MARANATHA

Home / Weekly Message / MARANATHA
MARANATHA

28 Mei 2017

“Ketika mereka sedang menatap ke langit waktu Ia naik itu, tiba-tiba berdirilah dua orang yang berpakaian putih dekat mereka, dan berkata kepada mereka: “Hai orang-orang Galilea, mengapakah kamu berdiri melihat ke langit? Yesus ini, yang terangkat ke sorga meninggalkan kamu, akan datang kembali dengan cara yang sama seperti kamu melihat Dia naik ke sorga.” (Kisah Para Rasul 1:10-11)
PERINTAH DAN JANJI YESUS
Sebelum kenaikan Yesus ke sorga, Yesus mengajak murid-murid pergi ke Bukit Zaitun, sebelah timur Yerusalem. Dia berkata kepada murid-murid-Nya bahwa mereka akan menerima kuasa kalau Roh Kudus turun ke atas mereka. Sesudah mengatakan demikian terangkatlah Dia ke sorga disaksikan oleh murid-murid-Nya. Setelah itu murid-murid-Nya kembali ke Yerusalem. Di sebuah kamar loteng mereka bertekun dengan sehati dalam doa bersama-sama menunggu janji Bapa mengenai Roh Kudus yang akan dicurahkan. Akhirnya ketika tiba hari Pentakosta, mereka mengalami baptisan Roh Kudus seperti yang Tuhan Yesus janjikan.
BAPA MENYAMBUT DI SORGA
Dalam khotbahnya di hari Pentakosta, Rasul Petrus mengatakan: “Sebab bukan Daud yang naik ke sorga, malahan Daud sendiri berkata: Tuhan telah berfirman kepada Tuanku: Duduklah di sebelah kanan-Ku, sampai Kubuat musuh-musuh-Mu menjadi tumpuan kaki-Mu.” (Kis 2:34-35)
Ini juga yang ditulis Daud dalam Mazmur 110:1. Bagaimana Daud mendapatkan kalimat itu dan menuliskannya? Roh Kuduslah yang memberi inspirasi kepada Daud dan juga Petrus untuk menyampaikannya. – “Sebab bukan Daud yang naik ke sorga.”
Ayat ini berkata bahwa yang naik ke sorga itu bukan Daud, melainkan Tuhan Yesus. Daud sudah mati dan kuburannya ada di Israel. Yesus mati di kayu salib, tetapi pada hari yang ketiga Dia bangkit dan naik ke sorga. Murid-muridlah yang menyaksikan Yesus terangkat ke atas. Malaikat pun menguatkan bahwa Yesus naik ke sorga. – “malahan Daud sendiri berkata: Tuhan telah berfirman kepada Tuanku,”
Daud menyebut kata “Tuhan” dan “Tuan” yang menggambarkan bahwa ada Tuhan yaitu Bapa dan Tuan yaitu Yesus dan bagaimana Bapa menyambut Yesus ketika Dia naik ke sorga.- “Duduklah di sebelah kanan-Ku.” Bapa mempersilahkan Yesus duduk di sebelah kanan-Nya. Stefanus menguatkan hal ini ketika melihat “Anak Manusia berdiri di sebelah kanan Allah.” (Kis 7:56) – “sampai Kubuat musuh-musuh-Mu menjadi tumpuan kaki-Mu.”
Yesus telah mengalahkan musuh-musuhNya. “Mari kita pergi ke kediaman-Nya, sujud menyembah pada tumpuan kaki-Nya” (Mazmur 132:7). Raja yang kalah akan menyembah raja yang menang.
KEHENDAK BAPA YANG DUDUK DI TAKHTA
Orang yang tidak percaya menjadikan dirinya musuh Allah. Kehendak Bapa adalah musuh-musuh akan berbalik menjadi penyembah. Sejak menusia pertama diciptakan dan kemudian mereka jatuh dalam dosa. Mereka menjadi musuh Tuhan; hidup memberontak dalam pengaruh Iblis dan memuaskan keinginan hatinya yang cemar. Bapa menghendaki manusia kembali menjadi penyembah-Nya karena Dia mengasihi manusia. Yesus mati di salib dan bangkit sebagai tanda kemenanganNya atas maut dan atas penguasa maut yaitu iblis.
ROH KUDUS DIUTUS DARI YERUSALEM KE SEGALA TEMPAT
Yesus naik ke sorga dan duduk di sebelah kanan Allah Bapa, Roh Kudus diutus untuk melakukan kehendak Bapa. Roh Kudus datang; memenuhi murid-murid yang sedang berdoa di upper room dan memberikan mereka kuasa untuk memberitakan Injil. Kisah 1:8
Yoh 16:13 menuliskan bahwa Roh Kudus memenuhi murid-murid-Nya dan mengubah mereka menjadi saksi Kristus.
Setelah murid-murid menerima kuasa Roh Kudus maka Petrus mulai berkhotbah di loteng Yerusalem. Ada 3000 orang yang percaya kepada Yesus dan termasuk orang-orang yang beberapa minggu sebelumnya menyalibkan Yesus. Amanat Tuhan Yesus adalah agar murid-murid memberitakan Injil ke seluruh dunia. Dimulai dari Yerusalem, dan di seluruh Yudea, Samaria dan sampai keujung bumi untuk menjadikan ‘musuh-musuh Kristus’ sebagai tumpuan kaki Kristus yaitu penyembah-penyembah Kristus.
PERTUMBUHAN IMAN YANG MENYELURUH
“Marilah kita mencapai kesatuan iman, pengtetahuan yang benar tentang Anak Allah,
kedewasaan penuh, dan tingkat pertumbuhan yang sesuai dengan kepenuhan Kristus.”
Efesus 4:13
“Kamu telah menerima Kristus Yesus, Tuhan kita. Karena itu hendaklah hidupmu tetap di dalam Dia. Hendaklah kamu berakar di dalam Dia dan dibangun di atas Dia, hendaklah kamu bertambah teguh dalam iman yang telah diajarkan kepadamu, dan hendaklah hatimu melimpah dengan syukur. Hati-hatilah, supaya jangan ada yang menawan kamu dengan filsafatnya yang kosong dan palsu menurut ajaran turun-temurun dan roh-roh dunia, tetapi tidak menurut Kristus.” Kolose 2:6-8
Secara jasmani kita tidak bisa melahirkan diri sendiri, secara rohanipun berlaku kebenaran yang sama. Rasul Paulus menuliskan bahwa setiap orang memerlukan orang lain yang dapat membantunya bertumbuh ke arah pengenalan yang lebih dalam tentang Kristus untuk menjadi serupa denganNya.
Bagaimana seseorang bisa percaya kepada Tuhan Yesus? Iman timbul dari pendengaran akan Firman Allah. Iman didukung oleh kebenaran-kebenaran yang diwariskan dari hasil perjumpaan pribadi manusia dengan Allah berupa mukjizat, perubahan hidup, tulisan-tulisan yang diilhami di dalam Perjanjian Lama.
1. Iman yang obyektif haruslah dipelihara dengan baik karena banyak orang berusaha untuk menyelewengkan iman yang obyektif ini dan menggantikannya dengan dongeng (1 Tim 1:4,4:7; 2 Tim 4:4; Tit 1:14; 2 Pet 1:16). Memang dongeng kelihatannya lebih menarik dan lebih memberi kebebasan interpretasi dan tidak bersifat preskriptif/mengatur perilaku. Itulah sebabnya Paulus berkali-kali menasihatkan murid-murid-Nya untuk menolak guru-guru palsu dan memelihara iman kita bersama “yang historic dan obyektif” (Rm 1:12; Tit 1:4)
2. Aspek Iman yang Subjektif (Subjective Aspect) Sebagai orang Kristen, kita harus bisa menjaga kemurnian iman kita tidak hanya dari aspek obyektif tetapi dari aspek subyektif Anda secara pribadi harus memiliki pengalaman bersama dengan Kristus. Contoh: 1 Yoh 2:12-24, 3:1, 3:6. Paulus pun menulis; “Yang kuingini ialah mengenal Dia dan kuasa kebangkitan-Nya dan persekutuan dalam penderitaan-Nya di mana aku menjadi serupa dengan Dia dalam kematian-Nya.” (Fil 3:10)
Sebagai orang Farisi, Paulus memiliki seperangkat kebenaran objektif yang diketahuinya sebagai hasil pendidikan yang diterimanya, namun kerinduannya yang paling dalam ialah mengalami perjumpaan dengan Kristus senantiasa di dalam kehidupannya. Aspek subjektif dalam iman inilah yang menjadikan kita sungguh-sungguh disebut orang Kristen. Namun seringkali dilupakan ada aspek ketiga di dalam iman yaitu Aspek Kolektif.
3.Aspek Kolektif (Collective Aspect)
Aspek Kolektif ini adalah keteladanan yang dilihat oleh seseorang percaya di dalam hidup mentor/teladan iman yang dimiliki di dalam hidupnya. Hampir dapat dikatakan bahwa tanpa aspek ini tidak mungkin seseorang dapat bertumbuh di dalam iman.
Di dalam kehidupan Timotius, Paulus berkata bahwa iman yang dimiliki oleh Timotius pertama-tama diwariskan dari Louis neneknya dan Eunike ibunya, dan kemudian ditindaklanjuti ketika Paulus menjadi mentor bagi Timotius. Paulus juga berkata bahwa jemaat-jemaat haruslah mengikuti teladannya pada saat Paulus dan tim nya hidup di tengah-tengah mereka. (Fil 3:17; 1 Tes 1:6)
Seorang pemimpin rohani harus berusaha keras untuk menunjukkan gaya hidup yang patut diteladani karena suka atau tidak suka gaya hidup mereka akan berdampak kepada orang-orang yang ada di bawah mereka. Bahkan Tuhan Yesus sendiri pun di dalam doa sebagai imam besar berkata bahwa Ia menguduskan diri-Nya bagi mereka (murid-murid-Nya) supaya mereka dikuduskan dalam kebenaran (Yoh 17:19).
Perhatikan jika seseorang hanya memiliki aspek objektif dan aspek kolektif dalam iman mereka, maka ia mungkin banyak mengerti tentang firman Tuhan/kebenaran dan dia beruntung karena memiliki banyak orang di sekitarnya yang dapat berfungsi sebagai teladan, tetapi ia sendiri tidak pernah mengalaminya secara pribadi, maka ia akan bertumbuh menjadi orang Kristen yang kering. Jika seseorang hanya memiliki aspek objektif dari iman dan aspek subjektif tetapi tidak memiliki aspek kolektif, maka orang ini kelihatannya dapat memiliki pengetahuan yang benar tentang iman Kristen tetapi sebenarnya ia tidak pernah bertumbuh karena ia tidak pernah dimuridkan oleh siapapun.
Ia tidak memiliki teladan dalam hidup dan tidak memiliki akuntabilitas kepada siapapun.
Ajaran sesat muncul ketika seseorang hanya memiliki aspek kolektif dan aspek subjektif tetapi tidak memiliki aspek objektif dalam iman. Marilah kita memperhatikan secara seksama ketiga aspek iman ini. Jangan hanya memiliki satu bahkan hanya dua, tetapi ketiga hal ini harus ada di dalam kehidupan kita secara seimbang supaya pertumbuhan iman kita sehat ke arah keserupaan dengan Kristus sambil menunggu kedatanganNya. (1 Tim 4:15-16). MARANATHA!

Other posts in Weekly Message: