TAHUN PERMULAAN YANG BARU

Home / Weekly Message / TAHUN PERMULAAN YANG BARU
TAHUN PERMULAAN YANG BARU

14 Januari 2018

Belumlah terlambat untuk saya mengucapkan, “Selamat Tahun Baru 2018, Tuhan Yesus memberkati Saudara berlimpah, limpah!” Kalau Tuhan mengizinkan kita masuk tahun 2018, ini semua karena kemurahan Tuhan, ini semua karena kebaikan Tuhan. Saya percaya, bagi Saudara dan saya, tahun 2018 akan lebih baik dari tahun 2017. Mengapa? Sebab Firman Tuhan berkata bahwa kasih Tuhan selalu baru tiap pagi. Kasih Tuhan Yesus selalu baru tiap minggu, kasih Tuhan Yesus selalu baru tiap bulan, kasih Tuhan Yesus selalu baru tiap tahun!
Memasuki tahun 2018, Tuhan memberikan ayat ini kepada kita: Amos 3:7, “Sungguh, Tuhan ALLAH tidak berbuat sesuatu tanpa menyatakan keputusan-Nya kepada hamba-hamba-Nya, para nabi.” Kemudian apa yang Tuhan katakan ketika akan masuk tahun 2018? Sesuai dengan kalender Ibrani, maka sejak 21 September 2017 s/d 9 September 2018 kalender Yahudi memasuki tahun 5778 yang mereka sebut dengan ‘AYIN CHET’ (78). Ayin adalah angka 70 yang berbicara tentang sebuah “mata”. Huruf Ibrani kuno, “Ayin” itu gambar sebuah mata dan itu bicara tentang mata Tuhan.
Mazmur 33:18 dan Mazmur 32:8, maka di situ dikatakan bahwa mata Tuhan tertuju kepada mereka yang takut akan Dia dan yang berharap akan kasih setia-Nya. Mata Tuhan tertuju kepada kita untuk menasehati, mengajar, menunjukkan jalan apa yang harus kita tempuh. Apakah Saudara mau diajar Tuhan? Saudara mau dinasehati? Saudara mau ditunjukkan jalan mana yang harus kita tempuh?
Tuhan menuntun atau menasehati, “Hai anak-Ku, ….”, bisa melalui orang lain, melalui hamba Tuhan dari mimbar, melalui teman, dan sebagainya. Tuhan berbicara kepada kita atau menasehati kita kadang-kadang dengan baik, tetapi kalau tidak mau nurut akhirnya terpaksa “dipukul”. Siapa yang pukul? Orang lain! Kalau mata kita tidak tertuju kepada Tuhan, misal kita sakit hati, kita kesal atau putus asa, padahal orang itu Tuhan ijinkan untuk mengajar kita.. Karena itu, nomor satu memasuki tahun 2018, mata kita harus selalu tertuju kepada Tuhan. Amin.
Angka 8 (chet) itu berbicara tentang permulaan yang baru. Angka 7 itu angka tertinggi, angka yang sempurna, jadi 8 itu seperti angka 1, artinya permulaan yang baru. Karena itu memasuki tahun 2018 Tuhan memberikan tema bahwa, “Tahun 2018 adalah Tahun Permulaan Yang Baru, The Year of New Beginnings.”
TAHUN PERMULAAN YANG BARU
Yang dimaksud dengan Tahun Permulaan Yang Baru adalah:
1. YANG LAMA SUDAH BERLALU, YANG BARU SUDAH DATANG
Yang sakit disembuhkan, yang lemah dikuatkan, yang miskin diperkaya. Amin!

2. SUATU PERUBAHAN
Tidak mudah untuk berubah dari yang lama menjadi yang baru, jika sudah terbiasa dengan yang lama. Jadi sebetulnya, suatu perubahan merupakan suatu proses pembentukan. Mari kita membaca 2 Korintus 5:17 yang merupakan ayat emas kita,
“Jadi siapa yang ada di dalam Kristus, ia adalah ciptaan baru: yang lama sudah berlalu, sesungguhnya yang baru sudah datang.”
Tuhan berkata kepada saya untuk menekankan hal ini, “Katakan, ingatkan kepada umat-Ku, mereka adalah ciptaan yang baru.” Ada berapa banyak umat Tuhan di tempat ini? Saudara adalah ciptaan yang baru. Apa artinya ciptaan yang baru? Kalau kita menjadi ciptaan yang baru berarti kita tidak boleh menggunakan sifat lama kita yang disebut dengan perbuatan daging. Mari kita baca bersama supaya kita mengingat kembali apakah kita sudah tidak atau masih melakukan hal-hal seperti itu.
Galatia 5:19-21, “Perbuatan daging telah nyata: percabulan, kecemaran, hawa nafsu, penyembahan berhala, sihir, perseteruan, perselisihan, iri hati, amarah, kepentingan diri sendiri, percideraan, roh pemecah, kedengkian, kemabukan, pesta pora dan sebagainya. Terhadap semuanya ini kuperingatkan kamu — seperti yang telah kubuat dahulu — bahwa barangsiapa melakukan hal-hal demikian, ia tidak akan mendapat bagian dalam Kerajaan Allah.”
Jangan berkata, “Amarah? Tidak masalah! Mabuk-mabukkan? Tidak masalah!” Hati-hati! Firman Tuhan dengan jelas katakan bahwa “daging” tidak akan mendapat bagian dalam Kerajaan Allah! Tetapi saya berdoa, semua yang ada di tempat ini masuk sorga. Amin!
Memang untuk meninggalkan manusia lama dan menjadi ciptaan yang baru ini satu proses perubahan atau pembentukan. Ketika kita mengalami kelahiran baru, kita masuk proses pengudusan (sanctification). Jadi, pengudusan itu terus-menerus dilakukan oleh Roh Kudus dan Firman Allah. Kenapa kita diizinkan masuk dalam pencobaan atau hal-hal yang tidak enak? Supaya Roh Kudus dan Firman Allah itu lebih nyata lagi. Kadang-kadang kita dituntun Roh Kudus dan Firman Tuhan yang mungkin sudah 100x didengar, tetapi kalau belum kena dengan permasalahan yang sesuai dengan itu, kita kadang-kadang lupa! Untuk itu Tuhan izinkan proses pembentukan terjadi dalam hidup kita. Kita akan terus-menerus diproses. Sampai kapan proses pengudusan itu? Sampai kita kudus, tidak bercacat-cela dan menjadi serupa dengan gambar Yesus! Kemudian setelah itu, orang-orang yang tidak bercacat-cela, orang yang kudus, orang yang seperti gambar Tuhan Yesus, mereka akan mengalami proses berikutnya, yang disebut proses pemuliaan (‘Glorification’) yaitu proses pengangkatan.
Perhatikan! Hanya orang-orang yang serupa dengan gambar Yesus, yang sudah mengalami pembentukan terus-menerus oleh Roh Kudus dan Firman Allah, mereka akan mendengar panggilan Tuhan ketika nanti sangkakala berbunyi dan Dia menjemput kita di awan-awan. Amin! Saya berdoa, pada saat Dia di awan-awan nanti, nama Saudara dipanggil. Karena itu ada berapa banyak diantara Saudara yang mau saat Tuhan Yesus ada di awan-awan kita dengar nama kita dipanggil? Mari sekarang kita buka Kolose 3:1-4 tentang apa yang harus kita kerjakan,
“Karena itu, kalau kamu dibangkitkan bersama dengan Kristus, carilah perkara yang di atas, di mana Kristus ada, duduk di sebelah kanan Allah. Pikirkanlah perkara yang di atas, bukan yang di bumi. Sebab kamu telah mati dan hidupmu tersembunyi bersama dengan Kristus di dalam Allah. Apabila Kristus, yang adalah hidup kita, menyatakan diri kelak, kamu pun akan menyatakan diri bersama dengan Dia dalam kemuliaan.”
Kalau Saudara mau bersama-sama dengan Dia pada waktu Dia menyatakan kemuliaan-Nya, Firman Tuhan dengan jelas berkata, “Carilah perkara yang di atas. Pikirkanlah perkara yang di atas, di mana Kristus ada, duduk di sebelah kanan Allah. Bukan perkara yang di bumi!”.
Mungkin Saudara berkata, “Saya ini hidup di bumi, bagaimana saya tidak memikirkan perkara yang di bumi?” Arti dari kata ‘cari dan pikirkanlah perkara-perkara yang di atas’ adalah:
a. Kita harus lebih banyak memikirkan perkara-perkara yang rohani.
b. Setiap tindakan Saudara, apapun respon Saudara terhadap masalah atau dalam pekerjaan, ucapan Saudara, itu harus sesuai dengan perkara-perkara yang di atas.
Saya selama ini serius, tetapi kali ini Tuhan menyuruh saya lebih serius lagi mengatakan: “Aku segera datang!” dan Dia tidak mau Saudara ketinggalan, Dia mau setiap kita diangkat bersama-sama dengan Dia. Amin! Saya merasakan ketika memasuki tahun 2018, pada waktu Tuhan menyuruh saya membuat volume ke-9 yang berjudul, “Lord, I worship You”, Tuhan mau hari-hari ini kita banyak menyembah Dia dan kita banyak menaikkan pujian dan penyembahan kepada Dia. Memasuki tahun 2018, bisakah setiap hari Saudara mengangkat tangan dan berkata, “I am Yours, forever Yours.” Ayo mulai sekarang tiap hari kita lakukan ini, itu yang Tuhan minta. Ketika Saudara melakukan ini, hati Tuhan sangat senang melihat Saudara.
3. PEMISAHAN
Arti ketiga dari permulaan yang baru adalah pemisahan. Kalau Saudara membaca Kejadian 1:1, ayat itu saya baca pada tanggal 1 Januari yang lalu, itu adalah permulaan yang baru. Dikatakan di situ, “Pada mulanya Allah menciptakan langit dan bumi….”
Dikatakan bahwa pada hari pertama, yaitu pada permulaan yang baru, Allah memisahkan terang dari gelap. Mengapa? Sebab Allah melihat terang itu baik adanya. Memasuki tahun 2018 akan terjadi pemisahan orang-orang yang hidupnya dalam terang dari orang-orang yang hidupnya dalam gelap.
Wahyu 22:11-12, “Barangsiapa yang berbuat jahat, biarlah ia terus berbuat jahat; barangsiapa yang cemar, biarlah ia terus cemar; dan barangsiapa yang benar, biarlah ia terus berbuat kebenaran; barangsiapa yang kudus, biarlah ia terus menguduskan dirinya!” Sesungguhnya Aku datang segera dan Aku membawa upah-Ku untuk membalaskan kepada setiap orang menurut perbuatannya.”
Saudara yang dikasihi Tuhan, hati-hati! Hidupmu saat ini ada di mana? Yang sudah terang jangan ke gelap, tetapi yang terang biarlah bertambah terang. Namun tentang yang hidupnya gelap Tuhan katakan, “Biarkan…”. Kalau kita membaca dari Maleakhi 3:18 dikatakan, “Maka kamu akan melihat kembali perbedaan antara orang benar dan orang fasik, antara orang yang beribadah kepada Allah dan orang yang tidak beribadah kepada-Nya.” Kita akan memasuki tahun 2018 dan Saudara akan melihat ini. Amin!
4. MEMBUAT SESUATU YANG BARU
Yesaya 43:18-19, “Firman-Nya: “Janganlah ingat-ingat hal-hal yang dahulu, dan janganlah perhatikan hal-hal yang dari zaman purbakala! Lihat, Aku hendak membuat sesuatu yang baru, yang sekarang sudah tumbuh, belumkah kamu mengetahuinya? Ya, Aku hendak membuat jalan di padang gurun dan sungai-sungai di padang belantara.” Saudara, belumkah kamu mengetahui bahwa Allah sedang membuat sesuatu yang baru yang sekarang sudah tumbuh, artinya sudah dilakukan? Apakah itu? Membuat jalan di padang gurun dan sungai-sungai di padang belantara.
Saudara, kalau pada zaman itu membuat jalan di padang gurun dan sungai-sungai di padang belantara adalah hal yang mustahil, tetapi Allah bisa membuat ini sebab bagi Allah tidak ada yang mustahil. Dan ini dikatakan “Mujizat yang tidak lazim!” yang disebut dengan “Unusual Miracle!”. Ada berapa banyak yang mau mengalami mujizat yang tidak lazim? Pertanyaan saya, ada berapa banyak yang mengasihi Tuhan Yesus? Saudara yang mengasihi Tuhan Yesus, memasuki tahun 2018 Saudara akan mengalami apa yang dikatakan dalam 1 Korintus 2:9, “apa yang belum pernah dilihat oleh mata, belum pernah didengar oleh telinga, belum pernah timbul dalam hati, semua akan Saudara alami!”
Mari katakan bersama saya, “Mujizat yang tidak lazim….unusual miracle, terjadi dalam hidupku!”. Amin!
Khotbah Bapak Pdt. DR. Ir. Niko Njotorahardjo. JCC, 7 Januari 2018

Other posts in Weekly Message: