HAL MENABUR

Home / Weekly Message / HAL MENABUR
HAL MENABUR

29 Januari 2017

Sebab barangsiapa menabur dalam dagingnya, ia akan menuai kebinasaan dari dagingnya, tetapi barangsiapa menabur dalam Roh, ia akan menuai hidup yang kekal dari Roh itu (Galatia 6:8)

Selama bumi masih ada, takkan berhenti-henti musim menabur dan menuai, dingin dan panas, kemarau dan hujan, siang dan malam (Kejadian 8:22). Orang yang menabur sedikit akan menuai sedikit juga, dan orang yang menabur banyak akan menuai banyak juga (2 Kor. 9:6). Hukum mengenai tabur-tuai tersebut bersifat mutlak karena merupakan hukum kebenaran Tuhan. Apa pentingnya hukum tabur-tuai tersebut untuk kita perhatikan? Supaya kita hidup bijaksana dalam memperhatikan apa yang kita tabur.

Tentunya tidak ada dari kita yang menginginkan kegagalan dalam hidup ini, baik itu dalam hubungan, rumah tangga, pelayanan, pekerjaan, usaha, sekolah, bahkan dalam iman dan pengiringan kita akan Tuhan Yesus sampai garis akhir. Tetapi kita juga harus mengerti bahwa untuk dapat mengalami dan menikmati perkara-perkara yang baik dan sesuai dengan kebenaran serta bernilai kekal (dengan kata lain : sukses dalam ukurannya Tuhan) tidak dapat terjadi dengan sendirinya, tidak bisa dilakukan dengan asal tanpa pengertian tentang kebenaran firman dan tanpa melibatkan Tuhan.

Tuhan tidak bisa memberkati kebebalan serta kemalasan dan juga tidak membiarkan diri-Nya dipermainkan. Meskipun kita sudah me-ngalami kelahiran kembali dan nama kita sudah tertulis di buku kehidupan, tetap hukum tabur-tuai ini berlaku. Kasih karunia dimaksudkan untuk memampukan kita agar dapat menabur sesuatu yang baik dan benar, menabur dalam Roh, menabur dalam ketepatan serta ketekunan dan akhirnya memberikan kita kekuatan untuk dapat menuai hasilnya.

Sebuah ilustrasi
Kita tidak dapat menyalahgunakan kasih karunia Tuhan untuk mengubah hasil tuaian, misalnya : kita ingin mempunyai pohon mangga tetapi yang kita tabur adalah benih jeruk; lalu kita minta Tuhan untuk membuat benih jeruk tersebut menghasilkan pohon mangga. Contoh lain misalnya kita ingin mempunyai pohon mangga tapi malas menabur benih mangga, lalu minta Tuhan menumbuhkan pohon mangga secara otomatis. Hal ini tidak akan terjadi karena pertama kita salah menabur benih, dan ke dua tidak ada benih mangga yang ditabur.

Dari pihak Tuhan, Dia selalu memberikan semua yang baik. Tuhan telah memberikan benih firman yang berkuasa menyembuhkan, melepaskan kita dari segala ikatan, memulihkan, memberi kita kelimpahan, kekuatan, damai sejahtera sukacita, dan bertujuan menyelamatakan jiwa kita. Tapi pilihan untuk membuat benih firman itu jatuh di tanah hati yang subur sehingga bisa berbuah itu ada di pihak kita. Apakah benih firman tersebut gugur karena kita tidak mengerti; hanya sebatas head-knowledge/informasi/pengetahuan semata; ataukah kita memutuskan untuk memiliki tanah hati yang subur kemudian rela diproses Tuhan sehingga kita mendapat pewahyuan/heart knowledge mengenal dan mengasihi Tuhan semakin dalam serta mengerti dan mau melakukan kehendak-Nya. Tuhan tidak pernah memaksa tetapi Tuhan sangat ingin kita memilih kehidupan daripada kematian, memilih berkat dan bukan kutuk. Mungkin sudah banyak yang sering sekali mendengar tentang hukum tabur-tuai ini, apa yang kita tabur itulah yang kita tuai – tetapi tidak pernah benar-benar menyadari dan memperhatikan apa konsekwensi dari benih yang salah untuk ditabur ataupun tidak pernah ada benih bernilai kekal yang ditabur tapi mengharapkan hasil untuk dituai.

Kalau kita menabur dalam perbuatan kedagingan, maka tidak bisa dihindari maka hasil tuaiannya adalah maut. Tetapi kalau kita menabur dalam Roh (dengan kekuatan Roh Kudus kita mematikan keinginan da-ging), maka kita menuai buah-buah Roh : kasih, sukacita, damai sejahtera, kesabaran, kemurahan, kebaikan, kesetiaan, kelemahlembutan dan penguasaan diri yang membawa kita kepada kehidupan kekal.
Bicara mengenai benih, itu dimulai dari hal yang kecil. Kalau kita membiasakan diri meskipun itu tampaknya perkara sepele untuk memikirkan, memperkatakan dan melakukan – entah itu yang baik maupun buruk – maka itu akan menjadi kebiasaan lalu menjadi karakter dan selanjutnya menjadi tujuan akhir kita.

Yang benar adalah jika ada benih (sekalipun kecil, biasanya dimulai dari pikiran), kecenderungan serta kelemahan kita yang berhubungan dengan keinginan mata, keinginan daging dan keangkuhan hidup harus segera kita tolak; segera bertobat jika kita sudah mulai terseret menyetujui dan mengikutinya. Kasih karunia Tuhan selalu cukup memulihkan jika kita mau selalu hidup dalam pertobatan. Perhatikan apa yang kita ucapkan. Contoh sederhana : firman Tuhan mengatakan “hidup dan mati dikuasai lidah, siapa suka menggemakannya akan memakan buahnya” (Amsal 18:21). Bagaimana hidup kita bisa penuh berkat dan damai sejahtera kalau kita menabur benih perkataan : bersungut-sungut, tidak puas ini dan itu, bisnisku sepi, pasangan ku malas, bodoh dan tidak akan pernah bisa berubah, anakku nakal luar biasa, aku sakit hati sekali sehingga ti-dak akan bisa mengampuni, kelemahanku banyak dan sulit untuk diubah, dsb, dsb..

Contoh lain yang keliru dan banyak dilakukan adalah membiasakan diri dalam amarah yang berlarut-larut, sakit hati, kecewa, menggosip, khawatir, malas bertobat, malas membangun mezbah dan baca firman, malas deklarasi iman, malas berdoa untuk pasangan,anak dan berdoa untuk semua hal yang Tuhan percayakan dalam hidup kita, malas melakukan peperangan rohani, malas belajar firman, malas dimuridkan, malas menabur secara finansial tapi minta pendapatan naik, minta keluarga diselamatkan tapi tidak pernah mendoakan mereka atau menabur kasih dan kebaikan; dll. Pemalas juga tidak akan menuai karena tidak pernah ada yang ditabur (Amsal 20:4). Kita tidak bisa memaksa Tuhan untuk memulihkan kalau kita tidak bertobat.
Perbuatan daging adalah percabulan, kecemaran, hawa nafsu, penyembahan berhala, sihir, perseteruan, perselisihan, iri hati, amarah, kepentingan diri sendiri, percideraan, roh pemecah, kedengkian, kemabukan, pesta pora dan sebagainya. Barangsiapa melakukan hal-hal yang demikian, ia tidak akan mendapat bagian dalam Kerajaan Allah (Galatia 6:19-21).

Orang yang hidup dipimpin oleh Roh Kudus pasti akan menabur hal-hal yang benar dalam ketepatan. Roh Kudus akan mengarahkannya dalam setiap hal dan keadaan. Orang tersebut pasti menabur kebenaran dalam dirinya ataupun dalam hidup orang lain karena salah satu peran Roh Kudus adalah memimpin kita dalam seluruh kebenaran (Yohanes 16:13).

HAL LAIN YANG PERLU DIPERHATIKAN
Hagai 1:6-11
“Kamu menabur banyak, tetapi membawa pulang hasil sedikit; kamu makan, tetapi tidak sampai kenyang; kamu minum, tetapi tidak sampai puas; kamu berpakaian, tetapi badanmu tidak sampai panas; dan orang yang bekerja untuk upah, ia bekerja untuk upah yang ditaruh dalam pundi-pundi yang berlobang!

Beginilah firman Tuhan semesta alam: Perhatikanlah keadaanmu!
Jadi naiklah ke gunung, bawalah kayu dan bangunlah Rumah itu; maka Aku akan berkenan kepadanya dan akan menyatakan kemuliaan-Ku di situ, firman Tuhan. Kamu mengharapkan banyak, tetapi hasilnya sedikit, dan ketika kamu membawanya ke rumah, Aku menghembuskannya. Oleh karena apa? demikianlah firman Tuhan semesta alam. Oleh karena rumah-Ku yang tetap menjadi reruntuhan, sedang kamu masing-masing sibuk dengan urusan rumahnya sendiri.
Itulah sebabnya langit menahan embunnya dan bumi menahan hasilnya, dan Aku memanggil kekeringan datang ke atas negeri, ke atas gunung-gunung, ke atas gandum, ke atas anggur, ke atas minyak, ke atas segala yang dihasilkan tanah, ke atas manusia dan hewan dan ke atas segala hasil usaha.”
– Perhatikan firman Tuhan di atas. Kita bisa saja sudah menabur tetapi tidak menuai hasil karena kita tidak menempatkan Tuhan sebagai yang terutama dalam hidup kita atau ada dosa yang belum kita be-reskan di hadapan Tuhan.
Galatia 6:9
“Janganlah kita jemu-jemu berbuat baik, karena apabila sudah datang waktunya, kita akan menuai, jika kita tidak menjadi lemah”.
– Jangan patah semangat, tawar hati serta menjadi lemah kalau belum melihat hasil, karena waktu untuk menuai pasti ada. Untuk segala sesuatu ada waktunya, dan Tuhan membuat segala sesuatu indah pada waktunya. Orang yang menabur dengan mencucurkan air mata, akan menuai dengan bersorak-sorai. Orang yang berjalan maju dengan menangis sambil menabur benih, pasti pulang dengan sorak-sorai sambil membawa berkas-berkasnya (Mazmur 126:5). Amin!

Other posts in Weekly Message: