SEBAB BAGI TUHAN TIDAK ADA YANG MUSTAHIL (sambungan minggu lalu)

Home / Weekly Message / SEBAB BAGI TUHAN TIDAK ADA YANG MUSTAHIL (sambungan minggu lalu)
SEBAB BAGI TUHAN TIDAK ADA YANG  MUSTAHIL (sambungan minggu lalu)

17 Desember 2017

Mari kita merenungkan kedatangan Tuhan Yesus yang pertama ke dalam dunia ini, Tuhan Yesus sekarang ada di sorga duduk di sebelah kanan Allah Bapa. Dan sebentar lagi, tidak lama lagi, Tuhan Yesus akan datang untuk kali yang kedua. Dan Tuhan mengingatkan kepada gereja-Nya, kepada Saudara dan saya, sebab ini tugas yang Tuhan berikan kepada gereja-Nya seperti Tuhan memberikan tugas kepada Yohanes Pembaptis pada waktu menyambut kedatangan Tuhan Yesus pertama kali. Maka Tuhan berbicara kepada gereja-Nya, yaitu Saudara dan saya, untuk kita menyiapkan bagi Tuhan suatu umat yang layak bagi-Nya.
Saudara, 3 hal yang harus kita lakukan seperti Yohanes Pembaptis lakukan, yaitu:
1. Gereja harus membuat orang yang tidak percaya menjadi percaya. (Penginjilan)
2. Gereja harus membuat orang-orang Kristen yang hidupnya tidak sesuai dengan Firman Tuhan supaya bertobat kembali.(Pemulihan pribadi)
3. Gereja harus membuat hati bapa-bapa berbalik kepada anak-anaknya dan anak-anak kepada bapa-bapanya (Pemulihan keluarga)

Biasanya yang nomor 1 dan 2 itu yang sering dibicarakan. Orang yang tidak percaya menjadi percaya, orang yang hidupnya tidak karu-karuan supaya jadi karuan atau bertobat kembali. Tetapi hari ini Tuhan sangat menekankan tentang yang nomor 3 ini, membuat hati bapa berbalik kepada anaknya dan hati anak kepada bapanya. Saya mengajak Saudara untuk merenung, orang yang tidak percaya dan orang Kristen yang hidupnya tidak karuan, itu pasti diakibatkan oleh yang nomor 3 tadi. Karena itu saya tahu bahwa ini begitu penting di mana Tuhan meminta gereja-Nya membuat hati bapa berbalik kepada anaknya dan anak kepada bapanya. Apa yang dimaksudkan dengan hati bapa berbalik kepada anak dan hati anak berbalik kepada bapanya?
Di Perjanjian Lama maupun Perjanjian Baru banyak ayat yang mengatakan bahwa orang tua bertanggung-jawab mendidik anak-anaknya supaya mereka hidup berkenan kepada Allah. Apa yang harus dilakukan oleh orang tua?
1. Orang tua harus mengajar, menegur anak-anaknya sesuai dengan kebenaran Firman Tuhan.
2. Orang tua harus menjadi teladan melakukan hal yang sesuai dengan iman yang Alkitabiah.
3. Orang tua harus memprioritaskan untuk keselamatan kekal anak-anaknya dibanding pekerjaan, profesi bahkan pelayanan di gereja atau kedudukan sosial.
Tadi disebutkan, mengapa hati bapa harus berbalik kepada anak-anaknya? Sebab mereka tidak melakukan hal itu, makanya disebutkan “berbalik”. Jika Saudara membaca Ulangan 6:6-7 maka di situ dikatakan begini, “Apa yang kuperintahkan kepadamu pada hari ini haruslah engkau perhatikan, haruslah engkau mengajarkannya berulang-ulang kepada anak-anakmu dan membicarakannya apabila engkau duduk di rumahmu, apabila engkau sedang dalam perjalanan, apabila engkau berbaring dan apabila engkau bangun.”
Lebih kurang 1000 tahun kemudian, Tuhan berbicara lagi melalui Maleakhi 4:5-6, yang merupakan ayat terakhir dari Perjanjian Lama yang berbunyi, “Sesungguhnya Aku akan mengutus nabi Elia kepadamu menjelang datangnya hari TUHAN yang besar dan dahsyat itu. “Maka ia akan membuat hati bapa-bapa berbalik kepada anak-anaknya dan hati anak-anak kepada bapa-bapanya supaya jangan Aku datang memukul bumi sehingga musnah.”

Tuhan berkata bahwa nanti menjelang datangnya hari TUHAN yang besar dan dahsyat itu, yaitu hari kedatangan Tuhan Yesus yang pertama maupun yang kedua, “Aku akan mengirimkan Elia!”. Ternyata Yohanes Pembaptis ini berjalan dalam roh dan kuasa Elia. Dia dipenuhi dengan Roh Kudus sejak dalam kandungan ibu-nya dan tugas ini diberikan kepada gereja. Untuk dapat menyiapkan bagi Tuhan suatu umat yang layak bagi-Nya maka:
1. Gereja harus dipenuhi Roh Kudus
2. Gereja harus berjalan dalam roh dan kuasa Elia, artinya tegas dan tidak ada kompromi terhadap dosa, daya tarik dunia dan sifat kedagingan.
Setelah gereja melakukan seperti ini, barulah mereka menyiapkan bagi Tuhan suatu umat yang layak bagi-Nya. Tanpa ini, lupakan! Namun saya percaya, jemaat di tempat ini mau dan sudah dipenuhi dengan Roh Kudus. Kita mau berjalan dalam roh dan kuasa Elia, yaitu tegas dan tidak ada kompromi! Itu akan membuat hati bapa berbalik kepada anak dan anak kepada bapa dan Tuhan katakan, “Supaya Aku tidak menghancurkan bumi!”. Mengapa Tuhan berbicara setelah 1000 tahun kemudian? Sebab ternyata dalam Perjanjian Lama, bapa-bapa atau orang tua itu gagal melakukan perintah Tuhan seperti Ulangan 6:6-7 tadi. Namun Tuhan memberikan kesempatan, “Hati-hati kamu ya, pokoknya kalau kamu tidak melakukan, Aku akan benar-benar hancurkan!”.
Setelah Maleakhi, 463 tahun kemudian, akhirnya Yohanes Pembaptis datang. Dia dipenuhi Roh Kudus serta berjalan dalam roh dan kuasa Elia untuk membuat hati bapa berbalik kepada anak dan hati anak kepada bapanya. Setelah itu kira-kira 30 – 35 tahun kemudian di dalam surat-suratnya Rasul Paulus memberitahu lagi dan berbicara dalam 2 Timotius 3:1-9, perikopnya adalah: Keadaan Manusia Pada Akhir Zaman. “Ketahuilah bahwa pada hari-hari terakhir akan datang masa yang sukar. Manusia akan mencintai dirinya sendiri dan menjadi hamba uang. Mereka akan membual dan menyombongkan diri, mereka akan menjadi pemfitnah, mereka akan berontak terhadap orang tua dan tidak tahu berterima kasih, tidak mempedulikan agama, tidak tahu mengasihi, tidak mau berdamai, suka menjelekkan orang, tidak dapat mengekang diri, garang, tidak suka yang baik, suka mengkhianat, tidak berpikir panjang, berlagak tahu, lebih menuruti hawa nafsu dari pada menuruti Allah. Secara lahiriah mereka menjalankan ibadah mereka, tetapi pada hakekatnya mereka memungkiri kekuatannya. Jauhilah mereka itu!”

Beberapa waktu yang lalu saya sering membicarakan tentang Generasi Millenial. Generasi Millenial ini dalam tulisan-tulisan dianggap generasi yang paling bermasalah bukan hanya Generasi Millenial saja, sebab di semua generasi juga ada. Kenapa saya fokuskan kepada Generasi Milllenial tadi? Karena Generasi Millenial sampai terjadi ciri-ciri yang seperti itu, nomor 1 disebutkan gara-gara ORANG TUA SALAH ASUH! Jadi kalau sampai Paulus menuliskan ini berarti mereka belum melakukan apa yang menjadi kehendak Tuhan.
Lalu masih menunggu waktu lagi, kemudian Petrus diberikan satu penglihatan atau pengertian tentang apa yang akan terjadi pada dunia ini.
2 Petrus 3:10-14 berkata sebagai berikut, “Tetapi hari Tuhan akan tiba seperti pencuri. Pada hari itu langit akan lenyap dengan gemuruh yang dahsyat dan unsur-unsur dunia akan hangus dalam nyala api, dan bumi dan segala yang ada di atasnya akan hilang lenyap. Jadi, jika segala sesuatu ini akan hancur secara demikian, betapa suci dan salehnya kamu harus hidup yaitu kamu yang menantikan dan mempercepat kedatangan hari Allah. Pada hari itu langit akan binasa dalam api dan unsur-unsur dunia akan hancur karena nyalanya. Tetapi sesuai dengan janji-Nya, kita menantikan langit yang baru dan bumi yang baru, di mana terdapat kebenaran. Sebab itu, saudara-saudaraku yang kekasih, sambil menantikan semuanya ini, kamu harus berusaha, supaya kamu kedapatan tak bercacat dan tak bernoda di hadapan-Nya, dalam perdamaian dengan Dia.”
Saudara, Tuhan sudah berbicara kepada Petrus bahwa dunia akhirnya akan dihancurkan. Dan itu ditutup dengan Tuhan Yesus sendiri yang ada di sorga, Dia datang khusus kepada Rasul Yohanes di Pulau Patmos dalam kitab Wahyu dan Dia berkata (ini dalam bahasa saya), “Sorry…sorry…terpaksa dunia Aku hancurkan! Dunia akan dihancurkan oleh pembukaan meterai, oleh peniupan sangkakala, oleh penuangan cawan murka Allah. Dunia akan hancur!”.

KURANGNYA PERANAN AYAH
Saudara, ini terjadi 2000 tahun yang lalu! Lalu mengapa Tuhan Yesus berkata demikian setelah Dia perlihatkan kepada Paulus, Petrus dan Dia menutup dengan itu? Sebab Dia sudah tahu bahwa manusia tidak akan melakukan itu. Sekarang saya mau mengajak Saudara, apakah benar manusia tidak melakukan itu?
Saya ingat bahwa saya mulai berbicara tentang hati bapa berbalik kepada anak-anaknya dan hati anak-anak kepada bapanya itu pada hari Sabtu, 11 November 2017 di MDPJ (Doa Pengerja). Hari Minggu, 12 November 2017, saya berbicara di JCC, lalu hari Senin, 13 November 2017 saya melihat koran, tiba-tiba ada tulisan dengan judul, “Peran Ayah Semakin Pudar”. Mengapa dituliskan seperti ini? Ternyata tanggal 12 November ketika saya berbicara di JCC itu adalah Hari Ayah Nasional untuk Indonesia. Dan ini memang sebetulnya juga dicanangkan sejak tahun 2006, tetapi gaungnya minim dan banyak yang tidak tahu, mengapa? Sebab menurut sejumlah kalangan penggiat keluarga, disebutkan bahwa Indonesia sebagai salah satu, “Fatherless Country”, yaitu negeri dengan peran ayah yang sangat kurang. Dan saya percaya bukan hanya Indonesia, tetapi seluruh dunia seperti ini. Apa akibat kurangnya peranan ayah?
1. Depresi
2. Melambatnya perkembangan mental
3. Rendahnya kemampuan belajar, tawuran anak sekolah
4. Konsumsi alkohol, obat terlarang, obesitas, bunuh diri, korban atau pelaku pelecehan seksual, kehamilan yang tidak diinginkan, perubahan orientasi seksual (LGBT).
5. Tingginya angka putus sekolah
6. Meningkatnya kemiskinan

Perubahan orientasi seksual (LGBT) ini bukan rahasia lagi begitu cepat prosesnya. Dulu mereka hanya minta diakui bahwa mereka itu ada. Jadi meminta pemerintah untuk mengakui hal ini dan beberapa negara telah mengakuinya. Ternyata tidak hanya cukup di situ, tiba-tiba naik menjadi, “Same sex marriage”, atau perkawinan antar sejenis dari gender dan itu juga diresponi positif dari sebagian negara termasuk Jerman. Saya kaget sebab Martin Luther dan Protestan juga berasal dari Jerman. Baru-baru ini Australia menyetujui juga! “Di Swedia ada denominasi gereja besar yang baru-baru ini bersidang dan memutuskan sebuah keputusan yang mengatakan begini, “Selanjutnya kita tidak boleh menyebut Allah dengan ‘He’ atau ‘Lord’, sebab ‘He’ atau ‘Lord’ itu laki-laki.” Sekarang mau disebut apa? Ketika mendengar itu, hati saya panas! Ini bukan cuma kurang ajar, tetapi itu keadaan manusia hari-hari ini. Ini begitu cepat dan ini karena apa? Karena kurangnya peranan ayah!

Ada penelitian tentang resiko kurangnya peranan ayah yang datanya menyebutkan sebagai berikut:
1. Kemiskinan naik 4x lipat
2. Kematian bayi naik 2x lipat
3. Kehamilan di luar nikah saat remaja naik 7x lipat
4. Menjadi korban pemerkosaan dan pelecehan seksual naik 7x lipat
5. Obesitas naik 2x lipat
6. Angka putus sekolah naik 9x lipat
7. Konsumsi alkohol dan obat terlarang naik 10x lipat
8. Bunuh diri naik 2x lipat
9. Perilaku agresif dan kekerasan naik 11x lipat
10. Dipenjara karena berbuat kriminal naik 20x lipat
Itulah keadaan manusia hari-hari ini! Kalau Saudara melihat data ini, jangan dipisahkan misalnya kemiskinan sendiri, kematian bayi sendiri, sebab itu saling mengkait seperti domino yang kait-mengkait. Saya mau katakan kepada Saudara, dari data ini; kemerosotan moral kota Sodom dan Gomora itu bukan apa-apa! Saya ingin bertanya kepada Saudara, “Saudara kalau melihat begini, pesimis atau optimis melihat hati bapa berbalik kepada anak-anaknya dan hati anak-anak kepada bapanya?” Apa kira-kira ada orang yang bisa melakukan itu? ADA! Sebab bagi Allah tidak ada yang mustahil! Siapakah mereka yang bisa melakukan itu? Saudara semua! Dan saya mau beritahu kepada Saudara, kita yang hidup di akhir zaman ini, kita yang sungguh-sungguh mengikuti Firman Tuhan, kita tidak bakalan melihat bumi dihancurkan, mengapa? Karena kita diangkat! Kita diangkat! Kita diangkat! Amin.
Pdt. DR. Ir. Niko Njotorahardjo, 3 Desember 2017

Other posts in Weekly Message: