“MENYIAPKAN BAGI TUHAN SUATU UMAT YANG LAYAK BAGI-NYA!”

Home / Weekly Message / “MENYIAPKAN BAGI TUHAN SUATU UMAT YANG LAYAK BAGI-NYA!”
“MENYIAPKAN BAGI TUHAN  SUATU UMAT YANG LAYAK BAGI-NYA!”

8 Oktober 2017

Saudara, Tuhan Yesus itu baik, Dia sungguh baik dan sangat baik kepada kita semua. Ada berapa banyak di antara Saudara yang mau menjadi umat yang layak bagi Tuhan?

Dari tanggal 21 September 2017 – 09 September 2018 kalender Ibrani memasuki tahun 5778. Mereka sebutkan itu adalah Tahun Ayin Chet (5778). Ayin adalah 70 dan itu berbicara tentang sebuah mata. Kalau Saudara membaca dari Mazmur 33:18 dan Mazmur 32:8, maka di situ dikatakan begini, “Mata Tuhan tertuju kepada mereka yang takut akan Dia dan yang berharap hanya kepada kasih setia-Nya.”
Ada berapa banyak di antara Saudara yang takut akan Tuhan? Ada berapa banyak di antara Saudara yang berharap hanya kepada kasih setia Tuhan? Berarti mata Tuhan tertuju kepada kita! Tuhan mau mengajar, menasehati, dan menunjukkan jalan apa yang harus kita tempuh. Saudara mau diajar Tuhan? Ada berapa banyak yang mau dinasehati? Ada berapa banyak yang mau ditunjukkan jalan yang harus ditempuh?

Saudara, perhatikan baik-baik apa yang saya katakan! Nasehat, ajaran Tuhan, petunjuk Tuhan akan apa yang harus kita tempuh hanya bisa kita pahami, hanya bisa kita mengerti kalau mata kita tertuju kepada Dia! Kalau mata kita tidak tertuju kepada Dia, maka Tuhan sedang menasehati kita, sedang mengajar kita, tetapi kita tidak tahu. Mungkin melalui orang lain, mungkin itu keras, mungkin tidak enak, tetapi kalau mata kita selalu tertuju kepada Tuhan, kita tahu meskipun tidak enak, “Ini Tuhan!….Ini Tuhan!”.

TAHUN AYIN CHET (5778)
Hari ini Tuhan akan mengajar, menasehati dan menuntun kita melalui angka 8 yang disebut “Chet”, angka 8 ini berbicara tentang:
1. Permulaan Yang Baru
Angka 7 adalah angka tertinggi, jadi kalau boleh dikatakan angka 8 ini bisa disamakan dengan angka 1, yaitu permulaan yang baru. Yang baru sudah datang, yang lama sudah berlalu! Yang tidak baik sudah berlalu, yang baik sedang datang! Yang sakit disembuhkan, yang lemah dikuatkan, yang miskin diperkaya. Haleluya!
2. Dimensi Yang Melampaui Jasmaniah atau Lahiriah
Chet atau angka 8 itu juga berbicara tentang sebuah dimensi yang melampaui sesuatu yang jasmaniah atau lahiriah. Kita sedang memasuki dimensi supra-natural. Kita memasuki dimensi pekerjaan Roh Kudus yang baru melalui Pentakosta yang ke-3.
Kita akan mengalami apa yang belum pernah dilihat oleh mata, belum pernah didengar oleh telinga, belum pernah timbul dalam hati, itu akan kita alami! Itu semua disediakan bagi orang yang mengasihi Tuhan. Apakah Saudara mengasihi Tuhan? Berarti pesan ini untuk kita semua.
Bulan yang lalu, tepatnya tanggal 04 September 2017, kita merayakan ulang tahun GBI Jl. Jend. Gatot Subroto yang ke-29. Berarti kita sedang memasuki umur yang ke-30.

Angka 30 juga berbicara tentang permulaan yang baru. Sebagai contoh:
– Tuhan Yesus mulai melayani umur 30 tahun
– Daud mulai menjadi raja umur 30 tahun
– Yusuf mulai menjadi orang kedua di Mesir umur 30 tahun
Jadi angka 30 ini merupakan permulaan yang baru. Selain itu angka 30 mengingatkan saya tentang Generasi Millenial. Generasi Millenial ini adalah generasi yang lahir tahun 1980, tetapi ada juga yang mengatakan yang lahir tahun 1984 ke atas. Generasi Millenial ini dikenal dari media yang mengatakan bahwa ini generasi yang termasuk bermasalah.
Apa yang menjadi masalah Generasi Millenial?
– Banyak dari mereka yang tidak ke gereja. Tetapi puji Tuhan Saudara tidak termasuk yang itu karena Saudara yang di sini ke gereja. Di Amerika Serikat, menurut data hanya sekitar 40% orang yang pergi ke gereja. Sedang di Korea Selatan, hanya 3% orang yang pergi ke gereja.
– Yang ditulis media begini: Generasi Millenial ini adalah generasi yang sulit untuk diatur dan memiliki reputasi sebagai orang-orang yang merasa bahwa dirinya itu berhak mendapatkan perlakuan khusus, narsis, cinta pada diri sendiri, mementingkan dirinya sendiri, tidak fokus, malas dan sebagainya. Ini bukan dari saya, tetapi dari tulisan yang mungkin hasil penyelidikan.

Tetapi dengarlah Generasi Millenial yang ada di tempat ini, apa pun yang mereka katakan tentang Anda, dengar 1 hal ini, Tuhan mau pakai Saudara secara luar biasa! Jadi, Tuhan Yesus, Yusuf dan Daud itu dipakai pada saat mereka bisa dikatakan sebagai Generasi Millenial. Dengan ciri-ciri yang tadi disebutkan, sekarang kita akan melihat apa rahasianya mereka bisa dipakai secara luar biasa. Pagi ini kita diberikan contoh melalui Tuhan Yesus, Daud dan Yusuf, mengapa mereka dipakai luar biasa?
1. Mengasihi Tuhan Yesus
Yang paling penting! Jika Saudara mengasihi Tuhan, engkau akan dipakai Tuhan secara luar biasa.

2. Pada Waktu Mereka Diproses, Mereka Keluar Menjadi Pemenang
– Tuhan Yesus ketika memulai pelayanan-Nya, Dia dicobai Iblis. Tidak ada yang menolong! Orang tuanya pun tidak menolong ketika Yesus dicobai, tetapi Dia keluar sebagai pemenang!
– Daud diproses dan yang memprosesnya bukan orang jauh, yaitu Saul. Daud dikejar-kejar hendak dibunuh dan macam-macam lainnya, kita lihat bagaimana sampai dia menuliskan Kitab Mazmur, segala kesulitannya dia tuangkan dalam kitab tersebut serta meminta pertolongan Tuhan. Akhirnya dia juga keluar sebagai pemenang.
– Yusuf diproses dan yang memproses bukan orang jauh, yaitu saudara-saudaranya. Orang tuanya, yaitu ayahnya pada waktu itu tidak bisa menolong dia. Dia harus dijual sebagai budak ke rumah Potifar, sebagai akibat istri Potifar yang mengajaknya tidur tetapi dia tidak mau, dia juga harus masuk penjara. Tetapi dia keluar sebagai pemenang. Itulah perjalanannya sampai akhirnya umur 30 dia menjadi orang kedua di Mesir di bawah Firaun. Saudara, ini penting! Pada waktu diproses Saudara harus keluar sebagai pemenang. Amin!

Pada kesempatan ini saya mau mengingatkan para orang tua. Perhatikan sebuah kepompong. Ada berapa banyak di antara Saudara yang senang pada ulat? Kalau melihat ulat langsung mengagumi dan berkata, “Wah, bagusnya…”. Tentunya kalau Saudara lihat kupu-kupu, barulah akan berkata, “Wah, kupu-kupu ini bagus!”. Dari ulat yang tadinya tidak menarik untuk dilihat, sampai ulat tersebut menjadi kupu-kupu yang disenangi orang – artinya setiap orang harus melewati proses dari fase kepompong (pupa) menjadi kupu-kupu.

Kalau dilihat ulat itu seperti dibungkus dan dia diam di dalamnya, sepertinya mati. Tetapi setelah 7 – 20 hari tergantung dari spesiesnya, dia keluar! Jadi pada waktu itu dia masuk masa proses. Ada seseorang yang ceritanya memperhatikan ini. Dia melihat kepompong itu dan berkata, “Aduh, kasian ya…kapan dia akan keluar?”. Kemudian ditunggu seminggu dan beberapa hari lagi, “Ko’ belum jadi juga ya? Waduh, ini harus ditolong”. Begitu dia tolong untuk mengeluarkan dengan menyobek kulit daripada kepompongnya, apa yang terjadi? Ulatnya mati!

Ini penting buat orang tua, salah-satu penyebab kenapa mereka jadi seperti itu adalah sedikit banyak “kesalahan” dari orang tua yang terlalu memanjakan anak-anaknya. Bukan rahasia lagi sekarang ini banyak guru yang takut sama orang tua.
Jika Orang tua bertanya pada guru: “Anak saya dapat berapa?!”
Guru menjawab: “4 sebetulnya nilai anak bapak”
Orang tua mengancam: “Tulis, 7! Kalau tidak kamu hati-hati, ya!”.

Itu benar-benar terjadi! Kita berusaha untuk menolong anak kita yang sebetulnya di dalam proses. Entah apalah alasannya, jangan di tolong berlebihan. Anak-anak remaja itu harus mengalami proses. Biarkan! Sebab mereka akan menjadi kupu-kupu yang indah.

Ada juga orang tua yang kurang perhatian dan tidak mau pusing, “Ah, sudahlah,…nih kamu main sana!”. Lalu dikasih gadget untuk mengisi waktu, namun tanpa di monitor bisa berbahaya bagi pertumbuhan dan kesehatan anak. Yang penting pada waktu anak masuk proses jangan terlalu ditolong/dimanja. Boleh menguatkan tetapi jangan sampai tidak mengerti kehendak Tuhan dan terlalu cepat menolong seperti kepompong yang dibuka sebelum waktunya itu. Kasian, karena ulat itu akan mati dan tidak menjadi apa-apa!

3. Dipenuhi Roh Kudus
Pada waktu Tuhan Yesus akan mulai melayani, Dia dibaptis air. Pada waktu dibaptis air apa yang terjadi? Langit terbuka, Roh Allah turun seperti burung merpati memenuhi Tuhan Yesus. Ini penting! Generasi Millenial, juga generasi kita-kita ini, harus dipenuhi Roh Kudus.
Apa yang dilihat oleh Russell Evans seperti yang sering saya saksikan tentang Indonesia, dia melihat jutaan anak-anak muda yang saya percaya ini adalah Generasi Millenial, jutaan anak-anak muda yang berkobar dalam Api Roh Kudus. Mereka dipenuhi dengan Roh Kudus dan mereka cinta mati-matian akan Tuhan Yesus dan mereka akan melayani bangsa ini seperti yang belum pernah terjadi sebelumnya!

Sekali lagi saya mau katakan, Saudara harus dipenuhi dengan Roh Kudus! Mari saya mengajak Saudara membuka Yesaya 32:15-17, “Sampai dicurahkan kepada kita Roh dari atas: Maka padang gurun akan menjadi kebun buah-buahan, dan kebun buah-buahan itu akan dianggap hutan. Di padang gurun selalu akan berlaku keadilan dan di kebun buah-buahan akan tetap ada kebenaran. Di mana ada kebenaran di situ akan tumbuh damai sejahtera, dan akibat kebenaran ialah ketenangan dan ketenteraman untuk selama-lamanya.”
Ada berapa banyak yang mau tenang, tenteram dan damai sejahtera untuk selama-lamanya? Kalau Saudara mau tenang, tenteram, damai sejahtera, itu hanya terjadi kalau Saudara dipenuhi Roh Kudus. Dikatakan tadi, “Sampai dicurahkan kepada kita Roh (Roh Kudus) dari atas: Maka padang gurun akan menjadi kebun buah-buahan,…”. Yang berlaku di padang gurun adalah keadilan (justice), tetapi kalau sudah berubah menjadi kebun buah-buahan, ini berubah! Dari justice menjadi righteousness (kebenaran).

Apa keadilan yang dimaksud di sini? Yaitu mata ganti mata, gigi ganti gigi. “Kalau saya dipukul pipi kanan, tonjok juga pipi kanannya. Kalau perlu pipi kirinya! Itu baru adil!”. Tetapi kalau kebenaran lain, “Ditampar pipi kanan, berikan pipi kiri! Kalau ada orang yang memaksa minta bajumu, serahkan juga jubahmu! Kalau ada orang yang memaksa berjalan 1 mil, berjalanlah 2 mil!” Menurut orang-orang yang masih berada di padang gurun ini seperti orang yang miring (gila)! Sekarang kita boleh cek, seperti kemarin saya bicara di doa pengerja seperti ini, “Saya tidak yakin, tidak ada jaminan seorang pendeta, seorang pengkhotbah pasti hatinya kebun buah-buahan!” Termasuk kita semua, belum tentu pasti hatinya sudah kebun buah-buahan. Mari kita cek apakah masih padang gurun atau sudah menjadi kebun buah-buahan? Coba kita renungkan hal tadi, kalau Saudara ditampar pipi kiri, kira-kira Saudara akan melakukan apa? Saudara akan tahu apakah masih padang gurun atau kebun buah-buahan. Saya berdoa, biar semua jangan menjadi padang gurun tetapi semua menjadi kebun buah-buahan. Di sini dikatakan, “Di mana ada kebenaran di situ akan tumbuh damai sejahtera, dan akibat kebenaran ialah ketenangan dan ketenteraman untuk selama-lamanya.”

Bersambung minggu depan…… Khotbah Bpk. Pdt. Dr. Ir. Niko Njotorahardjo JCC, 1 Oktober 2017

Other posts in Weekly Message: