Weekly Message

Home / Archive by category "Weekly Message"
“TUHAN YESUS BANGKIT DAN HIDUP!”

“TUHAN YESUS BANGKIT DAN HIDUP!”

Baru saja kita merayakan Paskah. Jadi saya mengucapkan, “Selamat Paskah, Tuhan Yesus memberkati Saudara berlimpah-limpah. Haleluya!”
Paskah berbicara tentang kebangkitan Tuhan Yesus. Tentang kasih, kuasa, mujizat, kemenangan yang diberikan Tuhan Yesus kepada kita. Saya ingin mengajak Saudara membuka 1 Korintus 15:3-4, “Sebab yang sangat penting telah kusampaikan kepadamu, yaitu apa yang telah kuterima sendiri, ialah bahwa Kristus telah mati karena dosa-dosa kita, sesuai dengan Kitab Suci, bahwa Ia telah dikuburkan, dan bahwa Ia telah dibangkitkan, pada hari yang ketiga, sesuai dengan Kitab Suci;”
Kristus telah mati karena dosa-dosa kita. Dalam Alkitab tertulis, “Semua orang telah berbuat dosa dan telah kehilangan kemuliaan Allah, upah dosa adalah maut, mati!”
Banyak orang menganggap ringan tentang kematian ini. Kematian itu ada 3 macam, yaitu:
1. Mati Secara Rohani-Dimana Kemuliaan Allah atau Roh Allah meninggalkan manusia.
2. Mati Secara Jasmani-Dimana roh manusia tercerai dari tubuhnya.
3. Mati Kekal Selama-lamanya-terputus dari kasih Allah di NERAKA!

Apa Yang Alkitab Katakan Tentang NERAKA?
• Neraka adalah tempat yang paling gelap, di sana akan terdapat ratap dan kertak gigi.
• Neraka adalah tempat dimana ulat bangkai tidak mati dan api yang tidak pernah padam
• Neraka adalah tempat penyiksaan oleh api dan belerang, siang dan malam selama-lamanya.
• Neraka adalah tempat yang sangat mengerikan!
Jangan sampai masuk neraka! Saya percaya setiap Saudara yang ada di tempat ini semua masuk Sorga! Untuk itulah Tuhan Yesus datang ke dalam dunia ini. Dia mau menyelamatkan kita semua, Dia mau menyelamatkan umat manusia. Bagaimana caranya Tuhan Yesus menyelamatkan umat manusia, yaitu Saudara dan saya?
Alkitab katakan, “Yesus yang tidak mengenal dosa telah dijadikan dosa oleh karena kita, supaya di dalam Dia, supaya yang percaya kepada-Nya, kita dibenarkan oleh Allah” (2 Korintus 5:21).
Tadi dikatakan, “Semua orang telah berbuat dosa dan telah kehilangan kemuliaan Allah, upah dosa adalah maut, mati! Tetapi Yesus yang tidak berdosa telah dijadikan dosa oleh karena kita semua!”.
Artinya Tuhan Yesus harus mati menggantikan kita, padahal kitalah yang seharusnya mati. Kalau kita lihat cara matinya Tuhan Yesus, itu adalah cara mati yang sangat-sangat tidak manusiawi! Ketika orang-orang Yahudi berteriak, “Salibkan Dia! Salibkan Dia!”, Tuhan Yesus harus disalibkan. Jubah Tuhan Yesus dibuka, Dia ditalikan pada sebuah tonggak. Di kanan kiri-Nya ada 2 algojo yang memegang cambuk yang ujungnya terbuat dari potongan tulang dan potongan besi. Setiap kali cambuk itu dihujamkan ke tubuh Tuhan Yesus, itu akan menimbulkan luka yang dalam. Sakitnya luar biasa! Darah bercucuran!…Sakitnya luar biasa! Apakah itu selesai? Belum!
Kepala-Nya diberi mahkota duri, kembali sakitnya luar biasa! Darah bercucuran! Selesai? Belum! Tangan-Nya dipaku, kaki-Nya dipaku! Tuhan Yesus digantung di atas kayu salib! Pada waktu itu Tuhan Yesus menderita secara lahir maupun batin. Secara jasmani Dia merasakan sesak yang luar biasa, secara batin Dia melihat semua orang yang lalu-lalang, orang Farisi, Imam Kepala, Tua-tua bahkan salah satu penjahat di sebelah-Nya menghujat Dia! Dia benar-benar mengalami penderitaan secara lahir maupun batin. Akhirnya perkataan Tuhan Yesus yang terakhir, “Sudah selesai! (It is finished!)…Bapa, kepada tangan-Mulah, Aku serahkan nyawa-Ku.” Dan Tuhan Yesus mati.
Pertanyaannya, mengapa Tuhan Yesus harus mati dengan cara demikian? Mengapa tidak dengan cara yang lain? Dipenggal kepala-Nya, selesai! Kenapa Dia harus mengalami penderitaan seperti ini? Darah bercucuran!…Alkitab katakan, …tanpa penumpahan darah tidak ada pengampunan dosa! (Ibrani 9:22b)
Untuk mengampuni dosa Saudara dan saya, Tuhan Yesus harus mati dengan cara demikian. Selain itu apa lagi yang Alkitab katakan dengan cara mati Tuhan Yesus yang seperti itu?
• Penyakit kitalah yang ditanggung-Nya
• Penderitaan kita yang dipikul-Nya
• Dan oleh bilur-bilur-Nya kita disembuhkan. (Yesaya 53:4-5)
Mari angkat tangan kita di hadapan Tuhan dan ikuti kata-kata saya, “Tuhan Yesus, Engkau baik, Engkau sungguh baik dan sangat baik (taruh tangan di dada) kepada saya.” Mari rasakan kasih Tuhan. Saya tidak tahu keadaan Saudara yang datang pada siang hari ini, tetapi ingin saya katakan sesuatu kepada Saudara, apa pun masalah yang Saudara hadapi, apa pun masalah yang Saudara sedang gumuli saat ini, ketahuilah satu hal bahwa Tuhan Yesus sangat, sangat mengasihi Saudara. Amin!
PELAJARAN DARI PROSES KEMATIAN TUHAN YESUS
Ada sesuatu yang saya lihat di dalam proses kematian Tuhan Yesus. Tuhan Yesus banyak mengajar kepada kita hal-hal yang mungkin selama ini tidak terlalu kita pikirkan tetapi Tuhan Yesus justru memberikan pelajaran kepada kita pada waktu Dia mengalami proses kematian, yaitu:
1. Hal Berdoa
a. Jadilah Kehendak Tuhan, Bukan Kehendak Kita
Pada waktu Tuhan Yesus ada di Taman Getsemani ditemani oleh Petrus, Yohanes dan Yakobus, secara manusia Tuhan Yesus merasa sangat takut, sebab Dia tahu apa yang akan Dia hadapi.
Tuhan Yesus mengajarkan kepada kita doa yang dikehendaki oleh kita (manusia). Tuhan Yesus sendiri berkata begini, “Ya Bapa-Ku, jikalau mungkin biarlah cawan ini (cawan penderitaan ini) lalu daripada-Ku,…” Kehendak Tuhan Yesus itu menggambarkan kehendak kita. Namun itu belum ‘titik’, masih ‘koma’ sebab Tuhan Yesus lalu berkata, “…tetapi janganlah seperti yang Kukehendaki, melainkan seperti yang Engkau kehendaki.” (Matius 26:39)
Saudara, kita diajar bahwa kita bisa meminta kepada Tuhan, Saudara boleh menawar kepada Tuhan, “Kalau boleh, Tuhan….masalah saya ini diangkat, Tuhan…”, tetapi jangan langsung ‘titik’ atau memaksakan kehendak kita, “Pokoknya diangkat!…pokoknya diangkat!”. Jangan! Kita harus kemudian berkata, “Tetapi biarlah tidak seperti yang kukehendaki melainkan kehendak-Mu yang jadi.” Itu yang terbaik, namun memang tidak mudah.
Ketika Tuhan Yesus berdoa seperti itu, ternyata Bapa tidak menjawab dan Tuhan Yesus tahu bahwa Dia harus merubah doa-Nya yaitu doa yang menjadi kehendak Bapa. Jadi Dia berdoa, “Ya Bapa-Ku, jikalau cawan ini (cawan penderitaan ini) tidak mungkin lalu kecuali apabila Aku meminumnya, jadilah kehendak-Mu.” Saya tahu tidak banyak orang yang bisa berdoa seperti ini sebab maunya, “Tuhan, lepaskan!…Lepaskan!”. Kalau Tuhan akan melepaskan itu mudah, tetapi kadang-kadang Tuhan izinkan masalah itu terjadi dalam hidup kita dan itu tidak diangkat. Tetapi apa yang Tuhan lakukan? Seperti kepada Tuhan Yesus, seorang malaikat turun untuk menguatkan Tuhan Yesus.
Rasul Paulus menulis, “Pencobaan-pencobaan yang kamu alami ialah pencobaan-pencobaan biasa, yang tidak melebihi kekuatan manusia. Sebab Allah setia dan karena itu Ia tidak akan membiarkan kamu dicobai melampaui kekuatanmu. Pada waktu kamu dicobai (pada waktu pencobaan atau masalah diizinkan datang dalam kehidupan kita) Ia akan memberikan kepadamu jalan ke luar, sehingga kamu dapat menanggungnya.” (1 Korintus 10:13)
b. Berjaga-jaga Dengan Berdoa
Setelah Tuhan Yesus berdoa yang pertama, Dia susah, sedih dan takut.
Dia kemudian mendatangi ketiga murid-Nya tadi. Tuhan Yesus berpikir mereka juga berjaga-jaga bersama-Nya, namun ternyata mereka tertidur dengan nyenyaknya. Lalu mereka dibangunkan dan Tuhan Yesus berkata, “Tidakkah kamu sanggup berjaga-jaga satu jam saja dengan Aku? Berjaga-jagalah dan berdoalah, supaya kamu jangan jatuh ke dalam pencobaan: roh memang penurut, tetapi daging lemah.” (Matius 26:40-41)
Dalam doa ‘Bapa Kami’ diajarkan, “Janganlah membawa kami ke dalam pencobaan, tetapi lepaskanlah kami daripada yang jahat.” Ada berapa banyak di antara Saudara yang suka berdoa seperti itu? Berdoa seperti itu tidak apa-apa, tetapi saya mau beritahu Saudara bahwa Saudara tidak hanya, “Ah, pokoknya dilepaskan…!”. Tidak! Sebab Tuhan Yesus berkata, “Berjaga-jagalah dalam doamu, supaya kamu jangan jatuh ke dalam pencobaan.” Kalau kita berdoa, “Tuhan, janganlah bawa kami ke dalam pencobaan, tetapi lepaskanlah kami daripada yang jahat”, bagian kita adalah berjaga-jaga di dalam doa kita!
2. Kasihilah Musuhmu
Pada waktu Tuhan Yesus ditangkap, Dia diperhadapkan kepada Imam Kayafas. Di situ Tuhan Yesus ditampar, dipukul, diludahi, tetapi apa respon Tuhan Yesus? Dia diam dan tidak membalas. Dia benar-benar mempraktekkan apa yang Dia ajarkan selama ini, “Kasihilah musuhmu, berbuatlah baik kepada orang yang membenci kamu; mintalah berkat bagi orang yang mengutuk kamu; berdoalah bagi orang yang mencaci kamu. Kalau ditampar pipi kanan, berikan juga pipi kirimu. Kalau ada orang yang memaksa Saudara untuk meminta bajumu, berikan juga jubahmu. Kalau ada orang yang memaksa Saudara untuk berjalan 1 mil, berjalanlah bersama dia 2 mil.”
Biasanya kalau ada orang yang ‘memaksa’ harus ditekan dulu baru bersedia, tetapi saya percaya di sini tidak ada yang seperti itu. Namun kalau ada, bertobatlah!
Kemudian Tuhan Yesus berkata, “…jikalau kamu mengasihi orang yang mengasihi kamu, apakah jasamu? Karena orang-orang berdosapun mengasihi juga orang-orang yang mengasihi mereka….” (Lukas 6:27-29, 32). Inilah pelajaran yang Tuhan berikan.
Bersambung minggu depan. Khotbah Bapak Pdt. DR. Ir. Niko Njotorahardjo JCC, 8 April 2018

PENJAGA KEBUN ANGGUR BUKAN PEMILIK

PENJAGA KEBUN ANGGUR BUKAN PEMILIK

Wahyu 21:4-8, “Dan Ia akan menghapus segala air mata dari mata mereka, dan maut tidak akan ada lagi; tidak akan ada lagi perkabungan, atau ratap tangis, atau dukacita, sebab segala sesuatu yang lama itu telah berlalu.” Ia yang duduk di atas takhta itu berkata: “Lihatlah, Aku menjadikan segala sesuatu baru!” Dan firman-Nya: “Tuliskanlah, karena segala perkataan ini adalah tepat dan benar.” Firman-Nya lagi kepadaku: “Semuanya telah terjadi. Aku adalah Alfa dan Omega, Yang Awal dan Yang Akhir. Orang yang haus akan Kuberi minum dengan cuma-cuma dari mata air kehidupan. Barangsiapa menang, ia akan memperoleh semuanya ini, dan Aku akan menjadi Allahnya dan ia akan menjadi anak-Ku. Tetapi orang-orang penakut, orang-orang yang tidak percaya, orang-orang keji, orang-orang pembunuh, orang-orang sundal, tukang-tukang sihir, penyembah-penyembah berhala dan semua pendusta, mereka akan mendapat bagian mereka di dalam lautan yang menyala-nyala oleh api dan belerang; inilah kematian yang kedua.”
Kita sudah belajar di dalam Wahyu 21 tentang sorga dan neraka, keadaan di sorga tidak ada ratap tangis dan dukacita, yang ada hanyalah sukacita dan damai sejahtera, dan keadaan di neraka ada api dan belerang yang membakar sampai selamanya.
Siapa orang-orang yang dapat masuk ke sorga? Orang-orang yang mempunyai 3K, yaitu: Ketaatan, Kesetiaan dan Ketekunan. Dan orang-orang yang tidak taat, tidak setia dan tidak tekun sampai garis akhir akan masuk ke neraka.
Bagaimana caranya agar kita jangan sampai masuk neraka? “Kerjakanlah keselamatanmu dengan takut dan gentar” (Filipi 2:12) Memang keselamatan itu diberikan cuma-cuma kepada kita, seperti masuk melalui pintu ke surga tetapi selama masih hidup di dunia ada pilihan untuk tetap tinggal di surga atau menjadi murtad (tidak taat, tidak setia, atau tidak tekun) meninggalkan Yesus. Untuk pastikan kita selamat harus terus setia sampai garis akhir, kebanyakan orang tidak tahan sampai garis akhir.
Suatu organisasi Kristen melakukan sebuah survey di gereja-gereja di Amerika yang mengatakan bahwa 10 orang yang datang ke gereja hari ini dan setelah 10 tahun kemudian ada berapa orang yang masih beribadah? Hanya 1 dari 10 orang yang datang ke gereja dari 10 tahun yang lalu, berarti hanya 10% setia selama 10 tahun dan yang 90% sudah kembali ke dunia atau pindah gereja, dsbnya. Ternyata banyak meninggalkan gereja karena tidak berakar di dalam pengajaran dan kebenaran firman Tuhan.
Kita semua yang menang akan memperoleh semua janji keselamatan itu. Berarti ada pertandingan/perjuangan yang harus kita lalui untuk keluar sebagai pemenang dan kita harus mempersiapkan diri. Kita diajar kebenaran Firman dan dilatih melakukannya supaya keluar sebagai pemenang. Jika orang Kristen mau taat melalui perjuangan ini pasti keluar sebagai pemenang karena kemenangan kita sudah dijamin. Karena Yesus telah menang atas maut dan Dia adalah pemilik hidup kita dan kita adalah hambaNya seperti penjaga kebun anggur yang dipercayakan oleh tuannya.
Mari kita lihat Matius 21 tentang tugas seorang hamba selagi tuannya berpergian sampai tuannya datang kembali.
1. Yesus dielu-elukan di Yerusalem.
Menjelang perayaan Paskah, Tuhan Yesus masuk ke kota Yerusalem (hari itu diingat sebagai hari Minggu Palm or ‘Palm Sunday’) dan dielu-elukan dengan daun-daun palem, dan Yesus menunggang seekor keledai betina, orang-orang berseru: “Hosanna, hosanna.”
Mengapa dikatakan menunggang keledai betina dan mengapa bukan kuda atau binatang lainnya? Keledai itu adalah binatang yang taat dan mudah dikendalikan penunggangnya. Gereja adalah seperti keledai betina yang membawa Yesus kemana saja,, karena bukan lagi kita yang hidup tetapi Kristus yang hidup di dalam kita.
Roh Kudus dicurahkan di Yerusalem, di Yudea dan di Samaria, dan sampai ke ujung bumi, itu berbicara di Yerusalem secara fisik dan juga ‘Yerusalem’ adalah diri kita, ‘Yudea’ berbicara tentang keluarga kita dan ‘Samaria’ adalah komunitas yang lebih luas dan sampai ke ujung bumi.
Roh Kudus dicurahkan dalam kehidupan kita dan kita bertobat menerima Yesus sehingga kita menjadi ciptaan baru, setelah kita menerima Yesus, hidup kita selalu mengelu-elukan Yesus, penuh dengan doa, pujian dan penyembahan dan berkata: Hosanna, hosanna bagi Yesus di tempat yang Mahatinggi. Maka Yesus bertahta atas hati, jiwa dan tubuh, roh dan pikiran kita memuliakan Tuhan senantiasa.
2. Yesus Menyucikan Bait Suci.
Matius 21:13, “dan berkata kepada mereka: “Ada tertulis: Rumah-Ku akan disebut rumah doa. Tetapi kamu menjadikannya sarang penyamun.” Kata ‘rumah-Ku’ di sini adalah Bait Suci di Yerusalem pada waktu itu, tetapi Yesus juga berkata Bait Suci ini akan dihancurkan dan dalam 3 hari Aku akan membangunnya kembali, yang dimaksud di sini adalah pada waktu Yesus mati di kayu salib tubuh-Nya dihancurkan dan pada hari yang ketiga Ia dibangkitkan.
1 Korintus 3:16-17, “Tidak tahukah kamu, bahwa kamu adalah bait Allah dan bahwa Roh Allah diam di dalam kamu? Jika ada orang yang membinasakan bait Allah, maka Allah akan membinasakan dia. Sebab bait Allah adalah kudus dan bait Allah itu ialah kamu.”
“Atau tidak tahukah kamu, bahwa tubuhmu adalah bait Roh Kudus yang diam di dalam kamu, Roh Kudus yang kamu peroleh dari Allah, dan bahwa kamu bukan milik kamu sendiri?”
1 Korintus 6:19
Tubuh ini adalah bait Allah dan siapa yang merusaknya maka ia akan berurusan dengan Allah. Tubuh kita adalah bait Suci dan berharga di mata Tuhan dan kita harus bertanggung jawab kepada Tuhan bagaimana kita harus memelihara tubuh ini. Orang dunia tidak mengerti ini sehingga ia memakai tubuhnya untuk mengikuti hawa nafsu dan kejahatan.
Orang-orang yang masuk neraka dan binasa itu karena mereka tidak tahu dan tidak mau tahu bahwa tubuhnya itu bait Allah. Dan kita yang sudah tahupun ada pilihan apakah kita mau taat atau tidak. Pilihan ada ditangan kita apakah kita mau masuk sorga atau tidak? Kita juga yang menentukan pilihan bagaimana menguduskan diri. Apakah kita mau memakai tubuh kita untuk hal-hal yang jahat atau untuk memuliakan Tuhan. Itu semua adalah keputusan masing-masing kita sendiri.
3. Yesus Mengutuk Pohon Ara.
Mengapa pohon itu dikutuk? Karena pohon itu tidak berbuah. Pohon tumbuh dari benih. Didalam setiap benih ada potensi untuk berbuah. Namun bila sebuah pohon tidak berbuah berarti pohon tsb. tidak melakukan kehendak Allah. Karena kehendak Tuhan menciptakan benih menjadi pohon yang berbuah.
Sama seperti manusia diciptakan untuk berbuah. Kalau kita tidak berbuah, berarti kita tidak melakukan kehendak Allah. Dalam setiap orang percaya harus ada buah pertobatan, ada buah Roh dan buah jiwa-jiwa. Kalau tidak berbuah berarti kita tidak melakukan kehendak Tuhan.
Untuk berbuah, benih harus tumbuh seperti pohon baru kemudian berbuah. Demikian juga setiap orang Kristen harus dimuridkan sehingga menjadi dewasa dan berbuah. Kehendak Tuhan agar pohon itu berbuah dan kehendak Tuhan agar kita menjadi murid dan berbuah.
Mengapa dalam survey 10 orang yang ke gereja itu hanya 1 orang yang tetap beribadah setelah 10 tahun? Karena 9 orang tersebut tidak berbuah. Sama seperti pohon yang tidak berbuah percuma jika tidak ada buahnya. Kalau kita mau taat, setia dan bertekun pasti berbuah, dan kita akan dibersihkan supaya berbuah lebih banyak lagi. Kita tinggal pilih mau lakukan atau tidak.
Kesimpulan: Kehendak Tuhan bagi kita semua adalah Jika nama Yesus ditinggikan, hidup kita disucikan, setiap hidup yang disucikan dan memuliakan Tuhan akan berbuah banyak.
Tuhan mengajarkan sebuah perumpamaan lagi agar kita dapat belajar bagaimana kita harus hidup sampai kedatangan Tuhan kembali.
Matius 21:33-43, Perumpamaan tentang penggarap-penggarap kebun anggur.
“Dengarkanlah suatu perumpamaan yang lain. Adalah seorang tuan tanah membuka kebun anggur dan menanam pagar sekelilingnya. Ia menggali lobang tempat memeras anggur dan mendirikan menara jaga di dalam kebun itu. Kemudian ia menyewakan kebun itu kepada penggarap-penggarap lalu berangkat ke negeri lain. Ketika hampir tiba musim petik, ia menyuruh hamba-hambanya kepada penggarap-penggarap itu untuk menerima hasil yang menjadi bagiannya. Tetapi penggarap-penggarap itu menangkap hamba-hambanya itu: mereka memukul yang seorang, membunuh yang lain dan melempari yang lain pula dengan batu. Kemudian tuan itu menyuruh pula hamba-hamba yang lain, lebih banyak dari pada yang semula,
tetapi merekapun diperlakukan sama seperti kawan-kawan mereka. Akhirnya ia menyuruh anaknya kepada mereka, katanya: Anakku akan mereka segani. Tetapi ketika penggarap-penggarap itu melihat anaknya itu, mereka berkata seorang kepada yang lain: Ia adalah ahli waris, mari kita bunuh dia, supaya warisannya menjadi milik kita. Mereka menangkapnya dan melemparkannya ke luar kebun anggur itu, lalu membunuhnya. Maka apabila tuan kebun anggur itu datang, apakah yang akan dilakukannya dengan penggarap-penggarap itu?” Kata mereka kepada-Nya: “Ia akan membinasakan orang-orang jahat itu dan kebun anggurnya akan disewakannya kepada penggarap-penggarap lain, yang akan menyerahkan hasilnya kepadanya pada waktunya.” Kata Yesus kepada mereka: “Belum pernahkah kamu baca dalam Kitab Suci: Batu yang dibuang oleh tukang-tukang bangunan telah menjadi batu penjuru: hal itu terjadi dari pihak Tuhan, suatu perbuatan ajaib di mata kita. Sebab itu, Aku berkata kepadamu, bahwa Kerajaan Allah akan diambil dari padamu dan akan diberikan kepada suatu bangsa yang akan menghasilkan buah Kerajaan itu.
Yesus lahir ditengah bangsa Yahudi. Namun karena mereka keras kepala dan tidak mau menerima Tuhan Yesus, maka keselamatan ini diberikan kepada bangsa-bangsa lain termasuk kita, tetapi ini hanya untuk satu masa, dan setelah cukup jumlahnya dari bangsa-bangsa lain yang bertobat maka bangsa Yahudi juga akan diberi kesempatan untuk bertobat lalu kita sama-sama akan masuk sorga.
Kita adalah penggarap-penggarap kebun anggur. Penggarap kebun anggur seperti apakah kita? Apakah kita melakukannya dengan setia dan bertekun sehingga memberikan uang sewa tepat waktu dan pada waktunya nanti pemilik kebun anggur kembali dan kita mengembalikan hasil kebun anggur tersebut kepada tuan pemilik kebun anggur tsb. Ataukah kita berpikir karena pemilik kebun anggur tidak datang-datang, maka kita merasa bahwa hidup ini adalah milik kita.
Tuhan percayakan hidup kita kepada kita, apakah kita menjadi hamba yang baik dan setia atau menjadi hamba yang jahat? Hidup kita hanya dititipkan untuk dipelihara, hidup ini pinjaman bukan milik kita. Semua hasil milik, talenta, kehebatan dan pekerjaan kita bukan punya kita, dan kita diberi tugas untuk ‘menggarap’ hidup kita. Tapi ada orang yang lupa kalau hidup ini hanya titipan dan mempermasalahkan persepuluhan. Karena merasa ini hidupku, pekerjaanku, hasil karyaku dan tidak mau mengembalikannya kepada Tuhan, pemilik hidup.
“Barangsiapa mempertahankan nyawanya, ia akan kehilangan nyawanya, dan barangsiapa kehilangan nyawanya karena Aku, ia akan memperolehnya.” Matius 10:39
Sesuai dengan ayat tsb. kita tahu sekarang kalau kita mempertahankan hidup seakan-akan milik kita maka akan kehilangan. Tetapi jika kita menyerahkan free-will kita (menyangkal diri, tidak menuruti hawa nafsu) dengan melakukan kehendak Tuhan maka kita akan mendapatkannya. Kita ini hanya penggarap dan pengerja kebun anggur Tuhan untuk Kerajaan Allah dan untuk kehendak Allah. Kalau kita bisa dipercaya maka Tuhan akan mempercayakan lebih banyak lagi. Jika kita sadar bahwa hidup kita adalah milik Tuhan maka kita akan taat, setia dan bertekun, maka kita akan keluar sebagai pemenang. Kita persembahkan talenta, finansial, keberhasilan dan segala sesuatu milik kita hanya kepada Tuhan yang layak menerima hormat dan kemuliaan.
Ringkasan kotbah Ps. Juliana L April 1, 2018

MENGALAMI DIMENSI BARU

MENGALAMI DIMENSI BARU

Tahun 2018 adalah Tahun Permulaan yang Baru. Pengertiannya adalah kita akan mengalami suatu awal yang baru, memasuki musim baru dan mengalami dimensi baru. Dimensi baru di sini adalah suatu kondisi yang melampaui kondisi lahiriah yaitu kondisi supranatural. Orang yang hidup dalam dimensi baru akan mengalami kepenuhan hidup yang sejati.

KEBENARAN MENGENAI DIMENSI BARU
1. Perkara Yang Di Atas Dan Bukan Di Bumi (Kolose 3:1-4)
Secara umum orang berpikir bahwa kehidupan adalah mengenai hal-hal jasmaniah semata. Dunia menggambarkan bahwa orang memerlukan kesuksesan, ketenaran, pengakuan dan kekayaan untuk hidup bahagia. Sebaliknya kenyataan hidup sepertinya menunjukkan bahwa yang tidak memiliki kekayaan, kehidupannya buruk atau gagal. Akibatnya fokus kehidupan orang itu hanya mencari hal-hal jasmaniah saja. Kehidupan manusia hanya memikirkan dan mencari perkara yang di bumi. Orang-orang yang seperti itu tidak mengerti atau mengalami dimensi baru.
‘Perkara yang di atas’ bukanlah apa yang selama ini dikejar dan dicari oleh manusia selama di bumi. ‘Perkara yang di atas’ melampaui itu semua, yakni perkara rohani atau sorgawi. Untuk mendapatkannya kita perlu memikirkan dan mencarinya. Memikirkan “perkara yang di atas” artinya merenungkan sisi yang lebih tinggi dibanding yang terlihat oleh mata jasmani.

Contohnya dalam kisah Ayub. Ayub disebut sebagai seorang yang sangat kaya, saleh dan menjauhi kejahatan. Secara manusia, Ayub sudah mencapai level yang maksimal dari apa yang dikatakan oleh dunia sebagai orang yang sukses. Suatu hari semua yang dimiliki Ayub habis tanpa dia mengerti apa sebabnya. Ayub sempat menyangka bahwa ketika semua habis, hidupnya juga berakhir. Namun Tuhan memiliki rencana yang Ayub belum tahu. Dalam penderitaan yang hebat, Ayub mengalami perjumpaan dengan Tuhan. Ayub mendengar Firman Tuhan yang membuka mata rohaninya. Ternyata kesuksesan dalam hidup bukanlah tujuan utama hidup manusia, melainkan pengenalan akan Tuhan secara pribadi. (Ayub 38:1)

Ayub pada akhirnya mengerti mengapa semua kesulitan itu dia alami. Dia mengalami dimensi baru dalam hidupnya. Ayub berkata: “Hanya dari kata orang saja aku mendengar tentang Engkau, tetapi sekarang mataku sendiri memandang Engkau. Oleh sebab itu aku mencabut perkataanku dan dengan menyesal aku duduk dalam debu dan abu.” (Ayub 42:5-6). Hidup Ayub tidak menjadi hancur karena kehilangan harta, justru mengalami peningkatan rohani.
2. Pekerjaan Roh Kudus Di Era Pentakosta Ketiga
Murid-murid Yesus mengalami pencurahan Roh Kudus di loteng Yerusalem. Itulah kejadian dahsyat yang mengubah hidup sekelompok murid yang sederhana menjadi tentara Kerajaan Allah. Pekerjaan Roh Kudus yang dahsyat itu mengubah dunia yang berdosa (era tanpa keselamatan) memasuki era baru, yaitu era anugerah, di mana orang berdosa mendapatkan keselamatan. Peristiwa itu disebut Pentakosta Pertama dan menghasilkan penuaian jiwa yang besar.
Pencurahan Roh Kudus di era modern di Asuza Street tahun 1906 disebut sebagai Pentakosta Kedua juga mengubah wajah dunia kerohanian. Terjadinya pertobatan besar di mana-mana ke seluruh dunia. Pentakosta Pertama dan Kedua selalu diiringi dengan mujizat-mujizat dan penuaian jiwa yang besar.

Menjelang kedatangan Kristus yang kedua, akan terjadi penuaian jiwa yang terbesar. Melihat keadaan dunia sekarang, hal itu terasa mustahil, dunia sedang memasuki era di mana kerohanian sangat merosot. Roh antikristus sedang bekerja keras di seluruh dunia. Penolakan akan pengenalan akan Tuhan, contohnya pernikahan sesama jenis semakin meluas dan kejahatan semakin merajalela. Namun rencana Tuhan adalah terjadinya pemulihan dalam segala hal. Dalam era Pentakosta Ketiga, kita percaya karya Roh Kudus akan jauh lebih besar dan lebih dahsyat. Akan terjadi mujizat-mujizat yang luar biasa dan penuaian jiwa yang terbesar dan terakhir sebelum kedatangan Tuhan Yesus yang kedua kali.

Nabi Yesaya menyatakan: “Lihat, Aku hendak membuat sesuatu yang baru, yang sekarang sudah tumbuh, belumkah kamu mengetahuinya? Ya, Aku hendak membuat jalan di padang gurun dan sungai-sungai di padang belantara.” (Yesaya 43:19)
Membuat jalan di padang gurun bukanlah hal yang mudah, ini adalah pekerjaan Roh Kudus. Inilah dimensi baru yang akan Tuhan kerjakan.
3. Menjadi Prajurit Tuhan Yang Gagah Perkasa
Kita tahu bahwa Tuhan akan melakukan pekerjaan-Nya yang besar. Yang harus kita lakukan untuk mengalami dimensi yang baru adalah menjadi prajurit Tuhan yang gagah perkasa. Artinya kita perlu mengalami perubahan dari jemaat menjadi prajurit Tuhan untuk dapat mengalami mujizat dan penuaian dahsyat di akhir zaman.

APA YANG HARUS KITA LAKUKAN UNTUK MENGALAMI DIMENSI YANG BARU?
Tuhan menghendaki kita memasuki dan mengalami dimensi baru dalam kehidupan kita. Apa yang harus kita lakukan?
1. Miliki Cara Berpikir Yang Baru
“Janganlah kamu menjadi serupa dengan dunia ini, tetapi berubahlah oleh pembaharuan budimu, sehingga kamu dapat membedakan manakah kehendak Allah: apa yang baik, yang berkenan kepada Allah dan yang sempurna.” (Roma 12:2)
Cara berpikir baru adalah cara berpikir yang diubahkan oleh Firman TUHAN. Dengan demikian kita bisa mengikuti kehendak Allah dengan benar. Membaca dan merenungkan Firman Tuhan setiap hari adalah cara untuk memiliki cara berpikir yang baru.

2. Miliki Cara Hidup Yang Baru
“Dengan demikian kita telah dikuburkan bersama-sama dengan Dia oleh baptisan dalam kematian, supaya, sama seperti Kristus telah dibangkitkan dari antara orang mati oleh kemuliaan Bapa, demikian juga kita akan hidup dalam hidup yang baru.” (Roma 6:4)
Cara hidup yang baru berarti kita harus membuang hal-hal lama yang tidak berkenan di hadapan TUHAN, segala dosa, hawa nafsu, kedagingan, kompromi dengan dosa dan keduniawian. Kita harus menjaga hidup kita sungguh-sungguh kudus dalam takut akan TUHAN.

3. Hati Yang Siap
Ada 4 hal yang harus kita perhatikan untuk terjadinya mujizat:
a. Kita harus percaya bahwa mujizat itu ada.
b. Jika TUHAN berbicara kita harus percaya dan bertindak meskipun tidak masuk akal.
c. Ada harga yang harus dibayar
d. Kesombongan akan membuat mujizat tidak terjadi.
Selain itu, TUHAN juga mengingatkan:
“Lebih baik berlindung pada TUHAN dari pada percaya kepada manusia.” (Mazmur 118:8)

“Beginilah firman TUHAN: “Terkutuklah orang yang mengandalkan manusia, yang mengandalkan kekuatannya sendiri, dan yang hatinya menjauh dari pada TUHAN! Ia akan seperti semak bulus di padang belantara, ia tidak akan mengalami datangnya keadaan baik; ia akan tinggal di tanah angus di padang gurun, di negeri padang asin yang tidak berpenduduk. Diberkatilah orang yang mengandalkan TUHAN, yang menaruh harapannya pada TUHAN! Ia akan seperti pohon yang ditanam di tepi air, yang merambatkan akar-akarnya ke tepi batang air, dan yang tidak mengalami datangnya panas terik, yang daunnya tetap hijau, yang tidak kuatir dalam tahun kering, dan yang tidak berhenti menghasilkan buah.” (Yeremia 17:5-8)
Hati yang siap adalah hati yang percaya ketika mendengar bahwa Tuhan akan melakukan mujizat yang tidak lazim (unusual miracles).

Hati yang siap juga adalah hati yang mengandalkan Tuhan, bukan mengandalkan kekuatan dan kepandaian manusia. Orang yang mengandalkan TUHAN, hidupnya bergantung kepada Tuhan. Dia senantiasa membangun hubungan yang intim, akrab dengan TUHAN melalui berdoa, memuji dan menyembah Tuhan, membaca Firman dan melakukannya setiap hari. Mari alami dimensi yang baru dalam Roh bersama-sama. Amin.

MUSIM-MUSIM KEHIDUPAN

MUSIM-MUSIM KEHIDUPAN

“Lalu tibalah Yesus dan murid-murid-Nya di Yerikho. Dan ketika Yesus keluar dari Yerikho, bersama-sama dengan murid-murid-Nya dan orang banyak yang berbondong-bondong,
ada seorang pengemis yang buta, bernama Bartimeus, anak Timeus, duduk di pinggir jalan. Ketika didengarnya, bahwa itu adalah Yesus orang Nazaret, mulailah ia berseru:
“Yesus, Anak Daud, kasihanilah aku!” Banyak orang menegornya supaya ia diam.
Namun semakin keras ia berseru: “Anak Daud, kasihanilah aku!” Lalu Yesus berhenti
dan berkata: “Panggillah dia!” Mereka memanggil orang buta itu dan berkata kepadanya: “Kuatkan hatimu, berdirilah, Ia memanggil engkau.” Lalu ia menanggalkan jubahnya,
ia segera berdiri dan pergi mendapatkan Yesus. Tanya Yesus kepadanya:
“Apa yang kaukehendaki supaya Aku perbuat bagimu?” Jawab orang buta itu:
“Rabuni, supaya aku dapat melihat!” Lalu kata Yesus kepadanya:
“Pergilah, imanmu telah menyelamatkan engkau!”
Pada saat itu juga melihatlah ia, lalu ia mengikuti Yesus dalam perjalanan-Nya.”
(Markus 10:46-52)
Tahun 2018 bertepatan dengan kalender Ibrani yang disebut dengan tahun Ayin Chet (5778). Bagi kita orang yang percaya, Tuhan menuntun kita dalam masa ini dengan pemahaman bahwa ini adalah masa-masa permulaan yang baru, yang lama telah berlalu dan yang baru telah datang. Tahun 2018 adalah Tahun Permulaan yang Baru. Musim yang baru sedang datang. Bukan suatu yang kebetulan, minggu ini kita yang berada di Amerika, (4 musim) mulai masuk musim semi (Spring).
Musim Lama Dan Musim Baru
Berangkat dari kacamata iman, dalam kisah Bartimeus ini mari kita melihat hubungan antara iman dan kesiapan Bartimeus dalam menerima kesembuhannya. Yakobus 2:14-26 mengajarkan bahwa iman tanpa perbuatan menjadi tidak sempurna; perbuatan yang keluar dari hidup seseorang menunjukkan status imannya, apakah imannya itu hidup atau mati.
Di musim yang lama, Bartimeus hidup menderita karena ia buta. Bartimeus tinggal di kota Yerikho. Yosua 18:21 menunjukkan Yerikho adalah kota milik Suku Benyamin yang bergabung dengan Yehuda ketika kerajaan Israel pecah di Kitab 1 Raja-raja 12. Pada masa Bartimeus – Israel berada di bawah penjajahan Romawi – kita bisa asumsikan di kota ini banyak yang beribadah dan memegang tradisi Yahudi dan Torah dibanding kota lain yang bukan bekas wilayah Yehuda. Bagi sebagian mereka, orang yang cacat adalah kutukan dan hukuman atas dosa. Bayangkan perlakuan yang Bartimeus terima dari sejak kecil dari lingkungannya. Ia mengalami pembedaan (diskriminasi) dalam pendidikan, pergaulan dan status sosial. Dalam ketidakberdayaannya, akhirnya ia menjadi pengemis buta. Inilah musim lamanya milik Bartimeus. Bartimeus siap meninggalkan kehidupan lamanya. Dia berseru minta agar dapat melihat. “Melihat” adalah kerinduannya yang paling dalam. “Melihat” adalah kebutuhannya yang paling pokok. Bartimeus berseru dengan iman dan Yesus tergerak oleh belas kasihan, mujizat kesembuhan terjadi. Kerinduan Bartimeus menjadi kenyataan. Bartimeus bukan hanya senang menerima kesembuhan, dia harus siap masuk musim kehidupan yang baru.
Bagi orang yang buta sejak lahir, menjadi sembuh dan dapat melihat adalah sesuatu yang baru. Dia mulai dapat memandang, mengamati dan menikmati penglihatannya, membedakan terang dari gelap, menentukan kiri, kanan, atas dan bawah. Lingkungannya pun akan berubah dalam menerima Bartimeus. Menjadi orang yang dapat melihat normal adalah musim yang baru bagi Bartimeus.
Perjumpaan Bartimeus Dengan Yesus
Dalam Markus 9:30, Tuhan Yesus mengumumkan bahwa Ia akan ditangkap dan dibunuh sesuai dengan apa yang tertulis. Kejadian itu berlokasi di sekitar Danau Galilea. Setelah itu, Ia berjalan menuju Yerusalem untuk menggenapi apa yang Ia ucapkan. Sebuah misi utama dalam kedatangan-Nya yang pertama, yaitu mati di kayu salib untuk menebus dosa umat manusia.
Dengan melihat peta Israel, jalan tercepat untuk tiba di Yerusalem adalah menuju Barat Daya melalui Bethel, dan kemudian ke Selatan, menuju gunung Sion, tempat kota Yerusalem berada. Kenyataannya, Tuhan Yesus memilih untuk berjalan lurus dari Galilea ke Selatan, sehingga memutar ke kota Yerikho. Dari Yerikho, bila ingin ke Yerusalem, mereka masih harus memutar ke Barat, menaiki perbukitan yang terjal. Seolah begitu pentingnya urusan di Yerikho, sehingga Tuhan Yesus secara khusus memutar ke kota itu lebih dahulu. Mungkinkah Ia memang ingin menyembuhkan Bartimeus? Mungkinkah Tuhan memang sudah tahu bahwa Bartimeus sudah siap menerima kesembuhannya?
Berjumpa Saja Tidak Cukup
Markus 10:46 menjelaskan bahwa di Yerikho, bukan hanya Bartimeus yang berjumpa dengan Yesus. Banyak orang berbondong-bondong mengikuti Tuhan Yesus, namun fakta yang dicatat oleh Injil Markus, hanya Bartimeus yang mengalami kesembuhan. Jadi, berjumpa saja dengan Yesus ternyata tidak cukup untuk menerima kesembuhan. Ada sesuatu yang Bartimeus miliki yang orang lain tidak miliki, ada sesuatu yang Bartimeus lakukan yang orang lain tidak lakukan.
Petunjuk menarik di Markus 10:52. Ketika Tuhan Yesus mengucapkan sebuah kalimat, yang kemudian disusul dengan kesembuhan Bartimeus: “Pergilah, imanmu telah menyelamatkan engkau!” Berjumpa dengan Yesus adalah hal yang penting, namun lebih penting lagi bertemu Yesus dengan iman yang hidup. Bartimeus memiliki iman untuk menerima kesembuhan dirinya dan bahkan memperoleh keselamatan jiwanya.
Iman yang hidup disempurnakan oleh perbuatan. Perbuatan yang mana? Perbuatan Iman.
“Iman timbul dari pendengaran, dan pendengaran oleh firman Kristus.” Roma 10:17.
Kunjungan pelayanan Yesus ke Yerikho ini terjadi menjelang penyaliban-Nya. Sebelum itu Yesus melakukan banyak mujizat di mana-mana. Kabar, cerita dan pengajaran-Nya, pasti juga sudah menyebar hingga Yerikho. Mungkin sekali kabar tentang kesembuhan di Genesaret yang tertulis di Markus 5:25-34, dan mujizat kesembuhan lain, khususnya kesembuhan orang buta di Betsaida (Markus 8:22-26) juga sudah didengar oleh Bartimeus.
Bartimeus berseru-seru “Yesus anak Daud, kasihanilah aku!” ketika ia tahu rombongan siapa yang sedang berjalan di hadapannya. Ia tidak bisa melihat kemana Yesus bergerak, ia tidak bisa mengejar kemana Yesus berjalan. Ia melakukan apa yang ia bisa, yaitu berseru-seru. Ini menunjukkan bahwa Bartimeus memiliki kualitas iman yang dibuktikan dengan perbuatan.
Budaya masyarakat saat itu erat dengan perlambang dan kiasan, baik kata-kata maupun perbuatan. Bartimeus menanggalkan jubahnya ketika Yesus memanggil namanya. Bahkan sebelum Yesus berkata Bartimeus akan disembuhkan, ia sudah langsung melepas jubah lamanya. Suatu tindakan iman yang bersifat profetik, yang seolah mengumumkan bahwa mulai saat Yesus memanggilnya, hidupnya pasti akan berubah.
Bartimeus menjawab pertanyaan Yesus dengan tepat. Ia tahu persis masalah hidupnya dan ia tahu juga bahwa Yesus sanggup menyembuhkannya. Ketika Yesus bertanya, “Apa yang kau kehendaki supaya Aku perbuat bagimu?”, mungkinkah Yesus hanya ingin menguji sampai dimana iman Bartimeus terhadap kesanggupan Yesus? Dan dengan jelas ia menjawab “Rabuni, supaya aku dapat melihat!” Inilah bukti Bartimeus masalah terbesar dalam hidupnya dan tahu Yesus sanggup menjawab masalahnya.
“Pada saat itu juga melihatlah ia, lalu ia mengikuti Yesus dalam perjalanan-Nya.” (Markus 10:52b)
Berkat Di Musim Baru
Seperti kedatangan Yesus ke Yerikho, saat ini Tuhan juga sedang melawat umat-Nya. Musim yang baru sedang datang dan Pentakosta Ketiga sedang terjadi. Orang percaya, keluarganya dan bangsa-bangsa sedang menerima lawatan/kunjungan Roh Kudus. Mengalami perjumpaan dengan Tuhan itu indah dan luar biasa, namun hal itu tidak cukup. Banyak yang berjumpa, namun hanya sedikit yang mengalami perubahan karena tidak memiliki iman yang hidup.
Inilah musim di mana iman orang percaya akan menyambut lawatan Roh Allah, dan banjir pernyataan kuasa mujizat Tuhan yang tidak lazim terjadi.
Selamat datang musim yang baru!

MENJADI SEPERTI ANAK KECIL

MENJADI SEPERTI ANAK KECIL

Lalu berkata: “Aku berkata kepadamu, sesungguhnya jika kamu tidak bertobat dan menjadi seperti anak kecil ini, kamu tidak akan masuk ke dalam Kerajaan Sorga.” (Matius 18:3)
Untuk masuk sorga, apa yang harus kita lakukan? 1. Kita harus bertobat. 2. Gaya hidup kita sehari-hari seperti anak kecil.
Ciri-ciri Seorang Anak Kecil:
1. Suka Menangis
Seberapa sering Saudara menangis di hadapan Tuhan? Dan menangisnya bukan karena kekurangan uang, bukan karena di-bully orang, bukan karena dizolimi, bukan karena masalah, tetapi menangis karena Saudara merasakan hadirat Tuhan. Alkitab katakan, “Di hadapan-Mu ada sukacita yang berlimpah-limpah!”, sehingga di situ kita menangis. Yang saya tanyakan, “Berapa sering?” Saudara, kalau kita punya ganjalan, apalagi dosa yang belum diselesaikan dengan Tuhan, Saudara tidak akan merasakan itu. Coba saja! Menangisnya akan lain lagi, “Tuhan, saya ada persoalan. Saya di-bully orang, diancam orang…!”. Bukan itu yang dimaksudkan, tetapi menangis karena kita merasakan hadirat Tuhan dan di hadapan-Mu ada sukacita berlimpah-limpah! Saudara, ini yang selalu saya pertahankan. Setiap hari saya selalu tidak akan kehilangan ini dan saya jaga betul. Sebab ini yang Tuhan mau, yaitu kita bersama-sama dengan Dia.

2. Tidak Menyimpan Kesalahan Orang
Coba kita lihat kalau seorang anak kecil sedang bermain dengan temannya. Tiba-tiba ada yang menangis karena berantem. Mungkin karena rebutan mainan atau mainannya dilempar dan mengenai temannya sehingga menangis. Itu memang ramai tetapi habis itu selesai dan mereka tertawa-tawa lagi. Itulah anak kecil, tetapi bagaimana dengan kita? Jangankan seperti itu, kata-kata yang salah sedikit saja kita akan ‘tersungging’! Kadang-kadang saya katakan memang harus ada ilmu untuk mengucapkan perkataan supaya orang lain tidak ‘tersungging’ tadi. Namun dengan hati-hati pun masih ada yang tersinggung! Dan itu dipendam di dalam hati sehingga, “Gara-gara itu, aku tidak bisa melihat wajahmu. Sampai kapan pun kalau melihat engkau, aku ‘neg!’. Ada yang begitu saudara, tetapi saya percaya di tempat ini tidak ada yang seperti itu, Amin.

3. Tidak Suka Berbohong
Anak kecil itu tidak suka berbohong. Saya pernah mendengar kesaksian begini : ada seorang ibu bilang sama anaknya yang sedang bermain, “Eh, nanti kalau ada orang telpon Tanya mama, bilang mama sedang pergi!”. “Ya, ,a!”, jawab anaknya lalu dia bermain lagi. Kemudian telpon berbunyi, “Krinnngggg…, halo, mamamu ada tidak?” Jawaban anak kecil itu, “Mama bilang, kalau ada orang yang telpon, bilang mama sedang pergi !”. Karena itu jangan coba-coba untuk mengajarkan bohong kepada anaknya, sebab Saudara akan diperlakukan seperti ini juga. Kadang-kadang ada berapa banyak di antara kita yang ‘bohong’ itu adalah makanan sehari-hari. Kalau tidak bohong rasanya tidak pas. Bertobat!

4. Selalu Ingin Dekat Dengan Orang Tuanya
Anak kecil selalu ingin dekat dengan orang tuanya. Saya ingin bertanya, apakah Saudara ingin dekat dengan Tuhan setiap saat? Kadang-kadang kita ingin dekat kalau ada hal-hal yang kira-kira, “Wah, masalah ini agak abu-abu. Tuhan, sebentar ya. Tuhan minggir sebentar, ini abu-abu.” Banyak yang kita lakukan seperti itu! Kalau Saudara ingin selalu dekat dengan Tuhan, itu artinya hati Saudara bersih dan hidupnya benar-benar kudus. Kita akan jaga terus dan tidak ada yang namanya ‘excuse’ seperti tadi, “Sebentar ya Tuhan, saya mau melakukan ini.”

5. Selalu Dituntun Orang Tuanya
Seorang anak selalu dituntun orang tuanya. Kita sebetulnya begitu, cuma kadang-kadang kita tidak peka. Kadang-kadang orang tua memanggil, ‘Hai kamu sini….sini…!”, mungkin ada anak yang bandel dan tidak mau ikut tetapi orang tuanya terus memanggil dan akhirnya si anak mau ikut. Sebetulnya Tuhan menghendaki kita dengan Dia seperti itu. Malah Dia mengirim malaikat-Nya untuk menatang kita supaya kaki kita tidak terantuk kepada batu. Tuhan Yesus seperti itu! Kadang-kadang kita yang tidak mau dekat dan tidak mau dituntun oleh Dia.

6. Percaya Kepada Orang Tuanya
Seorang anak itu percaya kepada orang tuanya, “Percaya…Papaku bisa! Mamaku bisa!”.
Tuhan Yesus sanggup membuat mujizat-Nya dan kita semua percaya, tetapi untuk ikut disitu, nanti dulu! Bukankah kita sering seperti itu?
Waktu kita sakit, nomor satu yang Saudara lakukan apa? Datang kepada Tuhan terlebih dulu atau mencari dokter yang hebat? Saya tidak anti dokter, sebab saya pun ke dokter. Tetapi yang nomor 1 kita harus mengandalkan Tuhan! Sedangkan dokter yang dipakai oleh Tuhan, kalau Tuhan tidak mengizinkan maka dokter sehebat apa pun tidak bisa menyembuhkan!
Saudara yang dikasihi Tuhan, apakah Saudara bisa seperti itu? Mungkin ada yang acuh tak acuh, atau mungkin ada yang berkata, “Enak saja, mana bisa begitu?”. Ini Firman! “Aku berkata kepadamu, sesungguhnya jika kamu tidak bertobat dan menjadi seperti anak kecil ini, kamu tidak akan masuk ke dalam Kerajaan Sorga.”
Tadi sudah saya katakan bahwa Tuhan mau mengajar, menasehati, dan menuntun kita melalui pengertian tentang angka 8 (Chet) tadi. Jadi tadi kita sudah renungkan bahwa yang pertama Chet adalah permulaan yang baru. Tetapi Chet itu bentuknya seperti pintu sbb:
Ini berbicara tentang pintu gerbang.
Tuhan Yesus dalam Yoh 10:9 berkata, “Akulah pintu; barangsiapa masuk melalui Aku, ia akan selamat dan ia akan masuk dan keluar dan menemukan padang rumput.” Memasuki Tahun Permulaan Yang Baru kita harus melalui pintu dan pintu itu adalah Tuhan Yesus. Supaya apa? Supaya kita selamat, kita bisa keluar masuk dan menemukan padang rumput. Ada berapa banyak yang mengerti akan hal ini?
Tuhan Yesus yang memegang kunci Daud dan Tuhan berkata, “Aku yang memegang kunci Daud, kalau Aku yang membuka, tidak ada seorang pun yang bisa menutup. Tetapi kalau Aku yang menutup, tidak ada yang bisa membuka!”.
Tuhan Yesus itu dahsyat! Ini janji bagi Saudara yang sedang mengalami masalah hari-hari ini. Pintu apa yang tertutup di hadapan Saudara? Dia sanggup membuka! Kalau Dia membuka, siapa yang sanggup menutup? Siapa saja tidak ada yang bisa, tetapi kalau Dia menutup, jangan coba-coba Saudara untuk membuka. Mau meminta bantuan siapa saja tetap tidak akan bisa terbuka. Amin! Kalau ada di antara Saudara yang sedang mengalami masalah, jangan kuatir! Apa yang tidak enak yang Saudara alami, nanti Tuhan akan kembalikan dengan berlipat-lipat untuk ganti yang tidak enak tadi. Amin!

Lukas 13:23-24, “Dan ada seorang yang berkata kepada-Nya: “Tuhan, sedikit sajakah orang yang diselamatkan?” Jawab Yesus kepada orang-orang di situ: “Berjuanglah untuk masuk melalui pintu yang sesak itu! Sebab Aku berkata kepadamu: Banyak orang akan berusaha untuk masuk, tetapi tidak akan dapat.”
Di Matius 7:13-14 Tuhan Yesus berkata, “Masuklah melalui pintu yang sesak itu, karena lebarlah pintu dan luaslah jalan yang menuju kepada kebinasaan, dan banyak orang yang masuk melaluinya; karena sesaklah pintu dan sempitlah jalan yang menuju kepada kehidupan, dan sedikit orang yang mendapatinya.”
Saya berdoa, kita semua termasuk yang sedikit tadi. Jangan percaya dengan apa kata orang-orang apalagi pengkhotbah-pengkhotbah yang tidak bertanggung jawab, “Gampang masuk Sorga!”. Tadi kita sudah baca sendiri, apakah gampang? Tidak gampang! Orang Kristen pun harus hati-hati karena:
1. Kita harus hidup melalui pertobatan yang sejati. Bukan yang main-main.
2. Penyangkalan diri untuk mengikut Yesus.
3. Berusaha sungguh-sungguh menurut perintah-Nya.
4. Sungguh-sungguh mencari Kerajaan Allah dan kebenaran-Nya.
5. Setia sampai akhir.

Saya ingat kisah Benny Hinn: di mana ketika dia mendapat satu penglihatan setelah selesai operasi jantung. Dia melihat satu antrian panjang orang-orang yang berpakaian putih. Di ujung sana ada pintu dan ada Tuhan Yesus. Di sebelah Tuhan Yesus ada seorang perempuan yang memainkan lagu dengan piano. Satu-persatu datang ke hadapan Tuhan Yesus. Kalau lagu yang dimainkan indah, maka tiba-tiba pintu Sorga terbuka, Tuhan Yesus tertawa dan orang itu masuk. Tetapi kalau lagunya menyeramkan, bukan pintu Sorga yang terbuka melainkan Iblis datang dan orang yang berpakaian putih itu dibawa! Waduh, Benny Hinn berdebar-debar! Sebelum dia maju ke hadapan Tuhan Yesus, dia melihat hanya 20% orang yang berpakaian putih yang masuk ke dalam pintu itu. Kalau saya mendapatkan yang seperti ini, saya percaya. Mengapa? Karena sesuai dengan Firman. Ada seorang yang bernama J.C. Ryle, dia adalah seorang Uskup atau Bishop dari Gereja Evangelical Anglican Inggris untuk kota Liverpool tahun 1880 – 1900. Dia menulis sebuah buku yang berjudul, “Old Paths”.
Chapter 3 buku tersebut berjudul, “Few Saved” (Sedikit yang diselamatkan). Buku ini ditulis bukan berdasarkan pernyataan penglihatan tetapi ini adalah pengajaran. Kalau Saudara membaca ini, maka di situ disebutkan:
1. Pengertian tentang keselamatan
2. Kesalahan pandangan tentang jumlah orang yang diselamatkan
3. Pandangan Alkitab tentang jumlah orang yang diselamatkan
4. Pandangan J.C. Ryle tentang orang yang diselamatkan.

Latar belakang teologi dari J.C. Ryle adalah Injili Anglican, ini bukan orang Pentakosta tetapi yang heran pahamnya sama dengan saya. Saudara perlu membaca ini, tetapi kalau Saudara repot untuk mencari bukunya, Saudara hanya tinggal ‘klik’ atau browsing di hmministry.id (‘klik’ di kolom Book Review). Di situ Saudara akan membaca saduran atau review dari buku ini. Saudara akan bisa baca dengan bahasa yang lebih sederhana. Ini perlu Saudara baca supaya Saudara lebih yakin bahwa keselamatan itu tidak main-main, karena hanya sedikit saja orang yang diselamatkan.
Saya setuju dengan apa yang ditulis dalam buku ini. Buku ini mengatakan begini, “Orang yang termasuk ‘yang sedikit yang diselamatkan’, kalau berkumpul dengan orang-orang yang namanya “Kristen”, dia akan merasa sendiri. Mengapa? Karena dia akan bertanya, “Yang mana yang benar, ya? Aku hidup sesuai dengan Firman Tuhan. Aku sungguh-sungguh, kenapa yang lain begini? Dan mereka semua meng-klaim bahwa mereka selamat. Yang salah saya atau mereka?” Saudara, ini pesan Tuhan: “Apa yang Saudara lakukan adalah bukti hidup tentang kebenaran yang Tuhan Yesus katakan.”
Dan dikatakan, “Jangan berpikir bahwa tujuan dan pekerjaan Tuhan Yesus di dunia digagalkan. Dia tetap memisahkan suatu umat untuk kemuliaan-Nya. Dan tetap membangkitkan saksi-saksi-Nya di seluruh dunia.”

Ketika orang-orang yang ‘sedikit’ ini masuk Sorga yaitu Saudara dan saya, maka akan ditemukan sesuai dengan Wahyu 7:9-10 sbb, “Kemudian dari pada itu aku melihat: sesungguhnya, suatu kumpulan besar orang banyak yang tidak dapat terhitung banyaknya, dari segala bangsa dan suku dan kaum dan bahasa, berdiri di hadapan takhta dan di hadapan Anak Domba, memakai jubah putih dan memegang daun-daun palem di tangan mereka. Dan dengan suara nyaring mereka berseru: “Keselamatan bagi Allah kami yang duduk di atas takhta dan bagi Anak Domba!” Amin.

Khotbah Pdt. DR. Ir. Niko Njotorahardjo, JCC – 4 Maret 2018

“MENJADI SEPERTI ANAK KECIL!”

“MENJADI SEPERTI ANAK KECIL!”

11 Maret 2018

Waktu berjalan begitu cepat, tidak terasa kita sudah masuk dalam bulan ketiga di tahun 2018 dan Tuhan memberikan tema, “Tahun 2018 adalah Tahun Permulaan Yang Baru!”.
Saudara, kalender Orang Ibrani hari-hari ini memasuki tahun 5778. Arti dari tahun 5778 adalah:
– Angka 5 berbicara tentang anugerah atau kasih karunia Tuhan
– Angka 7 berbicara tentang angka sempurna, angka tertinggi, angka kepenuhan
– Angka 8 berbicara tentang angka permulaan yang baru.
Jadi berdasarkan ini Tuhan berkata, “Sampaikan kepada umat-Ku bahwa memasuki tahun 2018 oleh karena kasih karunia, anugerah Tuhan, Saudara dan saya akan diberi berkat yang sempurna ketika kita memasuki permulaan yang baru atau hal-hal yang baru!”.

Memasuki tahun 2018 ini apakah Saudara mau diberikan berkat yang sempurna? Ingat, itu semua karena kasih karunia! Itu karena anugerah Tuhan, bukan karena kehebatan kita, bukan karena kita kuat, bukan karena gagah kita, tetapi karena anugerah Tuhan, kemurahan Tuhan. Amin!
Kalau Saudara membaca dari Mazmur 33:18 dan Mazmur 32:8 maka di situ dikatakan begini, “Sesungguhnya mata Tuhan itu tertuju kepada mereka yang takut akan Dia dan yang berharap akan kasih setia-Nya.” Ada berapa banyak di antara Saudara yang takut akan Tuhan dan yang hanya berharap akan kasih setia Tuhan? Jika ‘YA’, berarti mata Tuhan tertuju kepada kita semua untuk mengajar, menasehati, menunjukkan jalan apa yang harus kita tempuh supaya janji Tuhan seperti yang dikatakan tadi itu terjadi buat Saudara. Amin!
Saudara, kita bisa menangkap itu hanya jika mata kita tertuju kepada Dia. Jika mata kita tidak tertuju kepada Dia, maka kita akan salah. Tuhan akan pakai orang lain untuk menegur kita, dan tidak selalu lembut, kadang-kadang keras atau ada yang ‘nyelekit’, tetapi kalau kita tidak tahu bahwa itu Tuhan maka Saudara bisa sakit hati terhadap orang itu. Tetapi kalau mata kita tertuju kepada Dia, meskipun kadang sakit; namun Roh Kudus akan berbicara, “Itu AKU! Itu AKU!…”. Dan ketika kita mau mengikuti maka kita akan diberkati berlimpah, limpah, limpah, limpah!

Saudara, Tuhan mau mengajar, menasehati, dan menuntun kita melalui pengertian tentang angka 8 yang disebut dengan ‘Chet’. Tanggal 20 Februari yang lalu saya baru genap berusia 69 tahun.
Saya percaya ini bukan kebetulan. Buat saya pribadi ini adalah tahun permulaan yang baru, tetapi tidak mungkin saya bilang secara pribadi, sebab kalau “saya” itu berarti kita semua! Kita sedang memasuki permulaan yang baru!
Saudara, permulaan yang baru berbicara tentang Tuhan Yesus. Kalau Saudara membaca Yoh 1:1 dan 14a, maka di situ dikatakan, “Pada mulanya adalah Firman; Firman itu bersama-sama dengan Allah dan Firman itu adalah Allah. Firman itu telah menjadi manusia, dan diam di antara kita,…..(Nama-Nya siapa? YESUS!)…dan kita telah melihat kemuliaan-Nya, yaitu kemuliaan yang diberikan kepada-Nya sebagai Anak Tunggal Bapa, penuh kasih karunia dan kebenaran.”
Saudara, Tuhan Yesus itu adalah Anak Allah, tetapi jangan lupa bahwa Tuhan Yesus adalah Allah itu sendiri yang menjadi manusia. Ini penting! Dia adalah Anak Allah, tetapi Dia juga adalah Allah yang menjadi manusia.
Memasuki tahun 2018 Tuhan minta agar mata kita lebih tertuju kepada Tuhan Yesus dan mengingat apa yang Dia perbuat dalam hidup ini supaya kita lebih lagi mengasihi-Nya.

Pada tanggal 30 Maret ini kita akan memperingati Jumat Agung, yaitu kematian Tuhan Yesus. Bagi saya ini adalah sesuatu yang sangat penting. Kita akan mengingat kebaikan Tuhan, sebab tanpa itu kita tidak selamat. Saya selalu mengingat, “Tuhan, siapa saya ini sebelum mengenal Engkau. Saya ini orang berdosa. Upah dosa adalah maut, mati! Tetapi Engkau yang tidak berdosa telah dijadikan dosa oleh karena saya. Engkau harus turun dari Sorga mulia menjadi manusia untuk mati ganti saya dengan penderitaan yang luar biasa.” Itu Tuhan Yesus! Kalau Tuhan Yesus tidak mengalami itu dan dibangkitkan, maka kita tidak akan selamat! Kita akan masuk neraka semua! Tetapi karena Tuhan Yesus melakukan itu, maka kita anak-anak-Nya akan masuk Sorga.

Saudara, selama bertahun-tahun kalau saya bertemu dengan Saudara saya, beliau selalu mengingatkan bahwa kedatangan Tuhan Yesus untuk kali yang kedua sudah sangat dekat. Hari-hari ini kita diperingatkan untuk lebih dekat lagi kepada-Nya. Pada tanggal 21 Februari yang lalu, yaitu satu hari setelah ulang tahun saya, orang yang saya hormati selama ini, Ps. Billy Graham dipanggil Tuhan. Beliau adalah orang yang luar biasa. 29 tahun yang lalu, yaitu tahun 1989 para nabi di Amerika mengatakan, “Selama ini Gereja itu ada di dalam gua seperti Elia di dalam gua…(Waktu Elia diancam oleh Izebel, dia takut, lari dan bersembunyi. Keadaan Gereja adalah seperti ini 29 tahun yang lalu)…Tetapi ini tidak akan terus-menerus seperti itu. Ini akan berubah! Gereja akan bangkit dan itu akan ditandai dengan akselerasi penuaian jiwa besar-besaran!” Yang mana selalu kita sebutkan akhir-akhir ini dengan penuaian jiwa yang terbesar dan yang terakhir sebelum Tuhan Yesus datang untuk kali yang kedua. Pada waktu itu Ps. Benny Hinn sedang dipakai Tuhan secara luar biasa dan dia mendapatkan sesuatu. Dia katakan, kalau Oral Roberts dan Billy Graham telah dipanggil Tuhan, maka akan terjadi seperti yang dikatakan tadi, yaitu Gereja akan bangkit! Gereja akan dipakai Tuhan secara luar biasa! Oral Roberts sudah dipanggil Tuhan pada tahun 2009, tetapi Billy Graham baru dipanggil umur 99 tahun pada tanggal 21 Februari yang lalu. Saya percaya bahwa apa yang dikatakan oleh para nabi itu akan terjadi!
Waktu Elia lari dan bersembunyi karena dapat ancaman dari Izebel, dia ditanya oleh Tuhan, “Hei Elia, apa yang kamu lakukan di sini?”. Dan Elia menjawab, “Ya Tuhan, saya sudah bekerja mati-matian untuk Tuhan, tetapi umat-Mu mengingkari perjanjiannya! Mezbah-mezbah-Mu diruntuhkan, nabi-nabi-Mu dibunuh, tinggal aku seorang diri dan mereka juga mau membunuh aku!”. Langsung Tuhan berkata, “Sekarang kamu keluar!…Keluar! Berdiri di gunung ini di hadapan Tuhan”. Saudara, perintah yang seperti ini hari-hari ini ditujukan kepada Gereja-Nya. Gereja Tuhan yang selama ini ‘adem-ayem’, bersembunyi, di comfort zone, dan sebagainya sekarang Tuhan berkata, “Ayo keluar!” Yang saya dapatkan adalah Yesaya 60:1, “Bangkitlah, menjadi teranglah, sebab terangmu datang dan kemuliaan TUHAN terbit atasmu!”. Ayat ini juga berlaku untuk Pentakosta pertama dan kedua. Tetap ayat ini juga berlaku untuk Pentakosta yang ketiga!

Saudara yang dikasihi Tuhan, terang Tuhan, kemuliaan Tuhan itu berbicara tentang Api Kemuliaan Tuhan seperti yang dikonfirmasikan oleh hamba Tuhan yang bernama Russell Evans dari Planetshakers, Melbourne. Hari-hari ini api pencurahan Roh Kudus sedang turun di Indonesia dengan luar biasa. Karena itu Tuhan menyuruh saya nanti tanggal 17 – 20 Juli di SICC menyelenggarakan Empowered 21 Asia. Saya percaya yang ‘Global’ juga akan datang, bangsa-bangsa akan datang untuk menerima api pencurahan Roh Kudus, Pentakosta yang ketiga! Temanya adalah “FIRE and GLORY” dan saya percaya tahun ini adalah tahun permulaan di mana api Roh Kudus yang sedang dicurahkan di Indonesia itu akan bergerak ke bangsa-bangsa lain!
Saudara, kira-kira selama setahun ini, setiap kali saya ada di Sentul, saya pasti ada di lantai 12, di Menara Doa. Di situ ada bola dunia yang besar dan saya selalu tutup dengan menumpangkan tangan di atas bola dunia tersebut. Pertama saya arahkan tangan saya ke Indonesia, “Engkau sedang mencurahkan Roh-Mu di Indonesia, Tuhan. Dan ini akan bergerak ke bangsa-bangsa. Ke Asia, Tuhan! (lalu saya tumpang tangan atas negara-negara di Asia)…ke Eropa! (saya tumpang tangan atas Eropa)…ke Afrika! (saya tumpang tangan atas Afrika)…ke Amerika, Tuhan. Amerika Utara, Amerika Serikat, Amerika Selatan! (saya juga tumpang tangan di sana)…ke Australia!”. Kemudian Tuhan suruh saya mendeklarasikan ini: “Kalau Pentakosta pertama itu terjadi di Yerusalem, di kamar loteng. Pentakosta kedua terjadi di Los Angeles, di Azusa Street, tapi Pentakosta ketiga itu terjadi di Indonesia, dimulai di SICC!”. Dan ini sudah ditangkap oleh bangsa-bangsa! Mereka menerima dan nanti mereka akan datang. Ini sesuatu yang dahsyat! Anak perempuan Ps. Billy Graham menyampaikan bahwa dengan kematian ayahnya ini, dia mendapatkan bahwa penghukuman itu akan segera turun. Namun sebelum penghukuman yang sangat dahsyat itu turun, Gereja Tuhan akan diangkat. Itu yang dia dapatkan, karena itu saya tahu dan Tuhan mengingatkan saya terus, “Jangan kamu bosan-bosan katakan bahwa kedatangan-Ku sudah sangat, sangat, sangat dekat!”. Amin!

YESUS MEMBERI MAKAN LIMA RIBU ORANG
Pada waktu Tuhan Yesus masih berada di bumi ini, pelayanan-Nya itu sungguh luar biasa. Pelayanan-Nya disertai dengan tanda dan mujizat yang terjadi luar biasa! Bahkan Tuhan Yesus membuat apa yang kita istilahkan hari-hari ini mujizat yang tidak lazim, yaitu pada waktu Tuhan Yesus memberi makan 5.000 orang laki-laki, belum termasuk perempuan dan anak-anak hanya dengan 5 roti dan 2 ikan. Itu adalah satu mujizat yang tidak lazim!
Jadi pada waktu itu Tuhan Yesus sedang melayani, luar biasa banyaknya orang yang datang hingga ribuan. Bayangkan 2000 tahun yang lalu saja ribuan orang yang datang! Kalau sekarang, itu sama dengan jutaan orang. Pada waktu Tuhan Yesus sedang melayani, menyembuhkan orang sakit dan sebagainya, tidak terasa hari mulai malam. Murid-murid-Nya berkata, “Guru, ini sudah mulai malam dan mereka belum makan. Apakah tidak sebaiknya Guru menyuruh mereka mencari makan ke kampung-kampung sekitar sini?” Tetapi apa jawab Tuhan Yesus? “Kamu yang harus memberi makan mereka!”. “Kami?! Uang 200 Dinar saja tidak cukup (200 Dinar jumlah uang yang besar) untuk memberi mereka semua makan meskipun hanya sepotong kecil saja, itu tidak akan cukup. Apalagi kami pun tidak punya uang sebanyak itu!”. Kemudian Tuhan Yesus bertanya, “Apa yang kamu punya? Coba cari!”. Kemudian mereka mencari, tiba-tiba mereka membawa seorang anak yang mempunyai 5 roti dan 2 ikan. Sungguh luar biasa, sebenarnya roti dan ikan ini untuk dia makan, tetapi ketika semuanya diminta oleh Tuhan Yesus, dia mau berikan!

Setelah di tangan Tuhan Yesus, Dia berkata, “Coba orang-orang itu kamu suruh duduk berkelompok, ada yang 50 dan 100 orang.” Kemudian Tuhan Yesus memegang 5 roti dan 2 ikan itu, Ia menengadah ke atas dan mengucap syukur, Dia memecah-mecahkan roti dan ikan tadi lalu memanggil murid-murid-Nya, “5 roti dan 2 ikan ini sudah Aku pecah-pecahkan, sekarang kamu bagikan kepada mereka.” Saya mau bertanya, kalau Saudara jadi murid Tuhan Yesus pada waktu itu, bagaimana? Tentu sama dengan saya, bingung juga, “Ini hanya berapa potong? Sedangkan orang-orang itu ada ribuan jumlahnya! Ini bagaimana? Kita akan jadi bahan tertawaan paling tidak, atau kita bisa dimaki-maki orang banyak. Atau mungkin akan dikeroyok orang!”. Saya percaya mereka butuh waktu namun akhirnya mereka taat. Saya tidak tahu dengan pasti prosesnya bagaimana. Mungkin itu tiba-tiba jadi banyak atau setiap kali mereka ambil jumlahnya tetap sama atau tidak berkurang seperti janda Sarfat dengan tepung dan minyaknya. Tetapi yang pasti dan jelas, 5 roti dan 2 ikan yang dipecah-pecahkan itu membuat 5000 laki-laki, perempuan dan anak-anak makan sampai kenyang dan sisanya12 bakul!
Ini mujizat yang tidak lazim! Saudara mau mengalaminya? Yang membuat mujizat yang tidak lazim itu adalah Tuhan Yesus. Orang lain tidak bisa dan tidak ada yang bisa, hanya Tuhan Yesus saja! Tetapi Tuhan Yesus memerlukan kerjasama dengan kita. Seperti kisah tadi, Tuhan Yesus bekerja sama dengan anak itu. Yang luar biasa, anak itu memberikan 5 roti dan 2 ekor ikan yang merupakan jumlah yang relatif sangat kecil untuk memberi makan 5000 orang laki-laki, belum termasuk yang wanita dan anak-anak. Itu jumlah yang kecil, tetapi ketika diserahkan kepada Tuhan Yesus karena Dia minta, ini berubah menjadi banyak! Demikian juga dengan Saudara dan saya, Tuhan meminta kita setiap tahun untuk memberikan Buah Sulung. Saya mau bertanya, meskipun Buah Sulung itu adalah penghasilan selama bulan Januari, kalau dihitung selama 1 tahun apakah termasuk kecil? YA! Sebab itu hanya penghasilan selama 1 bulan, sedangkan 1 tahun itu ada 12 bulan. Mungkin ada yang berkata, “Iya, tetapi 1/12 buat saya itu besar…penghasilan saya kan 100, 100, 100, 100…”. Itu kan katanya kita. Kalau Tuhan menyuruh kita untuk memberikan 100, yaitu semua penghasilan di bulan Januari, maka di bulan Februari, Maret – Desember itu bisa berubah menjadi 1.000!
Khotbah Pdt. DR. Ir. Niko Njotorahardjo, JCC – 4 Maret 2018
Bersambung minggu depan…

LIHATLAH, TUHAN MEMBUAT SESUATU YANG BARU

LIHATLAH, TUHAN MEMBUAT SESUATU YANG BARU

4 Maret 2018

2 Korintus 5 : 17

Kita sudah memasuki Pentakosta 3 yaitu masa penuaian jiwa terbesar dan terakhir di zaman ini. Dari sejak bulan September 2017 kita memasuki tahun Ayin Chet – 5778 artinya angka 5 adalah Anugrah, angka 7 artinya Sempurna, 70 artinya Mata Tuhan tertuju kepada kita, dan 8 Permulaan yang baru

Tuntunan dan Pesan Tuhan :
Mazmur 32 : 18, “Aku hendak mengajar dan menunjukkan kepadamu jalan yang harus kautempuh; Aku hendak memberi nasihat, mata-Ku tertuju kepadamu.”
Mazmur 32 : 8, “Aku hendak mengajar dan menunjukkan kepadamu jalan yang harus kautempuh; Aku hendak memberi nasihat, mata-Ku tertuju kepadamu.”

Angka 8 (Chet) – Permulaan yang baru. Hal ini berbicara tentang Tuhan Yesus.
Yohanes: 1 : 1, “Pada mulanya adalah Firman; Firman itu bersama-sama dengan Allah dan Firman itu adalah Allah.”
Yohanes 1 : 3, “Segala sesuatu dijadikan oleh Dia dan tanpa Dia tidak ada suatu pun yang telah jadi dari segala yang telah dijadikan.”
Yohanes 1 : 14, “Firman itu telah menjadi manusia, dan diam di antara kita, dan kita telah melihat kemuliaan-Nya, yaitu kemuliaan yang diberikan kepada-Nya sebagai Anak Tunggal Bapa, penuh kasih karunia dan kebenaran.”

Tuhan Yesus adalah Allah, yaitu Allah yang menjelma menjadi manusia. Inilah bukti kasih Tuhan. Kita masuk Sorga karena kasih dan pengorbanan Tuhan Yesus Kristus.

Gereja saat ini seperti zaman nabi Elia yang sembunyi di goa. Namun Tuhan tetap memeliharanya dan memberikan makanan kepada Elia. Dulu Elia lari dari dikejar Izebel dan bersembunyi. Tetapi Tuhan menyuruh Elia untuk keluar. Demikian juga Gereja harus bangkit. Yesaya 61 : 1, “Roh Tuhan ALLAH ada padaku , oleh karena TUHAN telah mengurapi aku; Ia telah mengutus aku untuk menyampaikan kabar baik kepada orang-orang sengsara, dan merawat orang-orang yang remuk hati, untuk memberitakan pembebasan kepada orang-orang tawanan, dan kepada orang-orang yang terkurung kelepasan dari penjara,”
Pada hari-hari terakhir Tuhan akan mencurahkan Roh KudusNya dengan bobot yang lebih besar pada semua orang: orang-orang tua, orang-orang muda, perempuan, laki-laki.

Pelayanan Tuhan Yesus selama ada di dunia penuh dengan mujizat. Mujizat 5 roti dan 2 ikan. Mujizat itu terjadi ketika seorang anak kecil memberikan ikan dan roti kepada Tuhan Yesus. Tuhan Yesus lalu mengangat tangannya dan semua orang mendapatkan makanan bahkan sisanya 12 bakul. Itulah Mujizat yang tidak lazim. Gereja kita di uji ketaatannya untuk menerima mujizat yang tidak lazim ini. Dengan prinsip yang sama akan membangun gedung gereja yang menjadi fasilitas untuk orang banyak bisa makan makanan rohani dan menjadi ke-nyang. Jemaat seperti murid-murid mungkin ada yang berkata dari mana uang sebanyak itu?. Tetapi Tuhan Yesus minta kerjasama kita, sehingga mujizat yang tidak lazim itu terjadi dengan memberikan apa yang ada pada kita seperti seorang anak kecil yang memberikan 5 roti dan 2 ikan sehingga semua bisa makan dan menjadi kenyang. Mujizat terjadi saat ada yang taat melakukan kehendak Tuhan. Sekalipun sederhana dan jumlah yang sedikit tetapi itu sudah cukup menggerakkan hati dan kuasa Tuhan untuk melakukan segalanya.

Matius 18 : 3, “Lalu berkata: “Aku berkata kepadamu, sesungguhnya jika kamu tidak bertobat dan menjadi seperti anak kecil ini, kamu tidak akan masuk ke dalam Kerajaan Allah.”

Pengajaran yang diberikan Tuhan Yesus supaya hidup kita berkenan :
1. Menjadi seperti anak kecil
Ciri-ciri anak kecil :
a. Mudah menangis
b. Tidak menyimpan kesalahan orang lain
c. Polos, Tidak suka berbohong
d. Selalu ingin dekat orang tuanya dan tidak berjalan sendiri.
e. Selalu mau dituntun orang tuanya
f. Percaya kepada orang tuanya

2. Mengucap Syukur. Yesus memecah-mecahkan roti dan mengucap syukur. Mazmur 42 : 12 “Mengapa engkau tertekan, hai jiwaku, dan mengapa engkau gelisah di dalam diriku? Berharaplah kepada Allah! Sebab aku bersyukur lagi kepada-Nya, penolongku dan Allahku!
Saudara, percayalah Tuhan Yesus itu baik dan selalu baik dalam hidup kita.

3. Bertindak. Yesus mengajarkan murid-murid-Nya untuk bertindak membagikan roti. Melangkah dengan iman, tidak takut namun percaya.

4. Sabar menunggu waktu Tuhan.
Orang banyak tersebut sabar menunggu gilirannya. Kita juga harus sabar menunggu waktunya Tuhan (kairos). Kalau kita mendahului Tuhan dan mengandalkan kekuatan sendiri dengan bertindak sendiri maka Tuhan tidak bisa melakukan mujizat yang luar biasa.

Angka 8 dalam bahasa Ibrani dari kata Chet berbicara tentang PINTU. PINTU itu adalah Tuhan Yesus, maka andalkan Dia. Ketika kita masuk melalui pintu maka kita akan selamat. Kunci Daud yang pegang adalah Tuhan Yesus, apa yang sudah dibuka tidak ada yang bisa menutup.

Wahyu 3 : 20, “Lihat, Aku berdiri di muka pintu dan mengetok; jikalau ada orang yang mendengar suara-Ku dan membukakan pintu, Aku akan masuk mendapatkannya dan Aku makan bersama-sama dengan dia, dan ia bersama-sama dengan Aku.”

Lukas 13 : 22 – 23, “Lihat, Aku berdiri di muka pintu dan mengetok; jikalau ada orang yang mendengar suara-Ku dan membukakan pintu, Aku akan masuk mendapatkannya dan Aku makan bersama-sama dengan dia, dan ia bersama-sama dengan Aku. Dan ada seorang yang berkata kepada-Nya: “Tuhan, sedikit sajakah orang yang diselamatkan?”

Matius 7 : 13 – 14 berbicara tentang memasuki pintu dengan cara :
1. Pertobatan
2. Menyangkal diri
3. Taat – Menuruti perintah-Nya
4. Mencari Kerajaan Allah
5. Setia sampai akhir

Tuhan melakukan sesuatu yang baru di tengah-tengah kita dengan mencurahkan pengurapan anggur yang baru. Namun anggur yang baru tidak bisa di masukan kantong anggur yang lama. Kantong anggur lama adalah cara hidup kebiasaan yang lama, atau kebiasaan adat istiadat keagamawian yang mengikuti tradisi manusia. Tuhan mau memberikan hati yang baru sebagai kantong anggur yang baru. Lukas 5:37-38, “Demikian juga tidak seorangpun mengisikan anggur yang baru ke dalam kantong kulit yang tua, karena jika demikian, anggur yang baru itu akan mengoyakkan kantong itu dan anggur itu akan terbuang dan kantong itupun hancur. Tetapi anggur yang baru harus di simpan dalam kantong yang baru pula”

Menjelang akhir jaman akan ada pemisahan dan pemurnian. Yang tidak mau diperbaharui akan mengalami stagnasi, sekalipun Kristen masih beribadah namun hadirat Tuhan sudah tidak disitu. Yang merendahkan diri terus belajar akan terus diperbaharui, terus bertumbuh dan berbuah banyak namun yang merasa sudah tahu dan tidak mau belajar akan tertinggal dalam kekerasan hatinya. Hanya tinggal tunggu waktu akan menjadi murtad kembali ke dunia. Tentukan pilihanmu, arahkan mata dan hati kepada Tuhan.

Wahyu 7 : 9 – 10, “Kemudian dari pada itu aku melihat : sesungguhnya, suatu kumpulan besar orang banyak yang tidak dapat terhitung banyaknya, dari segala bangsa dan suku dan kaum dan bahasa, berdiri di hadapan takhta dan di hadapan Anak Domba, memakai jubah putih dan memegang daun-daun palem di ta-ngan mereka. Dan dengan suara nyaring mereka berseru : “Keselamatan bagi Allah kami yang duduk di atas takhta dan bagi Anak Domba!

KEMBALI PADA KASIH YANG SEMULA

KEMBALI PADA KASIH YANG SEMULA

25 Februari 2018

“Namun demikian Aku mencela engkau, karena engkau telah meninggalkan kasihmu yang semula. Sebab itu ingatlah betapa dalamnya engkau telah jatuh! Bertobatlah dan lakukanlah lagi apa yang semula engkau lakukan. Jika tidak demikian, Aku akan datang kepadamu dan Aku akan mengambil kaki dianmu dari tempatnya, jikalau engkau tidak bertobat.” Wahyu 2:4-5,

Bulan ini kita sudah belajar bahwa Tuhan mencela jemaat di Efesus karena mereka sudah kehilangan kasih yang semula dan jika mereka tidak bertobat maka kaki dian akan diambil dari tempatnya. Ada 2 hal yang harus diwaspadai: 1) dari dunia 2) didalam kekristenan.
1)Dunia akan menawarkan banyak hal yang membuat kita meninggalkan Tuhan, seperti kesibukan atau gaya hidup kita sepertinya Kristen tetapi sebenarnya Tuhan sudah tidak di tempat yang utama dalam hidup kita lagi, dan yang menjadi utama dalam hati kita mungkin hal-hal yang kita suka, pekerjaan atau uang. Seharusnya kesukaan orang percaya adalah merenungkan firman Tuhan siang dan malam dan memikirkan perkara-perkara di atas di mana Tuhan Yesus ada.
“Jagalah hatimu dengan segala kewaspadaan, karena dari situlah terpancar kehidupan.” Amsal 4:23. Kerja keras saja kalau hati kita sarat dengan dosa dan kejahatan maka harta/uang menjadi tidak baik tetapi berkat Tuhanlah yang mendatangkan kelimpahan dan kebahagiaan kalau kita bekerja disertai dengan berkat dan perkenanan Tuhan itu luar biasa.
Meski dunia menawarkan banyak hal tetapi kita mempunyai kuasa untuk me-milih yang terbaik dari Tuhan. Seperti Maria juga mempunyai pilihan dan ia memilih agar kehendak Tuhanlah yang jadi atas dirinya. Kasih itu bukan perasaan tetapi pilihan dan Tuhan mau kita memilih dengan benar; pilihan kita itu ternyata menentukan masa depan dan keberhasilan kita.
Kalau kita memilih mengasihi Tuhan maka janji Tuhan dalam 1 Korintus 2:9, “Tetapi seperti ada tertulis: “Apa yang tidak pernah dilihat oleh mata, dan yang tidak pernah didengar oleh telinga, dan yang tidak pernah timbul di dalam hati manusia: semua yang disediakan Allah untuk mereka yang mengasihi Dia.”
Ini adalah yang Tuhan sediakan untuk orang-orang yang mengasihi Tuhan, jadi tugas kita sebagai orang percaya adalah terus menerungkan firman Tuhan dan bertindak hati-hati sesuai dengan firman Tuhan maka Tuhan menyediakan berkat bagi kita.

Dalam kisah Maria dan Marta, di mana Marta menyibukkan dirinya dan Maria memilih untuk duduk diam di kaki Yesus, dan Tuhan berkata kepada Marta: “Mengapa engkau menyusahkan diri dengan banyak perkara, tetapi Maria telah memilih bagian yang terbaik.”
Saudara memilih untuk datang ibadah dan mendengar firman Tuhan dengan sungguh-sungguh, itu adalah pilihan. Setiap hari kita harus memilih. Bagaimana agar pilihan kita tidak membawa kita kepada kebinasaan tetapi pilihan kita membawa kepada kehidupan yang kekal? Caranya ada di dalam firman Tuhan yang akan menolong kita untuk memilih. Tuhan sudah berikan pilihan hidup atau mati, berkat atau kutuk, dan pilihlah kehidupan, pilihlah berkat!
Tuhan berikan kita hati, dengan hati kita pakai untuk membaca firman maka hati kita bisa dituntun oleh firman Tuhan. Karena itu jagalah hatimu dengan segala kewaspadaan karena dari situlah terpancarlah kehidupan.
Hati manusia itu penuh dengan dosa dan ketakutan serta keraguan tetapi firman Tuhan itu yang akan memulihkan hati manusia tersebut sehingga yang buruk dan jahat itu dikupas sehingga memiliki suatu hati yang kuat dan hati kita yang terhubung dengan Tuhan yang akan menuntun jalan hidup kita.

Orang yang hatinya selalu memikirkan perkara-perkara di atas maka ia tidak akan terpengaruh dengan dunia dan tetap jalan di jalurnya Tuhan, karena yang mengontrol hidupnya adalah Bapanya yang di sorga. Sehingga pada saat sangkakala berbunyi maka hanya orang yang hatinya terikat dan terpaut pada Tuhan yang akan terangkat ke sorga, karena itu jangan tinggalkan kasihmu yang semula.
Kalau kita meninggalkan kasih yang semula maka kita akan tersesat, karena tidak tahu mau mengambil keputusan yang mana ibarat seperti benang kusut. Kalau kita mengikatkan diri dengan Tuhan senantiasa kaki dian yang ada dalam hidup kita menyala, kita adalah terang dunia sehingga orang-orang yang hidup dalam kegelapan itu akan mencari terang yang akan membantu menuntun hidup mereka. Matius 5:13-16, “Kamu adalah garam dunia. Jika garam itu menjadi tawar, dengan apakah ia diasinkan? Tidak ada lagi gunanya selain dibuang dan diinjak orang. Kamu adalah terang dunia. Kota yang terletak di atas gunung tidak mungkin tersembunyi. Lagipula orang tidak menyalakan pelita lalu meletakkannya di bawah gantang, melainkan di atas kaki dian sehingga menerangi semua orang di dalam rumah itu. Demikianlah hendaknya terangmu bercahaya di depan orang, supaya mereka melihat perbuatanmu yang baik dan memuliakan Bapamu yang di sorga.”

Kamulah terang dunia, dan kasih Tuhan itu seperti minyak yang membuat pelita itu menyala. Dikatakan dalam 1 Korintus 13, sekalipun kamu berkata-kata dengan bahasa malaikat dan memiliki iman yang sempurna untuk memindahkan gunung tetapi kalau tidak memiliki kasih maka semuanya itu tidak berguna, karena kasih itu adalah minyak yang ada di dalam kaki dian yang membuatnya menyala. Dengan kasih itu kita bisa mengasihi Tuhan dan orang lain.
Dalam Galatia 6 dikatakan untuk jangan jemu-jemu berbuat baik karena apabila sudah datang waktunya maka kita akan menuai jika kita tidak menjadi lemah. Tetapi mengasihipun harus berjalan dalam konteks kebenaran, dan kalau hati dan jalan kita benar maka seperti yang dikatakan dalam firman Tuhan, apa yang tidak pernah dilihat oleh mata, tidak pernah didengar oleh telinga itu yang disediakan Tuhan bagi orang yang mengasihi Dia.

2) Didalam wadah kekristenan ada yang ber kedok pengajaran Firman yang juga harus diwaspadai seperti yang tertulis dalam Wahyu 2:14-15, dua nama yang disebut sebagai orang yang mengajarkan kesesatan yaitu Bileam dan Nikolaus yang dikenal dengan ajaran memakan persembahan berhala dan perbuatan zinah (percabulan). Jadi yang dimaksud dengan orang-orang jahat adalah mereka yang mengaku dirinya rasul, pengajar atau hamba Tuhan tetapi ternyata berdusta dan membawa pengajaran sesat atau pengajaran palsu ke dalam kumpulan jemaat. Beberapa sikap jemaat di Efesus terhadap pengajaran palsu/sesat yang Tuhan puji adalah:
1. Jemaat Efesus Tidak Dapat Sabar Terhadap Orang-orang Jahat
Tuhan Yesus memuji sikap jemaat Efesus yang tidak dapat sabar terhadap orang-orang jahat yang membawa pengajaran palsu yang menyesatkan. Ini sama dengan peringatan yang diberikan oleh Paulus kepada jemaat di Korintus dalam 2 Korintus 11:4 “Sebab kamu sabar saja, jika ada seorang datang memberitakan Yesus yang lain dari pada yang telah kami beritakan, atau memberikan kepada kamu roh yang lain dari pada yang telah kamu terima atau Injil yang lain dari pada yang telah kamu terima.”
Jemaat Efesus berhasil membuktikan kepalsuan dari ajaran-ajaran yang dibawa oleh rasul-rasul palsu dan menjaga kemurnian doktrin mereka. Gereja harus mengajar jemaatnya tentang doktrin yang benar dan Alkitabiah untuk membuat jemaat mengerti kebenaran Firman Tuhan dan teguh berpegang kepada kebenaran itu sehingga iman mereka tidak mudah digoyahkan.

2. Jemaat Efesus Telah Mencobai Mereka Yang Menyebut Dirinya Rasul
Seorang rasul dianggap sebagai pemimpin jemaat yang dipilih oleh Tuhan dan sa-ngat dihormati oleh jemaat. Rasul biasanya membawa pemberitaan Injil atau pengajaran kebenaran Firman Tuhan yang disertai dengan kuasa dan mujizat. Kata mencobai berasal dari bahasa Yunani πειράζω (peirazō) yang mengandung pengertian menguji seseorang untuk memastikan kualitas, jalan pikiran dan sikapnya. Juga menguji integritas, kebaikan, karakter dan keteguhan iman seseorang terhadap godaan dosa.
1 Yohanes 4:1 “Saudara-saudaraku yang kekasih, janganlah percaya akan setiap roh, tetapi ujilah roh-roh itu, apakah mereka berasal dari Allah; sebab banyak nabi-nabi palsu yang telah muncul dan pergi ke seluruh dunia.” Ketika mereka telah mengetahui kebenarannya, bahwa orang-orang yang menyebut dirinya rasul ternyata adalah seorang pendusta maka mereka akan berkonfrontasi dengan orang tersebut dan menolak kehadiran dan pengajaran orang tersebut agar jemaat terhindar dari kesesatan.

3. Jemaat Efesus Tetap Sabar Dan Rela Menderita karena Nama Tuhan Dan Tidak Mengenal Lelah
Jemaat Efesus melayani Tuhan dengan sungguh-sungguh dan berani menderita karena nama Tuhan dan karena pelayanan itu sendiri. Banyak tantangan dan serangan dari si jahat yang harus dihadapi yang mungkin melelahkan baik secara fisik maupun secara batin, tetapi tidak demikian dengan jemaat Efesus.
Ketekunan ini juga ditunjukkan terhadap serangan-serangan rasul-rasul palsu yang membawa penyesatan. Mereka tidak pernah menyerah dan berani menderita untuk tetap menegakkan kebenaran Firman Tuhan dalam kehidupan jemaat. Hal ini menjadi salah satu hal yang dipuji oleh Tuhan Yesus.

4. Jemaat Efesus Membenci Segala Perbuatan Pengikut Nikolaus yang Juga Dibenci oleh Tuhan
Pengikut Nikolaus seringkali disebutkan memiliki pemahaman bahwa percabulan tidak akan mempengaruhi keselamatan seseorang, padahal 1 Korintus 6:9-10 mencatat “Atau tidak tahukah kamu, bahwa orang-orang yang tidak adil tidak akan mendapat bagian dalam Kerajaan Allah? Janganlah sesat! Orang cabul, penyembah berhala, orang berzinah, banci, orang pemburit, pencuri, orang kikir, pemabuk, pemfitnah dan penipu tidak akan mendapat bagian dalam Kerajaan Allah.”
Jelas sekali rasul Paulus mengingatkan jemaat di Korintus bahwa orang cabul tidak akan mendapat bagian dalam Kerajaan Allah; artinya orang yang hidup dalam percabulan terus menerus dan tidak pernah bertobat dengan sungguh-sungguh akan kehilangan keselamatannya.
Jelas bahwa kita harus bersikap tegas untuk mengajarkan dan terus hidup dalam pengajaran Firman Tuhan yang benar dan juga tegas menolak pengajaran yang terbukti menyesatkan dan membahayakan keselamatan kita dengan terus menerus tanpa mengenal lelah sebagai pola hidup dalam mengerjakan keselamatan kita.

Kita harus melakukan apa yang disukai oleh Tuhan dan membenci apa yang dibenci oleh Tuhan ketika hal itu berhubungan langsung dengan keselamatan kita. Demikianlah juga ketegasan sikap kita terhadap pengajaran palsu yang membawa kepada kebinasaan harus dilakukan untuk menjaga kawanan domba Allah dari serangan serigala-serigala. Amin.
Wahyu 22:11, “Barangsiapa berbuat jahat, biarlah ia terus berbuat jahat; barangsiapa yang cemar, biarlah ia terus cemar; dan barangsiapa yang benar, biarlah ia terus berbuat kebenaran; barangsiapa yang kudus, biarlah ia terus menguduskan dirinya!”

Di akhir zmaan ini dunia akan semakin jahat dan cemar tetapi orang benar jangan takut, hati manusia yang tidak mengenal Tuhan itu dipenuhi dengan ketakutan, tetapi orang benar itu tidak dipengaruhi oleh ketakutan. Hati kita tetap dijaga dalam kebenaran maka kita akan dituntun di dalam kebenaran.
Setiap pagi bangun sediakan waktu berdiam diri di hadapan Tuhan, mengikuti teladan Tuhan Yesus, supaya hati kita lurus dan hari yang kita jalani itu benar, karena hati kita jernih diterangi terang Tuhan yang ajaib, karena itu carilah dahulu kerajaan Allah dan kebenarannya maka semuanya itu akan ditambahkan kepadamu. Amin.

PERKATAAN YANG MEMBAWA KEHIDUPAN DAN KEBERHASILAN

PERKATAAN YANG MEMBAWA KEHIDUPAN DAN KEBERHASILAN

18 Februari 2018

“Ingatlah juga bahwa dari kecil engkau sudah mengenal Kitab Suci yang dapat memberi hikmat kepadamu dan menuntun engkau kepada keselamatan oleh iman kepada Kristus Yesus. Segala tulisan yang diilhamkan Allah memang bermanfaat untuk mengajar, untuk menyatakan kesalahan, untuk memperbaiki kelakuan dan untuk mendidik orang dalam kebenaran. Dengan demikian tiap-tiap manusia kepunyaan Allah diperlengkapi untuk setiap perbuatan baik.”
(2 Timotius 3:15-17).

Dari 7 (tujuh) jemaat dalam Wahyu 2-3, ada 2 (dua) jemaat yang Tuhan Yesus puji tanpa celaan sedikit pun, yaitu jemaat Smirna dan Filadelfia. Kepada jemaat Filadelfia, Tuhan Yesus memuji mereka sebab: “Karena engkau menuruti firman-Ku, untuk tekun menantikan Aku, maka Aku pun akan melindungi engkau dari hari pencobaan yang akan datang atas seluruh dunia untuk mencobai mereka yang diam di bumi.” (Wahyu 3:10). Janji bahwa Allah akan meluputkan dari hari pencobaan itu berlaku kepada semua orang percaya yang juga melakukan apa yang jemaat Filadelfia lakukan. Sungguh upah yang luar biasa dari Tuhan kepada mereka menuruti firman Tuhan.

Kita percaya bahwa kekudusan adalah gaya hidup orang Kristen dan TUHAN terus-menerus menguduskan hidup kita dengan pengajaran dan petunjuk melalui Kebenaran Firman-Nya yang tertulis (Alkitab) dan juga tuntunan Roh Kudus. Membaca, merenungkan dan melakukan Firman TUHAN, bersama juga dengan doa-pujian-penyembahan yang semakin intim dengan TUHAN, adalah hal yang sangat penting. Untuk dapat melakukan firman TUHAN maka langkah pertamanya adalah membaca firman, yaitu sebagaimana tertulis dalam Alkitab. Dengan membaca alkitab kita akan mengubah cara pandang (paradigm) tidak seperti dunia melainkan seperti yang Tuhan inginkan (Roma 12:2). Berdasarkan 2 Timotius 3:15-17 maka setidaknya ada 8 (delapan) alasan me-ngapa kita perlu rajin membaca Alkitab.
1. Firman TUHAN (Alkitab) Membuat Kita Menjadi Orang Yang Berhikmat
Alkitab memberikan suatu jaminan bahwa mereka yang senang membaca firman dan melakukannya, merekalah yang akan mendapatkan hikmat. Timotius, anak didik Paulus, menjadi orang yang penuh hikmat oleh karena semenjak kecil dia sudah tenggelam di dalam kebenaran firman.

2. Firman TUHAN (Alkitab) Menuntun Kita Kepada Keselamatan Di Dalam Kristus Yesus
Seorang teolog bernama Dr. Karl Barth pernah ditanya: dari semua pernyataan teologia yang ada saat ini, manakah yang paling penting? Dr. Barth menjawab dengan mengutip sebuah syair dari lagu sekolah minggu: “Yes, Jesus loves me, this I Know for the Bible tells me so.”
Keselamatan berasal dari Kristus dan kita mengetahui Kristus melalui firman-Nya. Kristus dan firman-Nya adalah satu kesatuan sehingga ketika kita mempelajari firman, kita semakin mengenali diri-Nya, kuasa-Nya, kasih-Nya dan keselamatan yang dari pada-Nya.
3. Firman TUHAN (Alkitab) Adalah Isi Hati TUHAN Yang Menjadi Ilham Bagi Para Penulisnya
Dalam buku best-seller “The Case for Christ” karangan Lee Strobel, di dalam penyelidikannya mengenai Kristus, ia menemukan Alkitab adalah buku yang sangat jujur. Alkitab menuliskan isi hati Tuhan apa adanya. Terdapat suatu kejujuran yang luar biasa tentang bagaimana Tuhan mencurahkan isi hati dan pikiran-Nya kepada manusia. Inilah yang menjadi salah satu kekuatan dan ilham dari para penulis Alkitab dalam menuliskan kata-kata, selain tentunya iluminasi (Pencerahan) dari Roh Kudus.

4. Firman TUHAN (Alkitab) Adalah Makanan Rohani Yang Kita Butuhkan Untuk Bertumbuh Dewasa Secara Rohani
Jika tubuh kita membutuhkan makanan yang bersifat fisik, maka jiwa dan roh kita membutuhkan makanan non-fisik untuk dapat
bertumbuh. Firman Tuhan adalah makanan rohani yang kita butuhkan agar kita bertumbuh dewasa, dikuduskan terus-menerus dan menuju kesempurnaan untuk menjadi serupa dengan gambaran Kristus. Tidak ada makanan rohani lain yang lebih baik dari pada firman Tuhan.
5. Firman TUHAN (Alkitab) Menyatakan Dosa-dosa Kita, Sehingga Kita Sadar Dan Memohon Pengampunan Kepada Allah
Masih di dalam rangka pengudusan hidup, Alkitab dengan gamblang memberitahu kita mana; yang merupakan tindakan atau pikiran dosa dan mana yang tidak. Tujuan pengungkapan hal-hal yang tidak di-senangi oleh Allah bukanlah untuk membuat hidup kita menderita, mengalami guilty feeling selamanya, tetapi justru mendorong kita untuk memohon pengampunan dan pemulihan dari Allah Bapa. Jikalau Alkitab tidak memberitahu apa saja yang disebut sebagai dosa, maka kita akan terus hidup di luar kehendak Allah dan tanpa kita sadari itu sangat membahayakan diri kita!

6. Firman TUHAN (Alkitab) Juga Berisi Petunjuk-petunjuk Bertingkah Laku Sehari-hari Sebagai Anak-anak TUHAN
Pandangan yang berkata bahwa Alkitab adalah sulit dipahami dan hanyalah tugas para Pendeta atau teolog untuk mempelajarinya adalah non-sense! Firman Tuhan justru berisi petunjuk-petunjuk bagaimana seharusnya pengikut Kristus bertingkah laku dalam keseharian mereka. Bukan hanya petunjuk dan perintah yang Allah berikan, tetapi juga contoh-contoh dari hidup orang-orang yang tercatat dalam Alkitab menjadi pembelajaran yang luar biasa bagi kita; mana gaya hidup yang Tuhan sukai dan mana yang tidak.
7. Firman TUHAN (Alkitab) Membuat Kita Semakin Lama Semakin Menjadi Seperti Kristus
Nilai yang terindah dari membaca dan melakukan firman Tuhan adalah bahwa kita semakin lama semakin diubahkan agar menjadi seperti Kristus. Kita memiliki tujuan dan arah hidup yang jelas yaitu menuju kesempurnaan seperti Kristus; menjadi serupa dengan gambaran-Nya. Panutan utama dalam hidup kita adalah Kristus, karena itu sudah selayaknya kita mempelajari Dia melalui firman-Nya.
8. Firman TUHAN (Alkitab) Menjadi Standar Kebaikan Bagi Orang Percaya
Manusia tidak dapat menentukan mana yang baik dan buruk dengan standarnya sendiri. Manusia akan selalu melihat segala sesuatunya dengan kacamata “relatif” atau tidak ada ketegasan. Namun Alkitab sangat jelas di dalam menentukan garis pembatas antara benar dan salah, antara baik dan buruk. Kehidupan kekristenan bukanlah berdasarkan kebaikan namun berdasarkan kebenaran. Apa yang baik belum tentu benar menurut firman Tuhan, tetapi apa yang benar menurut firman Tuhan pasti mendatangkan kebaikan.

Gereja ini selalu mendorong jemaat agar membaca Alkitab setiap hari. Seperti yang dilakukan oleh GBI di Jakarta yaitu program HEBAT (Hari Energetik Baca Alkitab Teratur) tersedia untuk membantu jemaat agar suka membaca Alkitab dan melakukannya secara rutin. Ada banyak group chat (WA) yang dibentuk namun program HEBAT ini memberi info pasal yang dibaca dilengkapi gambar dan tulisan. Ini bukanlah devosi atau pengajaran, namun pengungkapan mengapa pasal tersebut unik dan menarik untuk dibaca. Pasal yang dibaca bersifat random (tidak urut) namun disusun agar terjadi perimbangan pemahaman Perjanjian Lama-Perjanjian Baru. Tujuan utamanya adalah jemaat menjadi senang membaca dan melakukan Firman Tuhan.
Jika Saudara tertarik untuk mengikuti program HEBAT, dapat hu-bungi gereja masing-masing atau PIC HEBAT atau para Pengurus COOL / Gembala di gereja masing-masing. Daftarkan nomor handphone Saudara yang telah dilengkapi fitur WhatsApp dan dapatkan info-pic HEBAT setiap hari. Saudara pasti diberkati!

Peneguhan
Rajin membaca, merenungkan dan melakukan Firman TUHAN adalah kunci dari kesuksesan hidup dan pelayanan Timotius di Efesus. Pelayanan Timotius bertumbuh, hidupnya dipenuhi sukacita, berkat dan keberhasilan dari TUHAN. Mari kita baca, renungkan dan lakukan firman Tuhan setiap hari sehingga apa yang Timotius peroleh, upah yang jemaat Filadelfia peroleh, itu juga yang akan kita dapatkan. Amin

BERTEKUN  DI  DALAM  KASIH  ADALAH   BERTEKUN  DI  DALAM  MEMBERI

BERTEKUN DI DALAM KASIH ADALAH BERTEKUN DI DALAM MEMBERI

11 Februari 2018

“Inilah kasih itu : Bukan kita yang telah mengasihi Allah, tetapi Allah yang telah mengasihi kita dan yang telah mengutus Anak-Nya sebagai pendamaian bagi dosa-dosa kita. (1Yohanes 4:10)

Kasihilah Tuhan, Allahmu , dengan segenap hatimu dan dengan segenap jiwamu dan dengan segenap akal budimu dan dengan segenap kekuatanmu. Dan hukum yang kedua ialah: Kasihilah sesamamu manusia seperti dirimu sendiri.
Tidak ada hukum lain yang lebih utama dari pada kedua hukum ini. (Markus 12:30-31)

Tuhan mengingatkan kita semua melalui pesan bulan ini agar jangan melupakan segala kebaikan yang telah dan terus Dia lakukan dalam kehidupan kita. Bagi kita yang tanpa sadar sudah meninggalkan kasih yang semula baiklah kembali kepada kasih yang semula itu; bagi kita yang masih ada di dalam kasih semula, peliharalah itu senantiasa. Kasih yang semula adalah hal yang sangat penting di mata Tuhan, sebab jika segala sesuatu kita lakukan tanpa kasih, maka semua yang kita lakukan ternyata adalah sia-sia belaka. Lakukanlah segala sesuatu seperti untuk Tuhan.
Sekalipun aku dapat berkata-kata dengan semua bahasa manusia dan bahasa malaikat, tetapi jika aku tidak mempunyai kasih aku sama dengan gong yang berkumandang dan canang yang gemerincing. Sekalipun aku mempunyai karunia untuk bernubuat dan aku mengetahui segala rahasia dan memiliki seluruh pengetahuan; dan sekalipun aku memiliki iman yang sempurna untuk memindahkan gunung, tetapi jika aku tidak mempunyai kasih, aku sama sekali tidak berguna. Dan sekalipun aku membagi-bagikan segala sesuatu yang ada padaku, bahkan menyerahkan tubuhku untuk dibakar, tetapi jika aku tidak mempunyai kasih, sedikitpun tidak ada faedahnya bagiku (1 Korintus 13:1-3).

Jemaat di Efesus mendapat teguran keras dari Tuhan Yesus karena mereka meninggalkan kasih yang semula. Kondisi itu di mata Tuhan adalah suatu kejatuhan yang dalam (Wahyu 2:1-5). Orang yang sudah meninggalkan kasih semula baik secara sadar atau tidak sudah hidup di dalam kegelapan karena kaki dia diambil dari padanya. Orang yang hidup di dalam kegelapan tidak mungkin dapat mengambil persekutuan dengan Tuhan, yang adalah Terang.
“Allah adalah terang dan di dalam Dia sama sekali tidak ada kegelapan”. (1 Yohanes 1:5).

Ada empat prinsip sederhana yang kita harus perhatikan dalam diri kita masing-masing tentang prinsip untuk dapat memelihara serta bertekun dalam kasih :

1. Membangun hubungan yang benar dengan Tuhan terlebih dahulu sebagai sumber kasih itu sendiri, Allah adalah Kasih. Jadi, membangun hubungan dan mendisiplinkan diri setiap hari untuk memuji, menyembah, berdoa dan baca firman itu bukanlah sesuatu yang buang waktu, sekedar kebiasaan atau rutinitas tapi tanpa pengertian yang benar. Justru itu adalah cara kita dipenuhi oleh kasih Tuhan setiap hari melalui firman dan Roh KudusNya.
2. Berpegang pada kekudusan. Kalau kita sudah membuka hati menerima kasihNya Tuhan, baru dengan kasih itu kita dapat mengasihiNya kembali dan pasti kita akan memiliki sikap hormat dan takut akan Dia, lalu kita akan dengan rela hati menjauhkan diri dari rupa-rupa kecemaran dan kejahatan.
3. Berkomitmen kepada kebenaran. Ingatlah, bahwa kasih Allah (kasih Agape, unconditional love) akan selalu sejalan dengan kebenaran (harus berada di dalam koridor kebenaran firman) dan bukan dengan perasaan atau mood karena feeling/mood itu bisa naik turun, belum tentu sejalan dengan kebenaran.
4. Siap diproses oleh Tuhan. Salah satu cara Tuhan mengasihi kita adalah dengan teguran dan hajaran (Wahyu 3:19) dengan tujuan untuk meluputkan kita dari hawa nafsu dunia yang membinasakan.
5. Mengembangkan sikap saling mengampuni. Kita disebut pendusta jika kita mengatakan kita masih mengasihi Tuhan tetapi membenci (pahit/tawar hati, kecewa, marah, menghakimi) saudara kita. Dan orang seperti ini tidak sadar kalau dia sudah meninggalkan kasih yang semula. Jikalau seorang berkata: “Aku mengasihi Allah,” dan ia membenci saudaranya, maka ia adalah pendusta, karena barangsiapa tidak mengasihi saudaranya yang dilihatnya, tidak mungkin mengasihi Allah, yang tidak dilihatnya. Dan perintah ini kita terima dari Dia: Barangsiapa mengasihi Allah, ia harus juga mengasihi saudaranya (1 Yohanes 4:20-21).

Jika kita merenungkan ayat di atas : “Inilah kasih itu : Bukan kita yang telah mengasihi Allah, tetapi Allah yang telah mengasihi kita dan yang telah mengutus Anak-Nya sebagai pendamaian bagi dosa-dosa kita (1Yohanes 4:10); maka kebenaran mengatakan bahwa setiap orang percaya yang sudah menerima Yesus sebagai Tuhan dan Juruselamat secara pribadi adalah sebagai pihak yang menerima atau menggunakan kasih dari Allah melalui Tuhan Yesus Kristus. Orang percaya yang sudah lahir baru adalah konsumen yang menerima kasih dari Allah. Sejalan dengan pengiringan kita akan Kristus, Dia akan senantiasa menyempurnakan iman kita untuk dapat menjadi pribadi yang bertumbuh menuju kedewasaan rohani dan akhirnya disebut sebagai mempelai Kristus. Dari pihak yang menerima kasih itu, Tuhan akan membuat kita menjadi pihak yang menghasilkan buah-buah Roh (bekerja sama dengan Roh Kudus) dan buah itu tetap sehingga dapat melakukan tindakan kasih yang buahnya dinikmati oleh orang lain (Baca Yohanes 15:16-17).
Dari konsumen menjadi produsen, dari yang menerima menjadi yang memberi, dari yang menggunakan menjadi yang menghasilkan. Seseorang tidak akan bisa memberikan apa yang dia tidak punya. Itu sangat wajar dan masuk akal. Demikian juga dengan prinsip kasih di dalam Kristus. Seseorang tidak akan dapat mengasihi Tuhan dan orang lain jika dia tidak terlebih dahulu membuka bejana hatinya untuk menerima kasih dari Allah yang pastinya harus sejalan dengan kebenaran firman Tuhan dan kekudusan.

Kasih Allah (kasih Agape, unconditional love) itu bukanlah kasih yang berasal dari jiwa manusia. Banyak anak Tuhan yang tertipu karena tidak dapat membedakannya.
Berikut adalah ciri-ciri kasih dan belas kasihan yang hanya berasal dari jiwa manusia :

• belum tentu sejalan dengan kebenaran firman, bahkan bisa berkompromi dengan dosa/kedagingan
• berasal dari jiwa (pikiran, perasaan, kehendak) yang hanya bersifat moody, sesuai feeling/perasaan yang bisa naik dan turun bahkan hilang karena hanya dipengaruhi oleh panca indera manusia yang terbatas,
• bersifat menuntut karena bepusat pada diri sendiri (self-centered), menyenangkan/memuaskan kedagingan, yang terbukti dari perasaan kecewa, tawar hati, self-pity, complain/bersungut-sungut, marah, berhenti melayani,berhenti melakukan kebaikan jika perbuatan baik dan usahanya tidak mendapatkan respon yang diharapkan,
• dapat membuat seseorang hidup dalam delusion/kegelapan dalam batin yang menyebabkan berbagai ikatan dan terjerat dalam tipu muslihat iblis serta dapat berujung pada kebinasaan,
• tidak mempunyai kuasa karena tidak berdampak kepada kehidupan diri sendiri dan orang lain.

Sementara, kasih Agape yang sudah kita terima dari Tuhan mempunyai ciri-ciri sebagai berikut :

• adalah kasih karunia Allah yang dihasilkan oleh kekuatan Roh Kudus yang berdiam di dalam hati kita: “Dan pengharapan tidak mengecewakan, karena kasih Allah telah dicurahkan di dalam hati kita oleh Roh Kudus yang telah dikaruniakan kepada kita” (Roma 5:5).
• karena itu dihasilkan oleh kekuatan kuasa Roh Kudus, maka kasih Agape tidak akan pernah gagal dan mengecewakan, jika saja mata hati kita tetap tertuju kepada Kristus.
• pasti sesuai dengan kebenaran firman (meskipun tidak enak untuk keinginan daging dan harus keluar dari comfort zone) karena Roh Kudus adalah Roh Kebenaran,
• tidak ditentukan oleh perasaan/feeling, mood atau keadaan dari luar tetapi ditentukan oleh seberapa besar bejana hati yang kita buka untuk Tuhan memenuhi kita dengan kasihNya melalui keintiman bersama Roh Kudus (lewat doa pujian penyembahan dan baca firman),
• bersifat memberi karena berpusat kepada Kristus (Christ-centered), terbukti dari sikap penyangkalan diri (menyangkal keinginan daging) sebagai tindakan iman yang sesuai dengan kebenaran firman dan kekudusan serta menyenangkan Tuhan.
• walaupun tidak mendapat respon balasan yang baik atau seperti yang diharapkan, Roh Kudus akan memberi kekuatan dan kemampuan untuk bertekun dalam mengasihi (keputusan untuk terus menerus menyangkal diri dan memberi) dan hidup berkemenangan.
• akan membebaskan seseorang dari ikatan yang membelenggu sehingga mendapat kelegaan, menyembuhkan dari segala penyakit (baik secara jiwa dan fisik), membuat mata hati dapat melihat dengan jernih, telinga rohani dapat mendengar lebih tajam, membuat jiwa yang miskin menjadi kaya, berkelimpahan / prosper.
• mempunyai kuasa untuk melakukan kehendak Allah yang berdampak kepada diri sendiri, gereja Tuhan dan bangsa-bangsa.
• Berbagai tindakan iman (sikap penyangkalan diri, sikap hati selalu memberi, produsen) sebagai buah kasih Agape adalah sabar, murah hati, tidak cemburu, tidak memegahkan diri, tidak sombong, tidak melakukan yang tidak sopan, tidak mencari keuntungan diri sendiri, tidak pemarah, tidak menyimpan kesalahan orang lain, tidak bersukacita karena ketidakadilan, tetapi karena kebenaran, menutupi segala sesuatu, percaya segala sesuatu, mengharapkan segala sesuatu, sabar menanggung segala sesuatu (1 Korintus 13: 4-7).

Marilah kita semua dengan jujur memeriksa keadaan diri masing-masing, apakah sesungguhnya kita masih ada di dalam kasih Tuhan atau kita sudah jauh meninggalkan Tuhan. Kegiatan pelayanan atau kesibukan yang sepertinya untuk Tuhan belum tentu menjamin bahwa kita masih berada di dalam kasih Tuhan. Ambillah keputusan setiap hari dengan mendisiplinkan diri terutama setiap pagi sebelum beraktifitas untuk duduk diam di bawah kaki Tuhan, memuji menyembah, berdoa dan baca firman agar bejana hati kita hari itu diisi penuh dengan kasih Tuhan. Kasih yang kita terima dari Tuhan adalah bahan bakar yang sangat powerful dalam melakukan segala sesuatu dan akan memampukan kita bertahan sampai kesudahannya.