IMAN DAN PERBUATAN TIDAK TERPISAHKAN

Home / Weekly Message / IMAN DAN PERBUATAN TIDAK TERPISAHKAN
IMAN DAN PERBUATAN TIDAK TERPISAHKAN

5 November 2017

“Sebab seperti tubuh tanpa roh adalah mati, demikian jugalah iman tanpa perbuatan-perbuatan adalah mati.”Yakobus 2:26

Paulus menulis dalam Roma 3:28, “Karena kami yakin, bahwa manusia dibenarkan karena iman, dan bukan karena ia melakukan hukum Taurat.” Sedangkan Yakobus menuliskan dalam Yakobus 2:24, “Jadi kamu lihat, bahwa manusia dibenarkan karena perbuatan-perbuatannya dan bukan hanya karena iman.”
Kedua tulisan ini seringkali dipertanyakan, karena sepintas seolah-olah seperti bertentangan. Paulus menyatakan bahwa manusia dibenarkan karena iman sedangkan Yakobus berkata manusia dibenarkan karena perbuatannya dan bukan hanya karena iman.
Yang harus kita percaya dan mengerti adalah bahwa Firman Tuhan tidak ada yang bertentangan satu sama lainnya. Kanon Alkitab adalah sebuah keselarasan yang sempurna dan sudah teruji. Yang kita butuhkan adalah pemahaman yang baik dan utuh untuk bisa melihat bahwa sebetulnya Yakobus tidak menentang Paulus, tetapi sebaliknya justru mendukung Paulus.

Seperti yang dijelaskan dalam kitab Roma, manusia dibenarkan karena iman. Iman kepada Tuhan Yesus Kristus itulah yang membenarkan dan menyelamatkan seseorang. Ditegaskan juga dalam Yohanes 3:16: “… supaya setiap orang yang percaya kepada-Nya tidak binasa, melainkan beroleh hidup yang kekal.”
Kejadian 15:6 menyatakan “Lalu percayalah Abram kepada TUHAN, maka TUHAN memperhitungkan hal itu kepadanya sebagai kebenaran.“ Jelas bahwa karena Abraham percaya maka Abraham dibenarkan.
Yakobus pun mengutip Kejadian 15:6 di dalam suratnya di Yakobus 2:23. Yakobus sama sekali tidak menentang pernyataan Paulus mengenai keselamatan oleh karena iman. Yakobus justru menekankan dan menjelaskan iman seperti apa yang menyelamatkan itu. Iman sejati yang dibuktikan melalui perbuatan. Iman yang nyata, bukan sekedar ucapan mulut seseorang yang mengaku percaya tetapi tidak bisa dipertanggungjawabkan. Bukti dari sebuah perkataan adalah tindakan, demikian juga bukti dari perkataan iman adalah tindakan iman. Orang yang sungguh-sungguh percaya kepada Kristus akan terlihat imannya melalui perbuatan yang dia lakukan.
Yakobus 2:18b: “…Tunjukkanlah kepadaku imanmu itu tanpa perbuatan, dan aku akan menunjukkan kepadamu imanku dari perbuatan-perbuatanku.”

Dalam Ibrani 11:17-19 dijelaskan; karena Abraham percaya bahwa Allah sanggup membangkitkan orang dari antara orang mati maka karena kepercayaannya ini Abraham bertindak sesuai dengan perintah Allah untuk mempersembahkan anaknya, Ishak. Jadi iman yang sejati seharusnya terlihat di dalam perbuatan.
Seperti sebuah kisah tentang seorang yang berjalan di atas seutas kawat baja, di atas air terjun. Dia membuktikan kemampuannya untuk menyeberangi air terjun tersebut hanya dengan menggunakan seutas kawat baja dan dia selamat sampai di seberang. Kemudian dia berkata kepada setiap orang yang menyaksikan pertunjukan itu: “Percayakah kalian bahwa saya juga sanggup menyeberangi air terjun ini dengan membawa satu orang di atas pundak saya?” Banyak dari mereka percaya akan kemampuan orang ini. Tetapi ketika ditantang satu orang sukarelawan untuk dapat membuktikan kemampuannya itu, tidak seorangpun yang bersedia menjadi sukarelawan. Sampai ada seorang anak kecil yang tiba-tiba bersedia menjawab tantangan itu, kemudian mereka berdua berhasil menyeberangi air terjun itu dengan selamat. Ternyata anak itu adalah anaknya sendiri. Dari kisah ilustrasi di atas, kita bisa melihat bahwa kepercayaan anak itu kepada ayahnya dibuktikan dengan tindakan yang nyata. Demikianlah iman kita kepada Tuhan harus dibuktikan dengan tindakan yang nyata.
Jadi kita dibenarkan dan diselamatkan karena iman, dan iman kita dinyatakan melalui perbuatan. Inilah maksud dari Yakobus ketika dia menulis: “Jadi kamu lihat, bahwa manusia dibenarkan karena perbuatan-perbuatannya dan bukan hanya karena iman.” (Yakobus 2:24)

Sebab itu nyatakanlah iman kita dalam tindakan-tindakan nyata, antara lain:
1. Perubahan Karakter Dan Sikap Hidup
• “Janganlah kamu menjadi serupa dengan dunia ini, tetapi berubahlah oleh pembaharuan budimu.” (Roma 12:2a)
• “Sebab semua orang yang dipilih-Nya dari semula, mereka juga ditentukan-Nya dari semula untuk menjadi serupa dengan gambaran Anak-Nya, supaya Ia, Anak-Nya itu, menjadi yang sulung di antara banyak saudara.” (Roma 8:29)
• “Dan kita semua mencerminkan kemuliaan Tuhan dengan muka yang tidak berselubung. Dan karena kemuliaan itu datangnya dari Tuhan yang adalah Roh, maka kita diubah menjadi serupa dengan gambar-Nya, dalam kemuliaan yang semakin besar.” (2 Korintus 3:18)
2. Mengerjakan Keselamatan Dalam Ketaatan
“Hai saudara-saudaraku yang kekasih, kamu senantiasa taat; karena itu tetaplah kerjakan keselamatanmu dengan takut dan gentar, … karena Allahlah yang mengerjakan di dalam kamu baik kemauan maupun pekerjaan menurut kerelaan-Nya.” (Filipi 2:12-13)
3. Perbuatan Baik untuk Kemuliaan Allah
• “Milikilah cara hidup yang baik di tengah-tengah bangsa-bangsa bukan Yahudi, supaya apabila mereka memfitnah kamu sebagai orang durjana, mereka dapat melihatnya dari perbuatan-perbuatanmu yang baik dan memuliakan Allah pada hari Ia melawat mereka.” (1 Petrus 2:12)
• “Demikianlah hendaknya terangmu bercahaya di depan orang, supaya mereka melihat perbuatanmu yang baik dan memuliakan Bapamu yang di sorga.” (Matius 5:16)
Syarat keselamatan adalah iman, dan perbuatan iman adalah bukti keselamatan. Iman yang sejati menghasilkan pembaharuan hati oleh karya Roh Kudus dan pembaharuan itu terpancar melalui perbuatan. Tidak ada pemisahan antara iman dan perbuatan, melainkan iman bekerjasama dengan perbuatan dan oleh perbuatan, iman itu menjadi sempurna (Yakobus 2:22). (BM)
“Sebab karena kasih karunia kamu diselamatkan oleh iman; itu bukan hasil usahamu, tetapi pemberian Allah, itu bukan hasil pekerjaanmu: jangan ada orang yang memegahkan diri. Karena kita ini buatan Allah, diciptakan dalam Kristus Yesus untuk melakukan pekerjaan baik, yang dipersiapkan Allah sebelumnya. Ia mau, supaya kita hidup di dalamnya.” (Efesus 2:8-10)

IMAN HARUS DIKEMBANGKAN UNTUK MEMASUKI KERAJAAN KEKAL
Karena itu, saudara-saudaraku,berusahalah sungguh-sungguh, supaya panggilan dan pilihanmu makin teguh. Sebab jikalau kamu melakukannya, kamu tidak akan pernah tersandung. Dengan demikian kepada kamu akan dikaruniakan hak penuh untuk memasuki Kerajaan kekal, yaitu Kerajaan Tuhan dan Juruselamat kita, Yesus Kristus (2 Petrus 1:10-11).
Adalah suatu kasih karunia yang sangat besar jika kita menyadari bahwa kita dikaruniakan iman percaya untuk dapat menerima Yesus Kristus sebagai Tuhan dan Juruselamat kita. Kalau kita dapat mempercayai karya keselamatan yang Tuhan Yesus lakukan bagi kita secara pribadi, itu sungguh bukan hasil usaha kita. Bukan karena kita mampu percaya dengan kekuatan sendiri tetapi karena kita dikaruniakan iman untuk mempercayainya. Sesuai dengan kerelaan kehendak Allah di dalam Kristus Yesus, kita adalah orang-orang yang telah dipilih Allah sebelum dunia dijadikan untuk melakukan pekerjaan yang baik. Sebelum kita lahir ke dunia, kita telah dipanggil, dipilih, dibenarkan dan dimuliakan-Nya (Roma 8:28-30). Kita ini adalah buatan Allah, bukan hanya diciptakan sebagai manusia, tetapi sudah menjadi ciptaan baru di dalam Kristus Yesus, sebagai orang-orang kudus Tuhan.

Sebagai orang yang telah dipanggil dan dipilih, tanggung jawab kita adalah mengembangkan iman percaya yang Tuhan sudah berikan. Iman percaya kita harus berpadanan dengan panggilan itu. Iman tanpa perbuatan adalah mati, orang percaya dibenarkan bukan hanya karena iman saja tetapi juga harus disertai dengan perbuatan yang dihasilkan oleh iman yang hidup.
Karena kuasa ilahi-Nya telah menganugerahkan kepada kita segala sesuatu yang berguna untuk hidup yang saleh oleh pengenalan kita akan Dia, yang telah memanggil kita oleh kuasa-Nya yang mulia dan ajaib.
Dengan jalan itu Ia telah menganugerahkan kepada kita janji-janji yang berharga dan yang sangat besar, supaya olehnya kamu boleh mengambil bagian dalam kodrat ilahi, dan luput dari hawa nafsu duniawi yang membinasakan dunia.
Justru karena itu kamu harus dengan sungguh-sungguh berusaha untuk menambahkan kepada imanmu kebajikan, dan kepada kebajikan pengetahuan, dan kepada pengetahuan penguasaan diri, kepada penguasaan diri ketekunan, dan kepada ketekunan kesalehan, dan kepada kesalehan kasih akan saudara-saudara, dan kepada kasih akan saudara-saudara kasih akan semua orang. Sebab apabila semuanya itu ada padamu dengan berlimpah-limpah, kamu akan dibuatnya menjadi giat dan berhasil dalam pengenalanmu akan Yesus Kristus, Tuhan kita (2 Petrus 1: 3-8).

Berdasarkan ayat ini, ada tujuh sifat yang harus ditambahkan atau dikembangkan dalam kehidupan iman orang percaya :
1. Kebajikan.
Watak/sifat dan karakter yang mengarah kepada moral goodness atau moral excellence. Segala yang benar, mulia, adil, suci, semua yang manis (things are lovely), semua yang sedap didengar (things are of good report), semua yang patut dipuji (anything praiseworthy) seperti yang ditulis Paulus dalam Filipi 4:8.
2. Pengetahuan.
Di dalam Kristus, tersebunyi segala harta hikmat dan pengetahuan. Sifat hikmat surgawi adalah murni (sesuai dengan kebenaran firman, di mana kita memperoleh pengertian atau pewahyuan akan kebenaran dan kehendak Tuhan), pendamai, peramah, penurut, penuh belas kasihan dan buah-buah yang baik, tidak memihak dan tidak munafik (Yakobus 3:17). Tambahkan kebajikan/moral excellence kepada iman kita untuk meraih pengetahuan dan hikmat surgawi.
3. Penguasaan diri.
Bahasa Yunani untuk penguasaan diri dalam Galatia 5:23 adalah “egkrateia” artinya “temperance”: seseorang yang dapat mengendalikan keinginan, gairah dan hasrat ke-dagingannya. Tambahkan kebajikan/moral excellence kepada iman kita untuk dapat menguasai diri.
4. Ketekunan.
Yaitu sifat yang memiliki daya tahan dalam menanggung segala perkara, ketabahan untuk bertahan di dalam tekanan, kesabaran dalam ujian iman, kesabaran dalam menanti pertolongan Tuhan. Tambahkan kebajikan/moral excellence kepada iman kita untuk bertekun.
5. Kesalehan.
Tambahkan kebajikan/moral excellence kepada iman kita untuk mengasihi Tuhan ALLAH dengan ketulusan segenap hati dan memiliki rasa hormat dan takut akan Dia. Kita menyembah dan taat kepada Tuhan karena kita telah menerima kasih-Nya.
6. Kasih akan saudara seiman.
Seseorang yang telah menerima kasih Allah pasti akan mampu mengasihi saudara seiman. Karena kasih Allah telah dicurahkan di dalam hati setiap orang percaya yaitu Roh Kudus yang di dalam kita. Kasih adalah tindakan iman (bukan feeling/mood/perasaan) untuk memberi dan bukan menuntut.
7. Kasih akan semua orang.
Kasih Kristus (kasih Agape), unconditional love, yang juga dikembangkan kepada bukan hanya sebatas saudara seiman tetapi kepada semua orang.

Ke tujuh sifat ini tidak terjadi dengan sendirinya, harus kita yang berusaha dengan sungguh-sungguh dalam kasih karunia Allah untuk menambahkannya kepada iman kita. Jika kita tidak berusaha dengan sungguh untuk melakukannya, kita dapat menjadi buta dan picik serta dapat lupa diri bahwa kita diselamatkan dan dosa-dosa kita telah diampuni hanya karena kasih karunia oleh iman yang telah dianugerahkan kepada kita. Tiap-tiap orang harus memperhatikan bagaimana harus membangun iman kita di atas dasar yang telah diletakkan para rasul dan nabi, yaitu Yesus Kristus.
Entahkah orang membangun di atas dasar ini dengan emas, perak, batu permata, kayu, rumput kering atau jerami, sekali kelak pekerjaan masing-masing orang akan nampak. Karena hari Tuhan akan menyatakannya, sebab ia akan nampak dengan api dan bagaimana pekerjaan masing-masing orang akan diuji oleh api itu (1 Korintus 3:12-13).

Dalam pengenalan kita akan Allah, kita telah mengalami kuasa ilahi-Nya yang memampukan kita untuk hidup saleh. Ia telah menganugerahkan janji-janjiNya yang berharga dan sangat besar supaya kita dapat mengambil bagian dalam kekudusan-Nya dan kuasa ilahi-Nya meluputkan kita dari semua hawa nafsu kedagingan yang membinasakan dunia ini. Kembangkan iman kita agar kita bertumbuh dalam segala hal ke arah Kristus yang adalah Kepala, mencapai kedewasaan penuh dan dapat dipergunakan sebagai batu hidup untuk pembangunan suatu rumah rohani yaitu tubuh Kristus. Dengan demikian, kita akan dikaruniai hak penuh untuk memasuki Kerajaan kekal, yaitu Kerajaan Tuhan dan Juruselamat kita, Yesus Kristus. Amin.

Other posts in Weekly Message: