ALLAH MENJANJIKAN BERKAT YANG MELIMPAH (WARISAN ROHANI)

Home / Weekly Message / ALLAH MENJANJIKAN BERKAT YANG MELIMPAH (WARISAN ROHANI)
ALLAH MENJANJIKAN BERKAT YANG MELIMPAH (WARISAN ROHANI)

Meskipun saat ini dunia sedang mengalami masa yang sulit dan penuh gejolak, tetapi orang percaya hidup dalam janji berkat dan pemeliharaan Allah. Dia setia memegang janjiNya kepada Abraham serta keturunannya. Kita disebut sebagai keturunan Abraham karena iman kepada Yesus Kristus dan turut mewarisi berkatnya.

“…mereka yang hidup dari iman, mereka itulah anak-anak Abraham.”
“Jadi mereka yang hidup dari iman, merekalah yang diberkati bersama-sama dengan Abraham yang beriman itu.” (Galatia 3:7 dan 9)

Allah memberkati orang tua kita (atau kita sebagai orang tua) bukan hanya dengan berkat materi/fisik saja tetapi juga berkat rohani yang jauh lebih penting nilainya. Warisan berkat materi (harta benda) suatu saat akan habis, tetapi warisan berkat rohani (warisan iman) memberikan jaminan kekal untuk kita mendapatkan pertolongan dan segala sesuatu yang diperlukan.

Meneladani iman Abraham

Kejadian 12 :

(1) Berfirmanlah TUHAN kepada Abram: “Pergilah dari negerimu dan dari sanak saudaramu dan dari rumah bapamu ini ke negeri yang akan Kutunjukkan kepadamu;
(2) Aku akan membuat engkau menjadi bangsa yang besar, dan memberkati engkau serta membuat namamu masyhur; dan engkau akan menjadi berkat.
(3) Aku akan memberkati orang-orang yang memberkati engkau, dan mengutuk orang-orang yang mengutuk engkau, dan olehmu semua kaum di muka bumi akan mendapat berkat.”

Dari ayat 1 dapat kita pelajari bahwa berkat Abraham diawali oleh iman dan ketaatan terhadap firman Allah. “Iman timbul dari pendengaran, dan pendengaran oleh firman Kristus” (Roma 10:17). Mendengar di sini maksudnya menanggapi/meresponi perintah Allah dengan iman yang diikuti dengan perbuatan/ketaatan.

“Camkanlah apa yang kamu dengar! Ukuran yang kamu pakai untuk mengukur akan diukurkan kepadamu, dan di samping itu akan ditambah lagi kepadamu. Karena siapa yang mempunyai, kepadanya akan diberi, tetapi siapa yang tidak mempunyai, apapun juga yang ada padanya akan diambil dari padanya.” (Markus 4:24-25)

Respon iman merupakan ukuran yang akan menentukan bagian/berkat yang kita terima.
Barangsiapa yang mempunyai (artinya meresponi dengan iman), kepadanya akan diberi segala sesuatu yang diperlukan untuk berhasil. Sebaliknya barangsiapa yang tidak mempunyai, apapun juga yang ada padanya akan diambil dari padanya.

Dari Alkitab kita belajar tentang kualitas iman yang dimiliki Abraham :

1. Dapat diandalkan/dipercaya.
Abraham setia memelihara Perjanjian Sunat (Kejadian 17:10-13,23).
“Setelah itu Abraham memanggil Ismael, anaknya, dan semua orang yang lahir di rumahnya, juga semua orang yang dibelinya dengan uang, yakni setiap laki-laki dari isi rumahnya, lalu ia mengerat kulit khatan mereka pada hari itu juga, seperti yang telah difirmankan Allah kepadanya.” (ayat 23)

2. Teruji.
Abraham terbukti taat sewaktu mempersembahkan Ishak kepada Allah (Kejadian 22:2,10-12).
Lalu Ia berfirman: “Jangan bunuh anak itu dan jangan kauapa-apakan dia, sebab telah Kuketahui sekarang, bahwa engkau takut akan Allah, dan engkau tidak segan-segan untuk menyerahkan anakmu yang tunggal kepada-Ku.” (ayat 12)

3. Bertanggung jawab
Abraham memberikan persembahan persepuluhan sebagai pengakuan akan Allah dalam hidupnya (Ibrani 7:1-2a).
“Sebab Melkisedek adalah raja Salem dan imam Allah Yang Mahatinggi; ia pergi menyongsong Abraham ketika Abraham kembali dari mengalahkan raja-raja, dan memberkati dia. Kepadanyapun Abraham memberikan sepersepuluh dari semuanya.”

Abraham hidup oleh iman bukan hanya untuk dirinya sendiri tapi dia juga mengajarkan dan mewariskan kepada anak cucu (Ishak, Yakub), bahkan kepada setiap laki-laki di antara mereka turun-temurun : baik yang lahir di rumah Abraham, maupun yang dibeli dari salah seorang asing (Kejadian 17:26-27). Allah menetapkan Abraham sebagai pemimpin rohani dalam rumahnya untuk mendidik anak-anak serta orang-orang yang dipimpinnya supaya beribadah dan hidup di dalam jalan Tuhan.

“Sebab Aku telah memilih dia, supaya diperintahkannya kepada anak-anaknya dan kepada keturunannya supaya tetap hidup menurut jalan yang ditunjukkan TUHAN, dengan melakukan kebenaran dan keadilan, dan supaya TUHAN memenuhi kepada Abraham apa yang dijanjikan-Nya kepadanya.” (Kejadian 18:19)

Abraham bukan mengajarkan rutinitas/tradisi agamawi, tapi hidupnya menjadi teladan iman kepada Allah yang hidup. Bagi Abraham, Allah yang dia sembah adalah satu-satunya Allah yang benar, Pencipta langit bumi serta segala isinya, yang sungguh layak mendapatkan hormat, pujian dan penyembahan dari umatNya. Pengenalan akan Allah membuat Abraham, Ishak dan Yakub hidup di hadapanNya dengan iman yang tulus.

Walaupun Abraham diberkati dengan harta benda yang melimpah (Kejadian 13:2), yang dapat diturunkan kepada anak cucunya, tetapi iman kepada Allah adalah hal yang paling penting untuk diwariskan agar keturunannya juga hidup dengan iman yang sama seperti dirinya. Abraham mengerti bahwa penyertaan Allah atas hidupnya serta keturunannya jauh lebih berharga daripada harta materi.
Kita juga harus hidup dengan integritas iman seperti Abraham (dapat diandalkan, teruji dan bertanggung jawab) agar Allah dapat memenuhi sumpah janji berkatNya. Iman yang demikian membawa Abraham dan keturunannya memiliki janji berkat yang luar biasa :

1. Diangkat Tuhan (Elevation)
2. Berlimpah (Abundant)
3. Memberkati orang lain (be a blessing to others)

“Aku akan membuat engkau menjadi bangsa yang besar, dan memberkati engkau serta membuat namamu masyhur; dan engkau akan menjadi berkat.”

Kegagalan Imam Eli

Bertolak belakang dengan Abraham, Imam Besar Eli gagal menurunkan warisan iman kepada anak-anaknya. Dia hanya mengajarkan kegiatan pelayanan tanpa memberikan pengertian yang memadai tentang pengenalan akan Allah. Hanya rutinitas melakukan tradisi/ kegiatan agamawi tidak akan membuat kita hidup oleh iman dan menikmati janji berkatNya.

Akibat dari kelalaian Iman Eli ini, Hofni & Pinehas tidak memiliki rasa hormat dan takut akan Allah. Mereka melakukan berbagai kejahatan serta kenajisan yang mendatangkan murka Allah sehingga keduanya meninggal. Tidak hanya sampai di situ, penghukuman Allah juga berlaku atas keluarga imam Eli sampai kepada keturunannya (1 Samuel 2:22-25,29-36).

Selanjutnya Allah mengangkat Samuel untuk menggantikan kedudukan Hofni dan Pinehas. Hana, ibu dari Samuel mewariskan iman yang tulus kepada anaknya. Hana menghormati dan memuji-muji Allah karena pertolonganNya ( 1 Samuel 2:1-3). Samuel menjadi seorang hamba Tuhan karena iman ibunya, baik dalam kehidupan dan nilai-nilai kebenaran yang diajarkannya.

Firman Tuhan dalam Amsal 13:22a mengatakan “Orang baik meninggalkan warisan bagi anak cucunya … “

Ayat ini mengajarkan bahwa orang baik tidak hidup hanya untuk dirinya sendiri tetapi memikirkan generasi di bawahnya. Dia ingin agar generasi-generasi berikut juga hidup dalam segala berkat serta keberhasilan yang dia alami. Warisan terpenting yang dia tinggalkan adalah sesuatu yang bersifat kekal, suatu harta yang tidak dapat dicuri dan tidak dapat rusak.
Yang dimaksud tentu bukan warisan harta materi, melainkan nilai-nilai kehidupan yang membentuk dan mengajar anak cucunya untuk hidup dalam hormat dan takut akan Allah, taat serta berpegang kepada perintahNya.

“Tetapi kasih setia TUHAN dari selama-lamanya sampai selama-lamanya atas orang-orang yang takut akan Dia, dan keadilan-Nya bagi anak cucu, bagi orang-orang yang berpegang pada perjanjian-Nya dan yang ingat untuk melakukan titah-Nya.” (Mazmur 103:17-18)

Estafet warisan rohani

Jika dihubungkan dengan kehidupan, setiap kita adalah pelari estafet yang mengoperkan iman sebagai warisan rohani kepada pelari estafet berikut, yaitu generasi penerus. Orang tua menurunkan warisan rohani kepada anak-anaknya; anak-anaknya pun akan menurunkan hal yang sama kepada keturunan berikutnya, demikian seterusnya.

Kelalaian generasi di atas/orang tua untuk menurunkan iman dan pengenalan akan Allah kepada anak-anak mereka akan menyebabkan kesulitan, kekacauan, bahkan kegagalan untuk generasi berikutnya. Seorang yang berhasil tidak hanya untuk diri sendiri namun juga dapat mendidik anak cucunya sebagai generasi penerus untuk juga berhasil.

Kegagalan imam Eli dalam mendidik anak-anaknya dan keberhasilan Hana menjadikan Samuel muda terpilih sebagai imam dan nabi merupakan contoh tegas yang menjadi pelajaran bagi kita. Kehidupan Samuel yang berkenan kepada Tuhan serta Hofni dan Pinehas yang berdosa di hadapan Tuhan, mengajarkan betapa pentingnya mewariskan iman dan prinsip-prinsip Kerajaan Allah kepada generasi di bawah kita.

Firman Tuhan memerintahkan kita untuk bertekun dalam mengikuti perlombaan yang diwajibkan, yaitu perlombaan iman (Ibrani 12:1b). Lakukan segala sesuatu dengan iman, karena tanpa iman tidak mungkin seseorang berkenan kepada Allah. Iman yang dikerjakan dalam kerajinan, kesabaran dan ketekunan akan menjadi suatu warisan berharga bagi anak cucu dan orang di sekitar kita.

Di tengah dunia yang semakin gelap dan menyesatkan, orang tua memiliki tanggung jawab untuk menjadi teladan iman, mengajarkan, mendidik dan mendoakan generasi penerus agar mereka :

– Memiliki rasa hormat dan takut akan Allah sebagai permulaan segala hikmat dan pengetahuan.
– Memiliki pengenalan akan Allah dan mengerti kehendakNya atas hidup mereka.
– Hidup oleh iman yang didasari kasih/ketulusan dan beribadah kepadaNya.
– Memiliki kerajinan, kesabaran dan ketekunan dalam mengikut Tuhan.
– Berhasil, berbuah dan berkelimpahan.
– Menjadi berkat/dampak dan memancarkan terang Allah di tengah kegelapan dunia.

Allah setia memegang Perjanjian kekal yang diikrarkanNya kepada Abraham, termasuk kepada kita keturunannya, yang memiliki iman kepada Yesus Kristus. Hiduplah oleh iman yang tulus dan berintegritas, wariskan itu kepada generasi berikut agar Allah dapat menggenapi janji berkatNya kepada kita serta keturunan kita.

“Sebab Aku ini mengetahui rancangan-rancangan apa yang ada pada-Ku mengenai kamu, demikianlah firman TUHAN, yaitu rancangan damai sejahtera dan bukan rancangan kecelakaan, untuk memberikan kepadamu hari depan yang penuh harapan.” (Yeremia 29:11).

image source: https://lf.radio/verses/verse/?verseid=106836