orang kaya adalah mereka yang memiliki, menyimpan dan menimbun harta – firman Tuhan mengajarkan bahwa orang yang kaya dalam pandangan Allah adalah mereka yang menyebar harta/membagi hidupnya untuk memberkati orang lain dan membangun Kerajaan Allah.
Bisa saja orang tersebut tidak memiliki banyak harta kekayaan secara jasmani, tapi dengan sukacita mampu memberikan apa yang dipunyainya untuk orang lain (2 Korintus 8:2). Sementara orang yang kaya secara materi belum tentu kaya dalam pandangan Allah, kalau ia hanya hidup untuk dirinya sendiri (Lukas 12:21).
Peringatkanlah kepada orang-orang kaya di dunia ini agar mereka jangan tinggi hati dan jangan berharap pada sesuatu yang tak tentu seperti kekayaan, melainkan pada Allah yang dalam kekayaan-Nya memberikan kepada kita segala sesuatu untuk dinikmati. Peringatkanlah agar mereka itu berbuat baik, menjadi kaya dalam kebajikan, suka memberi dan membagi dan dengan demikian mengumpulkan suatu harta sebagai dasar yang baik bagi dirinya di waktu yang akan datang untuk mencapai hidup yang sebenarnya (1 Timotius 6:17-19).
Orang yang kaya dalam Kristus adalah mereka yang memiliki kelimpahan dari dalam (inner man) yaitu hati dan jiwa. Sesungguhnya jika kita memiliki terang Tuhan/kebenaran, maka kita adalah orang-orang yang kaya. Kekayaan sejati orang percaya adalah iman yang murni, hikmat (yang nilainya melebihi emas perak), pengetahuan/pewahyuan, buah-buah Roh Kudus (kasih, sukacita, damai sejahtera, kesabaran, kemurahan, kebaikan, kesetiaan, kelemahlembutan, penguasaan diri), buah-buah kebenaran (artinya mengalami kegenapan firman Tuhan), dan integritas ilahi yang semuanya merupakan karya Roh Kudus.
Dan Allah sanggup melimpahkan segala kasih karunia kepada kamu, supaya kamu senantiasa berkecukupan di dalam segala sesuatu dan malah berkelebihan di dalam pelbagai kebajikan. Seperti ada tertulis: “Ia membagi-bagikan, Ia memberikan kepada orang miskin, kebenaran-Nya tetap untuk selamanya.” Ia yang menyediakan benih bagi penabur, dan roti untuk dimakan, Ia juga yang akan menyediakan benih bagi kamu dan melipatgandakannya dan menumbuhkan buah-buah kebenaranmu; kamu akan diperkaya dalam segala macam kemurahan hati, yang membangkitkan syukur kepada Allah oleh karena kami. (2 Korintus 9:8-11).
Kekayaan seperti ini yang harus kita kumpulkan sebagai harta di surga – suatu yang bersifat kekal, ngengat dan karat tidak akan merusaknya dan pencuri tidak akan mencurinya.
JANGAN KUATIR
Sebab itu janganlah kamu kuatir dan berkata: Apakah yang akan kami makan? Apakah yang akan kami minum? Apakah yang akan kami pakai? Semua itu dicari bangsa-bangsa yang tidak mengenal Allah. Akan tetapi Bapamu yang di sorga tahu, bahwa kamu memerlukan semuanya itu. Tetapi carilah dahulu Kerajaan Allah dan kebenarannya, maka semuanya itu akan ditambahkan kepadamu (Matius 6:31-33).
Matius 6:33, yang bukan merupakan iman transaksional untuk memperoleh kekayaan materi atau apa yang kita inginkan. Ayat ini menggambarkan tentang kesetiaan dan pemeliharaan Allah terhadap mereka yang hidup dalam kebenaran. Pemeliharaan Tuhan tidak dimaksudkan untuk melayani keserakahan kita.
Tuhan memerintahkan kita untuk tidak kuatir akan hal kebutuhan hidup, karena Bapa tahu bahwa kita memerlukannya. Namun Ia mau supaya kita menjadikan firman-Nya sebagai prioritas utama yang menguasai hati dan pikiran kita. Dengan demikian, cara pandang dan nilai/prinsip kehidupan kita ditransformasi oleh firman kebenaran. Kebenaran ini akan memerdekakan kita dari kekuatiran, jerat hawa nafsu cinta akan uang, ketamakan, keserakahan, kesombongan, iri hati, dsb.
Roma 14:17 mengatakan “Sebab Kerajaan Allah bukanlah soal makanan dan minuman, tetapi soal kebenaran, damai sejahtera dan sukacita oleh Roh Kudus.” Kerajaan Allah bukanlah bicara tentang kebutuhan jasmani, tetapi tentang kebenaran, damai sejahtera dan sukacita – yang semuanya merupakan kekuatan bagi jiwa kita. Artinya pada waktu kita dipenuhi dengan kebenaran, damai sejahtera dan sukacita, maka kekuatiran, ketamakan, dan keserakahan tidak akan menguasai kita.
Di mata Allah, nilai/prinsip kekekalan jauh lebih penting dari sekedar pemenuhan kebutuhan jasmani kita. Bukan berarti Allah menyepelekan hal-hal yang kita butuhkan, tapi Ia hendak mengukir firman kebenaran yang kekal dalam hidup kita. Manusia hidup bukan dari roti saja, tapi dari setiap perkataan yang keluar dari mulut Allah (Matius 4:4). Kebutuhan jasmani bersifat sementara, hanya berlaku selama di bumi; tapi orang yang melakukan kehendak Tuhan, tetap hidup selamanya (1 Yohanes 2:17).
Ketika seseorang ditransformasi oleh nilai-nilai kebenaran firman, ia tidak lagi menargetkan perkara-perkara materi sebagai tujuan hidup, melainkan belajar mematikan keinginan mata, keinginan daging dan keangkuhan hidup. Ia belajar mencukupkan diri dengan apa yang ada, dan mengucap syukur atas kesetiaan Allah dalam hidupnya. Memang ibadah itu kalau disertai rasa cukup, memberi keuntungan besar (1 Timotius 6:6). Rasa cukup di sini maksudnya ‘contentment’ (which comes from a sense of inner confidence based on the sufficiency of God). Kepuasan batiniah yang tidak ada hubungannya dengan kepemilikan sesuatu, rasa cukup yang berakar pada Tuhan.
Ibadah disertai rasa cukup memberi ‘keuntungan besar’. Keuntungan besar yang bersifat non materi. Kita bisa puas dengan Allah, hadirat dan firmanNya. Iman kepada Tuhan tidak bergantung kepada uang/barang yang kita miliki. Tidak terikat akan apapun, hati mudah mengucap syukur dalam segala keadaan. Jiwanya diisi dengan perkara-perkara yang kekal. Rasa cukup akan mudah dialami orang yang memiliki hubungan serta pengenalan yang benar akan Allah, memiliki pewahyuan firman dan cara pandang Kerajaan Allah.
Orang yang memiliki segalanya tapi tidak memiliki hubungan dengan Tuhan dan sesama akan merasa kosong dalam jiwanya. Rasa cukup itu tidak berhubungan dengan possession atau materi. Tempatkan Tuhan sebagai prioritas utama, maka segala berkat dan apa saja yang kita perlukan akan mengalir.
KESIMPULAN
Taruhlah iman kita kepada Tuhan, bukan pada harta. Jaga hati dengan segala kewaspadaan, supaya cinta akan uang semakin terkikis dalam hidup kita. Seberapa pun banyak harta/uang yang kita miliki, hidup kita tidak bergantung kepadanya. Belajarlah mencukupkan diri dengan apa yang ada dan bersyukurlah atas pemeliharaan Tuhan. Kembalikan apa yang menjadi milik Tuhan yaitu persepuluhan. Belajar menabur dan mendampaki orang lain dengan harta yang Tuhan percayakan kepada kita.
Jangan sibuk mengumpulkan harta di dunia yang nantinya tidak akan berlaku di kekekalan. Jangan pula iri dengan harta orang lain. Tidak perlu pamer dan menyalahgunakan harta kekayaan untuk hal-hal yang memuaskan hawa nafsu. Tanggalkan kekuatiran sebab jika kita hidup dalam kebenaran, Allah pasti memenuhi semua keperluan kita.