MENJADI SEPERTI ANAK KECIL

Home / Weekly Message / MENJADI SEPERTI ANAK KECIL
MENJADI SEPERTI ANAK KECIL

Lalu berkata: “Aku berkata kepadamu, sesungguhnya jika kamu tidak bertobat dan menjadi seperti anak kecil ini, kamu tidak akan masuk ke dalam Kerajaan Sorga.” (Matius 18:3)
Untuk masuk sorga, apa yang harus kita lakukan? 1. Kita harus bertobat. 2. Gaya hidup kita sehari-hari seperti anak kecil.
Ciri-ciri Seorang Anak Kecil:
1. Suka Menangis
Seberapa sering Saudara menangis di hadapan Tuhan? Dan menangisnya bukan karena kekurangan uang, bukan karena di-bully orang, bukan karena dizolimi, bukan karena masalah, tetapi menangis karena Saudara merasakan hadirat Tuhan. Alkitab katakan, “Di hadapan-Mu ada sukacita yang berlimpah-limpah!”, sehingga di situ kita menangis. Yang saya tanyakan, “Berapa sering?” Saudara, kalau kita punya ganjalan, apalagi dosa yang belum diselesaikan dengan Tuhan, Saudara tidak akan merasakan itu. Coba saja! Menangisnya akan lain lagi, “Tuhan, saya ada persoalan. Saya di-bully orang, diancam orang…!”. Bukan itu yang dimaksudkan, tetapi menangis karena kita merasakan hadirat Tuhan dan di hadapan-Mu ada sukacita berlimpah-limpah! Saudara, ini yang selalu saya pertahankan. Setiap hari saya selalu tidak akan kehilangan ini dan saya jaga betul. Sebab ini yang Tuhan mau, yaitu kita bersama-sama dengan Dia.

2. Tidak Menyimpan Kesalahan Orang
Coba kita lihat kalau seorang anak kecil sedang bermain dengan temannya. Tiba-tiba ada yang menangis karena berantem. Mungkin karena rebutan mainan atau mainannya dilempar dan mengenai temannya sehingga menangis. Itu memang ramai tetapi habis itu selesai dan mereka tertawa-tawa lagi. Itulah anak kecil, tetapi bagaimana dengan kita? Jangankan seperti itu, kata-kata yang salah sedikit saja kita akan ‘tersungging’! Kadang-kadang saya katakan memang harus ada ilmu untuk mengucapkan perkataan supaya orang lain tidak ‘tersungging’ tadi. Namun dengan hati-hati pun masih ada yang tersinggung! Dan itu dipendam di dalam hati sehingga, “Gara-gara itu, aku tidak bisa melihat wajahmu. Sampai kapan pun kalau melihat engkau, aku ‘neg!’. Ada yang begitu saudara, tetapi saya percaya di tempat ini tidak ada yang seperti itu, Amin.

3. Tidak Suka Berbohong
Anak kecil itu tidak suka berbohong. Saya pernah mendengar kesaksian begini : ada seorang ibu bilang sama anaknya yang sedang bermain, “Eh, nanti kalau ada orang telpon Tanya mama, bilang mama sedang pergi!”. “Ya, ,a!”, jawab anaknya lalu dia bermain lagi. Kemudian telpon berbunyi, “Krinnngggg…, halo, mamamu ada tidak?” Jawaban anak kecil itu, “Mama bilang, kalau ada orang yang telpon, bilang mama sedang pergi !”. Karena itu jangan coba-coba untuk mengajarkan bohong kepada anaknya, sebab Saudara akan diperlakukan seperti ini juga. Kadang-kadang ada berapa banyak di antara kita yang ‘bohong’ itu adalah makanan sehari-hari. Kalau tidak bohong rasanya tidak pas. Bertobat!

4. Selalu Ingin Dekat Dengan Orang Tuanya
Anak kecil selalu ingin dekat dengan orang tuanya. Saya ingin bertanya, apakah Saudara ingin dekat dengan Tuhan setiap saat? Kadang-kadang kita ingin dekat kalau ada hal-hal yang kira-kira, “Wah, masalah ini agak abu-abu. Tuhan, sebentar ya. Tuhan minggir sebentar, ini abu-abu.” Banyak yang kita lakukan seperti itu! Kalau Saudara ingin selalu dekat dengan Tuhan, itu artinya hati Saudara bersih dan hidupnya benar-benar kudus. Kita akan jaga terus dan tidak ada yang namanya ‘excuse’ seperti tadi, “Sebentar ya Tuhan, saya mau melakukan ini.”

5. Selalu Dituntun Orang Tuanya
Seorang anak selalu dituntun orang tuanya. Kita sebetulnya begitu, cuma kadang-kadang kita tidak peka. Kadang-kadang orang tua memanggil, ‘Hai kamu sini….sini…!”, mungkin ada anak yang bandel dan tidak mau ikut tetapi orang tuanya terus memanggil dan akhirnya si anak mau ikut. Sebetulnya Tuhan menghendaki kita dengan Dia seperti itu. Malah Dia mengirim malaikat-Nya untuk menatang kita supaya kaki kita tidak terantuk kepada batu. Tuhan Yesus seperti itu! Kadang-kadang kita yang tidak mau dekat dan tidak mau dituntun oleh Dia.

6. Percaya Kepada Orang Tuanya
Seorang anak itu percaya kepada orang tuanya, “Percaya…Papaku bisa! Mamaku bisa!”.
Tuhan Yesus sanggup membuat mujizat-Nya dan kita semua percaya, tetapi untuk ikut disitu, nanti dulu! Bukankah kita sering seperti itu?
Waktu kita sakit, nomor satu yang Saudara lakukan apa? Datang kepada Tuhan terlebih dulu atau mencari dokter yang hebat? Saya tidak anti dokter, sebab saya pun ke dokter. Tetapi yang nomor 1 kita harus mengandalkan Tuhan! Sedangkan dokter yang dipakai oleh Tuhan, kalau Tuhan tidak mengizinkan maka dokter sehebat apa pun tidak bisa menyembuhkan!
Saudara yang dikasihi Tuhan, apakah Saudara bisa seperti itu? Mungkin ada yang acuh tak acuh, atau mungkin ada yang berkata, “Enak saja, mana bisa begitu?”. Ini Firman! “Aku berkata kepadamu, sesungguhnya jika kamu tidak bertobat dan menjadi seperti anak kecil ini, kamu tidak akan masuk ke dalam Kerajaan Sorga.”
Tadi sudah saya katakan bahwa Tuhan mau mengajar, menasehati, dan menuntun kita melalui pengertian tentang angka 8 (Chet) tadi. Jadi tadi kita sudah renungkan bahwa yang pertama Chet adalah permulaan yang baru. Tetapi Chet itu bentuknya seperti pintu sbb:
Ini berbicara tentang pintu gerbang.
Tuhan Yesus dalam Yoh 10:9 berkata, “Akulah pintu; barangsiapa masuk melalui Aku, ia akan selamat dan ia akan masuk dan keluar dan menemukan padang rumput.” Memasuki Tahun Permulaan Yang Baru kita harus melalui pintu dan pintu itu adalah Tuhan Yesus. Supaya apa? Supaya kita selamat, kita bisa keluar masuk dan menemukan padang rumput. Ada berapa banyak yang mengerti akan hal ini?
Tuhan Yesus yang memegang kunci Daud dan Tuhan berkata, “Aku yang memegang kunci Daud, kalau Aku yang membuka, tidak ada seorang pun yang bisa menutup. Tetapi kalau Aku yang menutup, tidak ada yang bisa membuka!”.
Tuhan Yesus itu dahsyat! Ini janji bagi Saudara yang sedang mengalami masalah hari-hari ini. Pintu apa yang tertutup di hadapan Saudara? Dia sanggup membuka! Kalau Dia membuka, siapa yang sanggup menutup? Siapa saja tidak ada yang bisa, tetapi kalau Dia menutup, jangan coba-coba Saudara untuk membuka. Mau meminta bantuan siapa saja tetap tidak akan bisa terbuka. Amin! Kalau ada di antara Saudara yang sedang mengalami masalah, jangan kuatir! Apa yang tidak enak yang Saudara alami, nanti Tuhan akan kembalikan dengan berlipat-lipat untuk ganti yang tidak enak tadi. Amin!

Lukas 13:23-24, “Dan ada seorang yang berkata kepada-Nya: “Tuhan, sedikit sajakah orang yang diselamatkan?” Jawab Yesus kepada orang-orang di situ: “Berjuanglah untuk masuk melalui pintu yang sesak itu! Sebab Aku berkata kepadamu: Banyak orang akan berusaha untuk masuk, tetapi tidak akan dapat.”
Di Matius 7:13-14 Tuhan Yesus berkata, “Masuklah melalui pintu yang sesak itu, karena lebarlah pintu dan luaslah jalan yang menuju kepada kebinasaan, dan banyak orang yang masuk melaluinya; karena sesaklah pintu dan sempitlah jalan yang menuju kepada kehidupan, dan sedikit orang yang mendapatinya.”
Saya berdoa, kita semua termasuk yang sedikit tadi. Jangan percaya dengan apa kata orang-orang apalagi pengkhotbah-pengkhotbah yang tidak bertanggung jawab, “Gampang masuk Sorga!”. Tadi kita sudah baca sendiri, apakah gampang? Tidak gampang! Orang Kristen pun harus hati-hati karena:
1. Kita harus hidup melalui pertobatan yang sejati. Bukan yang main-main.
2. Penyangkalan diri untuk mengikut Yesus.
3. Berusaha sungguh-sungguh menurut perintah-Nya.
4. Sungguh-sungguh mencari Kerajaan Allah dan kebenaran-Nya.
5. Setia sampai akhir.

Saya ingat kisah Benny Hinn: di mana ketika dia mendapat satu penglihatan setelah selesai operasi jantung. Dia melihat satu antrian panjang orang-orang yang berpakaian putih. Di ujung sana ada pintu dan ada Tuhan Yesus. Di sebelah Tuhan Yesus ada seorang perempuan yang memainkan lagu dengan piano. Satu-persatu datang ke hadapan Tuhan Yesus. Kalau lagu yang dimainkan indah, maka tiba-tiba pintu Sorga terbuka, Tuhan Yesus tertawa dan orang itu masuk. Tetapi kalau lagunya menyeramkan, bukan pintu Sorga yang terbuka melainkan Iblis datang dan orang yang berpakaian putih itu dibawa! Waduh, Benny Hinn berdebar-debar! Sebelum dia maju ke hadapan Tuhan Yesus, dia melihat hanya 20% orang yang berpakaian putih yang masuk ke dalam pintu itu. Kalau saya mendapatkan yang seperti ini, saya percaya. Mengapa? Karena sesuai dengan Firman. Ada seorang yang bernama J.C. Ryle, dia adalah seorang Uskup atau Bishop dari Gereja Evangelical Anglican Inggris untuk kota Liverpool tahun 1880 – 1900. Dia menulis sebuah buku yang berjudul, “Old Paths”.
Chapter 3 buku tersebut berjudul, “Few Saved” (Sedikit yang diselamatkan). Buku ini ditulis bukan berdasarkan pernyataan penglihatan tetapi ini adalah pengajaran. Kalau Saudara membaca ini, maka di situ disebutkan:
1. Pengertian tentang keselamatan
2. Kesalahan pandangan tentang jumlah orang yang diselamatkan
3. Pandangan Alkitab tentang jumlah orang yang diselamatkan
4. Pandangan J.C. Ryle tentang orang yang diselamatkan.

Latar belakang teologi dari J.C. Ryle adalah Injili Anglican, ini bukan orang Pentakosta tetapi yang heran pahamnya sama dengan saya. Saudara perlu membaca ini, tetapi kalau Saudara repot untuk mencari bukunya, Saudara hanya tinggal ‘klik’ atau browsing di hmministry.id (‘klik’ di kolom Book Review). Di situ Saudara akan membaca saduran atau review dari buku ini. Saudara akan bisa baca dengan bahasa yang lebih sederhana. Ini perlu Saudara baca supaya Saudara lebih yakin bahwa keselamatan itu tidak main-main, karena hanya sedikit saja orang yang diselamatkan.
Saya setuju dengan apa yang ditulis dalam buku ini. Buku ini mengatakan begini, “Orang yang termasuk ‘yang sedikit yang diselamatkan’, kalau berkumpul dengan orang-orang yang namanya “Kristen”, dia akan merasa sendiri. Mengapa? Karena dia akan bertanya, “Yang mana yang benar, ya? Aku hidup sesuai dengan Firman Tuhan. Aku sungguh-sungguh, kenapa yang lain begini? Dan mereka semua meng-klaim bahwa mereka selamat. Yang salah saya atau mereka?” Saudara, ini pesan Tuhan: “Apa yang Saudara lakukan adalah bukti hidup tentang kebenaran yang Tuhan Yesus katakan.”
Dan dikatakan, “Jangan berpikir bahwa tujuan dan pekerjaan Tuhan Yesus di dunia digagalkan. Dia tetap memisahkan suatu umat untuk kemuliaan-Nya. Dan tetap membangkitkan saksi-saksi-Nya di seluruh dunia.”

Ketika orang-orang yang ‘sedikit’ ini masuk Sorga yaitu Saudara dan saya, maka akan ditemukan sesuai dengan Wahyu 7:9-10 sbb, “Kemudian dari pada itu aku melihat: sesungguhnya, suatu kumpulan besar orang banyak yang tidak dapat terhitung banyaknya, dari segala bangsa dan suku dan kaum dan bahasa, berdiri di hadapan takhta dan di hadapan Anak Domba, memakai jubah putih dan memegang daun-daun palem di tangan mereka. Dan dengan suara nyaring mereka berseru: “Keselamatan bagi Allah kami yang duduk di atas takhta dan bagi Anak Domba!” Amin.

Khotbah Pdt. DR. Ir. Niko Njotorahardjo, JCC – 4 Maret 2018

Other posts in Weekly Message: