IMAN YANG HIDUP MEMPERLEBAR KAPASITAS

Home / Weekly Message / IMAN YANG HIDUP MEMPERLEBAR KAPASITAS
IMAN YANG HIDUP MEMPERLEBAR KAPASITAS

26 Februari 2017

“Justru karena itu kamu harus dengan sungguh-sungguh berusaha untuk menambahkan kepada imanmu kebajikan, dan kepada kebajikan pengetahuan, dan kepada pengetahuan penguasaan diri, kepada penguasaan diri ketekunan, dan kepada ketekunan kesalehan, dan kepada kesalehan kasih akan saudara-saudara, dan kepada kasih akan saudara-saudara kasih akan semua orang. Sebab apabila semuanya itu ada padamu dengan berlimpah-limpah, kamu akan dibuatnya menjadi giat dan berhasil dalam pengenalanmu akan Yesus Kristus, Tuhan kita.” (2 Petrus 1:5-8)

Allah telah mengaruniakan kepada kita iman yang menyelamatkan yaitu pada saat kita menerima Yesus Kristus sebagai Tuhan dan Juruselamat secara pribadi. Iman tersebut adalah iman yang Allah kerjakan bagi kita dalam mengaruniakan roh pertobatan, lalu kita meresponi dengan iman percaya dan menerima karya keselamatan yang sudah Tuhan Yesus lakukan.
Ingatlah bahwa harga yang sudah dibayar Tuhan atas hidup kita adalah sangat mahal. Tuhan Yesus dalam kasih yang sungguh agung telah mencurahkan darah-Nya sendiri untuk dapat mengembalikan kita kepada ‘blueprint’ kehendak Allah bagi hidup kita yang sudah Dia rancangkan sebelumnya.
Tuhan memerintahkan setiap kita untuk mengembangkan iman tersebut untuk mendapat hak penuh untuk memasuki Kerajaan kekal yaitu Kerajaan Allah, Tuhan dan Juruselamat kita. Tentu saja Tuhan tidak membiarkan kita melakukannya dengan kekuatan sendiri. Kuasa ilahi-Nya telah menganugerahkan kepada kita segala sesuatu yang berguna untuk hidup saleh oleh pengenalan kita akan Dia. Tuhan Yesus sudah menyiapkan segala sesuatu yang akan kita perlukan dalam perjalanan iman kita untuk mencapai kesempurnaan agar kita dapat mengambil bagian dalam kodrat ilahi dan luput dari hawa nafsu duniawi yang membinasakan.
Tujuan dari iman kita adalah keselamatan jiwa kita. Iman tanpa perbuatan adalah iman yang mati atau pasif. Sebaliknya, iman yang hidup (aktif) adalah iman yang terus-menerus bertumbuh dan berkembang menuju kedewasaan ke arah Kristus. Hanya dengan iman yang aktif pula seluruh kapasitas kita akan terus diperlebar, sehingga talenta mengalami pelipatgandaan, kita berbuah banyak dan matang sehingga Bapa dipermuliakan.
Untuk itulah kita diperintahkan dengan kesungguhan untuk berusaha tanpa pernah berhenti (actively make every effort, vigorously) harus menambahkan kepada iman kita :
1. Kebajikan (moral excellence)
Suatu standard perilaku yang tinggi. Prinsip hidup tentang kebenaran ilahi yang bersifat mutlak dengan standard yang tidak dapat diturunkan yaitu Firman Tuhan sebagai sumber kebenarannya.

2. Kepada kebajikan, tambahkan Pengetahuan (spiritual discernment, understanding)
Suatu hikmat pewahyuan akan Pribadi Allah, rencana serta kehendak hati-Nya atas diri kita, orang lain ataupun keadaan.

3. Kepada pengetahuan, tambahkan Penguasaan diri (self control, temperance)
Suatu kemampuan mengendalikan diri; suatu kekuatan dalam diri seseorang untuk menjauhkan diri dari dosa serta tidak menuruti keinginan daging,keinginan mata dan keangkuhan hidup. Latihlah diri kita beribadah, karena ibadah sangat berguna untuk segala hal karena mengandung janji baik untuk hidup ini maupun untuk hidup yang akan datang.

4. Kepada penguasaan diri, tambahkan Ketekunan (steadfastness)
Suatu kesanggupan untuk bertahan atau tegar menghadapi kesulitan; kesanggupan seseorang untuk dapat menanggung sesuatu bukan dengan sikap hati menyerah, pasrah atau tawar, melainkan dengan harapan yang penuh dan pasti dalam Kristus Yesus.

5. Kepada ketekunan, tambahkan Kesalehan (godliness)
Suatu keadaan dimana seorang beriman taat menjalankan ibadahnya, takut dan hormat yang tulus akan Tuhan mewarnai seluruh pikiran, sikap, perbuatan, dan perkataannya.

6. Kepada kesalehan, Kasih akan saudara-saudara (phileo, brotherly affection)
Jenis kasih ini didasarkan pada keakraban dan interaksi langsung perorangan. Kata Yunani “phileo” mendefinisikan jenis kasih ini adalah kasih yang terhubung melalui emosi kita. Ini adalah kasih persaudaraan antara sahabat atau teman.

7. Kepada kasih Phileo, Kasih akan semua orang (agape, God’s unconditional love)
Ini adalah jenis kasih pada level tertinggi, kasih Allah kepada manusia, tidak berubah, tidak bersyarat, kekal/ tidak berkesudahan, terus-menerus, tidak melihat keadaan orang yang dikasihi namun mengasihi orang lain seperti Allah telah mengasihi kita.

Semua hal tersebut di atas adalah hal yang saling berhubungan satu dengan yang lain. Akibat dari keintiman kita dengan Roh Kudus, kita diberikan keinginan yang teguh dan hati yang rela untuk bertumbuh serta mengembangkan iman kita menuju kedewasaan yang semakin disempurnakan. Roh Kudus dengan lembut mengarahkan kita, memberi kerinduan akan Allah di hati dan pikiran kita, membawa kita masuk dalam rencana-Nya serta menggenapinya bersama kita.
“Marilah kita melakukannya dengan mata yang tertuju kepada Yesus, yang memimpin kita dalam iman, dan yang membawa iman kita itu kepada kesempurnaan, yang dengan mengabaikan kehinaan tekun memikul salib ganti sukacita yang disediakan bagi Dia, yang sekarang duduk di sebelah kanan takhta Allah” (Ibrani 12:2).
“Looking away [from all that will distract] to Jesus, Who is the Leader {and} the Source of our faith [giving the first incentive for our belief] and is also its Finisher [bringing it to maturity and perfection]. He, for the joy [of obtaining the prize] that was set before Him, endured the cross, despising {and} ignoring the shame, and is now seated at the right hand of the throne of God “(Hebrew 12:2, Amplified Bible).

Jika kita malas mengembangkan iman dan kapasitas yang Tuhan sudah letakkan dalam hidup kita, maka kita akan menjadi manusia yang buta dan picik (2 Petrus 1:9); lupa bahwa Tuhan Yesus sudah mengorbankan nyawa-Nya dan mengampuni dosa kita bukan untuk menjadikan kita manusia Kristen yang hanya sekedar menghabiskan hidup kita tanpa menghidupinya sesuai blueprint Allah di dalam Kristus Yesus. Hidup dalam Tuhan tidak akan pernah statis, pasif, terjebak rutinitas dan sudah puas hanya pada level ‘sekedar. Iman yang aktif akan terus memperlebar seluruh kapasitas kita.
Berjuanglah supaya kebajikan, pengetahuan, penguasaan diri, ketekunan, kesalehan, kasih phileo dan agape terus ditambahkan pada iman kita sampai berlimpah-limpah; yang dapat terjadi jika seseorang selalu dipenuhi oleh Roh Kudus. Marilah kita berlomba dengan tekun dalam perlombaan yang diwajibkan bagi kita.
Cari dahulu Kerajaan Allah dan semua kebenaranNya, cari dahulu perkara-perkara yang di atas (di surga), maka semuanya di dunia ini akan ditambahkan kepadamu; kita akan semakin diperkaya dalam iman, dalam pengharapan, dalam kasih, dalam perkataan, dalam pengetahuan, dalam kesungguhan, dalam buah-buah kebenaran dan dalam segala macam kemurahan hati. Pengenalan kita akan Kristus akan dibuat berhasil sehingga kita akan dikaruniai hak penuh memasuki Kerajaan Allah.
“Karena itu, saudara-saudaraku, berusahalah sungguh-sungguh, supaya panggilan dan pilihanmu makin teguh. Sebab jikalau kamu melakukannya, kamu tidak akan pernah tersandung. Dengan demikian kepada kamu akan dikaruniakan hak penuh untuk memasuki Kerajaan kekal, yaitu Kerajaan Tuhan dan Juruselamat kita, Yesus Kristus” (2 Petrus 2:10-11).

MEMPERLEBAR KAPASITAS MELALUI DIDIKAN ATAU HAJARAN
Didikan berasal dari kata didik yang berarti memelihara dan memberi latihan yang berupa ajaran, tuntunan, pimpinan pada pikiran dan perbuatan seseorang. Didikan juga bisa berarti perintah, larangan, nasehat yang diberikan oleh orang tua kepada anaknya dengan tujuan untuk mendewasakan mereka.
Hajaran berasal dari kata hajar yang berarti memukuli sebagai hukuman supaya jera. Dalam hal ini hajaran juga bisa bermakna disiplin yang dilakukan oleh orang tua ketika anaknya melenceng dari didikan, dengan tujuan menyadarkan dan mengembalikan mereka kepada kebenaran.
Allah adalah kasih. Dia sungguh sangat mengasihi umatnya. Karena kasihNya Dia tidak mau kita binasa. Dia mendidik dan menghajar untuk memperlebar kapasitas dan mendewasakan kita. Kecenderungan manusia lebih mudah untuk belajar dari pengalaman yang tidak menyenangkan daripada pengalaman yang menyenangkan. Itulah sebabnya kita harus belajar dari didikan dan hajaran yang Tuhan berikan kepada kita. “…Tetapi, jikalau kamu bebas dari ganjaran, yang harus diderita setiap orang, maka kamu bukanlah anak, tetapi anak-anak gampang (ayat 8)…” (Ibrani 12:5-13)

Ada 3 hal yang dapat kita pelajari mengenai didikan dan hajaran, yaitu:
1. Didikan dan Hajaran merupakan Pergumulan orang percaya.
“dalam pergumulan kamu melawan dosa, kamu belum sampai mencucurkan darah.”
(Ibrani 12:4)
Dalam perjalanan hidup sebagai orang percaya menuju kepada kesempurnaan, kita masih bergumul dengan tabiat dosa. Oleh pertolongan Roh Kudus, kita harus mematikan kedagingan. Namun pada kenyataannya kita seringkali mengalami kegagalan. Pada titik inilah kita akan mengalami didikan Tuhan (Ibrani 12:5).

2. Didikan dan Hajaran diberikan kepada mereka yang diakui sebagai anak.
“karena Tuhan menghajar orang yang dikasihi-Nya, dan Ia menyesah orang yang diakui-Nya sebagai anak…” (Ibrani 12:6).
Jadi kita seharusnya bersyukur saat kita menerima hajaran, sebab hanya mereka yang diakui-Nya sebagai anak yang menerima hajaran TUHAN. Di dalam Ibrani 5:8, dinyatakan bahwa mereka yang mengaku sebagai orang percaya tetapi tidak mengalami pendisiplinan maka orang tersebut sesungguhnya bukanlah anak yang sah melainkan anak gampang (Yunani. nothos = anak haram). Sebagai orang tua Anda akan mendidik anak Anda dan bahkan menghajar apabila mereka melakukan tindakan yang dapat mencelakakan diri mereka. Namun anda tidak akan menegur/mendidik apalagi menghajar anak orang lain atau teman anak anda.
3. Didikan dan Hajaran adalah untuk kebaikan kita.
“tetapi Dia menghajar kita untuk kebaikan kita…” (Ibrani 5:10)
TUHAN kita bukanlah Allah yang bertindak tanpa tujuan. Saat Tuhan menghajar kita sebagai anak-NYA, Tuhan bertujuan untuk kebaikan kita, agar kita beroleh bagian dalam kekudusan-Nya. Dengan pemahaman seperti ini, kita harus memandang disiplin rohani sebagai sebuah kesempatan untuk mengevaluasi diri, bertobat dan minta ampun agar kita memperoleh bagian dalam kekudusan TUHAN.
Hajaran harus kita terima dengan respon yang positif yaitu memandang hajaran sebagai alat Tuhan untuk memurnikan, mendewasakan dan memperlebar kapasitas. Sebaliknya, jika kita menganggap Tuhan tidak baik karena teguran atau hajaran yang kita terima sebagai pembalasan dari Tuhan maka akan muncul respon negatif, seperti merasa diperlakukan tidak adil, hingga menyalahkan Tuhan. Akibatnya kita akan menjadi orang yang menolak, memberontak, mengasihani diri sendiri, menyalahkan orang lain, akhirnya kita kehilangan berkat dari hajaran tersebut.

Kesimpulan: apa yang Tuhan lakukan dalam mendidik dan menghajar kita adalah untuk menghasilkan buah kebenaran. “Tetapi kemudian ia menghasilkan buah kebenaran yang memberikan damai kepada mereka yang dilatih olehnya.” (Ibrani 5:11)
Dengan pemahaman dan respon yang benar, kita akan merasakan bagaimana didikan dan hajaran TUHAN menghasilkan buah kebenaran dalam hidup kita. Untuk menghasilkan buah kebenaran tentu saja membutuhkan waktu, proses dan usaha, tapi semua itu akan menghasilkan sesuatu yang luar biasa dalam hidup kita, kedewasaan, berkat, dan pengalaman hidup bersama Tuhan.
“Memang tiap-tiap ganjaran pada waktu ia diberikan tidak mendatangkan sukacita, tetapi dukacita. Tetapi kemudian ia menghasilkan buah kebenaran yang memberikan damai kepada mereka yang dilatih olehnya. Sebab itu kuatkanlah tangan yang lemah dan lutut yang goyah; dan luruskanlah jalan bagi kakimu, sehingga yang pincang jangan terpelecok, tetapi menjadi sembuh.” (Ibrani 12:11-12)

Other posts in Weekly Message: