SIKAP HATI YANG MENGUCAP SYUKUR AKAN MEMBAWA KEPADA HIDUP YANG BERKELIMPAHAN

Home / Devotional Blog / SIKAP HATI YANG MENGUCAP SYUKUR AKAN MEMBAWA KEPADA HIDUP YANG BERKELIMPAHAN
SIKAP HATI YANG MENGUCAP SYUKUR AKAN MEMBAWA KEPADA HIDUP YANG BERKELIMPAHAN

Bersukacitalah senantiasa dalam Tuhan! Sekali lagi kukatakan: Bersukacitalah! Hendaklah kebaikan hatimu diketahui semua orang. Tuhan sudah dekat! Janganlah hendaknya kamu kuatir tentang apapun juga, tetapi nyatakanlah dalam segala hal keinginanmu kepada Allah dalam doa dan permohonan dengan ucapan syukur. Damai sejahtera Allah, yang melampaui segala akal, akan memelihara hati dan pikiranmu dalam Kristus Yesus (Filipi 4:4-7)
Pesan Tuhan bulan lalu telah kembali mengingatkan kita bahwa Dialah Penolong kita. Tidak pernah sekali-kali Dia meninggalkan kita sendirian tanpa pertolonganNya. Roh Kudus (Roh Penolong) yang telah dicurahkan di dalam hati selalu menolong kita untuk : berkemenangan dalam menghadapi masalah/tantangan, membuat kita berkemenangan dalam mengatasi dosa kedagingan dan melepaskan kita dari segala ikatan, memampukan kita melakukan kehendak Allah serta melindungi kita dari yang jahat.
Setiap dari kita pasti pernah mengalami pertolongan Tuhan bukan karena kita sudah melakukan suatu jasa kebaikan; tetapi semata-mata Tuhan itu baik, satu-satunya Juruselamat dan Dia berkenan membuktikan bahwa firmanNya adalah ya dan amin.
“Tetapi sekarang , beginilah firman TUHAN yang menciptakan engkau, hai Yakub, yang membentuk engkau, hai Israel: “Janganlah takut, sebab Aku telah menebus engkau, Aku telah memanggil engkau dengan namamu, engkau ini kepunyaan-Ku.Apabila engkau menyeberang melalui air, Aku akan menyertai engkau, atau melalui sungai-sungai, engkau tidak akan dihanyutkan; apabila engkau berjalan melalui api, engkau tidak akan dihanguskan, dan nyala api tidak akan membakar engkau. Sebab Akulah TUHAN, Allahmu, Yang Mahakudus, Allah Israel, Juruselamatmu” (Yesaya 43: 1-3a).
Kita boleh ada sampai saat ini merupakan bukti kesetiaan Tuhan menyertai hidup kita seperti janji Tuhan di dalam Yesaya 43. Ingatlah bahwa nafas kehidupan, belas kasihan, pengampunan, kesembuhan, kelepasan, kemenangan, pemulihan, damai sejahtera sukacita, perlindungan, kesehatan, kekuatan, segala berkat rohani dan jasmani dan masih sangat banyak lagi : semua itu adalah anugerah dan kasih karunia. Tidak akan bisa kita membalas semua kebaikanNya, kasih karuniaNya tidak pernah bisa berimbang dengan apa yang kita persembahkan kepada Tuhan.
Namun demikian manusia sering dengan mudah melupakan segala kebaikan Tuhan yang berlimpah dalam hidupnya. Seolah-olah semua sudah menjadi begitu biasa dan rutin. Kasih yang semula menjadi luntur dan suam, lalu karena bertambahnya berbagai kesibukan, permasalahan serta rupa-rupa kedagingan yang terus dipelihara – maka keadaan seperti ini akan membuat mata hati tidak lagi melihat kepada Tuhan tetapi kepada diri (self-centered).
Menurut Vocabulary.com : a self-centered person is excessively concerned with himself and his own needs. People who always talk about themselves, make every issue about themselves, and are generally all about ‘me, me and me”. They tend to ignore the needs of others and only do what’s best for them.
Tanpa disadari orang tersebut sudah menjadi ‘tuhan’ bagi dirinya sendiri, mengira bahwa dirinya self-sufficient sehingga tidak perlu Tuhan dan siapapun. Dia akan mencelakakan dirinya sendiri karena kebenaran mengatakan bahwa manusia tidak mempunyai kemampuan untuk self-sufficient (menyediakan segala sesuatu bagi dirinya sendiri), tetapi hanya Tuhan yang memiliki kapasitas itu karena Dia adalah Allah Yang Maha Kuasa dan Pencipta segala yang ada. Orang yang self-centered tidak akan mampu mengucap syukur karena tidak bisa melihat kedaulatan dan kebaikan Tuhan di dalam hidupnya.
Amsal 4:23 mengatakan : “Jagalah hatimu dengan segala kewaspadaan, karena dari situlah terpancar kehidupan” – “Keep your heart with all diligence, For out of it spring the issues of life” (NKJV).
Berbagai keadaan yang terpancar/issues of life dari hati yang tidak dapat mengucap syukur (self-centered) adalah : selalu merasa kekurangan yang menyebabkan orang tersebut memiliki banyak keinginan yang bertujuan memuaskan diri sendiri/kedagingan (keinginan daging, keinginan mata, keangkuhan hidup). Akibat dari berbagai keinginan yang tidak terpenuhi atau tidak sesuai harapan, akibatnya akan timbul stress/depresi, penderitaan batin juga kemarahan yang berkelanjutan. Hidup penuh dengan complain, bersungut-sungut, tidak puas akan banyak hal, menyalahkan orang lain bahkan berani menyalahkan Tuhan. Secara medis, orang yang hidupnya dalam keadaan stress/depresi seperti ini (gangguan dalam jiwa dan mental) akan memicu keluarnya hormon-hormon yang dapat menyebabkan gangguan berbagai organ tubuh vital (seperti jantung, otak, ginjal) yang bermanifestasi sakit penyakit baik secara fisik pula.
Orang yang self-centered juga akan cenderung berperilaku egois (mementingkan diri sendiri), sukar untuk memberi/pelit (termasuk juga memberi pengampunan,), sukar untuk menerima teguran dan nasehat karena dalam pandangannya dirinyalah yang paling benar dan orang lain yang bermasalah serta lebih perlu teguran.
Selain itu insecurity (dalam bentuk gelisah, cemas, kuatir, perasaan tidak aman dan nyaman, rasa takut) dan self-pity (mengasihani diri sendiri, merasa selalu jadi korban) juga merupakan buah dari hati yang tidak dijaga dengan damai sejahtera.
Sebaliknya, hati yang melekat kepada Tuhan (Christ-centered) akan selalu dapat mengucap syukur dan bersukacita di dalam Tuhan. Damai sejahtera Allah (berdasarkan firman Tuhan) yang melampaui segala akal dan tidak sama dengan yang dunia tawarkan, akan memelihara hati dan jiwanya (pikiran, perasaan, kehendak) untuk tetap berada di dalam Kristus serta menikmati kasih karuniaNya yang berlimpah.
Sikap hati yang selalu bersyukur akan membawa seseorang kepada kebahagiaan sejati di mana sukacita Tuhan adalah kekuatannya di dalam menanggung segala perkara dan keadaan.
Keadaan yang terpancar /issues of life dari hati yang selalu dijaga dengan ucapan syukur adalah kehidupan yang berkelimpahan dengan : buah pertobatan (hati yang tahu mengucap syukur adalah hati yang lemah lembut sehingga mudah dibentuk). Nasehat akan lebih masuk dan mudah diterima oleh hati yang penuh damai sejahtera (keadaan seperti tanah hati yang subur).
Hati yang sudah dilembutkan akan selalu hidup di dalam pertobatan dan akan menghasilkan buah-buah Roh Kudus (kasih, sukacita, damai sejahtera, kesabaran, kemurahan, kebaikan, kesetiaan, kelemahlembutan, penguasaan diri – Galatia 5:22).
Christ-centered life pasti akan memikirkan kepentingan Tuhan dan orang lain sehingga memiliki kerinduan untuk menjadi berkat dan melayani dari kelimpahan. Transformasi jiwa dan mental terjadi : dari bayi rohani menjadi dewasa rohani, dari keadaan menerima/menuntut menjadi memberi, dari dilayani menjadi melayani.
Dalam melakukan kehendak dan melayani pekerjaan Tuhan, orang tersebut akan berjalan dalam hikmat dan tuntunan Nya sehingga apa saja yang dia kerjakan dibuat Tuhan berhasil.
Hati yang mengucap syukur juga akan mengalami prosperity (kemakmuran secara jiwa dan fisik) meliputi cakap menanggung segala perkara, tidak kuatir akan apapun juga, terjadi kesembuhan dan menjadi sehat dalam iman, jiwa, mental dan fisik, menikmati kemerdekaan di dalam Kristus dan menjadi pemenang dalam segala hal.
Telah dijabarkan di atas bahwa ternyata banyak sekali keuntungan yang dapat kita peroleh dari sikap hati yang penuh ucapan syukur, dan banyak pula kerugian dan malapetaka yang bisa terjadi jika sebaliknya.
“Mengucap syukurlah dalam segala hal, sebab itulah yang dikehendaki Allah di dalam Kristus Yesus bagi kamu” (1 Tesalonika 5:18). Ini adalah kehendak Tuhan bagi kita semua, yang tujuannya demi kebaikan dan keuntungan kita sendiri. Semakin kita mengerti kasih karunia Allah yang melimpah, semakin mudah hati kita untuk selalu mengucap syukur di dalam segala hal.
Tuhan bersemayam di atas puji-pujian umat yang bersyukur kepadaNya. Di mana ada hadirat Tuhan, di situlah kita mengalami hidup yang berkelimpahan, Amen.
Monthly Theme Tuntunan Gembala bulan November 2018

Other posts in Weekly Message: