DIA YESUS SEGALANYA BAGI KITA

Home / Monthly Theme / DIA YESUS SEGALANYA BAGI KITA
DIA YESUS SEGALANYA BAGI KITA

Maret 2018

“Ia adalah gambar Allah yang tidak kelihatan, yang sulung, lebih utama dari segala yang diciptakan, karena di dalam Dialah telah diciptakan segala sesuatu, yang ada di sorga dan yang ada di bumi, yang kelihatan dan yang tidak kelihatan, baik singgasana, maupun kerajaan, baik pemerintah, maupun penguasa; segala sesuatu diciptakan oleh Dia dan untuk Dia.”
Kolose 1:15-16

Pada waktu saya mempersiapkan firman, saya mendapat ayat dalam Mazmur 41:1-4, “Berbahagialah orang yang memperhatikan orang lemah! TUHAN akan meluputkan dia pada waktu celaka. TUHAN akan melindungi dia dan memelihara nyawanya, sehingga ia disebut berbahagia di bumi ini; Engkau takkan membiarkan dia dipermainkan musuhnya! Tuhan membantu dia di ranjangnya waktu sakit; di tempat tidurnya Kaupulihkannya sama sekali dari sakitnya.”
Tujuan dari gereja ini adalah untuk memberkati orang lain, khususnya untuk orang-orang yang kekurangan yang harus kita tolong, terlebih bahagia memberi dari pada menerima. Di bulan Maret ini Tuhan memberikan pesan bahwa Ia adalah segalanya bagi kita.
Kolose 1:15-23, “Ia adalah gambar Allah yang tidak kelihatan, yang sulung, lebih utama dari segala yang diciptakan, karena di dalam Dialah telah diciptakan segala sesuatu, yang ada di sorga dan yang ada di bumi, yang kelihatan dan yang tidak kelihatan, baik singgasana, maupun kerajaan, baik pemerintah, maupun penguasa; segala sesuatu diciptakan oleh Dia dan untuk Dia. Ia ada terlebih dahulu dari segala sesuatu dan segala sesuatu ada di dalam Dia. Ialah kepala tubuh, yaitu jemaat. Ialah yang sulung, yang pertama bangkit dari antara orang mati, sehingga Ia yang lebih utama dalam segala sesuatu. Karena seluruh kepenuhan Allah berkenan diam di dalam Dia. Dan oleh Dialah Ia memperdamaikan segala sesuatu dengan diri-Nya, baik yang ada di bumi maupun yang ada di sorga, sesudah Ia mengadakan pendamaian oleh darah salib Kristus. Juga kamu yang dahulu hidup jauh dari Allah dan yang memusuhi-Nya dalam hati dan pikiran seperti yang nyata dari perbuatanmu yang jahat, sekarang diperdamaikan-Nya, di dalam tubuh jasmani Kristus oleh kematian-Nya, untuk menempatkan kamu kudus dan tak bercela dan tak bercacat di hadapan-Nya. Sebab itu kamu harus bertekun dalam iman, tetap teguh dan tidak bergoncang, dan jangan mau digeser dari pengharapan Injil, yang telah kamu dengar dan yang telah dikabarkan di seluruh alam di bawah langit, dan yang aku ini, Paulus, telah menjadi pelayannya.”
Apa artinya bahwa Tuhan adalah segalanya dalam hidup kita:
1. Bergantung sepenuhnya hanya kepada Tuhan (Mark 10:46-52).
2. Di luar Yesus kita tidak dapat berbuat apa-apa (Yoh 15:5).
3. Kehilangan Tuhan, kita pasti kehilangan segala-galanya (Kej 19:1-29).
Kita bisa mampu dan hebat karena siapa yang kita layani, dan Paulus mengatakan Kristus sebagai kepala dan segala sesuatu dari Dia, dan Paulus juga berkata hidup adalah Kristus dan mati adalah keuntungan. Kita juga sebagai pelayan Tuhan harus mempunyai gaya hidup yang selalu bergantung kepada Tuhan.
Bani Korah bin Yizhar bin Kehat bin Lewi adalah pemusik dan penyanyi, mereka mempunyai tugas hanya untuk memuji dan menyembah Tuhan bahkan pada waktu mereka mengalami tekanan.
Maz 42:2-3; 6&12, “2Seperti rusa yang merindukan sungai yang berair, demikianlah jiwaku merindukan Engkau, ya Allah. 3Jiwaku haus kepada Allah, kepada Allah yang hidup. Bilakah aku boleh datang melihat Allah? 6Mengapa engkau tertekan, hai jiwaku, dan gelisah di dalam diriku? Berharaplah kepada Allah! Sebab aku akan bersyukur lagi kepada-Nya, penolongku dan Allahku! 12Mengapa engkau tertekan, hai jiwaku, dan mengapa engkau gelisah di dalam diriku? Berharaplah kepada Allah! Sebab aku bersyukur lagi kepada-Nya, penolongku dan Allahku!”
Ini adalah gambaran hidup kita sebagai penyembah Kristus dan bergantung sepenuhnya kepada Tuhan, meski dalam hidup sehari-hari pasti ada tekanan. Kalau kita percaya bahwa Ia adalah penolong dan segalanya bagi kita, maka tugas kita adalah seperti rusa yang haus dan rindu dan cepat mencari air, begitu juga pada waktu jiwa kita haus jangan cepat mencari dunia tetapi cepat mencari wajah Tuhan, menyembah dan berharap kepada Tuhan.
Kalau kita di luar Tuhan, kita tidak dapat berbuat apa-apa, dan kalau dalam hidup kita baik dalam pelayanan dan keluarga tidak menghasilkan buah maka ada yang salah dalam hidup kita. Sebaliknya kalau kita di dalam Tuhan maka hidup kita akan ada perkembangan dan semakin naik/maju.
Kisah Bartimeus yang buta ketika ia mendengar Yesus sedang lewat maka ia berteriak dan memanggil Yesus, meski orang-orang sekitarnya menyuruhnya untuk diam tetapi ia justru berteriak lebih kencang sampai Yesus mendengar dan berkata kepadanya apa yang kamu kehendaki untuk Aku perbuat, dan Bartimeus menjawab agar aku dapat melihat, lalu Yesus menyembuhkan matanya. Bartimeus berseru dan memohon kepada Tuhan karena ia percaya sepenuhnya bahwa Tuhanlah yang sanggup menyembuhkannya.
Tuhan sudah berkata bahwa di akhir zaman akan datang masa yang sukar, dan sekarang bagaimana caranya agar kita berjalan dalam rencana Tuhan dan menjadi berkat bagi keluarga dan orang lain.
1. Menyadari dan Mengerti (1 Kor 1:26-31). Ia membenarkan, menguduskan dan menebus kita.
1 Kor 1:26-30, “Ingat saja, saudara-saudara, bagaimana keadaan kamu, ketika kamu dipanggil: menurut ukuran manusia tidak banyak orang yang bijak, tidak banyak orang yang berpengaruh, tidak banyak orang yang terpandang. Tetapi apa yang bodoh bagi dunia, dipilih Allah untuk memalukan orang-orang yang berhikmat, dan apa yang lemah bagi dunia, dipilih Allah untuk memalukan apa yang kuat, dan apa yang tidak terpandang dan yang hina bagi dunia, dipilih Allah, bahkan apa yang tidak berarti, dipilih Allah untuk meniadakan apa yang berarti, supaya jangan ada seorang manusiapun yang memegahkan diri di hadapan Allah. Tetapi oleh Dia kamu berada dalam Kristus Yesus, yang oleh Allah telah menjadi hikmat bagi kita. Ia membenarkan dan menguduskan dan menebus kita.”
Kita harus sadar dan rendah hati karena kita ditebus dengan darah yang mahal dan Ia menguduskan serta membenarkan kita, jadi dalam menjalankan hidup baiklah fokus kita tetap kepada Kristus.
2. Mempercayai (Mat 9:27-29; Mark 9:23-24).
Mat 9:27-29, “Ketika Yesus meneruskan perjalanan-Nya dari sana, dua orang buta mengikuti-Nya sambil berseru-seru dan berkata: “Kasihanilah kami, hai Anak Daud.” Setelah Yesus masuk ke dalam sebuah rumah, datanglah kedua orang buta itu kepada-Nya dan Yesus berkata kepada mereka: “Percayakah kamu, bahwa Aku dapat melakukannya?” Mereka menjawab: “Ya, Tuhan, kami percaya. Lalu Yesus menjamah mata mereka sambil berkata: “Jadilah kepadamu menurut imanmu.”
Mungkin kita buta secara rohani atau kita sedang mengalami pergumulan dan sedang menantikan jawaban doa, apakah kita tetap percaya kepada Tuhan? Tuhan mau kita mengerti dan percaya kepadanya bahwa Tuhan pasti menolong kita.
Mengapa kita jatuh sakit? Dalam Mazmur dikatakan karena dosa dan kesalahan sendiri. Mazmur 107:17, “Ada orang-orang menjadi sakit oleh sebab kelakuan mereka yang berdosa, dan disiksa oleh sebab kesalahan-kesalahan mereka;”
Mark 9:21-24, “Lalu Yesus bertanya kepada ayah anak itu: “Sudah berapa lama ia mengalami ini?” Jawabnya: “Sejak masa kecilnya. Dan seringkali roh itu menyeretnya ke dalam api ataupun ke dalam air untuk membinasakannya. Sebab itu jika Engkau dapat berbuat sesuatu, tolonglah kami dan kasihanilah kami.” Jawab Yesus: “Katamu: jika Engkau dapat? Tidak ada yang mustahil bagi orang yang percaya!” Segera ayah anak itu berteriak: “Aku percaya. Tolonglah aku yang tidak percaya ini!”
Begitu juga dengan keadaan kita, sudah berapa lama kita tetap seperti ini dan tidak berubah? Sudah berapa lama menjadi Kristen dan tidak maju? Sudah berapa lama menjadi pengerja tetapi rumah tangga ribut terus? Tidak ada perkembangan!
3. Melangkah/Bertindak (Mat 8:1-4; Kej 12:4-8).
Mat 8:1-4, “Setelah Yesus turun dari bukit, orang banyak berbondong-bondong mengikuti Dia. Maka datanglah seorang yang sakit kusta kepada-Nya, lalu sujud menyembah Dia dan berkata: “Tuan, jika Tuan mau, Tuan dapat mentahirkan aku.” Lalu Yesus mengulurkan tangan-Nya, menjamah orang itu dan berkata: “Aku mau, jadilah engkau tahir.” Seketika itu juga tahirlah orang itu dari pada kustanya.” Lalu Yesus berkata kepadanya: “Ingatlah, jangan engkau memberitahukan hal ini kepada siapapun, tetapi pergilah, perlihatkanlah dirimu kepada imam dan persembahkanlah persembahan yang diperintahkan Musa, sebagai bukti bagi mereka.”
Pada zaman itu orang yang sakit kusta dijauhi dan pada waktu Yesus melihatnya, Ia berbelas kasihan kepada orang yang sakit kusta tersebut dan Ia menyembuhkannya. Lalu Ia berkata kepada orang tersebut itu untuk pergi kepada imam dan mempersembahkan persembahan yang Musa perintahkan.
Tetapi mengapa Yesus hanya berkata kepada orang yang sembuh dari sakit kusta untuk memberikan persembahan kepada imam tetapi Ia tidak mengatakan hal tersebut kepada orang-orang buta dan sakit lumpuh lainnya untuk memberikan persembahan.
Karena orang yang sakit kusta ini betul-betul mengalami suatu anugerah pertolongan dan kesembuhan yang besar sehingga ia harus mempersembahkan persembahan sebagai bukti bagi mereka, sebagai tanda sudah dikuduskan, dibenarkan dan disucikan.
Kristus sudah menebus kita agar kita yang ‘sakit’ dipulihkan dan disembuhkan sehingga kita memberikan ucapan syukur kepada Tuhan, melangkah dan bertindak dengan iman. Dosa kita sudah diampuni, diberi kemenangan oleh Tuhan sehingga pada waktu kita melayani, kita melayani dengan urapan dan kasih Kristus sehingga jiwa-jiwa dijamah dan diberkati.
Bagaimana? Agar Ia menjadi segalanya dalam hidup kita:
a. Jadikan “Dia” pribadi yang paling berpengaruh dalam hidup kita (Yoh 15:14-15).
b. Dia berhak mendapatkan waktu, tenaga dan perhatian terbaik yang kita miliki (Ibr 11:1-40; 2 Kor 11:23-31).
c. Dia sebagai Raja yang menguasai hati kita (Ef 3:20).
Meski hidup kita berada di titik terendah sekalipun tetap jadikan Tuhan menjadi pribadi yang paling berpengaruh dalam hidupmu, bersyukur kepada Tuhan akan penyertaan-Nya sepanjang hidup kita karena itu berikan waktu dan tenaga yang terbaik kepada Tuhan karena Dia adalah segalanya dalam hidup kita. Amin.

“Ia adalah gambar Allah yang tidak kelihatan, yang sulung, lebih utama dari segala yang diciptakan, karena di dalam Dialah telah diciptakan segala sesuatu, yang ada di sorga dan yang ada di bumi, yang kelihatan dan yang tidak kelihatan, baik singgasana, maupun kerajaan, baik pemerintah, maupun penguasa; segala sesuatu diciptakan oleh Dia dan untuk Dia.”
Kolose 1:15-16

Pada waktu saya mempersiapkan firman, saya mendapat ayat dalam Mazmur 41:1-4, “Berbahagialah orang yang memperhatikan orang lemah! TUHAN akan meluputkan dia pada waktu celaka. TUHAN akan melindungi dia dan memelihara nyawanya, sehingga ia disebut berbahagia di bumi ini; Engkau takkan membiarkan dia dipermainkan musuhnya! Tuhan membantu dia di ranjangnya waktu sakit; di tempat tidurnya Kaupulihkannya sama sekali dari sakitnya.”
Tujuan dari gereja ini adalah untuk memberkati orang lain, khususnya untuk orang-orang yang kekurangan yang harus kita tolong, terlebih bahagia memberi dari pada menerima. Di bulan Maret ini Tuhan memberikan pesan bahwa Ia adalah segalanya bagi kita.
Kolose 1:15-23, “Ia adalah gambar Allah yang tidak kelihatan, yang sulung, lebih utama dari segala yang diciptakan, karena di dalam Dialah telah diciptakan segala sesuatu, yang ada di sorga dan yang ada di bumi, yang kelihatan dan yang tidak kelihatan, baik singgasana, maupun kerajaan, baik pemerintah, maupun penguasa; segala sesuatu diciptakan oleh Dia dan untuk Dia. Ia ada terlebih dahulu dari segala sesuatu dan segala sesuatu ada di dalam Dia. Ialah kepala tubuh, yaitu jemaat. Ialah yang sulung, yang pertama bangkit dari antara orang mati, sehingga Ia yang lebih utama dalam segala sesuatu. Karena seluruh kepenuhan Allah berkenan diam di dalam Dia. Dan oleh Dialah Ia memperdamaikan segala sesuatu dengan diri-Nya, baik yang ada di bumi maupun yang ada di sorga, sesudah Ia mengadakan pendamaian oleh darah salib Kristus. Juga kamu yang dahulu hidup jauh dari Allah dan yang memusuhi-Nya dalam hati dan pikiran seperti yang nyata dari perbuatanmu yang jahat, sekarang diperdamaikan-Nya, di dalam tubuh jasmani Kristus oleh kematian-Nya, untuk menempatkan kamu kudus dan tak bercela dan tak bercacat di hadapan-Nya. Sebab itu kamu harus bertekun dalam iman, tetap teguh dan tidak bergoncang, dan jangan mau digeser dari pengharapan Injil, yang telah kamu dengar dan yang telah dikabarkan di seluruh alam di bawah langit, dan yang aku ini, Paulus, telah menjadi pelayannya.”
Apa artinya bahwa Tuhan adalah segalanya dalam hidup kita:
1. Bergantung sepenuhnya hanya kepada Tuhan (Mark 10:46-52).
2. Di luar Yesus kita tidak dapat berbuat apa-apa (Yoh 15:5).
3. Kehilangan Tuhan, kita pasti kehilangan segala-galanya (Kej 19:1-29).
Kita bisa mampu dan hebat karena siapa yang kita layani, dan Paulus mengatakan Kristus sebagai kepala dan segala sesuatu dari Dia, dan Paulus juga berkata hidup adalah Kristus dan mati adalah keuntungan. Kita juga sebagai pelayan Tuhan harus mempunyai gaya hidup yang selalu bergantung kepada Tuhan.
Bani Korah bin Yizhar bin Kehat bin Lewi adalah pemusik dan penyanyi, mereka mempunyai tugas hanya untuk memuji dan menyembah Tuhan bahkan pada waktu mereka mengalami tekanan.
Maz 42:2-3; 6&12, “2Seperti rusa yang merindukan sungai yang berair, demikianlah jiwaku merindukan Engkau, ya Allah. 3Jiwaku haus kepada Allah, kepada Allah yang hidup. Bilakah aku boleh datang melihat Allah? 6Mengapa engkau tertekan, hai jiwaku, dan gelisah di dalam diriku? Berharaplah kepada Allah! Sebab aku akan bersyukur lagi kepada-Nya, penolongku dan Allahku! 12Mengapa engkau tertekan, hai jiwaku, dan mengapa engkau gelisah di dalam diriku? Berharaplah kepada Allah! Sebab aku bersyukur lagi kepada-Nya, penolongku dan Allahku!”
Ini adalah gambaran hidup kita sebagai penyembah Kristus dan bergantung sepenuhnya kepada Tuhan, meski dalam hidup sehari-hari pasti ada tekanan. Kalau kita percaya bahwa Ia adalah penolong dan segalanya bagi kita, maka tugas kita adalah seperti rusa yang haus dan rindu dan cepat mencari air, begitu juga pada waktu jiwa kita haus jangan cepat mencari dunia tetapi cepat mencari wajah Tuhan, menyembah dan berharap kepada Tuhan.
Kalau kita di luar Tuhan, kita tidak dapat berbuat apa-apa, dan kalau dalam hidup kita baik dalam pelayanan dan keluarga tidak menghasilkan buah maka ada yang salah dalam hidup kita. Sebaliknya kalau kita di dalam Tuhan maka hidup kita akan ada perkembangan dan semakin naik/maju.
Kisah Bartimeus yang buta ketika ia mendengar Yesus sedang lewat maka ia berteriak dan memanggil Yesus, meski orang-orang sekitarnya menyuruhnya untuk diam tetapi ia justru berteriak lebih kencang sampai Yesus mendengar dan berkata kepadanya apa yang kamu kehendaki untuk Aku perbuat, dan Bartimeus menjawab agar aku dapat melihat, lalu Yesus menyembuhkan matanya. Bartimeus berseru dan memohon kepada Tuhan karena ia percaya sepenuhnya bahwa Tuhanlah yang sanggup menyembuhkannya.
Tuhan sudah berkata bahwa di akhir zaman akan datang masa yang sukar, dan sekarang bagaimana caranya agar kita berjalan dalam rencana Tuhan dan menjadi berkat bagi keluarga dan orang lain.
1. Menyadari dan Mengerti (1 Kor 1:26-31). Ia membenarkan, menguduskan dan menebus kita.
1 Kor 1:26-30, “Ingat saja, saudara-saudara, bagaimana keadaan kamu, ketika kamu dipanggil: menurut ukuran manusia tidak banyak orang yang bijak, tidak banyak orang yang berpengaruh, tidak banyak orang yang terpandang. Tetapi apa yang bodoh bagi dunia, dipilih Allah untuk memalukan orang-orang yang berhikmat, dan apa yang lemah bagi dunia, dipilih Allah untuk memalukan apa yang kuat, dan apa yang tidak terpandang dan yang hina bagi dunia, dipilih Allah, bahkan apa yang tidak berarti, dipilih Allah untuk meniadakan apa yang berarti, supaya jangan ada seorang manusiapun yang memegahkan diri di hadapan Allah. Tetapi oleh Dia kamu berada dalam Kristus Yesus, yang oleh Allah telah menjadi hikmat bagi kita. Ia membenarkan dan menguduskan dan menebus kita.”
Kita harus sadar dan rendah hati karena kita ditebus dengan darah yang mahal dan Ia menguduskan serta membenarkan kita, jadi dalam menjalankan hidup baiklah fokus kita tetap kepada Kristus.
2. Mempercayai (Mat 9:27-29; Mark 9:23-24).
Mat 9:27-29, “Ketika Yesus meneruskan perjalanan-Nya dari sana, dua orang buta mengikuti-Nya sambil berseru-seru dan berkata: “Kasihanilah kami, hai Anak Daud.” Setelah Yesus masuk ke dalam sebuah rumah, datanglah kedua orang buta itu kepada-Nya dan Yesus berkata kepada mereka: “Percayakah kamu, bahwa Aku dapat melakukannya?” Mereka menjawab: “Ya, Tuhan, kami percaya. Lalu Yesus menjamah mata mereka sambil berkata: “Jadilah kepadamu menurut imanmu.”
Mungkin kita buta secara rohani atau kita sedang mengalami pergumulan dan sedang menantikan jawaban doa, apakah kita tetap percaya kepada Tuhan? Tuhan mau kita mengerti dan percaya kepadanya bahwa Tuhan pasti menolong kita.
Mengapa kita jatuh sakit? Dalam Mazmur dikatakan karena dosa dan kesalahan sendiri. Mazmur 107:17, “Ada orang-orang menjadi sakit oleh sebab kelakuan mereka yang berdosa, dan disiksa oleh sebab kesalahan-kesalahan mereka;”
Mark 9:21-24, “Lalu Yesus bertanya kepada ayah anak itu: “Sudah berapa lama ia mengalami ini?” Jawabnya: “Sejak masa kecilnya. Dan seringkali roh itu menyeretnya ke dalam api ataupun ke dalam air untuk membinasakannya. Sebab itu jika Engkau dapat berbuat sesuatu, tolonglah kami dan kasihanilah kami.” Jawab Yesus: “Katamu: jika Engkau dapat? Tidak ada yang mustahil bagi orang yang percaya!” Segera ayah anak itu berteriak: “Aku percaya. Tolonglah aku yang tidak percaya ini!”
Begitu juga dengan keadaan kita, sudah berapa lama kita tetap seperti ini dan tidak berubah? Sudah berapa lama menjadi Kristen dan tidak maju? Sudah berapa lama menjadi pengerja tetapi rumah tangga ribut terus? Tidak ada perkembangan!
3. Melangkah/Bertindak (Mat 8:1-4; Kej 12:4-8).
Mat 8:1-4, “Setelah Yesus turun dari bukit, orang banyak berbondong-bondong mengikuti Dia. Maka datanglah seorang yang sakit kusta kepada-Nya, lalu sujud menyembah Dia dan berkata: “Tuan, jika Tuan mau, Tuan dapat mentahirkan aku.” Lalu Yesus mengulurkan tangan-Nya, menjamah orang itu dan berkata: “Aku mau, jadilah engkau tahir.” Seketika itu juga tahirlah orang itu dari pada kustanya.” Lalu Yesus berkata kepadanya: “Ingatlah, jangan engkau memberitahukan hal ini kepada siapapun, tetapi pergilah, perlihatkanlah dirimu kepada imam dan persembahkanlah persembahan yang diperintahkan Musa, sebagai bukti bagi mereka.”
Pada zaman itu orang yang sakit kusta dijauhi dan pada waktu Yesus melihatnya, Ia berbelas kasihan kepada orang yang sakit kusta tersebut dan Ia menyembuhkannya. Lalu Ia berkata kepada orang tersebut itu untuk pergi kepada imam dan mempersembahkan persembahan yang Musa perintahkan.
Tetapi mengapa Yesus hanya berkata kepada orang yang sembuh dari sakit kusta untuk memberikan persembahan kepada imam tetapi Ia tidak mengatakan hal tersebut kepada orang-orang buta dan sakit lumpuh lainnya untuk memberikan persembahan.
Karena orang yang sakit kusta ini betul-betul mengalami suatu anugerah pertolongan dan kesembuhan yang besar sehingga ia harus mempersembahkan persembahan sebagai bukti bagi mereka, sebagai tanda sudah dikuduskan, dibenarkan dan disucikan.
Kristus sudah menebus kita agar kita yang ‘sakit’ dipulihkan dan disembuhkan sehingga kita memberikan ucapan syukur kepada Tuhan, melangkah dan bertindak dengan iman. Dosa kita sudah diampuni, diberi kemenangan oleh Tuhan sehingga pada waktu kita melayani, kita melayani dengan urapan dan kasih Kristus sehingga jiwa-jiwa dijamah dan diberkati.
Bagaimana? Agar Ia menjadi segalanya dalam hidup kita:
a. Jadikan “Dia” pribadi yang paling berpengaruh dalam hidup kita (Yoh 15:14-15).
b. Dia berhak mendapatkan waktu, tenaga dan perhatian terbaik yang kita miliki (Ibr 11:1-40; 2 Kor 11:23-31).
c. Dia sebagai Raja yang menguasai hati kita (Ef 3:20).
Meski hidup kita berada di titik terendah sekalipun tetap jadikan Tuhan menjadi pribadi yang paling berpengaruh dalam hidupmu, bersyukur kepada Tuhan akan penyertaan-Nya sepanjang hidup kita karena itu berikan waktu dan tenaga yang terbaik kepada Tuhan karena Dia adalah segalanya dalam hidup kita. Amin.

“Ia adalah gambar Allah yang tidak kelihatan, yang sulung, lebih utama dari segala yang diciptakan, karena di dalam Dialah telah diciptakan segala sesuatu, yang ada di sorga dan yang ada di bumi, yang kelihatan dan yang tidak kelihatan, baik singgasana, maupun kerajaan, baik pemerintah, maupun penguasa; segala sesuatu diciptakan oleh Dia dan untuk Dia.”
Kolose 1:15-16

Pada waktu saya mempersiapkan firman, saya mendapat ayat dalam Mazmur 41:1-4, “Berbahagialah orang yang memperhatikan orang lemah! TUHAN akan meluputkan dia pada waktu celaka. TUHAN akan melindungi dia dan memelihara nyawanya, sehingga ia disebut berbahagia di bumi ini; Engkau takkan membiarkan dia dipermainkan musuhnya! Tuhan membantu dia di ranjangnya waktu sakit; di tempat tidurnya Kaupulihkannya sama sekali dari sakitnya.”
Tujuan dari gereja ini adalah untuk memberkati orang lain, khususnya untuk orang-orang yang kekurangan yang harus kita tolong, terlebih bahagia memberi dari pada menerima. Di bulan Maret ini Tuhan memberikan pesan bahwa Ia adalah segalanya bagi kita.
Kolose 1:15-23, “Ia adalah gambar Allah yang tidak kelihatan, yang sulung, lebih utama dari segala yang diciptakan, karena di dalam Dialah telah diciptakan segala sesuatu, yang ada di sorga dan yang ada di bumi, yang kelihatan dan yang tidak kelihatan, baik singgasana, maupun kerajaan, baik pemerintah, maupun penguasa; segala sesuatu diciptakan oleh Dia dan untuk Dia. Ia ada terlebih dahulu dari segala sesuatu dan segala sesuatu ada di dalam Dia. Ialah kepala tubuh, yaitu jemaat. Ialah yang sulung, yang pertama bangkit dari antara orang mati, sehingga Ia yang lebih utama dalam segala sesuatu. Karena seluruh kepenuhan Allah berkenan diam di dalam Dia. Dan oleh Dialah Ia memperdamaikan segala sesuatu dengan diri-Nya, baik yang ada di bumi maupun yang ada di sorga, sesudah Ia mengadakan pendamaian oleh darah salib Kristus. Juga kamu yang dahulu hidup jauh dari Allah dan yang memusuhi-Nya dalam hati dan pikiran seperti yang nyata dari perbuatanmu yang jahat, sekarang diperdamaikan-Nya, di dalam tubuh jasmani Kristus oleh kematian-Nya, untuk menempatkan kamu kudus dan tak bercela dan tak bercacat di hadapan-Nya. Sebab itu kamu harus bertekun dalam iman, tetap teguh dan tidak bergoncang, dan jangan mau digeser dari pengharapan Injil, yang telah kamu dengar dan yang telah dikabarkan di seluruh alam di bawah langit, dan yang aku ini, Paulus, telah menjadi pelayannya.”
Apa artinya bahwa Tuhan adalah segalanya dalam hidup kita:
1. Bergantung sepenuhnya hanya kepada Tuhan (Mark 10:46-52).
2. Di luar Yesus kita tidak dapat berbuat apa-apa (Yoh 15:5).
3. Kehilangan Tuhan, kita pasti kehilangan segala-galanya (Kej 19:1-29).
Kita bisa mampu dan hebat karena siapa yang kita layani, dan Paulus mengatakan Kristus sebagai kepala dan segala sesuatu dari Dia, dan Paulus juga berkata hidup adalah Kristus dan mati adalah keuntungan. Kita juga sebagai pelayan Tuhan harus mempunyai gaya hidup yang selalu bergantung kepada Tuhan.
Bani Korah bin Yizhar bin Kehat bin Lewi adalah pemusik dan penyanyi, mereka mempunyai tugas hanya untuk memuji dan menyembah Tuhan bahkan pada waktu mereka mengalami tekanan.
Maz 42:2-3; 6&12, “2Seperti rusa yang merindukan sungai yang berair, demikianlah jiwaku merindukan Engkau, ya Allah. 3Jiwaku haus kepada Allah, kepada Allah yang hidup. Bilakah aku boleh datang melihat Allah? 6Mengapa engkau tertekan, hai jiwaku, dan gelisah di dalam diriku? Berharaplah kepada Allah! Sebab aku akan bersyukur lagi kepada-Nya, penolongku dan Allahku! 12Mengapa engkau tertekan, hai jiwaku, dan mengapa engkau gelisah di dalam diriku? Berharaplah kepada Allah! Sebab aku bersyukur lagi kepada-Nya, penolongku dan Allahku!”
Ini adalah gambaran hidup kita sebagai penyembah Kristus dan bergantung sepenuhnya kepada Tuhan, meski dalam hidup sehari-hari pasti ada tekanan. Kalau kita percaya bahwa Ia adalah penolong dan segalanya bagi kita, maka tugas kita adalah seperti rusa yang haus dan rindu dan cepat mencari air, begitu juga pada waktu jiwa kita haus jangan cepat mencari dunia tetapi cepat mencari wajah Tuhan, menyembah dan berharap kepada Tuhan.
Kalau kita di luar Tuhan, kita tidak dapat berbuat apa-apa, dan kalau dalam hidup kita baik dalam pelayanan dan keluarga tidak menghasilkan buah maka ada yang salah dalam hidup kita. Sebaliknya kalau kita di dalam Tuhan maka hidup kita akan ada perkembangan dan semakin naik/maju.
Kisah Bartimeus yang buta ketika ia mendengar Yesus sedang lewat maka ia berteriak dan memanggil Yesus, meski orang-orang sekitarnya menyuruhnya untuk diam tetapi ia justru berteriak lebih kencang sampai Yesus mendengar dan berkata kepadanya apa yang kamu kehendaki untuk Aku perbuat, dan Bartimeus menjawab agar aku dapat melihat, lalu Yesus menyembuhkan matanya. Bartimeus berseru dan memohon kepada Tuhan karena ia percaya sepenuhnya bahwa Tuhanlah yang sanggup menyembuhkannya.
Tuhan sudah berkata bahwa di akhir zaman akan datang masa yang sukar, dan sekarang bagaimana caranya agar kita berjalan dalam rencana Tuhan dan menjadi berkat bagi keluarga dan orang lain.
1. Menyadari dan Mengerti (1 Kor 1:26-31). Ia membenarkan, menguduskan dan menebus kita.
1 Kor 1:26-30, “Ingat saja, saudara-saudara, bagaimana keadaan kamu, ketika kamu dipanggil: menurut ukuran manusia tidak banyak orang yang bijak, tidak banyak orang yang berpengaruh, tidak banyak orang yang terpandang. Tetapi apa yang bodoh bagi dunia, dipilih Allah untuk memalukan orang-orang yang berhikmat, dan apa yang lemah bagi dunia, dipilih Allah untuk memalukan apa yang kuat, dan apa yang tidak terpandang dan yang hina bagi dunia, dipilih Allah, bahkan apa yang tidak berarti, dipilih Allah untuk meniadakan apa yang berarti, supaya jangan ada seorang manusiapun yang memegahkan diri di hadapan Allah. Tetapi oleh Dia kamu berada dalam Kristus Yesus, yang oleh Allah telah menjadi hikmat bagi kita. Ia membenarkan dan menguduskan dan menebus kita.”
Kita harus sadar dan rendah hati karena kita ditebus dengan darah yang mahal dan Ia menguduskan serta membenarkan kita, jadi dalam menjalankan hidup baiklah fokus kita tetap kepada Kristus.
2. Mempercayai (Mat 9:27-29; Mark 9:23-24).
Mat 9:27-29, “Ketika Yesus meneruskan perjalanan-Nya dari sana, dua orang buta mengikuti-Nya sambil berseru-seru dan berkata: “Kasihanilah kami, hai Anak Daud.” Setelah Yesus masuk ke dalam sebuah rumah, datanglah kedua orang buta itu kepada-Nya dan Yesus berkata kepada mereka: “Percayakah kamu, bahwa Aku dapat melakukannya?” Mereka menjawab: “Ya, Tuhan, kami percaya. Lalu Yesus menjamah mata mereka sambil berkata: “Jadilah kepadamu menurut imanmu.”
Mungkin kita buta secara rohani atau kita sedang mengalami pergumulan dan sedang menantikan jawaban doa, apakah kita tetap percaya kepada Tuhan? Tuhan mau kita mengerti dan percaya kepadanya bahwa Tuhan pasti menolong kita.
Mengapa kita jatuh sakit? Dalam Mazmur dikatakan karena dosa dan kesalahan sendiri. Mazmur 107:17, “Ada orang-orang menjadi sakit oleh sebab kelakuan mereka yang berdosa, dan disiksa oleh sebab kesalahan-kesalahan mereka;”
Mark 9:21-24, “Lalu Yesus bertanya kepada ayah anak itu: “Sudah berapa lama ia mengalami ini?” Jawabnya: “Sejak masa kecilnya. Dan seringkali roh itu menyeretnya ke dalam api ataupun ke dalam air untuk membinasakannya. Sebab itu jika Engkau dapat berbuat sesuatu, tolonglah kami dan kasihanilah kami.” Jawab Yesus: “Katamu: jika Engkau dapat? Tidak ada yang mustahil bagi orang yang percaya!” Segera ayah anak itu berteriak: “Aku percaya. Tolonglah aku yang tidak percaya ini!”
Begitu juga dengan keadaan kita, sudah berapa lama kita tetap seperti ini dan tidak berubah? Sudah berapa lama menjadi Kristen dan tidak maju? Sudah berapa lama menjadi pengerja tetapi rumah tangga ribut terus? Tidak ada perkembangan!
3. Melangkah/Bertindak (Mat 8:1-4; Kej 12:4-8).
Mat 8:1-4, “Setelah Yesus turun dari bukit, orang banyak berbondong-bondong mengikuti Dia. Maka datanglah seorang yang sakit kusta kepada-Nya, lalu sujud menyembah Dia dan berkata: “Tuan, jika Tuan mau, Tuan dapat mentahirkan aku.” Lalu Yesus mengulurkan tangan-Nya, menjamah orang itu dan berkata: “Aku mau, jadilah engkau tahir.” Seketika itu juga tahirlah orang itu dari pada kustanya.” Lalu Yesus berkata kepadanya: “Ingatlah, jangan engkau memberitahukan hal ini kepada siapapun, tetapi pergilah, perlihatkanlah dirimu kepada imam dan persembahkanlah persembahan yang diperintahkan Musa, sebagai bukti bagi mereka.”
Pada zaman itu orang yang sakit kusta dijauhi dan pada waktu Yesus melihatnya, Ia berbelas kasihan kepada orang yang sakit kusta tersebut dan Ia menyembuhkannya. Lalu Ia berkata kepada orang tersebut itu untuk pergi kepada imam dan mempersembahkan persembahan yang Musa perintahkan.
Tetapi mengapa Yesus hanya berkata kepada orang yang sembuh dari sakit kusta untuk memberikan persembahan kepada imam tetapi Ia tidak mengatakan hal tersebut kepada orang-orang buta dan sakit lumpuh lainnya untuk memberikan persembahan.
Karena orang yang sakit kusta ini betul-betul mengalami suatu anugerah pertolongan dan kesembuhan yang besar sehingga ia harus mempersembahkan persembahan sebagai bukti bagi mereka, sebagai tanda sudah dikuduskan, dibenarkan dan disucikan.
Kristus sudah menebus kita agar kita yang ‘sakit’ dipulihkan dan disembuhkan sehingga kita memberikan ucapan syukur kepada Tuhan, melangkah dan bertindak dengan iman. Dosa kita sudah diampuni, diberi kemenangan oleh Tuhan sehingga pada waktu kita melayani, kita melayani dengan urapan dan kasih Kristus sehingga jiwa-jiwa dijamah dan diberkati.
Bagaimana? Agar Ia menjadi segalanya dalam hidup kita:
a. Jadikan “Dia” pribadi yang paling berpengaruh dalam hidup kita (Yoh 15:14-15).
b. Dia berhak mendapatkan waktu, tenaga dan perhatian terbaik yang kita miliki (Ibr 11:1-40; 2 Kor 11:23-31).
c. Dia sebagai Raja yang menguasai hati kita (Ef 3:20).
Meski hidup kita berada di titik terendah sekalipun tetap jadikan Tuhan menjadi pribadi yang paling berpengaruh dalam hidupmu, bersyukur kepada Tuhan akan penyertaan-Nya sepanjang hidup kita karena itu berikan waktu dan tenaga yang terbaik kepada Tuhan karena Dia adalah segalanya dalam hidup kita. Amin.

By Ps. Nehemia L.

 

Other posts in Monthly Theme: