KETAATAN SEBAGAI BENIH UNTUK DAPAT MENUAI YANG TERBAIK

Home / Weekly Message / KETAATAN SEBAGAI BENIH UNTUK DAPAT MENUAI YANG TERBAIK
KETAATAN SEBAGAI BENIH UNTUK DAPAT MENUAI YANG TERBAIK

30 April 2017

Selama sebulan ini kita sudah belajar tentang hal menabur dan me-nuai yang sesuai dengan kebenaran firman Tuhan. Salah satunya dikatakan bahwa orang yang menabur sedikit, akan menuai sedikit juga, dan orang yang menabur banyak, akan menuai banyak juga (2 Korintus 9:6).
Berarti kita mengerti bahwa ukuran yang kita pakai untuk mengukur akan diukurkan kepada kita di samping itu akan ditambah lagi kepada kita (Markus 4:24). Siapa menabur dalam daging akan menuai kebinasaan dan siapa menabur dalam Roh akan menuai damai sejahtera dan hidup yang kekal. Dan hendaklah kita memilih untuk menabur dalam Roh dan bukan sebaliknya. Tetapi perlu juga diperhatikan ada ayat firman Tuhan lain yang mengatakan demikian :
Kamu menabur banyak, tetapi membawa pulang hasil sedikit; kamu makan, tetapi tidak sampai kenyang; kamu minum, tetapi tidak sampai puas; kamu berpakaian, tetapi badanmu tidak sampai panas; dan orang yang bekerja untuk upah, ia bekerja untuk upah yang ditaruh dalam pundi-pundi yang berlobang! (Hagai 1:6).

Tampaknya seolah-olah ayat firman tersebut bertentangan dengan ‘siapa menabur banyak akan menuai banyak’. Tetapi apakah benar bertentangan? Tentu saja firman Tuhan ya dan amin, tidak akan pernah bertentangan satu dengan yang lainnya. Itu perlunya kita membaca firman Tuhan secara keseluruhan dan bukan hanya sepenggal atau sebagian saja. Mari kita pelajari melalui pengalaman bangsa Israel setelah mereka pulang dari pembuangan selama 70 tahun di Babel dan diperintahkan Tuhan untuk membangun kembali Bait Suci; dalam hal yang bagaimana dan mengapa seseorang yang menabur banyak tetapi membawa pulang hasil yang sedikit. Jawabannya ada di dalam ayat 9-11 : Kamu mengharapkan banyak, tetapi hasilnya sedikit, dan ketika kamu membawanya ke rumah, Aku menghembuskannya. Oleh karena apa? demikianlah firman TUHAN semesta alam. Oleh karena rumah-Ku yang tetap menjadi reruntuhan, sedang kamu masing-masing sibuk dengan urusan rumahnya sendiri. Itulah sebabnya langit menahan embunnya dan bumi menahan hasilnya, dan Aku memanggil kekeringan datang ke atas negeri, ke atas gunung-gunung, ke atas gandum, ke atas anggur, ke atas minyak, ke atas segala yang dihasilkan tanah, ke atas manusia dan hewan dan ke atas segala hasil usaha.

Tuhan menggerakkan hati raja Koresy dari Persia untuk memerintahkan 50.000 orang Yahudi buangan kembali ke Yerusalem untuk membangun kembali Bait Suci yang telah hancur. Pada tahun kedua setelah kepulangan mereka ke Yerusalem dasar Bait Suci pun diletakkan. Akan tetapi karena mengalami tantangan maka pekerjaan di Bait Suci itu dihentikan (Ezra 4:1-5,24), dan setelah itu bangsa Yahudi tersebut menjadi acuh-tak acuh secara rohani, menghentikan dan menelantarkan pembangunan itu selama 16 tahun.

Mereka melupakan Tuhan dan tidak taat melakukan kehendakNya; sebaliknya mereka sibuk berjerih lelah untuk urusan pembangunan rumahnya masing-masing (rumah mereka dibangun dengan kayu aras, suatu kayu dengan mutu yang sangat baik). Mereka berdalih bahwa belum tiba waktunya membangun kembali rumah Tuhan. Padahal di awal mereka bersemangat memulai pembangunan Bait Suci, tetapi karena mengalami tantangan akhirnya pembangunan dihentikan dari jaman raja Koresy sampai pada tahun ke dua pemerintahan raja Darius. Akhirnya Tuhan menegur sikap acuh tak acuh dan ke-egoisan mereka yang tidak mendahulukan Tuhan melalui nabi Hagai untuk diteruskan kepada Zerubabel dan imam besar Yosua agar kembali melanjutkan pembangunan Bait Suci. Tuhan menegur umat-Nya melalui pemimpin dan teguran Tuhan itu sesuatu hal yang sangat penting yang harus kita perhatikan. Tanggapi dengan sikap hati yang terbuka dan bukan dengan kemarahan atau dengan sikap masa bodoh, karena tujuannya adalah untuk kebaikan kita sendiri dan agar Tuhan tidak terhalang dalam mencurahkan berkat penuaian dan pelipatgandaan dari apa yang telah kita tabur.

Kita belajar bahwa segala sesuatu yang kita lakukan kalau tidak mendahulukan Tuhan dan kehendak-Nya maka semua usaha jerih lelah kita adalah sia-sia seperti bekerja untuk upah yang ditaruh di pundi-pundi berlubang di mana kita tidak dapat menikmati hasil tuaiannya.
Carilah dahulu Kerajaan Allah dan kebenarannya maka semuanya akan ditambahkan kepada kita (Matius 6:33) itu sebenarnya merupakan cara Tuhan untuk memberkati kita. Mungkin ada yang berpendapat bahwa tanpa Tuhan pun dalam hidupnya, orang bisa menjadi kaya, sepertinya banyak pencapaian (achievements) dan kesuksesan yang dia raih dalam hidupnya. Hal ini seperti orang Yahudi yang pulang dari pembuangan dan mampu membangun rumahnya masing-masing dari kayu aras yang melambangkan kemakmuran. Tetapi toh hasil kerja keras mereka Tuhan hembuskan sehingga apa yang mereka tabur hanya membuahkan hasil yang sangat sedikit. Ini bukanlah kemakmuran atau kesuksesan atau kelimpahan yang sesungguhnya. Kalau merasa sukses hanya di hal materi dan finansial sementara aspek kehidupan yang lain terbengkalai maka ini bukanlah jatah berkat penuaian yang sesungguhnya yang Tuhan sudah sediakan bagi kita.

Berkat Tuhan bukan hanya bicara masalah materi atau finansial tetapi menyangkut semua hal yang kita perlukan untuk kemuliaan Nama-Nya – jadi lebih dari hanya sekedar materi atau finansial saja. Berkat-berkat lainnya yang kita perlukan adalah damai sejahtera sukacita; perlindungan; keamanan; kesehatan jiwa dan fisik; hikmat surgawi; hati yang taat dan dimampukan untuk melakukan kehendak Tuhan; kemampuan untuk melakukan perkara yang semakin besar; keteguhan hati untuk bertekun; kesanggupan untuk menanggung segala perkara; kuasa otoritas; menjadi kepala dan bukan ekor; promosi; keberhasilan dalam membina keluarga usaha, pekerjaan, pelayanan; kesembuhan, kelepasan dari setiap ikatan; pemulihan dan kelimpahan (seperti dalam Ulangan 28:1-14).

Dan Allah sanggup melimpahkan segala kasih karunia kepada kamu, supaya kamu senantiasa berkecukupan di dalam segala sesuatu dan malah berkelebihan di dalam pelbagai kebajikan. Seperti ada tertulis: “Ia membagi-bagikan, Ia memberikan kepada orang miskin, kebenaran-Nya tetap untuk selamanya.” Ia yang menyediakan benih bagi penabur, dan roti untuk dimakan, Ia juga yang akan menyediakan benih bagi kamu dan melipatgandakannya dan menumbuhkan buah-buah kebenaranmu; kamu akan diperkaya dalam segala macam kemurahan hati, yang membangkitkan syukur kepada Allah oleh karena kami (2 Korintus 9:8-11).
Semuanya merupakan hal yang tidak dapat dibeli dengan uang dan hanya dapat diperoleh karena anugerah Tuhan semata. Kemampuan untuk menabur lebih banyak akan diberikan sehingga mengalami pelipatgandaan tuaian. Berkat Tuhanlah yang menjadikan kaya, susah payah tidak akan menambahinya.

Jika kita menjadikan Tuhan sebagai yang terutama di hidup kita serta mau taat melakukan kehendak-Nya maka berkat-berkat seperti di ataslah yang otomatis akan mengejar kita. Apa saja yang kita kerjakan akan Tuhan buat berhasil. Itu merupakan janji Tuhan sendiri dan Dia mengikatkan Diri-Nya sendiri dengan sumpah untuk memperkuat apa yang Dia janjikan pasti akan digenapi.
Karena itu, untuk lebih meyakinkan mereka yang berhak menerima janji itu akan kepastian putusan-Nya, Allah telah mengikat diri-Nya dengan sumpah, supaya oleh dua kenyataan yang tidak berubah-ubah, tentang mana Allah tidak mungkin berdusta, kita yang mencari perlindungan, beroleh dorongan yang kuat untuk menjangkau pengharapan yang terletak di depan kita. Pengharapan itu adalah sauh yang kuat dan aman bagi jiwa kita, yang telah dilabuhkan sampai ke belakang tabir (Ibrani 6:17-10).

PENUTUP
Salah satu syarat untuk kita dapat menuai adalah kekuatan hati untuk tidak menjadi lemah dan tawar hati; karena apabila sudah tiba waktunya kita akan menuai yang kita tabur. Jangan berhenti menabur benih yang baik walaupun sepertinya hasil belum terlihat, bertekun dalam mengasihi Tuhan, bertekun dalam kesabaran, bertekun dalam kebenaran dan menabur dalam Roh, bertekun dalam doa, bertekun dalam menanggung segala perkara, bertekun dalam menundukkan kedagingan dan bertekun sampai garis akhir karena waktu untuk menuai itu ada. Mendahulukan Tuhan dan melakukan kehendak-Nya adalah benih terbaik yang akan menghasilkan mukjijat penuaian dan pelipatgandaan. Dalam persekutuan kita dengan Tuhan, jerih payah kita tidak akan sia-sia.
Tuhan Yesus menyertai dan memberkati kehidupan saudara, Amen.

Other posts in Weekly Message: