“PENUAIAN BERKAT MELALUI MUJIZAT!”

Home / Weekly Message / “PENUAIAN BERKAT MELALUI MUJIZAT!”
“PENUAIAN BERKAT MELALUI MUJIZAT!”

9 April 2017

Waktu berjalan begitu cepat dengan tidak terasa kita sudah memasuki bulan April 2017. Memasuki tahun 2017, Tuhan memberikan tema, “Tahun 2017 adalah Tahun Mujizat Penuaian!”.
AYIN ZAYIN (5777)
Menurut kalender Orang Yahudi kita sedang memasuki tahun 5777 atau Tahun Ayin Zayin, yang maknanya adalah:
1. Tahun Penuaian – Akan terjadi tahun penuaian yang terbesar dan yang terakhir sebelum Tuhan Yesus datang untuk kali yang kedua.
2. Tahun Pedang – Di Alkitab arti pedang adalah Pedang Roh itu berarti Firman Tuhan, tetapi arti dari pedang itu sendiri, berbicara tentang penghukuman Tuhan. Penghukuman Tuhan sedang turun ke dunia hari-hari ini. Tetapi bagi gereja-Nya itu adalah PEMURNIAN.
3. Tahun Peperangan – Akan terjadi peperangan secara fisik maupun secara rohani, tetapi di tengah-tengah itu akan terjadi penuaian jiwa yang terbesar dan terakhir sebelum Tuhan Yesus datang untuk kali yang kedua.
4. Tahun Penyembahan – Hari-hari ini Gereja Tuhan akan dibangkitkan untuk banyak berdoa, memuji dan menyembah Tuhan dalam unity siang dan malam sebelum penuaian jiwa yang terbesar dan terakhir itu terjadi.

TUHAN YESUS MEMBERI MAKAN 5000 ORANG

Kisah dari Tuhan Yesus memberi makan 5000 orang sebenarnya berbicara tentang penuaian berkat melalui mujizat yang diberikan kepada murid-murid-Nya. Pada waktu Tuhan Yesus hendak mengasingkan diri ke tempat yang sunyi, banyak orang mendengar dan mengikuti Tuhan Yesus, saat itu murid-murid-Nya datang kepada Tuhan Yesus dan berkata,
“Guru, apa tidak sebaiknya Guru mengatakan kepada orang-orang banyak supaya pergi ke desa-desa sebelah ini untuk cari makanan dan sekalian penginapan sebab hari mulai malam.”
Yesus berkata, “Kamu harus memberi mereka makan!”. Mendengar itu murid-murid-Nya kaget, tetapi mereka segera melakukan apa yang Tuhan perintahkan hingga akhirnya ada seorang anak kecil yang membawa 5 roti dan 2 ekor ikan. Datanglah anak ini ke hadapan Tuhan Yesus dan Tuhan Yesus berkata, “Berikan kepada-Ku”. Dan anak ini memberikan semuanya! Setelah itu Tuhan Yesus memegang roti dan ikan, Dia menengadah ke atas sambil mengucap syukur, Dia mulai memecah-mecahkan roti dan ikan itu, lalu memanggil murid-murid-Nya untuk membagi-bagikannya. Mungkin mereka heran dan saling berpandangan, tetapi yang luar biasa mereka taat. Begitu taat, mujizat pun terjadi! Roti dan ikan itu tidak habis sampai 5000 orang itu menjadi kenyang, bahkan ada sisanya 12 bakul roti. Murid-murid Tuhan Yesus menuai berkat melalui mujizat.
Kisah di atas mengajarkan bagaimana cara agar kita mengalami penuaian berkat melalui mujizat. Kunci penuaian berkat melalui mujizat adalah ketika Tuhan Yesus berkata, “Kamu harus memberi mereka makan!”. Kita harus memberkati mereka, kita harus memikirkan orang lain. Salah satu sifat dan ciri-ciri daripada anak kecil, ketika Tuhan Yesus meminta, dia berikan semuanya! Tuhan Yesus sendiri berkata, “Kalau kamu tidak bertobat dan menjadi seperti anak kecil ini, kamu tidak akan masuk dalam Kerajaan Sorga”. Karena itu kalau kita mau mengalami penuaian berkat melalui mujizat, Kita harus memiliki sifat seperti anak kecil.
Kemudian setelah Tuhan Yesus menerima 5 roti dan 2 ikan, Dia menengadah ke atas sambil mengucap syukur. Jika Tuhan Yesus menyuruh kita, maka kita harus memberi apa yang ada pada kita dan menyerahkan itu kepada Tuhan Yesus sambil mengucap syukur. Karena itu merupakan benih iman untuk terjadinya penuaian berkat melalui mujizat.
Pada saat murid-murid taat kepada perintah Tuhan meskipun tidak masuk akal, maka mujizat terjadi. Roti dan ikan tidak habis-habisnya sampai 5000 orang makan dengan kenyang dan sisanya sebanyak 12 bakul roti untuk murid-murid-Nya.
Di dalam Alkitab angka 12 adalah angka yang istimewa karena:
* 12 pintu gerbang di Yerusalem kuno dan nanti di Yerusalem baru pintu gerbangnya juga 12.
* 12 murid Tuhan Yesus
* 12 suku Israel
* 12 tahun usia Tuhan Yesus ketika merayakan Paskah pertama kalinya di Yerusalem
Jadi angka 12 berbicara tentang berkat istimewa yang diberikan Tuhan kepada kita.
Mari kita simak apa yang dikatakan oleh Tuhan Yesus :
“Berilah dan kamu akan diberi: suatu takaran yang baik, yang dipadatkan, yang digoncang dan yang tumpah ke luar akan dicurahkan ke dalam ribaanmu. Sebab ukuran yang kamu pakai untuk mengukur, akan diukurkan kepadamu.” Lukas 6:38

Firman Tuhan katakan, “Berilah dan kamu akan diberi!” Bagaimana cara Tuhan mengembalikan apa yang kita berikan? Katakan takaran yang kita pakai itu sebuah gelas, dan apa yang mau kita berikan itu beras, Saudara akan isi gelas itu dengan beras. Kemudian padatkan beras di gelas itu, maka permukaannya akan turun, lalu tambahkan lagi beras ke atasnya, digoncang-goncang dan rongga-rongga yang kosong terisi sehingga turun lagi permukaannya lalu ditambahkan lagi beras ke atasnya sampai tumpah keluar, itu yang akan dicurahkan ke dalam ribaanmu!
Perhatikan, “…..Sebab takaran yang kamu pakai untuk mengukur, akan diukurkan kepadamu.” Takaran atau ukuran ini bukan jumlah materi yang Saudara berikan kepada orang lain. Kalau saya bicara tentang uang, ini bukan masalah besarnya uang, tetapi berapa persen dari uang Saudara yang diberikan kepada Tuhan.
Pada suatu hari Tuhan Yesus ada di Bait Allah bersama murid-murid-Nya. Dia sedang memperhatikan orang-orang yang memberikan persembahan. Orang kaya datang lalu memasukkan persembahannya dan bunyinya, “Bumm…!!”, berarti besar persembahannya. Lalu ada lagi yang lain masuk dan memberikan persembahan yang bunyinya, “”BUK…!”, berarti tambah besar lagi. Tiba-tiba ada seorang janda miskin datang, dia memasukkan persembahannya dan bunyinya, “Krincingg…”., yaitu 2 peser 1 duit. Tuhan Yesus berkata, “Aku mau katakan kepadamu bahwa janda itu memberikan lebih daripada mereka. Mereka memberikan dalam kelimpahannya, tetapi janda itu memberikan persembahan dalam kekurangannya dan itu semua hartanya yang dia berikan!”. Saya percaya persembahan janda itu berkenan dan janda itu akan diberkati luar biasa oleh Tuhan.

TUHAN YESUS MENAMPAKKAN DIRI DI TEPI DANAU GALILEA
Setelah kematian Tuhan Yesus, murid-murid-Nya dalam keadaan sedih. Mereka tidak bisa menerima apa yang telah terjadi, karena Tuhan Yesus selalu bersama mereka, suka berbuat baik, mengadakan mujizat dan kesembuhan, dielu-elukan orang banyak, tiba-tiba harus mengalami kematian secara mengerikan! Mereka tidak bisa mengerti, padahal sebenarnya Tuhan Yesus sudah berbicara 3x kepada mereka, namun mereka tidak mengerti.
Pada suatu hari, 7 murid Tuhan Yesus, yaitu Petrus, Yakobus, Yohanes, Natanael, Tomas dan 2 murid lainnya berkumpul ditepi danau. Petrus berkata, “Aku mau mencari ikan” dan murid-murid lainnya pun mengikutinya. Tetapi semalam-malaman mereka mencari ikan, tidak seekor pun yang mereka peroleh. Mereka menjadi putus asa. Dalam keadaan seperti itu tiba-tiba Tuhan Yesus ada di tepi pantai untuk menolong murid-murid-Nya.
Tuhan bertanya kepada murid-murid-Nya, “Hai anak-anak adakah kamu mempunyai lauk-pauk?”. Mereka menjawab “Tidak ada!”. Mereka tidak tahu kalau itu Tuhan Yesus. Lalu Tuhan Yesus dengan sabar berkata, “Kalau begitu cobalah tebarkan jalamu ke sebelah kanan perahu, kamu akan memperoleh ikan”. Yang luar biasa walaupun tidak masuk akal mereka taat. Mereka bisa taat karena mereka hidup intim dengan Tuhan! Ketika mendengar suara itu mereka merasakan, “Ini’ seperti suara-Nya Tuhan Yesus? Tetapi Dia sudah mati! Apa ia?…Apa ia?”, tetapi dorongan untuk taat itu lebih kuat daripada bertanya-tanya seperti itu.

Orang yang hidup intim dengan Tuhan bukan berarti bebas masalah. Mungkin kita bisa mengalami hal yang seperti ini dan dalam keadaan stress atau frustrasi dan sulit untuk mendengarkan nasehat orang lain atau sulit untuk mendengarkan suara Tuhan. Tetapi kalau kita hidup intim dengan Tuhan, pada saat Dia berbicara meskipun tidak masuk akal kita akan mempunyai satu dorongan untuk taat.
TAAT MESKIPUN TIDAK MASUK AKAL
Ada 3 alasan yang tidak masuk akal yang Tuhan lakukan saat itu, yaitu:
1. Pada siang hari, Tuhan Yesus menyuruh murid-murid-Nya untuk mencari ikan di Danau Galilea, sedangkan mereka semalam-malaman tidak mendapatkan ikan.
2. Lokasinya hanya 200 hasta atau sekitar 90 meter dari pantai dan itu suatu tempat yang relatif dangkal. Di tempat itu tidak mungkin ada ikan yang besar-besar.
3. Tuhan menyuruh untuk menebarkan jala ke sebelah kanan perahu. Mereka berpikir, “Apa bedanya ke kanan atau kiri?” Sebab lebar perahu hanya 2-3 meter saja dan jala yang ditebarkan akan melebar di bawah, artinya tempatnya juga sama, tetapi mereka taat meskipun tidak mengerti.

Tuhan berkata bahwa mereka akan memperoleh ikan, tetapi kondisinya mustahil atau tidak masuk akal, namun mereka taat. Ketika mereka taat maka mujizat terjadi! 153 ekor ikan yang besar-besar mereka tangkap! Mereka tidak bisa mengangkat jalanya karena terlalu banyak dan terlalu berat, akhirnya mereka minta bantuan dari teman-teman yang lain dan karena dekat mereka cepat bisa datang sehingga beramai-ramai jala itu dihela ke pantai dan mereka bisa menikmati berkat 153 ekor ikan yang besar-besar! Menuai berkat melalui mujizat TIDAK BISA SENDIRI! Tetapi Saudara membutuhkan orang lain. Kalau ada di antara Saudara yang berpikir, “Waduh, berkat kalau dibagi-bagi nanti habis, nih! Sudahlah buat saya sendiri”. Malah Saudara tidak akan mendapat apa-apa. Atau mungkin mendapat berkat tetapi tidak bisa menikmati, karena tidak ada kuasa untuk menikmati. Saudara perlu bantuan orang lain! Karena itu kita tidak bisa hanya memikirkan kepentingan diri sendiri saja, tetapi juga harus memikirkan kepentingan orang lain juga. Seperti doa Tuhan Yesus dalam Yohanes 17 dimana Tuhan Yesus berkata begini, “Bapa, kalau mereka sudah sempurna menjadi satu (unity), dunia akan tahu, dunia akan melihat, dunia akan percaya bahwa Engkaulah yang mengutus Aku dan bahwa Engkau mengasihi mereka”.
Hari-hari ini saya ingin berpesan kepada Saudara yang selama ini banyak memikirkan kepentingan diri sendiri, Saudara tidak akan mengalami janji Tuhan penuaian berkat melalui mujizat. Kalau saudara tidak memikirkan kepentingan diri sendiri saja, Saudara pasti akan mengalami penuaian berkat melalui mujizat. Amin!
Khotbah Bapak Pdt. Dr. Ir. Niko Njotorahardjo Jakarta 2 April 2017

Other posts in Weekly Message: