PERMULAAN YANG BARU

Home / Weekly Message / PERMULAAN YANG BARU
PERMULAAN YANG BARU

21 Januari 2018

Nabi Elia pernah mengalami “unusual miracle”, di mana ketika Tuhan memberi kekeringan pada Bangsa Israel saat masa pemerintahan Raja Ahab selama 3,5 tahun. Ketika itu Elia pun terkena dampaknya. Walaupun kita orang yang dikasihi oleh Tuhan, waktu kekeringan seperti itu, kita pun akan terkena dampaknya seperti Elia. Bedanya sekalipun Elia terkena dampaknya, dia ditolong oleh Tuhan dengan cara yang ajaib, melalui mujizat yang tidak lazim tadi. Apa yang Tuhan lakukan?

1. PEMELIHARAAN TUHAN DI SUNGAI KERIT
Elia disuruh bersembunyi di Sungai Kerit, “Kamu minum dari situ” dan tiap pagi dan petang burung gagak datang membawa roti dan daging untuk memberi makan Elia. Apakah Saudara percaya burung gagak bisa membawa roti dan daging? Berbahagialah Saudara yang percaya, sebab ada orang yang berkata, “Mana mungkin?!”. Ini Firman Tuhan! Kalau itu bisa terjadi pada Elia, itu juga bisa terjadi pada kita. Amin!

2. PEMELIHARAAN TUHAN MELALUI SEORANG JANDA MISKIN DI SARFAT
Setelah Sungai Kerit kering, Tuhan berkata kepada Elia, “Kamu pergi ke Sarfat, Aku sudah menunjuk seorang janda untuk memelihara kamu, memberi kamu makan.” Mungkin Elia senang, dia berpikir pasti jandanya cukup kaya sehingga bisa memberi dia makan. Tetapi alangkah kagetnya dia ketika bertemu dengan janda itu, ternyata dia sangat miskin! Saya kadang berpikir, untuk menolong orang lain harusnya dari orang yang cukup kaya, tetapi ini dari seorang miskin! Jawabannya, sebab melalui orang yang miskin tadi Tuhan akan menunjukkan dan membuat mujizat yang tidak lazim.
Ketika Elia minta minum, janda Sarfat ini diam, tetapi ketika minta roti, saya percaya dengan berlinang air mata janda itu berkata, “Tepung dan minyak yang saya punyai itu hanya cukup untuk saya dan anak saya 1x makan, setelah itu kami akan mati!”. Tiba-tiba Tuhan berbicara kepada Elia, “Begini, kamu buat roti itu, tetapi buatkan terlebih dahulu untuk aku sepotong roti bundar kecil, setelah itu yang lainnya untuk engkau dan anakmu.” Saya mau tanya kepada Saudara, roti yang diberikan kepada Elia untuk dimakan dan yang dimakan oleh janda Sarfat beserta anaknya itu lebih banyak mana? Tentunya lebih banyak yang dimakan janda Sarfat dan anaknya! Sebab Elia hanya meminta sepotong kecil saja, yang banyak itu untuk janda Sarfat dan anaknya.
Tuhan berkata, “Kalau kamu lakukan itu, tepung dalam tempayan tidak akan habis dan minyak dalam buli-buli tidak akan berkurang sampai selesai masa kekeringan!”. Dan itu benar-benar terjadi! Itu adalah mujizat yang tidak lazim!
Saudara, Tuhan hari-hari ini mau kita seperti janda Sarfat. Apakah Saudara siap? Kalau Saudara kira-kira jadi janda Sarfat, apakah Saudara bisa melakukan ini? Pada saat kita kekurangan dan Tuhan berkata, “Berikan kepada Aku terlebih dahulu!”, bisakah kita memberikannya kepada Tuhan? Ini yang Tuhan minta! Kalau kita bisa melakukan itu, maka artinya Elia, janda Sarfat dan anaknya sama-sama hidup dan roti yang lebih besar itu ada pada janda Sarfat dan anaknya itu. Ini yang Tuhan mau kita lakukan hari-hari ini, kalau kita lakukan itu maka pekerjaan Tuhan tidak akan pernah kekurangan. Dan kita akan diberkati jauh daripada apa yang kita berikan. Ada berapa banyak yang mau? Kita sedang memasuki Pentakosta yang ketiga, ini masa penuaian jiwa yang terbesar dan terakhir. Dan saya tahu ini membutuhkan biaya, namun saya percaya seperti janda di Sarfat, yaitu Saudara dan saya akan dipakai Tuhan untuk ini. Amin!

Kolose 3:23-24, “Apa pun juga yang kamu perbuat, perbuatlah dengan segenap hatimu seperti untuk Tuhan dan bukan untuk manusia. Kamu tahu, bahwa dari Tuhanlah kamu akan menerima bagian yang ditentukan bagimu sebagai upah. Kristus adalah tuan dan kamu hamba-Nya.”

Ini adalah pesan Tuhan, ketika kita memasuki masa kekeringan dan kalau Tuhan minta, berikan kepada Dia terlebih dahulu, baru kemudian untuk kita. “Apa pun juga yang kamu perbuat, perbuatlah dengan segenap hatimu seperti untuk Tuhan…”, nomor 1 itu untuk Tuhan, bukan untuk manusia atau dirinya sendiri. Saya tidak tahu keadaan Saudara yang datang ke tempat ini, mungkin ketika memasuki tahun 2018, Saudara ada dalam masalah besar, Saudara dalam keadaan yang tidak baik. Mungkin Saudara sedang merasa tertindas oleh keadaan, teman, atasan atau majikan dan Saudara berkata, “Apa reaksi saya? Ini menindas saya! Ia berbuat tidak baik kepada saya.” Saudara, perbuatlah nomor 1 untuk Tuhan, itu responnya! Jangan Saudara mengasihani diri sendiri, dan merancangkan pembalasan terhadap hal-hal yang seperti itu, jangan! Berikan kepada Tuhan apa yang Dia minta. Dan apa yang Dia minta? UCAPAN SYUKUR! Sesuai dengan 1 Tesalonika 5:18, “Mengucap syukurlah dalam segala hal, sebab itulah yang dikehendaki Allah di dalam Kristus Yesus bagi kamu.”

Kesaksian:
Saya mau bersaksi yang mungkin sebagian sudah mendengarnya. Ketika Tuhan memanggil saya untuk menjadi hamba Tuhan, saya dipanggil melalui cara yang menurut saya tidak enak. Mengapa? Karena dipaksa baru nurut kepada Tuhan setelah saya mengalami yang disebut, “Ludes…des…”. ‘Des’ yang pertama, harta saya semua dihabiskan dalam tempo yang relatif singkat, habis total! ‘Des’ yang kedua, ditambahi hutang. Itu keadaan saya dan dalam keadaan seperti itu saya baru menurut untuk dipanggil Tuhan. Jangan seperti saya!
Di dalam pergumulan saya tidak tahu apa yang harus diperbuat, di mana saya juga tidak tahu dan tidak mengerti apa itu pelayanan waktu itu, hanya panggilan, “Kamu ikut Aku!”. Dan itu berlangsung cukup lama yang mana akhirnya saya ada di puncaknya dan saya sudah tidak tahan dan saya mau meninggalkan panggilan. Di tengah-tengah saya mulai merencanakan seperti itu, tiba-tiba Tuhan berkata kepada saya, “Niko, dalam keadaan seperti ini…dalam keadaan engkau merasa kekeringan seperti ini, engkau harus mengucap syukur!”. Saudara, terus-terang saya berontak, “Mengucap syukur, Tuhan? Dalam keadaan seperti ini mengucap syukur?”. Saya bergumul cukup lama dan saya ingat pada waktu itu saya mengambil gitar dan keluarlah lagu, “S’gala puji syukur hanya bagi-Mu, Tuhan….”. Sekarang lagu ini dinyanyikan dengan sukacita, namun sesungguhnya pada waktu saya mendapatkannya, itu dengan tangisan dan air mata. Tetapi setelah itu tiba-tiba saya menjadi ‘plong’ atau lega. Saya bisa menyanyikan lagu ini dengan benar-benar berterima kasih kepada Tuhan, “Terima kasih Tuhan buat keadaan saya…”. Saya tahu itu merupakan titik balik dalam pelayanan saya. Kalau pada waktu itu saya gagal mengucap syukur, saya tahu dan percaya bahwa saya tidak akan bersama-sama dengan Saudara hari ini! Tetapi karena saya melakukan itu, ada kuasa dalam pengucapan syukur, maka terjadilah apa yang Tuhan katakan kepada saya dan saya mengalami tepung dalam tempayan tidak pernah habis serta minyak dalam buli-buli tidak pernah berkurang sampai Tuhan Yesus datang. Haleluya!

PERSEMBAHAN BUAH SULUNG
Saya mau mengajak Saudara membaca Amsal 3:9-10, “Muliakanlah TUHAN dengan hartamu dan dengan hasil pertama dari segala penghasilanmu, maka lumbung-lumbungmu akan diisi penuh sampai melimpah-limpah, dan bejana pemerahanmu akan meluap dengan air buah anggurnya.”

Memasuki tahun 2018 kita akan mempersembahkan harta kita kepada Tuhan terlebih dahulu. Untuk itu kita akan memberikan Buah Sulung. Buah Sulung ini bisa diartikan permulaan yang baru, sebab buah sulung untuk tahun 2018 itu berarti segala penghasilan, segala keuntungan yang kita dapatkan pada bulan Januari (bulan ini) dan diberikan bulan depan. Sebagian atau semuanya? “Firman Tuhan berkata semuanya, Pak. Tetapi saya berat…”. Itu pergumulan Saudara, tetapi kalau Saudara mau mengalami janji Tuhan dan Tuhan berjanji, “Ya dan amin”, jangan dipelintir-pelintir lagi, kalau Saudara mau melakukannya, Saudara akan diberkati. Saya mau katakan kepada Saudara, tepung dalam tempayanmu tidak akan habis, minyak dalam buli-buli Saudara tidak akan pernah berkurang sampai Tuhan Yesus datang. Amin!
Selain Elia, Ishak juga pernah mengalami mujizat yang tidak lazim. Kalau Ishak pernah mengalami itu, berarti kita juga bisa mengalami. Kalau tadi Elia pada masa kekeringan, sedangkan Ishak pada masa kelaparan. Jadi pada waktu kelaparan Tuhan berkata kepada Ishak, “Kamu jangan pergi ke Mesir, tetapi Aku akan tunjukkan kamu harus pergi kemana, yaitu di sini, di Gerar, kamu tinggal di sini. Kalau kamu lakukan ini, kamu akan diberkati berlimpah-limpah.” Saudara, Mesir bisa diartikan cara-cara dunia, tetapi Gerar itu caranya Tuhan. Saya mau beritahu Saudara, memasuki tahun 2018, ini adalah tahun kelaparan secara jasmani dan rohani. Saya tidak memperdulikan bagaimana yang disebut analisa ekonomi dan sebagainya, sebab mereka sekarang sudah takut juga apakah kira-kira siklus 10 tahunan, yaitu tahun 1998 dan 2008 juga akan terjadi pada 2018? Saya tidak berbicara tentang hal itu karena itu bagian mereka. Tetapi Tuhan hanya berbicara bahwa tahun 2018 ini adalah tahun kelaparan jasmani dan rohani.
Kelaparan secara rohani artinya akan banyak orang-orang yang lapar akan kebenaran. Ini adalah terjadinya penuaian jiwa yang terbesar dan terakhir sebelum Tuhan Yesus datang kali yang kedua. Tuhan ingatkan, pada waktu masa kelaparan, jangan sekali-kali memakai cara dunia, tetapi hanya cara-Nya Tuhan! Tuhan akan menuntun kita. Amin!
Pada waktu akan memasuki tahun 2018, Tuhan berbicara melalui 1 ayat yang sangat kuat kepada saya, “Kamu jangan kuatir terhadap hari besok. Hari besok mempunyai kesulitannya sendiri. Kesusahan sehari cukuplah untuk sehari.” Saya percaya kalau kita bisa melakukan ini, tidak ada istilahnya tidak bisa tidur. Melainkan kita akan tidur nyenyak, damai sejahtera berlimpah, tidak peduli kelaparan atau kekeringan. Dan itu yang Tuhan mau sebab Tuhan akan tunjukkan seperti Ishak. Apa yang Tuhan tunjukkan? Di dalam masa kelaparan, ketika dia pada permulaan yang baru tinggal di Gerar, Tuhan berkata kepada Ishak, “Kamu sekarang menabur!”. Saudara, ini tidak gampang! Ishak mungkin berkata, “Tuhan, menabur? Musim kering, tidak ada air. Apakah bisa tumbuh? Dan ini yang saya tabur adalah untuk persediaan makan buat saya selama musim kelaparan. Kalau tidak tumbuh bagaimana?”. Saya tahu itu pergumulannya! Setiap kita akan mengalami pergumulan, tetapi akhirnya Ishak menang dalam pergumulannya, dia setuju dengan Tuhan dan menabur! Apa yang terjadi pada waktu dia menabur?

Sekarang kita baca Kejadian 26:12-13, “Maka menaburlah Ishak di tanah itu dan dalam tahun itu juga ia mendapat hasil seratus kali lipat; sebab ia diberkati TUHAN. Dan orang itu menjadi kaya, bahkan kian lama kian kaya, sehingga ia menjadi sangat kaya.”

Mungkin Saudara berkata, “Itu kan Ishak, kalau saya bagaimana?”. Apakah Saudara mau itu terjadi dalam hidup Saudara? Apakah Saudara percaya? Mari kita perkatakan dengan mengganti kata Ishak dengan nama kita masing-masing. Kalau Saudara percaya mari perkatakan sekarang dan jadilah sebagaimana Saudara perkatakan sebab Saudara percaya. Amin!
“Maka menaburlah (sebut nama Saudara) di tanah itu dan dalam tahun ini juga (sebut nama Saudara) mendapat hasil seratus kali lipat; sebab (sebut nama Saudara) diberkati TUHAN. Dan (sebut nama Saudara) menjadi kaya, bahkan kian lama kian kaya, sehingga (sebut nama Saudara) menjadi sangat kaya dalam segala hal!”.
Saudara, tabur yang baik! Jelas Saudara akan menuai jauh lebih besar dari apa yang Saudara tabur. Tabur yang baik dan Saudara akan diberkati 100x lipat! Engkau akan menjadi kaya, makin lama makin kaya dan menjadi sangat kaya. Amin!

Sambungan minggu lalu…..Khotbah Bapak Pdt. DR. Ir. Niko Njotorahardjo JCC, 7 Januari 2018

Other posts in Weekly Message: